Pijar Kedamaian di Langit Borobudur: Momen Wakil Presiden Gibran Rakabuming Terbangkan Lampion Waisak yang Penuh Magis

Aris Munandar | ZonaKabar
01 Jun 2026, 01:40 WIB
Pijar Kedamaian di Langit Borobudur: Momen Wakil Presiden Gibran Rakabuming Terbangkan Lampion Waisak yang Penuh Magis

ZonaKabar — Malam itu, pelataran Candi Borobudur tidak sekadar menjadi saksi bisu sejarah panjang peradaban manusia. Di bawah naungan rembulan yang bulat sempurna, suasana sakral menyelimuti situs warisan dunia tersebut saat ribuan pasang mata tertuju pada satu titik pusat di Marga Utama. Dalam momen yang penuh dengan kedamaian ini, Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, hadir di tengah-tengah ribuan umat Buddha dan wisatawan untuk mengikuti prosesi pelepasan lampion yang menjadi puncak perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE.

Kehadiran Sosok Pemimpin di Tengah Kekhusyukan Ritual

Kehadiran Gibran Rakabuming Raka memberikan warna tersendiri dalam perhelatan akbar tahunan ini. Tidak sendirian, ia didampingi oleh sejumlah menteri Kabinet Merah Putih yang turut meramaikan suasana malam di Magelang tersebut. Sejak sore hari, antusiasme masyarakat sudah terasa sangat kental, menciptakan energi positif yang memenuhi setiap sudut kawasan candi.

Tepat pada pukul 23.02 WIB, sebuah pemandangan emosional tersaji. Gibran, yang tampak mengenakan pakaian rapi namun bersahaja, berdiri berdampingan dengan Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Hartati Murdaya. Keduanya secara bersama-sama memegangi satu lampion berukuran besar. Dengan koordinasi yang apik dan iringan doa-doa yang dipanjatkan secara lirih, mereka perlahan melepaskan lampion tersebut ke angkasa, yang kemudian diikuti oleh ribuan lampion lainnya dari tangan para peserta.

Baca Juga Jejak Akulturasi di Makam Sunan Tembayat: Menguak Misteri Gapura Segara Muncar yang Melegenda
Jejak Akulturasi di Makam Sunan Tembayat: Menguak Misteri Gapura Segara Muncar yang Melegenda

Pelepasan lampion ini bukan sekadar seremoni visual yang memanjakan mata. Di balik pijar apinya, terkandung makna filosofis tentang pelepasan hal-hal negatif dalam diri, keinginan untuk hidup dalam harmoni, serta harapan agar cahaya kedamaian senantiasa menerangi Indonesia dan dunia.

Simfoni Cahaya: Atraksi 570 Drone yang Memukau

Sebelum puncak acara penerbangan lampion berlangsung, langit Borobudur terlebih dahulu dihiasi oleh teknologi modern yang dikemas dengan nuansa religi. Sekitar pukul 22.31 WIB, sebuah pertunjukan drone show yang spektakuler digelar. Sebanyak 570 unit pesawat nirawak (drone) menari-nari di udara, membentuk formasi-formasi cahaya yang menceritakan perjalanan hidup Sang Buddha Gautama.

Formasi-formasi tersebut menggambarkan momen-momen penting dalam kehidupan Siddhartha Gautama, mulai dari kelahirannya di Taman Lumbini, pencapaian pencerahan agung di bawah pohon Bodhi, hingga momen Parinirvana. Pertunjukan ini dilaksanakan sebanyak dua kali sesi, memberikan kesempatan bagi semua pengunjung untuk benar-benar meresapi narasi visual yang disuguhkan secara imersif di langit malam.

Integrasi antara teknologi canggih dan budaya tradisional ini menjadi daya tarik luar biasa yang membedakan perayaan Waisak tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya. Penonton seolah dibawa melintasi waktu, menyaksikan kisah agung yang terbentuk dari titik-titik cahaya di atas kemegahan struktur Candi Borobudur.

Baca Juga Skandal Penggelapan Mobil di Kejari Blora: Daftar Korban Bertambah, Oknum PNS dan Satpam Kini Diburu Polisi
Skandal Penggelapan Mobil di Kejari Blora: Daftar Korban Bertambah, Oknum PNS dan Satpam Kini Diburu Polisi

Antusiasme Pengunjung dan Geliat Pariwisata Religi

Pesona lampion Borobudur memang tidak pernah gagal menarik minat wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Salah satu saksi mata kemeriahan ini adalah Soleh (38), seorang pengunjung asal Cimahi yang sengaja menempuh perjalanan jauh demi merasakan atmosfer Waisak di Borobudur secara langsung. Meskipun ia hanya mendapatkan tiket untuk kategori menonton (bukan menerbangkan), kegembiraannya tetap tidak luntur.

“Niat awalnya memang ingin ikut menerbangkan, tapi hanya kebagian tiket menonton. Meski begitu, pengalaman ini tetap luar biasa,” ujar Soleh dengan nada kagum. Ia juga memberikan apresiasi khusus terhadap inovasi pertunjukan drone yang ia saksikan bersama keluarganya. Menurutnya, keberadaan drone show semacam ini adalah lompatan besar dalam dunia pariwisata Indonesia.

“So far, drone show-nya sangat bagus. Saya tidak menyangka di Indonesia bisa ada pertunjukan semacam ini seseru itu. Biasanya cuma lihat di televisi luar negeri, tapi melihatnya langsung di atas candi, rasanya jauh lebih berkesan dan magis, apalagi anak-anak saya sangat menyukainya,” tambah Soleh.

Baca Juga Tragedi di Balik Tembok Pesantren Pati: Pengasuh Berinisial AS Resmi Jadi Tersangka Dugaan Pencabulan Puluhan Santriwati
Tragedi di Balik Tembok Pesantren Pati: Pengasuh Berinisial AS Resmi Jadi Tersangka Dugaan Pencabulan Puluhan Santriwati

Pesan Perdamaian dari Atas Marga Utama

Sebelum prosesi lampion dilakukan, rangkaian acara diawali dengan penyalaan Lentera Perdamaian. Momen ini menjadi krusial karena merupakan simbol persatuan di tengah keberagaman bangsa. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam berbagai kesempatan selalu menekankan pentingnya menjaga kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Kehadirannya di acara Dharmasanti Waisak ini merupakan penegasan bahwa pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap kemerdekaan beribadah dan pelestarian nilai-nilai toleransi.

Lentera-lentera yang terbang ke langit bukan hanya membawa doa individu, melainkan harapan kolektif sebuah bangsa. Di tengah dinamika global yang penuh tantangan, pesan perdamaian dari Borobudur ini diharapkan mampu bergaung hingga ke penjuru dunia, mengingatkan semua orang akan pentingnya kasih sayang dan kemanusiaan.

Borobudur: Episentrum Spritualitas Dunia

Sebagai salah satu monumen Buddha terbesar di dunia, Borobudur terus memperkokoh posisinya sebagai destinasi wisata religi utama. Perayaan Waisak yang dihadiri oleh pejabat tinggi negara seperti Wapres Gibran menunjukkan betapa pentingnya situs ini dalam peta diplomasi budaya dan religi Indonesia. Pengelolaan acara yang semakin profesional, mulai dari penataan lampion hingga integrasi teknologi drone, membuktikan bahwa warisan leluhur dapat bersinergi dengan modernitas tanpa kehilangan kesakralannya.

Baca Juga Misteri Hilangnya ABK Klaten di Perairan Sampang: Penantian Pilu Keluarga Sri Saptono di Balik Ganasnya Laut Jawa
Misteri Hilangnya ABK Klaten di Perairan Sampang: Penantian Pilu Keluarga Sri Saptono di Balik Ganasnya Laut Jawa

Malam itu di Borobudur, perbedaan latar belakang seolah melebur. Ribuan lampion yang menghilang di kegelapan langit membawa pesan yang seragam: bahwa cahaya kebaikan akan selalu menemukan jalannya untuk bersinar, selayaknya lampion yang terbang tinggi menembus kepekatan malam.

Prosesi yang berakhir menjelang tengah malam ini meninggalkan kesan mendalam bagi siapa saja yang hadir. Candi Borobudur kembali sunyi setelah keriuhan cahaya berlalu, namun semangat perdamaian yang dipancarkan dari pijar lampion tersebut dipastikan akan terus menyala dalam hati setiap orang yang menjadi saksinya.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *