Gempita Pasundan Muaythai Championship 2026: Saat Basement DPRD Tasikmalaya Menjadi Kawah Candradimuka Mental Baja
ZonaKabar — Di bawah bayang-bayang beton kokoh gedung wakil rakyat, sebuah transformasi luar biasa terjadi. Aroma karet matras yang menyengat, bunyi srek dari plester yang dililitkan erat pada pergelangan tangan, serta dentuman ritmis kaki yang menghantam samsak menjadi simfoni pembuka di sebuah pagi yang cerah. Basement parkir Gedung DPRD Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, pada Minggu (3/5/2026), tidak lagi berfungsi sebagai tempat deretan kendaraan dinas, melainkan berubah menjadi arena penuh adrenalin dan determinasi tinggi.
Atmosfer persaingan terasa begitu kental menyelimuti ruangan bawah tanah tersebut. Di salah satu sudut ring yang diterangi lampu sorot, seorang bocah kelas 2 Sekolah Dasar tampak sedang menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. Dengan helm pelindung kepala, pelindung gigi, dan sarung tinju merah yang tampak kontras dengan tubuh mungilnya, ia berdiri tegak. Namanya Sauki. Di hadapannya, lawan yang tak kalah tangguh sudah bersiap dengan tatapan tajam. Ketika wasit memberikan aba-aba, tiga menit berikutnya bukan lagi sekadar soal adu fisik, melainkan sebuah manifestasi nyata dari keberanian dan pembentukan karakter di atas kanvas ring muaythai Tasikmalaya.
Sauki: Si Kecil Cabe Rawit dari KCC Singaparna
Sauki, atlet muda berbakat dari camp KCC Singaparna, menjadi salah satu petarung yang paling mencuri perhatian ribuan pasang mata yang hadir. Secara fisik, ia mungkin yang terkecil di kelompoknya, namun mentalnya seluas samudera. Begitu bel berbunyi, keraguan sirna. Kombinasi pukulan jab-straight meluncur presisi ke arah lawan, disusul dengan low kick yang mendarat bersih. Tiga ronde penuh dilaluinya dengan kepala tegak; tanpa air mata, tanpa rasa takut, dan yang paling penting, tanpa sedikit pun keinginan untuk mundur.
“Saya ikut olahraga bela diri ini supaya mental saya kuat dan saya merasa senang. Awalnya mungkin terasa berat, tapi sekarang sudah tidak sakit lagi karena sudah terbiasa latihan setiap hari. Alhamdulillah hari ini bisa menang dan bawa pulang medali,” ujar Sauki dengan wajah berseri-seri sambil memamerkan medali emasnya kepada tim ZonaKabar.
Kisah Sauki adalah representasi dari pembinaan atlet muda yang mulai menggeliat di wilayah Priangan Timur. Keberaniannya di atas ring merupakan hasil dari disiplin tinggi yang ia jalani di sasana selama berbulan-bulan.
Dukungan Orang Tua: Menanamkan Sportivitas Sejak Dini
Di tribun penonton yang riuh, Dadan Hermawan tak pernah melepaskan pandangannya dari sang putra. Sambil merekam setiap momen berharga melalui ponselnya, sang ayah tampak emosional melihat perkembangan mental anaknya. Dadan adalah sosok di balik keputusan Sauki terjun ke dunia muaythai sejak enam bulan lalu. Baginya, ini bukan sekadar menyalurkan hobi, melainkan investasi karakter.
“Sengaja kami ikutkan agar anak belajar tentang sportivitas sejak usia dini. Fisiknya jauh lebih kuat sekarang. Yang membuat saya bangga adalah dedikasinya; bahkan saat kondisi tubuhnya kurang fit, dia tetap bersikeras ingin naik ring. Sebagai orang tua, melihat semangat juangnya yang begitu besar tentu membuat kami harus terus mendukung,” ungkap Dadan dengan nada bangga.
Dadan juga menepis stigma bahwa olahraga bela diri seperti muaythai identik dengan kekerasan. Sebaliknya, ia melihat sisi humanis dan edukatif di dalamnya. “Pukul dan tendang itu hanya instrumen teknis. Inti dari olahraga ini adalah pembentukan mental, keberanian menghadapi tantangan, dan rasa hormat yang mendalam kepada lawan. Di sini mereka diajarkan untuk jujur pada kemampuan diri sendiri,” tambahnya.
Pasundan Muaythai Championship 2026: Tonggak Sejarah di Tasikmalaya
Gelaran bertajuk Pasundan Muaythai Championship 2026 ini mencatatkan sejarah baru bagi Kabupaten Tasikmalaya. Ini merupakan pertama kalinya kejuaraan muaythai berskala regional digelar dengan kemasan yang profesional di wilayah tersebut. Tak kurang dari 140 petarung dari berbagai camp di seluruh Priangan Timur berkumpul untuk membuktikan hasil latihan mereka. Kategori yang dipertandingkan pun sangat beragam, mulai dari kelas kids (anak-anak), beginner, amatir, hingga kelas elit yang dihuni atlet-atlet berpengalaman.
Danil, salah satu pelatih yang membawa rombongan atletnya, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada penyelenggara. Menurutnya, kompetisi adalah guru terbaik bagi seorang atlet. “Kami sangat antusias. Tanpa kejuaraan seperti ini, latihan keras di camp tidak akan teruji. Kami juga melihat antusiasme orang tua sangat luar biasa. Banyak dari mereka yang sekarang sadar bahwa olahraga bela diri adalah solusi untuk membangun fisik dan mental anak di tengah gempuran ketergantungan pada gadget,” tuturnya.
Visi Strategis Pengcab Muaythai Kabupaten Tasikmalaya
Ketua Pengcab Muaythai Kabupaten Tasikmalaya, Adi Septian Nugraha, menjelaskan bahwa pihaknya membuka 67 partai pertandingan dalam kejuaraan ini. Strategi ini diambil untuk memastikan setiap tingkatan usia dan kemampuan mendapatkan porsi tanding yang adil. Kejuaraan ini bukan sekadar ajang unjuk kekuatan, namun juga menjadi jembatan silaturahmi antar-klub serta sarana regenerasi atlet masa depan.
“Anak-anak sejak dini harus dikenalkan dengan atmosfer kompetisi agar kepribadian mereka teruji. Dalam muaythai, kemenangan bukanlah tujuan akhir yang mutlak. Nilai tertinggi justru terletak pada bagaimana mereka menjaga sikap saling menghormati. Anda bisa lihat sendiri, sebelum bertanding ada ritual penghormatan, dan setelah bertanding mereka saling berpelukan. Tidak ada dendam, yang ada hanyalah persaudaraan di atas ring,” tegas Adi.
Adi juga menambahkan bahwa kejuaraan ini memperebutkan berbagai trofi bergengsi, termasuk Trofi Bupati dan Trofi Pengurus Cabang. Harapannya, dengan adanya prestise ini, anak-anak akan lebih termotivasi untuk berprestasi dan menjauhi perilaku negatif atau pergaulan bebas yang merugikan. “Ini adalah olahraga prestasi. Disiplin, sportif, dan profesionalitas adalah tiga pilar yang kami tanamkan sejak dini,” imbuhnya.
Menuju Panggung Nasional dan Internasional
Keberhasilan penyelenggaraan di basement DPRD ini menjadi bukti bahwa keterbatasan ruang bukan menjadi penghalang untuk melahirkan karya besar. Adi Septian Nugraha mengapresiasi dukungan penuh dari pemerintah daerah dan DPRD Kabupaten Tasikmalaya yang telah memfasilitasi lokasi pertandingan. Sinergi antara organisasi olahraga, pemerintah, dan pihak sponsor dianggap sebagai kunci utama membangun ekosistem olahraga yang sehat.
“Kami tidak ingin berhenti di sini. Target kami adalah menjaring bibit-bibit unggul untuk dipersiapkan menuju ajang yang lebih tinggi seperti Porprov, PON, bahkan hingga SEA Games. Pembinaan atlet harus dilakukan secara berjenjang dan berkelanjutan. Dari basement ini, kami berharap lahir pahlawan-pahlawan olahraga yang akan mengharumkan nama Tasikmalaya di kancah internasional,” harap Adi dengan penuh optimisme.
Sepanjang hari itu, basement yang biasanya sunyi berubah menjadi ruang pembelajaran hidup yang dinamis. Anak-anak belajar bagaimana menerima kekalahan tanpa rasa malu, bagaimana merayakan kemenangan tanpa kesombongan, serta bagaimana menghadapi rasa takut dengan sejumput keberanian.
Ketika malam mulai larut dan lampu ring dipadamkan, yang tersisa bukan hanya daftar nama juara di atas kertas. Ada ratusan cerita tentang perjuangan: tentang seorang anak yang tetap naik ring meski sempat demam, tentang pelatih yang suaranya habis karena terus memberikan instruksi, hingga tentang orang tua yang baru menyadari betapa tangguhnya buah hati mereka. Dari basement DPRD Singaparna, sebuah narasi baru tentang kejayaan olahraga Jawa Barat sedang ditulis dengan tinta emas keberanian.