Sinergi Baru Keraton Surakarta: Potret Kebersamaan PB XIV dan Fadli Zon di Gladak Solo sebagai Simbol Revitalisasi Budaya

Aris Munandar | ZonaKabar
07 Jun 2026, 19:42 WIB
Sinergi Baru Keraton Surakarta: Potret Kebersamaan PB XIV dan Fadli Zon di Gladak Solo sebagai Simbol Revitalisasi Buday

ZonaKabar — Wajah kawasan Gladak, yang menjadi salah satu pintu masuk paling ikonis menuju jantung sejarah Kota Solo, kini tampil dengan nuansa yang lebih mendalam dan sarat akan pesan simbolis. Selama sepekan terakhir, pandangan mata masyarakat maupun wisatawan yang melintas di area tersebut tertuju pada dua baliho besar yang terpasang gagah di sisi kanan dan kiri gapura menuju Alun-alun Utara. Fenomena visual ini bukan sekadar pajangan ruang publik biasa, melainkan dianggap sebagai manifestasi dari babak baru rekonsiliasi dan sinergi antara Keraton Surakarta Hadiningrat dengan Pemerintah Pusat.

Keberadaan baliho tersebut menjadi perbincangan hangat di tengah upaya pemerintah yang kian gencar melakukan revitalisasi terhadap situs-situs bersejarah di Indonesia. Di sisi kiri gapura, terpampang potret SISKS Paku Buwono (PB) XIV Mangkubumi, sang penguasa takhta Keraton Solo saat ini, yang telah terpasang sejak awal bulan. Namun, yang menarik perhatian baru-baru ini adalah munculnya pendamping di sisi kanan: sebuah baliho yang menampilkan sosok Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, bersanding dengan dua tokoh sentral keraton lainnya.

Baca Juga Rahasia Kalender Jawa Minggu Pon 31 Mei 2026: Mengapa Sebaiknya Menghindari Perjalanan Jauh dan Pekerjaan Berat?
Rahasia Kalender Jawa Minggu Pon 31 Mei 2026: Mengapa Sebaiknya Menghindari Perjalanan Jauh dan Pekerjaan Berat?

Harmonisasi Hijau di Jantung Kota Solo

Dalam pantauan tim redaksi di lapangan, baliho terbaru tersebut memperlihatkan kekompakan yang unik. Fadli Zon tampak berdiri berdampingan dengan Pelaksana Pelestari Pengembangan dan Pemanfaatan Keraton Solo, KPH Panembahan Agung Tedjowulan, serta Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari atau yang akrab disapa Gusti Moeng. Ketiganya tampil serasi dalam balutan busana adat berwarna hijau tua, warna yang dalam filosofi budaya Jawa sering dikaitkan dengan kesuburan, harapan, dan ketenangan.

Pemandangan ini seolah mengirimkan pesan kuat kepada publik bahwa perbedaan-perbedaan masa lalu kini telah melebur dalam satu tujuan besar: melestarikan warisan leluhur. Kehadiran tokoh-tokoh dari faksi yang berbeda di masa lalu dalam satu bingkai bersama Menteri Kebudayaan menandakan adanya jembatan komunikasi yang semakin solid antara pihak keraton dan negara.

Teguh (50), seorang penarik becak yang saban hari mangkal di kawasan Gladak, menjadi saksi mata pemasangan atribut tersebut. Menurutnya, dinamika visual di gerbang keraton ini memberikan atmosfer baru yang lebih positif. “Kalau baliho Paku Buwono XIV itu sudah sekitar semingguan, Mas. Nah, kalau yang ada Pak Fadli Zon itu baru dipasang Sabtu (6/6) kemarin. Jadi sekarang lengkap, kanan-kiri ada semua,” ujarnya saat berbincang santai dengan kami.

Baca Juga Jejak Akulturasi di Makam Sunan Tembayat: Menguak Misteri Gapura Segara Muncar yang Melegenda
Jejak Akulturasi di Makam Sunan Tembayat: Menguak Misteri Gapura Segara Muncar yang Melegenda

Menyambung Mata Rantai Sejarah yang Terputus

Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Eddy Wirabhumi, memberikan penjelasan mendalam terkait filosofi di balik pemasangan baliho-baliho tersebut. Melalui keterangan tertulis yang diterima, ia menegaskan bahwa momentum ini adalah titik balik penting dalam memperkuat hubungan emosional maupun struktural antara entitas keraton dan negara Indonesia. Menurutnya, Kementerian Kebudayaan saat ini memegang peranan krusial sebagai katalisator pembangunan karakter bangsa melalui pendekatan budaya.

“Ini adalah upaya nyata untuk menyambungkan kembali hubungan keraton dengan negara, serta keraton dengan pemerintah. Kita memulai langkah strategis ini melalui Kementerian Kebudayaan. Perlu diingat bahwa dalam elemen pertahanan negara, pertahanan budaya justru menempati posisi yang sangat vital sebagai benteng identitas bangsa,” tutur Eddy Wirabhumi dengan nada optimis.

Ia menambahkan bahwa pusat-pusat peradaban seperti Keraton Solo sudah selayaknya mendapatkan perhatian penuh dan apresiasi tinggi dari negara. Kekuatan utama Indonesia, menurut Eddy, bersumber dari keberagaman budaya yang tetap terjaga orisinalitasnya. Dengan terjalinnya hubungan yang harmonis, proses revitalisasi fisik bangunan bersejarah kini mulai merambah ke ranah yang lebih esensial, yakni revitalisasi non-fisik atau penguatan nilai-nilai tradisi.

Baca Juga Langkah Nyata Menuju Brebes Sejahtera: Sinergi Pemkab dan PT Djarum Bangun Rumah Layak Huni dan Sanitasi Terpadu
Langkah Nyata Menuju Brebes Sejahtera: Sinergi Pemkab dan PT Djarum Bangun Rumah Layak Huni dan Sanitasi Terpadu

Perjalanan Panjang 80 Tahun Menuju Rekonsiliasi

Ada fakta historis yang cukup mencengangkan di balik narasi persatuan ini. Eddy Wirabhumi mengungkapkan bahwa perjuangan untuk mensinkronkan hubungan ini bukanlah perkara mudah dan telah melewati garis waktu sejarah yang sangat panjang. Beliau menyebutkan bahwa proses ini telah diperjuangkan sejak tahun 1946. Mengingat saat ini kita berada di tahun 2026, artinya diperlukan waktu sekitar 80 tahun bagi semua pihak untuk mencapai titik kesepahaman yang utuh seperti sekarang ini.

“Perjuangan ini sudah sejak tahun 1946. Sekarang tahun 2026, artinya sudah sekitar delapan dasawarsa. Jika momen ini menjadi titik awal tersambungnya kembali Karaton dengan negara secara menyeluruh, tentu ini adalah anugerah yang harus kita syukuri bersama demi masa depan sejarah Indonesia,” tambahnya.

Meskipun publik penasaran mengenai siapa inisiator utama atau penyokong dana di balik pemasangan baliho-baliho megah tersebut, pihak LDA enggan memberikan jawaban mendetail. Bagi mereka, identitas pemasang tidaklah lebih penting daripada pesan yang disampaikan. Substansi dari baliho tersebut, yakni sinergi dan komitmen pelestarian budaya, jauh melampaui urusan seremonial semata.

Baca Juga Skandal Video ‘Bandar Bergetar’ Batang: Nafsu, Pengkhianatan, dan Jebakan Broker Telegram Berbayar
Skandal Video ‘Bandar Bergetar’ Batang: Nafsu, Pengkhianatan, dan Jebakan Broker Telegram Berbayar

Menjaga Momentum di Tengah Perubahan Zaman

Pemasangan baliho ini juga diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat agar menyikapi setiap dinamika internal keraton dengan bijak. Eddy mengimbau agar tidak ada lagi pihak-pihak yang terjebak dalam riak-riak kecil atau konflik internal yang dapat menghambat visi besar revitalisasi. Fokus utama saat ini adalah bagaimana memastikan bahwa wisata budaya Solo dapat terus berkembang tanpa meninggalkan akar tradisinya.

Kawasan Gladak sendiri memang telah bertransformasi menjadi ruang dialog publik yang efektif. Melalui media luar ruang seperti baliho, pesan-pesan perdamaian dan kolaborasi dapat tersampaikan secara langsung kepada masyarakat luas. Harapannya, langkah ini tidak hanya berhenti pada pemasangan atribut visual, tetapi berlanjut pada program-program nyata yang mampu menyejahterakan masyarakat di sekitar keraton serta mengangkat martabat budaya Nusantara di mata dunia.

Seiring dengan berjalannya waktu, wajah Solo di tahun 2026 ini menunjukkan kedewasaan dalam berbudaya. Dengan adanya dukungan dari tokoh nasional sekelas Fadli Zon yang kini menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, langkah Keraton Surakarta untuk terus bersinar sebagai paku bumi kebudayaan Jawa tampaknya semakin mendapatkan angin segar. Masyarakat kini menanti, kejutan apalagi yang akan dihadirkan dalam rangkaian besar revitalisasi warisan dunia ini.

Baca Juga Kepulangan Kloter Pertama: Sujud Syukur dan Haru Jemaah Haji Jawa Tengah di Debarkasi Solo
Kepulangan Kloter Pertama: Sujud Syukur dan Haru Jemaah Haji Jawa Tengah di Debarkasi Solo
Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *