Kemenangan Persis Solo Ternoda: Polresta Surakarta Amankan 33 Suporter Terkait Flare dan Miras di Stadion Manahan

Aris Munandar | ZonaKabar
17 Mei 2026, 14:05 WIB
Kemenangan Persis Solo Ternoda: Polresta Surakarta Amankan 33 Suporter Terkait Flare dan Miras di Stadion Manahan

ZonaKabar — Gemuruh sorak-sorai di Stadion Manahan Solo yang seharusnya menjadi pesta kemenangan murni bagi Laskar Sambernyawa, terpaksa harus menyisakan catatan kelam. Di balik keberhasilan Persis Solo menundukkan Dewa United dalam lanjutan kompetisi BRI Liga 1, aparat kepolisian terpaksa mengambil tindakan tegas terhadap puluhan penonton yang mengabaikan aturan keselamatan.

Setidaknya, sebanyak 33 orang suporter terpaksa digiring ke markas kepolisian akibat kedapatan membawa barang-barang terlarang ke dalam area tribun. Insiden ini menjadi sorotan tajam di tengah upaya transformasi sepak bola Indonesia yang tengah mengedepankan aspek keamanan dan kenyamanan bagi seluruh suporter sepak bola.

Operasi Penertiban di Jantung Stadion Manahan

Laga yang berlangsung pada Sabtu (16/5) malam tersebut sebenarnya berjalan dengan tensi yang tinggi dan menarik. Namun, kewaspadaan personel gabungan dari Polresta Surakarta tidak kendor sedikit pun. Sejak pintu gerbang stadion dibuka, pemeriksaan ketat telah dilakukan untuk menyaring barang-barang yang berpotensi mengganggu jalannya pertandingan.

Kapolresta Surakarta melalui Kabagops Kompol Wahyu Joko Nugroho menjelaskan bahwa tindakan pengamanan ini merupakan langkah preventif guna memastikan laga berjalan kondusif. Sayangnya, meski imbauan telah sering disosialisasikan, masih saja ada oknum yang nekat menyelundupkan benda berbahaya seperti flare, petasan, hingga minuman keras ke dalam stadion yang menjadi kebanggaan warga Solo tersebut.

Baca Juga Heboh ‘Sapi Terbang’ di Klaten: Kronologi Lengkap Evakuasi Dramatis Menggunakan Crane Setelah Kabur ke Tegalan
Heboh ‘Sapi Terbang’ di Klaten: Kronologi Lengkap Evakuasi Dramatis Menggunakan Crane Setelah Kabur ke Tegalan

“Dalam kegiatan pengamanan pertandingan antara Persis Solo melawan Dewa United, petugas kami di lapangan berhasil mengamankan 33 orang suporter. Mereka kedapatan membawa barang-barang yang jelas dilarang masuk ke dalam stadion, mulai dari flare, smoke bomb, petasan, hingga minuman beralkohol,” ujar Kompol Wahyu dalam keterangan resminya.

Detail Barang Bukti: Dari Suar Hingga Minuman Keras

Penangkapan puluhan oknum suporter ini tidak dilakukan tanpa dasar yang kuat. Polisi berhasil menyita sejumlah barang bukti yang cukup mencengangkan dari tangan para penonton tersebut. Berdasarkan data yang dihimpun tim ZonaKabar, rincian barang bukti yang diamankan meliputi 23 buah flare, 2 buah smoke bomb ukuran besar, dan 5 buah smoke bomb ukuran kecil.

Tak berhenti di situ, petugas juga menemukan 2 buah petasan flare serta 9 buah petasan atau kembang api yang siap diledakkan di tengah kerumunan. Yang lebih memprihatinkan, polisi juga menyita satu botol minuman keras merek McDonald yang dibawa oleh salah satu oknum penonton. Keberadaan miras di dalam lingkungan Stadion Manahan dianggap sebagai pemicu utama potensi keributan antar-penonton maupun tindakan anarkis lainnya.

Baca Juga Tragedi Tanah Longsor di Manyaran Semarang: Antara Kehilangan Tempat Tinggal dan Keteguhan Hati Sang Pemilik
Tragedi Tanah Longsor di Manyaran Semarang: Antara Kehilangan Tempat Tinggal dan Keteguhan Hati Sang Pemilik

“Kami sangat menyayangkan adanya temuan ini. Sepak bola seharusnya menjadi sarana hiburan yang mempersatukan, bukan justru membahayakan nyawa orang lain dengan membawa benda-benda yang mudah terbakar di tengah kerumunan ribuan orang,” tambah Wahyu dengan nada tegas.

Ironi Suporter Luar Kota dan Ancaman Keselamatan

Satu fakta menarik sekaligus ironis yang diungkapkan oleh pihak kepolisian adalah identitas dari para suporter yang diamankan tersebut. Mayoritas dari 33 orang yang digelandang ke Mapolresta Surakarta ternyata bukan merupakan warga asli Kota Solo, melainkan berasal dari luar daerah. Hal ini memicu diskusi mengenai pentingnya literasi regulasi bagi suporter yang melakukan perjalanan tandang maupun suporter lintas wilayah.

Membawa flare atau petasan ke dalam stadion bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan. Asap pekat yang dihasilkan dari flare dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut, terutama bagi anak-anak dan orang tua yang turut hadir di stadion. Selain itu, suhu panas dari api flare dapat memicu kebakaran atau luka bakar serius jika mengenai anggota tubuh atau atribut suporter lainnya.

Baca Juga Skandal Korupsi Dana Desa di Pati: Kades Tlogosari Resmi Jadi Tersangka Penyelewengan Rp 805 Juta
Skandal Korupsi Dana Desa di Pati: Kades Tlogosari Resmi Jadi Tersangka Penyelewengan Rp 805 Juta

“Kami berkomitmen untuk menjaga agar setiap pertandingan di Solo dapat dinikmati oleh semua kalangan, termasuk keluarga. Oleh karena itu, prosedur pengamanan akan terus kami perketat demi kenyamanan bersama,” jelas Kompol Wahyu.

Sanksi Tegas dan Proses Pembinaan

Setelah diamankan di area stadion, ke-33 suporter tersebut langsung dibawa menggunakan kendaraan operasional polisi menuju Mapolresta Surakarta. Di sana, mereka menjalani proses pendataan identitas dan pemeriksaan lebih lanjut oleh Satreskrim. Langkah ini diambil untuk memberikan efek jera agar kejadian serupa tidak terulang di pertandingan-pertandingan mendatang.

Para pelaku diminta untuk membuat surat pernyataan tertulis yang berisikan janji untuk tidak mengulangi perbuatannya. Setelah proses pendataan dan pembinaan selesai, mayoritas dari mereka diperbolehkan pulang. Namun, perlakuan berbeda diberikan kepada dua orang suporter yang kedapatan membawa minuman keras.

Terhadap dua oknum pembawa miras tersebut, Sat Samapta Polresta Surakarta memberikan tindakan Tindak Pidana Ringan (Tipiring). Hal ini sesuai dengan komitmen kepolisian untuk membersihkan area olahraga dari pengaruh alkohol yang seringkali menjadi akar permasalahan kekerasan di dalam stadion.

Baca Juga Milo Masih Tak Percaya Persis Solo Terjerembab ke Jurang Degradasi: Sebuah Tragedi bagi Kota yang Memiliki Segalanya
Milo Masih Tak Percaya Persis Solo Terjerembab ke Jurang Degradasi: Sebuah Tragedi bagi Kota yang Memiliki Segalanya

Analisis Pertandingan: Gol Tunggal Luca Dumancic

Di luar insiden pengamanan suporter, jalannya pertandingan antara Persis Solo melawan Dewa United sendiri berlangsung sangat alot. Sebagai tuan rumah, Laskar Sambernyawa tampil menekan sejak menit awal, namun lini pertahanan Dewa United yang disiplin sempat membuat barisan depan Persis frustrasi.

Kebuntuan baru pecah pada babak kedua, tepatnya di menit ke-76. Melalui skema serangan yang terencana, Luca Dumancic berhasil menggetarkan jala gawang lawan dan mengubah skor menjadi 1-0. Gol tunggal ini sudah cukup bagi Persis Solo untuk mengamankan poin penuh di kandang sendiri, sekaligus memperbaiki posisi mereka di klasemen sementara Liga 1.

Sayangnya, euforia kemenangan tersebut sempat terganggu oleh aksi beberapa oknum di tribun yang tetap nekat menyalakan flare dan kembang api sesaat setelah peluit panjang dibunyikan. Asap putih tebal seketika menyelimuti lapangan, menutupi pandangan mata, meski para pemain dan ofisial kedua tim tetap mencoba bersikap tenang dan profesional di tengah kepulan asap tersebut.

Tradisi “Satu Jiwa” dan Harapan Masa Depan

Menutup malam yang penuh warna di Manahan, para pemain Persis Solo beserta tim pelatih tetap menjalankan ritual rutin mereka. Mereka berdiri melingkar di tengah lapangan, saling merangkul, dan menyanyikan lagu kebangsaan suporter Solo, “Satu Jiwa”. Momen haru ini menjadi pengingat bahwa loyalitas suporter seharusnya diekspresikan melalui dukungan moral dan nyanyian, bukan melalui tindakan yang melanggar hukum.

Baca Juga Nestapa Pensiunan Banyumas: Terjebak Skenario Kredit Fiktif Oknum Bank Senilai Rp 1,8 Miliar
Nestapa Pensiunan Banyumas: Terjebak Skenario Kredit Fiktif Oknum Bank Senilai Rp 1,8 Miliar

Pihak Panitia Pelaksana (Panpel) Persis Solo berharap agar aksi pembakaran flare ini tidak berujung pada sanksi berat dari Komite Disiplin PSSI. Sebagaimana diketahui, regulasi Liga 1 sangat ketat dalam mengatur penggunaan alat piroteknik di dalam stadion, di mana denda finansial yang besar hingga sanksi pengosongan tribun selalu membayangi klub yang suporternya tidak tertib.

Mari kita berharap, kemenangan tipis 1-0 atas Dewa United ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh elemen pencinta sepak bola di Indonesia. Dukungan total kepada klub kebanggaan adalah sebuah keharusan, namun mematuhi aturan demi keselamatan nyawa adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar kembali.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *