Misteri Hilangnya Pradipta di Aliran Sungai Cibaregbeg: Upaya Pencarian Besar-besaran di Campaka Cianjur
ZonaKabar — Suasana tenang di Kampung Balong, Desa Girimukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, mendadak berubah menjadi penuh ketegangan dan duka mendalam. Seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun bernama Pradipta Saputra dilaporkan hilang secara misterius sejak Minggu (3/5/2026). Dugaan kuat mengarah pada insiden tragis di aliran Sungai Cibaregbeg yang dikenal memiliki arus cukup deras saat debit air meningkat. Hingga berita ini diturunkan, keberadaan bocah malang tersebut masih menjadi teka-teki yang berusaha dipecahkan oleh tim gabungan pencari fakta dan relawan kemanusiaan.
Kejadian ini bermula saat Pradipta pamit dari kediamannya pada Minggu siang untuk bermain bersama teman-teman sebayanya. Layaknya anak-anak di pedesaan yang akrab dengan alam, bermain di luar rumah adalah rutinitas yang lazim dilakukan. Namun, kecemasan mulai merayap di hati pihak keluarga ketika sang buah hati tak kunjung menampakkan batang hidungnya hingga matahari terbenam. Penantian penuh harap sepanjang malam berubah menjadi kepanikan luar biasa ketika pada Senin (4/5/2026) sore, Pradipta masih belum juga kembali ke rumah.
Kronologi Detik-Detik Hilangnya Pradipta
Berdasarkan penelusuran mendalam yang dilakukan tim di lapangan, keluarga korban sempat melakukan upaya mandiri dengan menanyakan keberadaan Pradipta kepada rekan-rekan sepermainannya. Dari sinilah sebuah fakta mengejutkan mulai terkuak. Pradipta ternyata terakhir kali terlihat sedang berada di area bantaran Sungai Cibaregbeg pada Minggu sore, sekitar pukul 15.00 WIB. Informasi ini menjadi titik terang sekaligus kabar buruk bagi keluarga yang semula berharap anak mereka hanya sekadar menginap di rumah kerabat.
Kapolsek Campaka, AKP Panglima Nayan Munthe, dalam keterangannya kepada awak media pada Selasa (5/5/2026), mengonfirmasi bahwa pihak kepolisian telah menerima laporan resmi terkait hilangnya anak tersebut. Menurut AKP Panglima, dugaan bahwa korban tenggelam baru muncul setelah teman-teman korban berani menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di tepi sungai dua hari sebelumnya.
“Anak ini sudah tidak pulang sejak hari Minggu. Namun, informasi mengenai kemungkinan ia bermain di sungai dan diduga tenggelam baru teridentifikasi tadi pagi, tepatnya setelah keluarga melakukan pendekatan intensif dan menanyai teman-teman dekat korban,” ujar AKP Panglima. Ia juga menambahkan bahwa pihaknya akan menyelidiki lebih lanjut apakah insiden ini murni kecelakaan sungai atau ada faktor lain yang menyebabkan korban menghilang.
Saksi Kunci: Detik-Detik Korban Terjun ke Sungai
Kepala Desa Girimukti, Dadan, memberikan narasi yang lebih mendalam mengenai kronologi di lokasi kejadian. Menurut laporan yang ia terima, Pradipta tidak bermain sendirian. Ia diketahui tengah bersama empat orang temannya saat berada di tepian Sungai Cibaregbeg. Kesaksian dari keempat bocah ini menjadi kunci utama dalam mengarahkan fokus pencarian ke area aliran air.
“Jadi, sebelum dinyatakan hilang, korban sempat bermain bersama empat temannya di area sungai pada Minggu sore. Berdasarkan pengakuan anak-anak tersebut, korban sempat melompat ke dalam aliran sungai. Namun, setelah melakukan lompatan tersebut, tubuh Pradipta tidak lagi muncul ke permukaan air,” ungkap Dadan dengan nada prihatin. Situasi tersebut seketika memicu kepanikan luar biasa di antara teman-temannya. Karena rasa takut dan syok, mereka awalnya tidak langsung melaporkan kejadian itu kepada orang dewasa, yang mengakibatkan adanya jeda waktu cukup lama sebelum upaya penyelamatan dilakukan.
Kepanikan yang dialami anak-anak ini adalah hal yang manusiawi, namun sayangnya memberikan tantangan tersendiri bagi berita Cianjur dan upaya evakuasi. Jeda waktu hampir dua hari sejak kejadian hingga laporan masuk membuat potensi korban terbawa arus semakin jauh ke arah hilir.
Mobilisasi Tim SAR dan Kendala Lapangan
Menanggapi laporan tersebut, pihak Desa Girimukti segera berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memulai operasi pencarian dan penyelamatan. Tim SAR (Search and Rescue) Kabupaten Cianjur beserta relawan lokal langsung dikerahkan ke lokasi yang diduga menjadi titik awal tenggelamnya korban. Medan yang cukup berat serta kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan utama yang dihadapi oleh tim di lapangan.
Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Cianjur, Ahmad Fikri, menegaskan bahwa pihaknya telah menerjunkan personel terlatih untuk menyisir setiap sudut aliran Sungai Cibaregbeg. “Kami sudah mengerahkan relawan dan berkoordinasi secara intens dengan berbagai pihak terkait. Fokus kami saat ini adalah melakukan penyisiran permukaan serta pemantauan di titik-titik yang dianggap rawan menjadi lokasi tersangkutnya material,” jelas Ahmad Fikri.
Ahmad Fikri juga menyoroti kondisi alam saat kejadian yang memperburuk situasi. Ia menjelaskan bahwa pada Minggu sore tersebut, kondisi debit air sungai sedang mengalami kenaikan akibat curah hujan di daerah hulu. Hal ini meningkatkan risiko korban terseret arus dengan sangat cepat.
“Mengingat korban sudah hilang selama dua hari, ada kemungkinan besar tubuh korban sudah terbawa arus cukup jauh dari lokasi awal. Mengingat arus yang kuat saat kejadian, penyusuran akan kami perluas hingga mencapai area Muara Citarum jika diperlukan,” tambahnya. Penggunaan perahu karet dan alat selam ringan telah dipersiapkan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan di lapangan.
Dukungan Komunitas dan Harapan Keluarga
Di tengah proses pencarian yang masih berlangsung, dukungan dari warga Kampung Balong terus mengalir bagi keluarga Pradipta. Doa bersama digelar di masjid setempat dengan harapan agar bocah yang dikenal ceria tersebut segera ditemukan dalam kondisi apa pun. Insiden ini juga menjadi pengingat pahit bagi masyarakat sekitar akan bahayanya bermain di area sungai tanpa pengawasan orang dewasa, terutama saat memasuki musim dengan cuaca ekstrem.
Pemerintah desa setempat mengimbau kepada seluruh orang tua untuk lebih memperketat pengawasan terhadap aktivitas anak-anak mereka. Kejadian bocah tenggelam di Cianjur bukanlah yang pertama kali, dan seringkali disebabkan oleh kurangnya kewaspadaan terhadap perubahan debit air sungai yang bisa terjadi secara mendadak.
Langkah Selanjutnya dalam Proses Pencarian
Tim gabungan berencana untuk membagi area pencarian menjadi beberapa sektor. Sektor pertama akan fokus pada pemantauan di sekitar lokasi kejadian hingga radius 5 kilometer. Sementara sektor kedua akan melakukan pemantauan di pintu-pintu air dan area hilir yang berbatasan dengan kecamatan lain. Tim SAR juga meminta bantuan kepada warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai untuk segera melaporkan jika melihat benda mencurigakan yang mengapung atau tersangkut.
Hingga Selasa malam, pencarian sempat dihentikan sementara karena keterbatasan cahaya dan faktor keamanan personel, namun akan dilanjutkan kembali dengan skala yang lebih besar pada keesokan harinya. Masyarakat berharap adanya keajaiban, meskipun secara teknis waktu dua hari di dalam air memberikan tantangan yang sangat besar bagi kemungkinan keselamatan korban.
Tragedi di Sungai Cibaregbeg ini menjadi duka kolektif bagi warga Jawa Barat. Kehilangan seorang anak di usia yang begitu muda adalah luka yang sulit sembuh. Kami di ZonaKabar akan terus memantau perkembangan terkini dari lokasi pencarian dan memberikan informasi terbaru seiring dengan ditemukannya petunjuk-petunjuk baru oleh tim di lapangan.