Jejak Akulturasi di Makam Sunan Tembayat: Menguak Misteri Gapura Segara Muncar yang Melegenda

Aris Munandar | ZonaKabar
26 Apr 2026, 19:42 WIB
Jejak Akulturasi di Makam Sunan Tembayat: Menguak Misteri Gapura Segara Muncar yang Melegenda

ZonaKabar — Menyusuri tapak-tapak sejarah di perbukitan Bayat, Klaten, seolah membawa kita kembali ke masa di mana harmoni antara peradaban Hindu dan Islam berpadu dalam keindahan arsitektur yang abadi. Kompleks makam Ki Ageng Pandanaran, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Tembayat, bukan sekadar tempat persemayaman terakhir seorang ulama besar. Di sana, berdiri tegak delapan gapura yang menjadi saksi bisu peralihan zaman, mulai dari era kejayaan Majapahit hingga masa keemasan Kesultanan Mataram Islam.

Desa Paseban yang terletak di Kecamatan Bayat menjadi rumah bagi situs wisata sejarah Klaten yang sangat sakral ini. Keunikan utama yang langsung menyambut para peziarah adalah keberadaan delapan gapura yang memiliki karakteristik berbeda. Dari delapan struktur tersebut, lima di antaranya mengadopsi gaya Candi Bentar yang kental dengan nuansa Hindu, sementara tiga lainnya mencerminkan estetika arsitektur Mataram Islam. Perpaduan ini menunjukkan betapa lembutnya proses dakwah Islam di tanah Jawa yang menghargai unsur-unsur kebudayaan lama.

Keunikan Delapan Gerbang Langit Bayat

Bagi siapa pun yang berkunjung untuk melakukan ziarah spiritual, pemandangan gapura-gapura ini akan memberikan kesan mendalam. Lima gapura bermodel Candi Bentar yang merupakan peninggalan era transisi Hindu-Islam meliputi Gapura Segara Muncar, Gapura Dudha, Gapura Pangrantunan, Gapura Panemut, dan Gapura Pamuncar. Struktur Candi Bentar sendiri dikenal sebagai gerbang terbelah yang tidak memiliki atap, melambangkan keterbukaan dan gunung suci.

Baca Juga Dominasi Jerez! Marc Marquez Incar Podium Utama MotoGP Spanyol 2026: Cek Jadwal, Starting Grid, dan Link Live Streaming
Dominasi Jerez! Marc Marquez Incar Podium Utama MotoGP Spanyol 2026: Cek Jadwal, Starting Grid, dan Link Live Streaming

Di sisi lain, terdapat tiga gapura yang dibangun dengan gaya arsitektur Mataram Islam, yakni Gapura Bale Kencur, Gapura Prabayeksa, dan Gapura Sinaga. Berbeda dengan model Candi Bentar, gapura-gapura ini memiliki sentuhan yang lebih khas dari era Sultan Agung, sang penguasa besar Mataram yang menaruh hormat setinggi langit pada sosok Sunan Tembayat. Kehadiran berbagai gaya arsitektur ini menjadikan kompleks makam ini sebagai laboratorium sejarah yang nyata.

Menelisik Gapura Segara Muncar: Saksi Bisu Era Kesultanan Demak

Dari sekian banyak gerbang yang ada, perhatian utama jurnalis ZonaKabar tertuju pada Gapura Segara Muncar. Berada di posisi terbawah dan menjadi pintu masuk pertama bagi para peziarah, gapura ini memegang gelar sebagai bangunan tertua di seluruh kompleks makam. Letaknya berada di dataran rendah, tepat di sebelah barat Joglo Paseban dan utara area parkir utama.

Dibangun dari material batu kapur putih yang kokoh—material yang memang banyak ditemukan di kawasan perbukitan Bayat—gapura ini berdiri dengan ketinggian sekitar 3 hingga 4 meter. Meski usianya telah mencapai ratusan tahun dan beberapa bagian batunya mulai menunjukkan tanda-tanda pelapukan secara alami, kemegahannya tidak luntur. Model Candi Bentar yang diusungnya seakan menegaskan posisi Sunan Tembayat sebagai tokoh yang mampu menjembatani dua era besar di Nusantara.

Baca Juga Si Jago Merah Hanguskan Bedeng Pekerja Proyek Lapas Semarang: Diduga Akibat Obat Nyamuk dan Korsleting Listrik
Si Jago Merah Hanguskan Bedeng Pekerja Proyek Lapas Semarang: Diduga Akibat Obat Nyamuk dan Korsleting Listrik

Identitas Gapura Segara Muncar sebagai yang tertua bukanlah sekadar klaim lisan. Hal ini dibuktikan dengan adanya Sengkalan Tahun atau kronogram yang dipahat pada kaki gapura sebelah kiri. Berdasarkan catatan resmi dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X, pahatan huruf Jawa tersebut berbunyi “Murti Sasrira Jleging Ratu”.

Membaca Rahasia Sengkalan “Murti Sasrira Jleging Ratu”

Kalimat sengkalan tersebut bukanlah sekadar hiasan. Jika diterjemahkan ke dalam angka tahun, “Murti Sasrira Jleging Ratu” merujuk pada angka 1448 Saka, atau dalam kalender Masehi bertepatan dengan tahun 1526. Ini adalah periode krusial dalam sejarah Nusantara, di mana Kesultanan Demak Bintoro berada di bawah kepemimpinan Sultan Trenggono.

Sebagai perbandingan, gapura tertua berikutnya adalah Gapura Panemut yang berada di urutan keempat. Di sana terdapat sengkalan yang berbunyi “Wisaya Hanata Wisiking Ratu”, yang jika dikonversi merujuk pada tahun 1555 Saka atau 1633 Masehi. Pada tahun tersebut, Sultan Agung dari Mataram Islam melakukan renovasi besar-besaran dan penataan ulang kompleks makam sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur spiritualnya. Fakta ini menegaskan bahwa Gapura Segara Muncar telah berdiri jauh sebelum dinasti Mataram Islam mencapai puncak kejayaannya.

Baca Juga Duel Sengit di Bumi Kartini: Prediksi Persijap Jepara vs Borneo FC dalam Perebutan Tahta Juara
Duel Sengit di Bumi Kartini: Prediksi Persijap Jepara vs Borneo FC dalam Perebutan Tahta Juara

Filosofi “Paseban” dan Jejak Pesantren di Bukit Cokro Kembang

Ebro Saptono, salah satu petugas perawatan dari BPK Wilayah X, berbagi kisah naratif kepada ZonaKabar mengenai fungsi awal Gapura Segara Muncar. Menurut cerita turun-temurun dari para sesepuh, gapura ini dulunya berfungsi sebagai batas wilayah sekaligus pintu utama menuju Bukit Cokro Kembang, nama asli perbukitan tempat makam berada.

“Gapura ini dibangun saat Eyang Sunan Pandanaran mendirikan padepokan atau pesantren di bukit ini. Dahulu, area ini adalah pusat menimba ilmu agama yang sangat ramai,” ungkap Ebro. Nama “Paseban” sendiri berasal dari kata sebo yang berarti datang menghadap atau berkunjung dengan penuh rasa hormat. Hal ini merujuk pada banyaknya orang yang datang dari berbagai penjuru untuk sowan dan belajar kepada Sunan Tembayat.

Nama Segara Muncar pun menyimpan memori tersendiri. Konon, di sisi kanan dan kiri gapura tersebut dulunya terdapat kolam besar yang jernih. Namun, seiring berjalannya waktu dan meningkatnya volume peziarah, kolam-kolam tersebut perlahan hilang, tertutup oleh urukan tanah atau tergerus oleh aliran air dari atas bukit. Jejak-jejak anak tangga kuno pun banyak yang sudah tertutup demi kenyamanan akses peziarah modern.

Baca Juga Jeritan Warga di Balik Proyek Turunan Gombel Semarang: Hunian Rusak Akibat Getaran Alat Berat
Jeritan Warga di Balik Proyek Turunan Gombel Semarang: Hunian Rusak Akibat Getaran Alat Berat

Harmoni Budaya dan Tantangan Pelestarian

Ketua paguyuban pengelola makam, Subandi, menambahkan bahwa sebelum mencapai Gapura Segara Muncar, dulunya terdapat sebuah alun-alun luas. Area ini digunakan oleh masyarakat untuk berkumpul sebelum naik ke atas bukit menuju Masjid Golo. Keberadaan tata ruang menyerupai pusat kota kerajaan ini menunjukkan bahwa kompleks makam Sunan Tembayat dulunya adalah sebuah pusat peradaban yang teratur.

“Dulu kemungkinan pagar kompleks pesantren masih mengelilingi area ini, tapi karena pemukiman penduduk yang sudah semakin padat, penelitian lebih lanjut sulit dilakukan,” jelas Subandi. Meskipun demikian, sisa-sisa kemegahan masa lalu tersebut masih bisa kita rasakan melalui akulturasi budaya yang terpancar dari setiap pahatan batu kapur di gapura tersebut.

Kini, Gapura Segara Muncar dan gapura lainnya seperti Gapura Dudha serta Pangrantunan dijaga dengan sangat ketat. Beberapa di antaranya bahkan tidak boleh dilewati secara sembarangan demi menjaga keutuhan strukturnya yang sudah sangat tua. Pelestarian ini menjadi penting agar generasi mendatang tetap bisa menyaksikan bukti nyata bagaimana Islam masuk ke tanah Jawa dengan cara yang penuh damai dan estetis.

Baca Juga Bisnis Gelap Sinte di Balik Layar Instagram Terbongkar, Pengedar Asal Bawen Tak Berkutik Ringkus Polda Jateng
Bisnis Gelap Sinte di Balik Layar Instagram Terbongkar, Pengedar Asal Bawen Tak Berkutik Ringkus Polda Jateng

Bagi Anda yang ingin merasakan kedamaian spiritual sekaligus mengagumi kekayaan arsitektur masa lalu, Makam Sunan Tembayat di Bayat adalah destinasi yang tak boleh dilewatkan. Di sana, setiap batu punya cerita, dan setiap gapura adalah pintu menuju pemahaman sejarah yang lebih dalam tentang jati diri bangsa kita.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *