Visi Kemanusiaan Prof Mundakir: Menambal Celah Psikososial di Tengah Krisis Mental dan Kegagalan Sistem Keperawatan

Budi Santoso | ZonaKabar
30 Apr 2026, 21:05 WIB
Visi Kemanusiaan Prof Mundakir: Menambal Celah Psikososial di Tengah Krisis Mental dan Kegagalan Sistem Keperawatan

ZonaKabar — Atmosfer akademik di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) mendadak khidmat saat Rektor Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., melangkah menuju podium kehormatan. Bukan sekadar seremoni rutin, pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Keperawatan menjadi momentum krusial untuk merefleksikan kembali arah sistem kesehatan di Indonesia yang dinilai mulai kehilangan sentuhan kemanusiaannya. Dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk ‘Bridging Psychosocial Gaps in Nursing: Knowledge Translation untuk Indonesia di Era Disrupsi’, Prof. Mundakir melayangkan kritik tajam sekaligus menawarkan peta jalan baru bagi dunia keperawatan tanah air.

Paradigma Biomedis dan Kemanusiaan yang Terpinggirkan

Di bawah sorotan lampu aula, Prof. Mundakir mengawali paparannya dengan sebuah realita yang getir. Ia menyoroti bagaimana kemajuan teknologi kesehatan yang begitu pesat ternyata membawa efek samping yang paradoks: pengabaian terhadap aspek emosional, sosial, dan spiritual pasien. Menurutnya, dominasi paradigma biomedis dalam layanan asuhan keperawatan saat ini telah mereduksi posisi manusia hanya sebagai entitas biologis atau sekadar tubuh yang sedang sakit.

Baca Juga Waspada Jebakan Batman: Panduan Lengkap Mengenali Modus Penipuan Lowongan Kerja di Era Digital
Waspada Jebakan Batman: Panduan Lengkap Mengenali Modus Penipuan Lowongan Kerja di Era Digital

“Pasien seringkali dibiarkan menderita sendirian, bukan hanya karena patologi penyakit yang dideritanya, melainkan karena ketidakpastian dan absennya dukungan utuh selama proses perawatan klinis,” tegas Mundakir. Ia menekankan bahwa dalam dunia medis yang semakin mekanistis, kebutuhan psikososial seringkali dianggap sebagai aspek sekunder, padahal justru inilah yang menjadi kunci pemulihan pasien secara holistik. Hal ini menjadi catatan penting bagi peningkatan kualitas layanan kesehatan di masa depan.

Alarm Krisis Mental: Statistik yang Berbicara

Melanjutkan orasinya, Prof. Mundakir membedah data yang cukup mencengangkan terkait kondisi kesehatan mental masyarakat. Merujuk pada data WHO tahun 2025, ia memaparkan bahwa satu dari tujuh penduduk dunia kini hidup dengan gangguan mental. Fenomena kesepian kronis pun kini menghantui satu dari enam anak muda di seluruh dunia. Di Indonesia, potretnya tidak jauh berbeda, bahkan cenderung mengkhawatirkan.

Hasil riset I-NAMHS 2023 menunjukkan bahwa sekitar 46 juta remaja Indonesia menghadapi tantangan kesehatan mental yang sangat kompleks. Lebih spesifik lagi, 5,5 persen remaja di rentang usia 10 hingga 17 tahun terdiagnosis mengalami gangguan mental. “Angka yang paling memilukan adalah kenyataan bahwa 61 persen remaja yang mengalami depresi memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidupnya. Namun, tragisnya hanya sekitar 10,4 persen dari mereka yang benar-benar mencari bantuan medis,” ungkapnya dengan nada prihatin. Baginya, angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan bukti nyata atas krisis mental dan kegagalan sistem dalam mendeteksi serta menjangkau individu-individu yang rentan.

Baca Juga Kalender Jawa 21 Mei 2026: Menakar Karakter dan Rahasia Keberuntungan Weton Kamis Pon
Kalender Jawa 21 Mei 2026: Menakar Karakter dan Rahasia Keberuntungan Weton Kamis Pon

Empat Tekanan Sistemik dalam Dunia Keperawatan

Prof. Mundakir tidak hanya berhenti pada diagnosa masalah pasien, tetapi juga menelisik ke dalam dapur profesi keperawatan itu sendiri. Ia mengidentifikasi empat tekanan sistemik utama yang saat ini mengancam pondasi profesi perawat di Indonesia. Pertama adalah fenomena burnout atau kelelahan kerja yang ekstrem. Angka burnout perawat di Indonesia menyentuh angka 33,5 hingga 37,5 persen, jauh melampaui rata-rata global yang hanya berada di kisaran 11 persen. Tingkat stres kerja ini kian mengkhawatirkan karena telah mencapai angka 50,9 persen.

Kedua, adanya jebakan transformasi digital. Alih-alih mempermudah pekerjaan, digitalisasi yang hanya berorientasi pada efisiensi administratif justru memaksa perawat menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar untuk input data SIMRS daripada membangun relasi terapeutik dengan pasien. Ketiga, derasnya arus misinformasi di media sosial yang memicu kecemasan irasional pada pasien, sehingga menambah beban edukasi yang harus dipikul oleh tenaga medis. Keempat, adanya fragmentasi sistem yang membuat praktik asuhan holistik belum terintegrasi secara penuh dalam indikator kinerja rumah sakit.

Baca Juga Gelorakan Semangat Juara: 1.925 Pelajar Bertarung di Popkot Perdana Kota Mojokerto
Gelorakan Semangat Juara: 1.925 Pelajar Bertarung di Popkot Perdana Kota Mojokerto

Inovasi KT-PSIKO: Jembatan Menuju Kesembuhan Holistik

Sebagai solusi atas carut-marut tersebut, Prof. Mundakir memperkenalkan sebuah kerangka kerja orisinal yang ia beri nama KT-PSIKO (Knowledge Translation Psikososial). Konsep ini mengusung gagasan ‘Triangulasi Psikososial’ yang dirancang khusus untuk konteks sosiokultural masyarakat Indonesia. Ia berargumen bahwa penyembuhan pasien harus bersandar pada tiga pilar utama: kompetensi kultural, kolektivisme sosial melalui peran keluarga, serta spiritualitas.

“Di Indonesia, keputusan medis hampir tidak pernah bersifat individual murni. Keluarga adalah mediator sekaligus sistem pendukung emosional yang utama. Selain itu, rasa sakit bagi masyarakat kita seringkali dimaknai sebagai perjalanan spiritual. Ini bukan hanya soal agama formal, melainkan tentang bagaimana menghadirkan ketenangan batin melalui doa, zikir, atau meditasi di ruang-ruang perawatan,” jelasnya. Melalui inovasi kesehatan KT-PSIKO ini, Mundakir menawarkan siklus tujuh langkah implementasi mulai dari pengenalan kesenjangan praktik hingga pengorganisasian hasil secara berkelanjutan.

Ilmu Sebagai Gerakan Moral dan Teologis

Yang menarik, orasi ilmiah ini juga diperkuat dengan landasan teologis yang mendalam. Prof. Mundakir mengutip Surat Az-Zumar ayat 9 dan Surat An-Nahl ayat 43 sebagai pijakan filosofis. Ia menegaskan bahwa dalam pandangan Islam, ilmu tidak hanya untuk dimuliakan sebagai wacana, tetapi harus dijalankan dengan benar oleh ahlinya demi kemaslahatan umat manusia. Hal ini sejalan dengan visi pendidikan Muhammadiyah yang selalu menekankan integrasi antara iman, ilmu, dan amal.

Baca Juga Tensi Panas di Kota Pahlawan: Satpol PP Surabaya Geram Disebut Maling Usai Razia PKL di Karang Menjangan
Tensi Panas di Kota Pahlawan: Satpol PP Surabaya Geram Disebut Maling Usai Razia PKL di Karang Menjangan

Ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukanlah kurangnya teori atau pengetahuan, melainkan ketidakmampuan sistem untuk menerjemahkan bukti ilmiah menjadi tindakan klinis yang kontekstual. Ia mengutip sebuah fakta pahit bahwa sebuah inovasi berbasis bukti rata-rata memerlukan waktu 17 hingga 20 tahun sebelum benar-benar diterapkan secara rutin di layanan kesehatan, dan kurang dari separuhnya yang berhasil diimplementasikan secara sistematis.

Tujuh Rekomendasi Strategis untuk Masa Depan

Mengakhiri orasinya, Prof. Mundakir mengajukan tujuh poin rekomendasi strategis kepada para pemangku kepentingan di Indonesia. Rekomendasi tersebut mencakup penguatan kurikulum keperawatan psikososial, pengembangan riset translasional, serta penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) psikososial di seluruh lini layanan kesehatan. Ia juga mendesak agar kapasitas perawat ditingkatkan sebagai agen ‘knowledge translation’ dan integrasi indikator mutu psikososial dalam evaluasi pelayanan rumah sakit.

“Knowledge Translation harus menjadi gerakan akademik, praktik profesional, dan yang terpenting adalah gerakan moral. Masa depan profesi perawat dan keperawatan psikososial sangat bergantung pada kemampuan kita dalam membangun ekosistem yang menghubungkan antara bukti ilmiah (evidence), konteks lapangan (context), kasih sayang (compassion), dan aksi nyata (action),” pungkasnya disambut riuh tepuk tangan hadirin. Pengukuhan Prof. Mundakir ini bukan hanya menjadi kebanggaan bagi keluarga besar UM Surabaya, tetapi juga menjadi harapan baru bagi wajah keperawatan Indonesia yang lebih humanis dan holistik.

Baca Juga Skandal Sel Sultan Lapas Blitar Terungkap: Gebrakan 15 Hari Kalapas Baru Bongkar Bisnis Kamar Mewah Rp 100 Juta
Skandal Sel Sultan Lapas Blitar Terungkap: Gebrakan 15 Hari Kalapas Baru Bongkar Bisnis Kamar Mewah Rp 100 Juta
Budi Santoso

Budi Santoso

Pengamat dinamika perkotaan yang aktif meliput perkembangan ekonomi dan infrastruktur di area Jawa Timur dan Jawa Barat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *