Transformasi Sang Mantan Presiden: Panglima Jilah Pinang Jokowi Jadi Aktor Utama Film Kolosal Sejarah Dayak

Aris Munandar | ZonaKabar
21 Mei 2026, 05:50 WIB
Transformasi Sang Mantan Presiden: Panglima Jilah Pinang Jokowi Jadi Aktor Utama Film Kolosal Sejarah Dayak

ZonaKabar — Kota Solo yang tenang mendadak menjadi pusat perhatian publik nasional setelah sebuah pertemuan tak biasa terjadi di kediaman Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo. Bukan urusan politik praktis atau konsolidasi partai yang dibawa oleh tamu istimewa kali ini, melainkan sebuah proposal seni yang ambisius dan penuh dengan muatan nilai sejarah. Panglima Jilah, sosok kharismatik yang memimpin Pasukan Merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR), datang jauh-jauh dari tanah Kalimantan membawa misi khusus: mengajak sang mantan presiden terjun ke dunia seni peran.

Pertemuan yang berlangsung hangat di kediaman pribadi Joko Widodo di kawasan Sumber, Banjarsari, Solo, pada Rabu (20/5/2026) ini, tidak hanya sekadar ajang temu kangen. Panglima Jilah secara eksplisit menawari Jokowi sebuah peran yang sangat prestisius. Bukan sebagai cameo atau pemeran pendukung, melainkan sebagai tokoh utama dalam sebuah proyek film kolosal yang mengangkat kejayaan dan sejarah suku Dayak di masa lampau.

Membawa Misi Budaya ke Layar Lebar

Langkah Panglima Jilah mengundang Jokowi masuk ke ranah sinematografi tentu bukan tanpa alasan yang kuat. Menurutnya, sosok Jokowi memiliki kharisma dan kedekatan emosional dengan masyarakat adat, sehingga kehadirannya dalam film tersebut akan memberikan bobot yang signifikan bagi penyebaran pesan kebudayaan. Dalam keterangannya usai pertemuan tersebut, Panglima Jilah menjelaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari silaturahmi untuk memperkuat adat budaya Nusantara.

Baca Juga Dampak Kecelakaan Hebat di Bekasi: 11 Perjalanan Kereta Api Jalur Daop 5 Purwokerto Dibatalkan Total
Dampak Kecelakaan Hebat di Bekasi: 11 Perjalanan Kereta Api Jalur Daop 5 Purwokerto Dibatalkan Total

“Kami melakukan silaturahmi dengan beliau mengenai persoalan adat dan budaya. Selain mengundang beliau untuk hadir dalam acara adat besar kami di bulan Agustus mendatang, kami juga membawa misi khusus, yakni mengajak Bapak Jokowi untuk ikut bermain dalam film Dayak,” ungkap Panglima Jilah dengan nada optimis. Beliau menambahkan bahwa respon dari mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut sangat positif, terutama saat pembicaraan menyentuh ranah pelestarian tradisi.

Jokowi Sebagai Pemeran Utama: Sebuah Kolaborasi Sejarah

Yang menarik dari proyek film ini adalah plot ceritanya yang tidak hanya berfokus pada internal suku Dayak saja. Film kolosal ini direncanakan akan menggali kembali memori kolektif bangsa mengenai hubungan diplomatik dan kerja sama antara masyarakat Dayak dengan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa, khususnya Majapahit di masa silam. Ini adalah sebuah narasi besar yang mencoba membuktikan bahwa persatuan antar pulau sudah terjalin jauh sebelum Republik ini berdiri.

Panglima Jilah menegaskan bahwa Jokowi diproyeksikan memegang peran sentral dalam narasi tersebut. “Peran beliau adalah peran utama. Kami ingin membuat karya ini sebaik mungkin agar generasi muda tahu bagaimana kolaborasi hebat antara Dayak dan Jawa terjadi di masa lampau. Ini adalah tentang identitas kita sebagai bangsa yang besar,” tuturnya. Film ini diharapkan mampu menjadi jembatan edukasi bagi penonton mengenai keragaman budaya Dayak yang sering kali belum tereksplorasi secara mendalam di industri kreatif nasional.

Baca Juga Iring-iringan Tumpeng Songo Demak Malam Ini: Simak Rute Rekayasa Lalu Lintas dan Jalur Alternatif Terlengkap
Iring-iringan Tumpeng Songo Demak Malam Ini: Simak Rute Rekayasa Lalu Lintas dan Jalur Alternatif Terlengkap

Filosofi di Balik Persahabatan Tokoh Bangsa

Lebih dari sekadar proyek film, pertemuan antara Panglima Jilah dan Jokowi mencerminkan pentingnya komunikasi antar tokoh masyarakat dalam menjaga stabilitas dan harmoni nasional. Bagi Panglima Jilah, silaturahmi adalah kunci untuk memecahkan berbagai persoalan kebangsaan. Beliau berpendapat bahwa tokoh fenomenal seperti Jokowi harus tetap mendapatkan ruang untuk memberikan masukan dan menyerap aspirasi dari berbagai kalangan, termasuk masyarakat adat di pedalaman Borneo.

“Silaturahmi tokoh itu krusial agar persoalan kebangsaan memiliki wadah untuk didiskusikan secara jernih. Sebagai pemimpin, informasi yang diterima harus cukup dan komprehensif dari berbagai sudut pandang,” tambah sang Panglima. Diskusi di meja makan kediaman Sumber itu pun berkembang dari sekadar naskah film menuju refleksi tentang bagaimana memposisikan kebangsaan di atas segala kepentingan kelompok.

Potensi Dampak Bagi Industri Film Nasional

Jika proyek ini benar-benar terealisasi, kehadiran film kolosal ini diprediksi akan menjadi fenomena baru dalam industri hiburan tanah air. Jarang sekali ditemukan seorang mantan kepala negara yang bersedia terlibat aktif dalam produksi film fiksi sejarah sebagai pemeran utama. Hal ini tentu akan memicu minat penonton yang luas, baik dari dalam negeri maupun mancanegara, yang penasaran melihat sisi lain dari seorang Joko Widodo.

Baca Juga Momen Haru di Balik Tuntutan 18 Tahun Bui Nadiem Makarim: Pelukan Hangat Ojol dan Jejak Kasus Chromebook
Momen Haru di Balik Tuntutan 18 Tahun Bui Nadiem Makarim: Pelukan Hangat Ojol dan Jejak Kasus Chromebook

Selain itu, penggunaan latar belakang sejarah Majapahit dan Dayak akan memberikan kesegaran visual dan naratif di tengah gempuran film horor dan drama romantis yang mendominasi pasar saat ini. Dengan riset yang mendalam, film ini berpotensi menjadi mahakarya yang menunjukkan kemegahan peradaban Nusantara. Keterlibatan Pasukan Merah TBBR juga menjamin otentisitas ritual, pakaian adat, dan tradisi yang akan ditampilkan dalam setiap adegan.

Menanti Kepastian Sang Tokoh Utama

Meskipun Panglima Jilah menyatakan bahwa respon Jokowi positif, publik kini tinggal menunggu kepastian lebih lanjut mengenai kapan produksi akan dimulai. Jokowi sendiri, sejak purna tugas, memang terlihat lebih menikmati waktunya di Solo, namun tidak menutup diri dari kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial dan budaya. Tawaran menjadi pemeran utama dalam film bertema sejarah Dayak ini bisa menjadi babak baru yang menarik dalam perjalanan hidup beliau.

Keputusan untuk terlibat dalam dunia akting tentu memerlukan pertimbangan matang, mengingat profil beliau sebagai tokoh internasional. Namun, jika motivasinya adalah untuk penguatan budaya dan persatuan bangsa, besar kemungkinan tawaran ini akan disambut dengan tangan terbuka. Masyarakat kini menanti, apakah kita akan segera melihat aksi sang mantan presiden mengenakan pakaian adat kebesaran dalam sebuah layar lebar yang epik.

Baca Juga Jejak Kriminal Residivis di Balik Penembakan Candisari: Dari Penjual Angkringan Hingga Aksi Koboi Jalanan
Jejak Kriminal Residivis di Balik Penembakan Candisari: Dari Penjual Angkringan Hingga Aksi Koboi Jalanan

Kesimpulan: Budaya Sebagai Perekat Bangsa

Kunjungan Panglima Jilah ke Solo membawa pesan kuat bahwa budaya adalah instrumen diplomasi yang paling cair dan efektif. Melalui rencana pembuatan film ini, ada harapan besar bahwa sekat-sekat perbedaan antara suku dan daerah dapat semakin menipis. Kisah kolaborasi Dayak dan Jawa di masa lalu menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun atas dasar kerja sama yang telah teruji oleh waktu.

ZonaKabar akan terus memantau perkembangan proyek ambisius ini. Apakah film kolosal ini akan menjadi kado indah bagi khazanah kebudayaan kita? Ataukah ini akan menjadi tren baru bagi para tokoh bangsa untuk menyuarakan pesan damai melalui karya seni? Satu yang pasti, semangat untuk menjaga warisan leluhur tidak boleh padam, baik di dalam istana maupun di depan kamera.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *