Nestapa Sang Legenda: Kisah Abah Duni, Mantan Pelari Nasional yang Menukar Piala dengan Beras

Dewi Lestari | ZonaKabar
10 Mei 2026, 09:41 WIB
Nestapa Sang Legenda: Kisah Abah Duni, Mantan Pelari Nasional yang Menukar Piala dengan Beras

ZonaKabar — Di balik hiruk-pikuk perkembangan zaman yang kian cepat, terselip sebuah narasi sunyi dari sudut Kabupaten Indramayu. Gema sorak-sorai penonton di stadion puluhan tahun silam kini telah menguap, berganti dengan kesunyian di sebuah rumah sederhana di Desa Sindang. Di sanalah, seorang lelaki tua bernama Duni, atau yang akrab disapa Abah Duni, menghabiskan masa senjanya. Di usia yang telah menyentuh angka 80 tahun, sosok yang dulu pernah mengharumkan nama daerah di lintasan atletik ini kini harus bergelut dengan realita hidup yang jauh dari kata mewah.

Kilas Balik Masa Keemasan di Lintasan Atletik

Langkah kaki Abah Duni mungkin kini sudah melambat, namun ingatannya tentang aroma lintasan lari dan deru napas yang memburu tetap tajam. Pada era 1970-an, nama Duni bukanlah nama sembarangan di dunia olahraga atletik Jawa Barat. Ia adalah representasi dari kegigihan dan kecepatan. Masa mudanya dihabiskan untuk melatih fisik, menantang limitasi diri demi sebuah kebanggaan yang ia titipkan pada sepasang kakinya.

Baca Juga Kisah Menginspirasi Kosong 3: Menghapus Lapar di Sudut Kota Cirebon Lewat Sepiring Nasi Gratis
Kisah Menginspirasi Kosong 3: Menghapus Lapar di Sudut Kota Cirebon Lewat Sepiring Nasi Gratis

Salah satu pencapaian yang paling membekas dalam benaknya adalah saat ia berlaga di Pekan Olahraga Daerah (Porda) Jawa Barat tahun 1974 yang diselenggarakan di Bogor. Kala itu, ia turun di nomor lari 10 kilometer, sebuah jarak yang menuntut ketahanan fisik dan mental yang luar biasa. Dengan catatan waktu 32 menit—sebuah angka yang sangat impresif pada masanya—Abah Duni berhasil menyabet gelar juara harapan satu atau peringkat keempat. Prestasi ini membuktikan bahwa ia adalah salah satu pelari papan atas di tatar pasundan.

Tak berhenti di situ, ambisinya membawa Abah Duni melangkah lebih jauh. Pada tahun 1977, ia terpilih menjadi bagian dari kontingen Jawa Barat untuk ajang paling bergengsi di tanah air, Pekan Olahraga Nasional (PON) di Jakarta. Meski keberuntungan belum berpihak padanya untuk membawa pulang medali emas di level nasional, pengalaman tersebut menjadi puncak dari karir atletiknya yang ia kenang sebagai masa-masa paling berwarna dalam hidupnya.

Transisi Pahit: Dari Podium ke Pekerjaan Kasar

Namun, roda nasib berputar tanpa ampun. Setelah masa kejayaannya di lintasan lari berakhir, Abah Duni tidak mendapatkan jaminan hari tua sebagaimana atlet profesional di era modern. Tanpa adanya kontrak besar atau tunjangan pensiun, ia terpaksa menanggalkan sepatu larinya dan menggantinya dengan beban berat di pundak. Kehidupan pasca-atlet adalah sebuah perjuangan untuk sekadar bertahan hidup demi menghidupi keluarga tercinta.

Baca Juga Prediksi Cuaca Cirebon 27 April 2026: Waspada Transisi Suhu Hangat dan Potensi Guyuran Hujan Ringan
Prediksi Cuaca Cirebon 27 April 2026: Waspada Transisi Suhu Hangat dan Potensi Guyuran Hujan Ringan

Abah Duni bertransformasi menjadi pekerja kasar demi menyambung nyawa. Ia pernah merambah hutan untuk mencari kayu, menjadi kuli panggul beras di kawasan Eretan, hingga menarik becak di jalanan Indramayu yang panas. Baginya, keringat yang menetes saat memanggul karung beras tidak ada bedanya dengan keringat saat berlari di lintasan lari—keduanya adalah simbol perjuangan. Hanya saja, kali ini tidak ada medali yang menanti di garis finis, melainkan sesuap nasi untuk anak dan istrinya.

Selama bertahun-tahun, ia melakoni pekerjaan sebagai kuli panggul di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Eretan, Kandanghaur. Jarak yang jauh dari rumah tidak menyurutkan semangatnya. Namun, seiring bertambahnya usia, kekuatan ototnya mulai mengkhianati ambisinya. Tenaga yang dulu sanggup membawanya berlari puluhan kilometer kini mulai meredup, memaksanya untuk membatasi aktivitas fisik yang terlalu berat.

Tragedi Ironis: Ketika Simbol Juara Berganti Menjadi Beras

Di antara sekian banyak kepahitan yang ia telan, ada satu kisah yang paling menyayat hati—sebuah simbol betapa kerasnya hidup bagi seorang mantan atlet di masa itu. Suatu ketika, sepulang dari bekerja keras sebagai kuli panggul di Eretan, Abah Duni mendapati sebuah kabar yang membuatnya tertegun. Sang ibu, yang terdesak oleh kebutuhan perut yang tidak bisa ditunda, terpaksa menukarkan salah satu piala kemenangan Abah Duni dengan beras seberat 25 kilogram.

Baca Juga Daftar Lengkap Rumah Sakit & Klinik Rujukan BPJS 24 Jam di Bandung: Panduan Darurat Medis Terpercaya
Daftar Lengkap Rumah Sakit & Klinik Rujukan BPJS 24 Jam di Bandung: Panduan Darurat Medis Terpercaya

Piala tersebut bukan sekadar benda logam; itu adalah saksi bisu kemenangannya dalam sebuah perlombaan di Pasar Mambo, Indramayu. Kenangan akan perjuangannya menaklukkan lawan kini harus dikonversi menjadi bahan pangan. “Saya sedih waktu itu,” kenang Abah Duni dengan suara yang sedikit bergetar. Ia sempat mencoba mendatangi toko tempat piala itu dijual kembali, namun jawaban pemilik toko justru menambah luka di hatinya. Sang pemilik toko dengan enteng mengatakan bahwa piala bisa dibeli lagi, tanpa memahami nilai emosional dan tetesan keringat di baliknya.

Tragedi piala yang ditukar beras ini menjadi metafora sempurna bagi nasib banyak atlet veteran di Indonesia. Prestasi yang dulu dipuja-puja, pada akhirnya kalah oleh tuntutan kebutuhan dasar yang mendesak. Tanpa adanya sistem pendukung yang kuat, simbol-simbol kejayaan seringkali berakhir di pasar loak atau toko barang bekas demi kelangsungan hidup.

Menjalani Masa Senja di Depan Lapak Dagangan

Kini, Abah Duni tidak lagi berlari mengejar waktu. Ia tinggal di sebuah rumah sederhana tidak jauh dari GOR Singalodra, sebuah tempat yang mungkin sering mengingatkannya pada keriuhan kompetisi. Sehari-hari, kegiatannya diisi dengan membantu putri bungsunya, Ulfa, berjualan di depan rumah. Ia membantu menyiapkan barang dagangan atau sekadar mengisi air, pekerjaan ringan yang masih mampu dilakukan oleh fisiknya yang telah renta.

Baca Juga Mengenal Partai Rakyat Kecoak: Simbol Perlawanan Kreatif Kaum Muda India Terhadap Penghinaan Elit
Mengenal Partai Rakyat Kecoak: Simbol Perlawanan Kreatif Kaum Muda India Terhadap Penghinaan Elit

Sebagai ayah dari tujuh anak, kakek dari 18 cucu, dan buyut dari 6 cicit, Abah Duni adalah sosok yang sangat dihormati di keluarganya. Meski secara ekonomi ia hidup dalam keterbatasan—bahkan anak-anaknya hanya mampu menempuh pendidikan hingga tingkat SMP—ia tetap menjaga martabatnya sebagai seorang petarung. Becak yang dulu menjadi tumpuan hidupnya kini lebih sering terparkir, hanya sesekali digunakan untuk mengantar tabung gas jika ada tetangga yang membutuhkan bantuan.

Meskipun hidup dalam kondisi yang jauh dari sejahtera, mata Abah Duni masih memancarkan kilau kebanggaan saat menceritakan masa lalunya. Baginya, menjadi seorang pelari adalah bagian identitas yang tidak akan pernah hilang, meski dunia mungkin telah melupakannya. Ia tetap berdiri tegak, menghadapi setiap hari dengan ketabahan yang sama seperti saat ia menghadapi kilometer terakhir di lintasan lari.

Harapan untuk Generasi Masa Depan

Melalui perjalanan hidupnya yang penuh warna sekaligus lara, Abah Duni menitipkan sebuah pesan mendalam bagi para pemangku kebijakan dan generasi atlet muda. Dalam bahasa daerah Indramayu yang kental, ia menekankan pentingnya apresiasi bagi para pejuang olahraga. Ia berharap agar para atlet yang saat ini sedang berada di puncak prestasi tidak mengalami nasib yang sama dengannya di masa depan.

Baca Juga El Clasico 2026: Di Balik Prahara Ruang Ganti Real Madrid dan Instruksi ‘Bakar’ Alvaro Arbeloa
El Clasico 2026: Di Balik Prahara Ruang Ganti Real Madrid dan Instruksi ‘Bakar’ Alvaro Arbeloa

“Prestasi seharusnya dihargai, bukan hanya saat mereka berada di puncak, tetapi juga ketika mereka menua dan tak lagi mampu berlari,” tuturnya. Pesan ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di balik setiap medali yang diraih seorang atlet, ada risiko kesehatan dan masa depan yang mereka pertaruhkan. Diperlukan perhatian lebih dari pemerintah melalui program kesejahteraan atlet agar tidak ada lagi “Abah Duni” lain yang harus menukar piala mereka demi sesuap nasi.

Kisah Abah Duni adalah sebuah potret kejujuran tentang kehidupan. Ia mengajarkan kita bahwa kejayaan di panggung juara bersifat fana, namun integritas dan semangat pantang menyerah adalah hal yang abadi. Di lintasan kehidupannya yang panjang dan berliku, Abah Duni telah membuktikan diri sebagai pemenang sejati—bukan karena medali yang pernah ia raih, melainkan karena kemampuannya untuk terus melangkah meski beban di pundaknya kian berat.

Kini, setiap kali matahari terbenam di ufuk barat Indramayu, Abah Duni duduk tenang di depan rumahnya. Mungkin dalam diamnya, ia kembali mendengar suara tembakan start dan deru napas rekan-rekan pelarinya. Meski piala-pialanya telah tiada, semangat sang legenda tetap hidup, menginspirasi siapa saja yang bersedia mendengarkan kisahnya di kisah inspiratif ini.

Dewi Lestari

Dewi Lestari

Penulis berita yang cekatan dalam mengolah informasi terkini (breaking news) agar tersaji secara akurat dan mudah dipahami.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *