Tekad Baja Pugianto: Kisah Buruh Bangunan Klaten yang Mengayuh Sepeda Menuju Baitullah

Aris Munandar | ZonaKabar
02 Jun 2026, 07:40 WIB
Tekad Baja Pugianto: Kisah Buruh Bangunan Klaten yang Mengayuh Sepeda Menuju Baitullah

ZonaKabar — Di tengah hiruk-pikuk Alun-alun Klaten yang biasanya dipenuhi oleh warga yang sekadar mencari angin sore, sebuah momentum mengharukan terekam pada Minggu, 31 Mei 2026. Bukan sekadar seremoni biasa, hari itu menjadi saksi bisu keberangkatan seorang pria paruh baya dengan mimpi yang melangit. Pugianto, pria berusia 55 tahun yang sehari-harinya berprofesi sebagai buruh bangunan, resmi memulai perjalanan spiritualnya: mengayuh sepeda dari tanah kelahirannya di Klaten menuju Makkah Al-Mukarromah demi menunaikan ibadah umrah.

Mimpi Besar Sang Buruh Bangunan dari Cawas

Pugianto bukanlah sosok yang bergelimang kemewahan. Warga asal Kecamatan Cawas, Klaten ini menghabiskan sebagian besar hidupnya di bawah terik matahari, mengaduk semen dan menyusun bata. Namun, di balik tangannya yang kasar karena kerja keras, tersimpan kerinduan mendalam untuk bersujud di depan Kakbah. Bagi Pugianto, keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk mencapai tanah suci, melainkan tantangan yang harus dijawab dengan fisik yang kuat dan iman yang teguh.

Kakek dengan dua cucu ini mengakui bahwa niat untuk berangkat ibadah umrah dengan bersepeda sudah lama terpendam dalam lubuk hatinya. Namun, layaknya sebuah perjalanan besar, ia membutuhkan momentum dan izin dari orang-orang tercinta. Kesempatan itu akhirnya datang ketika seorang kolega sesama pesepeda menawarinya untuk melakukan perjalanan lintas benua menyusuri daratan Asia.

Baca Juga Skandal Investasi Bodong di Banyumas: Belasan Pensiunan Jadi Korban Oknum Bank, Kerugian Tembus Rp 1,8 Miliar
Skandal Investasi Bodong di Banyumas: Belasan Pensiunan Jadi Korban Oknum Bank, Kerugian Tembus Rp 1,8 Miliar

Dukungan Keluarga dan Komunitas ‘Sedulur Pit Klaten’

Keputusan Pugianto untuk berangkat tidak diambil secara sepihak. Awalnya, pihak keluarga sempat merasa khawatir mengingat usia dan risiko perjalanan yang akan menempuh ribuan kilometer. Namun, kekhawatiran itu perlahan luntur saat Pugianto menjelaskan bahwa ia tidak akan melakukan perjalanan ini sendirian. Ia akan ditemani oleh dua rekan pesepeda lainnya yang berasal dari Jawa Barat, yakni seorang pria dari Garut dan satu lagi dari Bogor.

“Keluarga baru memberikan izin setelah mereka tahu ada teman perjalanannya. Memang berisiko kalau harus berangkat sendiri,” ungkap Pugianto saat dikonfirmasi oleh tim liputan melalui sambungan telepon pada Senin sore, 1 Juni 2026. Saat itu, dirinya sudah berhasil mencapai wilayah Kabupaten Wonosobo setelah menempuh perjalanan dari Temanggung melalui jalur selatan Jawa.

Keberangkatan Pugianto dilepas dengan penuh haru oleh ratusan pegowes dari berbagai komunitas di Klaten. Dunung Setiawan, salah satu rekan di komunitas Sedulur Pit Klaten (SPK), menceritakan betapa Pugianto adalah sosok yang sangat dihormati. Di komunitas tersebut, Pugianto dijuluki sebagai ‘Power Rangers’ karena staminanya yang luar biasa dan kegemarannya dalam berpetualang menggunakan sepeda tua maupun modern.

Baca Juga Milo Masih Tak Percaya Persis Solo Terjerembab ke Jurang Degradasi: Sebuah Tragedi bagi Kota yang Memiliki Segalanya
Milo Masih Tak Percaya Persis Solo Terjerembab ke Jurang Degradasi: Sebuah Tragedi bagi Kota yang Memiliki Segalanya

Persiapan Matang Sang ‘Power Ranger’ Klaten

Melakukan perjalanan dari Indonesia ke Arab Saudi bukanlah perkara mudah yang bisa dilakukan tanpa persiapan. Pugianto telah mempersiapkan diri secara intensif selama berbulan-bulan. Latihan fisiknya tidak main-main; ia rutin bersepeda dari rumahnya di Cawas menuju Titik Nol Kilometer di Yogyakarta sebanyak tiga kali dalam seminggu. Jarak puluhan kilometer itu ia santap demi membiasakan otot-otot kakinya menghadapi medan yang lebih ekstrem nantinya.

Selain persiapan fisik, aspek teknis kendaraan juga menjadi prioritas utama. Pugianto membawa sejumlah suku cadang penting di atas sepedanya, antara lain:

  • Ban dalam cadangan untuk menghadapi kebocoran di jalur terpencil.
  • Jeruji roda yang seringkali patah akibat beban tas pannier yang berat.
  • Rantai cadangan dan alat pemutus rantai.
  • Peralatan mekanik sederhana lainnya untuk perbaikan darurat di jalan.

Tidak hanya itu, aspek legalitas juga telah ia kantongi. Pugianto memastikan paspor, surat keterangan sehat, serta sertifikat vaksinasi internasional telah lengkap. Hal ini krusial karena ia berencana melintasi beberapa negara sebelum akhirnya sampai di semenanjung Arabia.

Baca Juga Jadwal Sprint Race MotoGP Prancis 2026 Malam Ini: Duel Sengit di Le Mans Menanti!
Jadwal Sprint Race MotoGP Prancis 2026 Malam Ini: Duel Sengit di Le Mans Menanti!

Mengarungi Lintas Benua Selama 10 Bulan

Estimasi waktu yang dibutuhkan Pugianto untuk mencapai kota suci Makkah adalah sekitar delapan hingga sepuluh bulan. Ini merupakan perjalanan yang menguji kesabaran dan ketahanan mental. Rute yang akan ia tempuh mencakup perjalanan menyusuri daratan Asia Tenggara, masuk ke wilayah Asia Selatan, hingga menyeberang ke Timur Tengah.

“Rencananya nanti kami juga akan mampir ke beberapa Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di negara-negara yang kami lalui. Mohon doanya agar semua lancar tanpa hambatan berarti,” tambah Pugianto dengan nada penuh optimisme. Baginya, setiap kayuhan pedal adalah dzikir, dan setiap keringat yang menetes adalah bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta.

Filosofi di Balik Gowes ke Makkah

Fenomena gowes ke Makkah memang mulai marak dalam beberapa tahun terakhir di kalangan pesepeda Indonesia. Namun bagi Pugianto, ini bukan sekadar mengikuti tren. Ada filosofi mendalam tentang perjuangan dan kesederhanaan. Sebagai seorang buruh bangunan, ia ingin membuktikan bahwa dengan tekad yang bulat, siapapun bisa sampai ke rumah Allah, tak peduli apa profesi atau status sosialnya.

Baca Juga Tragedi Menjelang Idul Adha: Sapi Kurban Senilai 24 Juta Tercebur Sumur di Wonosari Klaten, Evakuasi Berakhir Duka
Tragedi Menjelang Idul Adha: Sapi Kurban Senilai 24 Juta Tercebur Sumur di Wonosari Klaten, Evakuasi Berakhir Duka

Perjalanan ini juga menjadi simbol inspirasi hidup bagi banyak orang di sekitarnya. Bahwa masa tua bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi besar. Pugianto menunjukkan bahwa usia 55 tahun masih merupakan usia produktif untuk melakukan hal-hal luar biasa yang mungkin dianggap mustahil oleh sebagian orang.

Harapan dan Doa dari Masyarakat

Kini, Pugianto bersama rekan-rekannya terus bergerak menyusuri aspal panas di jalur selatan Jawa menuju Jawa Barat, sebelum akhirnya menyeberang ke Pulau Sumatera dan keluar dari wilayah kedaulatan Indonesia. Dukungan terus mengalir di media sosial dan komunitas-komunitas pesepeda. Banyak yang menitipkan doa agar sang ‘Power Ranger’ dari Klaten ini senantiasa diberikan kesehatan dan perlindungan selama di perjalanan.

Kisah Pugianto mengajarkan kita satu hal: bahwa jarak ribuan kilometer antara Klaten dan Makkah tidaklah sejauh jarak antara niat dan pelaksanaan. Ketika niat sudah tertanam kuat di dalam dada, maka bumi pun seolah akan ikut membantu langkah kita menuju kebaikan. Mari kita nantikan kabar baik selanjutnya dari perjalanan spiritual yang luar biasa ini.

Baca Juga Aroma Parfum Wanita Berujung Aksi Tak Senonoh: Pria Asal Karanganyar Diamankan Usai Pamer Alat Kelamin di Restoran Solo
Aroma Parfum Wanita Berujung Aksi Tak Senonoh: Pria Asal Karanganyar Diamankan Usai Pamer Alat Kelamin di Restoran Solo
Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *