Menjemput Rezeki di Langit Kemarau: Kisah Inspiratif Purtopo, Sang Maestro Layangan Bapangan asal Klaten
ZonaKabar — Di bawah langit biru Klaten yang terik, angin musim kemarau berembus konsisten, membawa aroma tanah kering dan harapan baru bagi para penggemar kedirgantaraan tradisional. Di sebuah sudut Dusun Sorobujan, Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes, suara serutan bambu menjadi irama harian yang menandakan geliat ekonomi kreatif tengah berlangsung. Di sinilah Purtopo, seorang pria berusia 50 tahun, merajut mimpi-mimpinya melalui bilah-bilah bambu yang diubah menjadi karya seni terbang.
Transformasi Hobi Menjadi Ladang Cuan yang Menjanjikan
Purtopo, atau yang lebih akrab disapa Topek oleh warga sekitar, bukanlah sosok baru dalam dunia hobi. Namun, siapa sangka bahwa kegemarannya bermain layang-layang sejak kecil kini bertransformasi menjadi bisnis kreatif yang mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah hingga jutaan setiap bulannya. Saat musim kemarau tiba, rumahnya yang terletak strategis di tepi Jalan Raya Jimbung-Wedi berubah menjadi galeri warna-warni yang memanjakan mata siapa pun yang melintas.
Ketika ditemui di kediamannya, Topek tampak sangat tekun. Jemarinya yang terampil dengan lincah menyusun bilah bambu tipis, mengikatnya dengan benang nilon, hingga membentuk kerangka layangan bapangan dengan bentang sayap mencapai satu meter lebih. Di dinding teras rumahnya yang juga berfungsi sebagai toko kelontong, berjejer rapi berbagai bentuk layang-layang mulai dari figur burung yang gagah, ikan yang eksotis, hingga replika pesawat terbang yang detail.
Titik Balik Pandemi: Dari Kebosanan Menuju Kreativitas
Kisah sukses Purtopo tidak datang dalam semalam. Menariknya, bisnis ini berawal dari sebuah keterpaksaan saat dunia dihantam pandemi COVID-19 beberapa tahun silam. “Ini sebenarnya pekerjaan sampingan, aslinya saya berdagang. Dulu waktu COVID, semua aktivitas dibatasi, tidak bisa ke mana-mana. Akhirnya saya mencari kesibukan di rumah dengan membuat layangan,” kenang bapak empat anak ini dengan nada reflektif.
Namun, membuat layangan yang benar-benar bisa terbang bukan perkara mudah. Meski memiliki hobi masa kecil yang kuat, Topek harus belajar secara autodidak. Ia menghabiskan banyak waktu di depan layar ponsel, mempelajari teknik-teknik pembuatan kerangka yang aerodinamis melalui platform YouTube. Kegagalan demi kegagalan ia lalui; mulai dari kerangka yang tidak seimbang hingga layangan yang terus menukik tajam saat diterbangkan.
“Awalnya ya susah, bikin tapi tidak mau naik (terbang). Ternyata bikin layangan itu tidak semudah yang dibayangkan orang-orang. Ada perhitungan keseimbangan dan kelenturan bambu yang harus presisi. Tapi karena terus mencoba, akhirnya jadi terbiasa,” tambahnya. Lambat laun, karyanya mulai dikenal. Bermula dari digunakan oleh anak lelakinya sendiri, hingga kemudian para tetangga mulai melirik dan menaruh minat untuk memesan.
Mahakarya Pegon Lodaya dan Jangkauan Pasar yang Luas
Seiring berjalannya waktu, reputasi Topek sebagai perajin kerajinan tangan berkualitas mulai menyebar luas. Kini, ia mampu memproduksi ratusan layangan dalam satu musim kemarau. Permintaan tidak hanya datang dari anak-anak lokal, tetapi juga dari toko-toko mainan besar yang ingin menyetok produk buatannya. Namun, karena kerumitan proses pembuatannya, Topek sering kali harus membatasi pesanan agar kualitas tetap terjaga.
Variasi harga yang ditawarkan pun sangat kompetitif, tergantung pada tingkat kerumitan dan ukuran. Untuk model layangan burung sederhana dengan bentang satu meter, ia mematok harga mulai dari Rp 40.000. Namun, bagi para kolektor atau penghobi fanatik, Topek menyediakan model eksklusif seperti ‘Pegon Lodaya’ yang harganya bisa mencapai Rp 450.000 per unit.
“Model Pegon Lodaya itu mahal karena tingkat kesulitannya tinggi, pewarnaannya detail, dan plastiknya pun harus dipesan secara online khusus. Kalau bahan dasarnya tetap bambu, tapi teknik rakitnya beda jauh dengan layangan biasa,” jelas Purtopo sambil memperlihatkan album dokumentasi berisi koleksi karya-karya terbaik yang pernah ia buat. Keindahan visual dan kestabilan terbang menjadi daya tarik utama mengapa konsumen dari luar kota seperti Jogja, Solo, bahkan pemudik dari Bogor rela datang langsung ke Klaten untuk membawa pulang layangan karyanya.
Dampak Ekonomi: Menyekolahkan Anak hingga Jenjang Sarjana
Keberhasilan Purtopo mengelola peluang usaha musiman ini memberikan dampak yang sangat nyata bagi kesejahteraan keluarganya. Musim puncak pemesanan biasanya terjadi antara bulan Juni hingga September, di mana angin berembus paling kencang. Dalam periode tersebut, omzet jutaan rupiah bisa ia kantongi dengan mudah. Ketekunannya ini pun membuahkan hasil yang membanggakan; salah satu anaknya berhasil ia luluskan hingga menyandang gelar sarjana dari hasil jerih payahnya meraut bambu.
Kesuksesan Purtopo juga diakui oleh para tetangganya. Parjo (70), salah seorang warga setempat, memberikan testimoni betapa ramainya rumah Purtopo setiap kali musim ‘ketigo’ (kemarau) tiba. “Memang sejak pandemi dia rajin bikin layangan. Kalau sudah masuk musim panas begini, pembelinya antre. Saya sendiri mau mencoba buat tapi tidak sanggup, tidak telaten,” ujar Parjo sambil terkekeh.
Filosofi di Balik Bilah Bambu
Bagi Purtopo, layang-layang bukan sekadar benda mati yang diterbangkan angin. Ada filosofi tentang keseimbangan hidup di dalamnya. Setiap bilah bambu harus diraut dengan hati-hati—tidak boleh terlalu tebal dan tidak boleh terlalu tipis. Begitu pula dalam menjalani hidup, kerja keras harus diimbangi dengan kesabaran dan kemauan untuk terus belajar.
Kini, di tengah gempuran permainan digital dan gadget, Purtopo tetap konsisten melestarikan budaya tradisional ini. Ia membuktikan bahwa dengan kreativitas dan ketekunan, hobi yang dianggap sepele bisa menjadi sumber penghidupan yang membanggakan. Layang-layang buatannya tidak hanya menghiasi langit Klaten, tetapi juga menjadi simbol ketangguhan seorang ayah dalam memperjuangkan masa depan keluarganya di tengah terpaan angin kehidupan.
Bagi Anda yang sedang berkunjung ke wilayah Klaten dan ingin merasakan sensasi menerbangkan karya seni yang autentik, mampir ke Dusun Sorobujan bisa menjadi pilihan yang menarik. Melihat langsung proses pembuatan layangan di tangan sang maestro bukan hanya sekadar belanja, tapi juga belajar tentang arti dedikasi dan cinta pada karya sendiri.