Kisah Haru Mbah Suyati: Menjemput Asa yang Hilang Setelah 31 Tahun Terpisah di Malaysia
ZonaKabar — Suasana haru yang begitu menyesakkan dada sekaligus membahagiakan pecah di Desa Adinuso, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang. Seorang lansia bernama Gim Suyati (73), yang selama lebih dari tiga dekade dianggap hilang ditelan bumi di Negeri Jiran, akhirnya menginjakkan kaki kembali di tanah kelahirannya. Kepulangannya bukan sekadar perjalanan lintas negara, melainkan sebuah mukjizat bagi keluarga yang telah puluhan tahun memendam rindu dan doa.
Penantian Panjang yang Berujung Air Mata Bahagia
Kamis, 14 Mei 2026, akan selalu diingat sebagai hari paling bersejarah bagi warga Desa Adinuso. Kerumunan orang sudah berkumpul sejak pagi, menanti kehadiran sosok yang selama ini hanya ada dalam cerita dan ingatan samar. Saat sebuah mobil berhenti dan sesosok perempuan lansia turun dengan langkah perlahan, tangis pun pecah. Gim Suyati, yang telah meninggalkan desa itu sejak tahun 1995, akhirnya kembali. Ia tampak memeluk erat setiap anggota keluarga yang menjemputnya, seolah ingin mengganti waktu 31 tahun yang hilang dalam satu dekapan.
Perjalanan panjang ini bermula saat Suyati memutuskan untuk merantau ke Malaysia demi memperbaiki taraf hidup keluarga. Namun, siapa sangka niat mulia tersebut justru menjadi awal dari perpisahan menyakitkan yang berlangsung selama puluhan tahun. Selama dua tahun pertama, komunikasi masih sempat terjalin melalui telepon umum—satu-satunya teknologi penghubung kala itu. Namun, pada tahun 1997, komunikasi itu terputus total tepat setelah ia berpamitan untuk pulang ke Indonesia.
Perjuangan Sang Anak Mencari Jejak Ibu di Negeri Orang
Anto (52), anak kedua Suyati, adalah saksi hidup betapa beratnya beban ketidakpastian yang dipikul keluarga. Kehilangan kontak pada tahun 1997 membuat keluarga terombang-ambing dalam kecemasan. Segala upaya dilakukan, namun hasilnya nihil. Tekad baja kemudian membawa Anto untuk menyusul ke Malaysia pada tahun 2002. Bukan sekadar mencari nafkah di pabrik di Batu Pahat, Johor, tujuan utamanya adalah menemukan sang ibu.
“Setiap hari libur kerja, saya habiskan waktu seharian penuh di terminal bus. Saya hanya duduk diam, memperhatikan setiap wajah yang lalu lalang, berharap salah satu dari mereka adalah ibu saya,” kenang Anto dengan nada getir. Empat tahun ia habiskan di Johor dengan rutinitas yang sama, namun takdir belum juga mempertemukan mereka. Pada tahun 2004, ia terpaksa pulang karena kontrak kerjanya berakhir, dan setahun kemudian, sang ayah meninggal dunia tanpa pernah tahu keberadaan istrinya.
Meski duka menyelimuti, Anto tidak menyerah. Pada tahun 2005, ia kembali lagi ke Malaysia untuk melanjutkan pencarian sembari bekerja. Namun, hingga kontrak keduanya habis pada tahun 2008, keberadaan Gim Suyati tetap misterius. Keluarga di Batang bahkan sempat pasrah dan melakukan tradisi doa bersama, mulai dari tujuh hari, 40 hari, hingga seribu hari, mengira bahwa Suyati mungkin sudah tiada di tanah perantauan.
Pertemuan Tak Terduga Melalui Persahabatan Lintas Negara
Titik terang baru muncul sekitar sepuluh bulan yang lalu melalui sebuah pertemuan yang tak terencana. Di Malaysia, Suyati yang kini sudah lanjut usia, menjalin persahabatan dengan seorang warga lokal bernama Kamarudin Harun. Pria Malaysia yang sebaya dengannya itu sering berbagi cerita hingga akhirnya Suyati menceritakan kerinduannya pada keluarga di Indonesia dan kenyataan bahwa ia tidak bisa pulang selama puluhan tahun.
Terdorong oleh rasa kemanusiaan yang tinggi, Kamarudin Harun berinisiatif untuk mencari keluarga Suyati di Indonesia. Dengan modal ingatan Suyati yang terbatas tentang nama desa dan kecamatan, Kamarudin nekat terbang ke Indonesia pada 14 April lalu. Perjuangan pria Malaysia ini membuahkan hasil saat ia berhasil menemukan rumah keluarga Anto di Desa Adinuso. Di hari yang sama, melalui panggilan video, untuk pertama kalinya setelah 31 tahun, Anto bisa melihat wajah ibunya kembali.
Realita Pahit Korban Penipuan Agensi Ilegal
Mengapa Mbah Suyati begitu sulit untuk pulang? Tabir gelap itu akhirnya terungkap. Ternyata, keberangkatan Suyati ke Malaysia 31 tahun silam didasari oleh penipuan. Ia diberangkatkan oleh agen tidak resmi tanpa dokumen imigrasi yang sah. Ia diselundupkan ke Malaysia tanpa paspor, menjadikannya seorang migran ilegal dengan status yang benar-benar kosong di mata hukum.
Selama di Malaysia, Suyati bekerja serabutan untuk bertahan hidup di Kuala Lumpur. Ia sebenarnya sudah berkali-kali mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), namun karena tidak memiliki satu pun dokumen identitas dan belum melakukan perekaman e-KTP, proses administrasi selalu menemui jalan buntu. Kondisi ini diperparah dengan statusnya sebagai korban perdagangan manusia yang dilakukan oleh agensi nakal di masa lalu.
Proses Pemulangan dan Program Pemutihan
Kepulangan Mbah Suyati ke Batang pun tidak berjalan instan. Anto harus bekerja ekstra keras mengurus administrasi di Kementerian Hukum di Jakarta untuk mendapatkan pengakuan kewarganegaraan sang ibu. Waktu yang terbatas karena izin tinggal di Malaysia dan kendala administrasi yang rumit menjadi tantangan tersendiri. Namun, beruntung saat itu pemerintah Malaysia sedang mengadakan program pemutihan bagi warga asing tanpa dokumen.
Berkat program tersebut, denda imigrasi yang harus dibayar menjadi lebih ringan. Setelah melalui proses yang panjang dan melelahkan, Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) akhirnya diterbitkan. Anto menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam kepada Kamarudin Harun. Tanpa campur tangan warga Malaysia yang berhati mulia tersebut, mungkin ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan sang ibu hingga akhir hayat.
Logat Melayu dan Kerinduan pada Kampung Halaman
Kini, Mbah Suyati telah berada di rumah. Meski sudah 31 tahun menetap di Malaysia hingga cara bicaranya sangat kental dengan logat Melayu, ia mengaku tidak pernah melupakan identitasnya sebagai orang Jawa. “Perasaannya senang sekali, gembira sekali. Saya tidak tahu bagaimana mengungkapkannya (macam mana nak cakap),” ujarnya dengan senyum yang terus mengembang.
Kisah Mbah Suyati menjadi pengingat keras bagi masyarakat tentang bahaya penipuan agensi tenaga kerja ilegal. Di sisi lain, kisah ini juga membuktikan bahwa kasih sayang antara anak dan ibu, serta kebaikan hati antar sesama manusia, mampu menembus batas negara dan waktu yang sangat lama. Kini, di sisa usianya, Suyati hanya ingin menghabiskan waktu bersama anak dan cucunya di tanah kelahirannya yang sempat ia tinggalkan selama tiga dekade.
Bagi keluarga di Batang, kepulangan Suyati adalah sebuah jawaban atas doa-doa panjang yang selalu mereka panjatkan di setiap sujud. Penantian 31 tahun itu akhirnya lunas dibayar dengan kehadiran fisik sang ibu yang kini siap menjalani hari tua dengan tenang di pangkuan keluarga besarnya.