Wasiat Terakhir di Lereng Rinjani: Kisah Haru Endang Subarna, Pendaki Sukabumi yang Berpulang dalam Dekapan Gunung

Dewi Lestari | ZonaKabar
17 Mei 2026, 11:44 WIB
Wasiat Terakhir di Lereng Rinjani: Kisah Haru Endang Subarna, Pendaki Sukabumi yang Berpulang dalam Dekapan Gunung

ZonaKabar — Kabut duka yang tebal menyelimuti lereng Gunung Rinjani dan merambat hingga ke pelosok Kabupaten Sukabumi. Sebuah kisah tentang perjuangan, kecintaan pada alam, dan wasiat terakhir yang menyentuh hati kini menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Endang Subarna (48), seorang pria yang dikenal memiliki semangat membara, mengembuskan napas terakhirnya justru di saat ia mencoba menaklukkan salah satu puncak tertinggi di Indonesia. Peristiwa ini bukan sekadar berita duka biasa, melainkan sebuah narasi tentang perjalanan spiritual seorang hamba menuju peristirahatan terakhirnya.

Tragedi di Bukit Penyesalan: Detik-Detik Terakhir Sang Pendaki

Nama Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat memang selalu menyimpan daya tarik magis bagi para pecinta ketinggian. Namun, bagi Endang Subarna, warga asli Kampung Cagar Alam, Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, gunung ini menjadi saksi bisu akhir hayatnya. Berdasarkan informasi yang dihimpun tim ZonaKabar, peristiwa tragis ini terjadi pada Kamis, 14 Mei 2026. Endang dilaporkan terjatuh dan tak sadarkan diri saat tengah berjuang melewati medan berat di kawasan yang dikenal dengan nama Bukit Penyesalan.

Baca Juga Jadwal Sholat Bandung Hari Ini Selasa 5 Mei 2026: Meraih Keberkahan Melalui Ibadah Tepat Waktu
Jadwal Sholat Bandung Hari Ini Selasa 5 Mei 2026: Meraih Keberkahan Melalui Ibadah Tepat Waktu

Bukit Penyesalan di jalur pendakian via Sembalun memang memiliki reputasi yang cukup menguji mental dan fisik. Tanjakan yang curam tanpa ampun seringkali membuat para pendaki merasa menyesal telah memilih jalur tersebut, namun bagi Endang, ini adalah tantangan yang ingin ia taklukkan. Sayangnya, tepat di antara jalur terjal antara Pos 2 menuju Pos 3, tubuhnya tak lagi mampu menahan beban fisik yang luar biasa. Ia ambruk di tengah perjalanan, meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekan pendakiannya.

Antara Semangat dan Keterbatasan Fisik: Riwayat Kesehatan Almarhum

Ketua RW 03 Desa Sekarwangi, Rahmat Nugraha, menjadi sosok yang memberikan klasifikasi mendalam mengenai kondisi kesehatan warganya tersebut. Menurut Rahmat, ada fakta yang mungkin selama ini luput dari perhatian banyak orang sebelum keberangkatan Endang. Almarhum ternyata memiliki riwayat gangguan pernapasan yang cukup serius. Namun, kecintaannya yang begitu besar terhadap dunia pendakian diduga membuatnya sedikit mengabaikan sinyal-sinyal bahaya dari tubuhnya sendiri.

“Almarhum memang pada dasarnya memiliki riwayat sesak napas. Kami menduga, karena keinginan kuatnya untuk mencapai puncak dan memaksakan kondisi fisik yang sudah mencapai batasnya, akhirnya terjadi serangan jantung di tengah jalur,” ungkap Rahmat saat ditemui tim ZonaKabar. Penjelasan ini meluruskan berbagai spekulasi yang sempat simpang siur di media sosial mengenai penyebab kematian korban. Keinginan kuat Endang untuk tetap mendaki meski dalam kondisi kesehatan yang kurang prima menunjukkan betapa besarnya gairah hidup yang ia miliki, meskipun akhirnya maut menjemput di tengah sunyinya hutan Rinjani.

Baca Juga Sinopsis Peppermint: Amarah Jennifer Garner dan Perjuangan Seorang Ibu Melawan Ketidakadilan Kartel Narkoba
Sinopsis Peppermint: Amarah Jennifer Garner dan Perjuangan Seorang Ibu Melawan Ketidakadilan Kartel Narkoba

Wasiat yang Menjadi Penuntun Kepulangan

Di balik peristiwa menyedihkan ini, terselip sebuah fakta mengharukan mengenai firasat yang dialami oleh almarhum. Seolah sudah mengetahui bahwa perjalanannya kali ini akan menjadi yang terakhir, Endang sempat menitipkan wasiat khusus kepada istrinya sebelum ia mengemas barang-barangnya untuk berangkat ke Lombok. Wasiat inilah yang kemudian menjadi alasan mengapa jenazahnya tidak disemayamkan di rumah duka utamanya di Cibadak.

“Ada pesan mendalam dari mendiang suaminya kepada sang istri. Ia pernah berpesan, jika seandainya usianya pendek atau ia tidak kembali, ia ingin dimakamkan di dekat makam ibu dan bapaknya yang berada di TPU Cisarua, Cibodas, Nagrak,” tutur Rahmat dengan nada rendah. Wasiat ini menjadi pedoman bagi keluarga besar dalam menentukan lokasi peristirahatan terakhir Endang. Hal ini membuktikan betapa Endang adalah sosok yang sangat menghormati orang tuanya, bahkan dalam bayang-bayang kematian sekalipun, ia ingin kembali berada di dekat mereka.

Kronologi Evakuasi dan Perjalanan Udara Menuju Jawa Barat

Proses evakuasi dari kawasan Gunung Rinjani bukanlah perkara mudah. Tim SAR dan relawan harus bekerja ekstra keras untuk membawa jasad korban dari ketinggian menuju titik aman. Setelah berhasil dievakuasi, jenazah Endang segera dipersiapkan untuk dipulangkan ke kampung halamannya di Sukabumi melalui jalur udara. Pesawat yang membawa jenazah mendarat di bandara pada Jumat, 15 Mei 2026, sekitar pukul 12.30 WIB.

Baca Juga Persaingan Memanas! Manchester City Terus Tempel Ketat Arsenal di Puncak Klasemen Liga Inggris
Persaingan Memanas! Manchester City Terus Tempel Ketat Arsenal di Puncak Klasemen Liga Inggris

Kedatangan jenazah disambut dengan isak tangis keluarga yang sudah menunggu sejak pagi. Tepat pukul 13.15 WIB, ambulans yang membawa peti jenazah mulai bergerak membelah kepadatan lalu lintas menuju Nagrak. Jarak yang jauh antara bandara dan lokasi pemakaman tidak menyurutkan niat keluarga dan kerabat untuk memberikan penghormatan terakhir. Rombongan ambulans akhirnya tiba di daerah Cisarua, Cibodas sekitar pukul 15.30 WIB, membawa sang pengelana kembali ke pangkuan tanah kelahirannya.

Persemayaman Terakhir di Tengah Guyuran Hujan Nagrak

Langit di atas Kecamatan Nagrak seolah ikut menangis menyambut kepulangan Endang Subarna. Saat rombongan tiba, wilayah tersebut sedang diguyur hujan yang sangat deras, sehingga prosesi pemakaman tidak bisa langsung dilaksanakan. Jenazah harus menunggu sejenak hingga situasi dirasa aman dan debit air mulai reda. Suasana haru kian terasa saat peti jenazah mulai diturunkan ke liang lahat tepat pukul 16.30 WIB di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cisarua.

Kini, Endang Subarna telah beristirahat dengan tenang. Sesuai dengan permintaan terakhirnya, makamnya berdampingan dengan makam kedua orang tuanya. Bukit Penyesalan di Rinjani mungkin menjadi tempat ia melepaskan napas terakhirnya, namun Cisarua Nagrak menjadi tempat ia menemukan kedamaian abadi. Kepergiannya meninggalkan pesan kuat bagi komunitas pendaki tentang pentingnya mendengarkan suara tubuh dan menghargai batas kemampuan diri sendiri.

Baca Juga Tragedi Berdarah di Sekelimus Bandung: Nanda Tritami Tewas di Tangan Eks Kakak Ipar, Ini Kronologi Lengkapnya
Tragedi Berdarah di Sekelimus Bandung: Nanda Tritami Tewas di Tangan Eks Kakak Ipar, Ini Kronologi Lengkapnya

Pelajaran Berharga bagi Komunitas Pendaki Indonesia

Kisah Endang Subarna menambah daftar panjang peristiwa duka di dunia pendakian Indonesia. Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi siapa saja yang ingin melakukan kegiatan alam bebas, terutama di gunung-gunung dengan tingkat kesulitan tinggi seperti Rinjani. Penting untuk selalu melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dan bersikap jujur terhadap kondisi fisik diri sendiri sebelum memulai petualangan.

Gunung tidak akan lari ke mana, namun nyawa adalah titipan yang harus dijaga. Pelajaran tentang manajemen risiko dan kesiapan fisik harus menjadi prioritas utama di atas sekadar keinginan untuk mencapai puncak. ZonaKabar mengajak seluruh pembaca untuk mendoakan almarhum agar mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi ujian ini. Semoga semangat almarhum dalam mencintai alam tetap hidup dalam bentuk yang lebih bijaksana di hati kita semua.

Dewi Lestari

Dewi Lestari

Penulis berita yang cekatan dalam mengolah informasi terkini (breaking news) agar tersaji secara akurat dan mudah dipahami.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *