Jejak Megah Majapahit dalam 733 Tahun Kabupaten Mojokerto: Mengurai Sejarah di Balik Perayaan 9 Mei
ZonaKabar — Menelusuri jejak waktu di tanah Jawa Timur seolah membawa kita kembali ke masa keemasan Nusantara. Salah satu titik paling krusial dalam peta sejarah tersebut adalah Kabupaten Mojokerto, sebuah wilayah yang tidak hanya sekadar menjadi entitas administratif, tetapi juga penjaga api peradaban besar Majapahit. Setiap tanggal 9 Mei, masyarakat di bumi para raja ini merayakan hari jadi daerahnya dengan penuh khidmat. Tahun ini, Kabupaten Mojokerto resmi menginjak usia ke-733, sebuah angka yang mencerminkan ketangguhan dan kedewasaan sebuah wilayah dalam menghadapi gerak zaman.
Peringatan hari jadi bukan sekadar rutinitas seremoni tahunan. Bagi warga Mojokerto, momen ini adalah titik balik untuk merefleksikan identitas kolektif mereka. Sejarah yang melatarbelakangi lahirnya hari jadi ini bukanlah hasil dari penentuan semalam, melainkan melalui proses dialektika panjang yang melibatkan para sejarawan, akademisi, hingga tokoh masyarakat. Mereka berupaya keras untuk menyatukan potongan puzzle sejarah yang berserakan demi menemukan jati diri Kabupaten Mojokerto yang sebenarnya.
Akar Sejarah: Mengapa 9 Mei Menjadi Pilihan?
Menarik untuk dicermati bahwa penetapan hari jadi ini sempat mengalami pergeseran signifikan. Pada masa lampau, hari jadi Kabupaten Mojokerto sempat diperingati setiap tanggal 12 September, merujuk pada ketetapan tahun 1938 di era kolonial. Namun, bagi masyarakat dan pemerintah daerah setempat, tanggal tersebut dirasa hambar. Ada rasa haus akan identitas yang lebih dalam, yang mampu menghubungkan masyarakat modern dengan kebesaran leluhur mereka di era Kerajaan Majapahit.
Langkah progresif diambil oleh Bupati Mojokerto saat itu, Mahmoed Zaid. Ia menyadari bahwa sebuah bangsa atau daerah akan memiliki fondasi yang kuat jika ia mengenal akarnya. Oleh karena itu, dimulailah serangkaian kajian ilmiah yang mendalam. Tidak tanggung-tanggung, forum-forum intelektual kelas berat digelar, mulai dari seminar pada tahun 1991 hingga simposium besar pada tahun 1992. Fokus utamanya satu: menemukan momen paling heroik dan representatif dalam sejarah Mojokerto.
Pilihan akhirnya jatuh pada peristiwa monumental di tahun 1293. Saat itu, sosok visioner Raden Wijaya menunjukkan kecerdikan diplomasi dan kekuatan militernya. Setelah berhasil mendapatkan izin untuk kembali ke Majapahit, ia mulai menyusun strategi besar untuk menghalau pasukan Tar-Tar (Mongol). Peristiwa ini dianggap sebagai fajar kemenangan bagi kedaulatan Nusantara yang dipusatkan di Mojokerto. Dalam konversi penanggalan masehi, momen krusial tersebut jatuh pada tanggal 9 Mei 1293. Itulah sebabnya, tanggal ini dipilih karena mengandung spirit perjuangan, kecerdasan, dan keberanian.
Filosofi Logo HUT ke-733: Simbol Kejayaan dan Harapan
Memasuki usia ke-733, Pemerintah Kabupaten Mojokerto memperkenalkan sebuah identitas visual baru berupa logo peringatan yang sarat akan makna. Logo ini bukan sekadar grafis estetis, melainkan representasi dari visi besar kepemimpinan saat ini. Jika kita perhatikan dengan seksama, angka 733 didesain dengan sentuhan warna emas yang dominan. Warna ini secara universal melambangkan kemuliaan, kejayaan, dan optimisme menyongsong masa depan yang gemilang.
Detail ornamen ukiran khas Nusantara yang menghiasi angka tersebut memberikan kesan bahwa meskipun Mojokerto bergerak maju menuju modernitas, ia tidak akan pernah meninggalkan akar budayanya. Ada pula siluet bangunan candi yang berdiri kokoh di latar belakang. Candi tersebut merupakan pengingat abadi akan warisan arsitektur dan spiritualitas Majapahit yang hingga kini masih bisa kita saksikan di situs-situs bersejarah seperti Trowulan. Garis biru tua yang mengalir memberikan kesan dinamis, melambangkan pembangunan yang terus bergerak tanpa henti.
Di bawah logo tersebut, tersemat tagline yang menjadi panduan arah kebijakan pemerintah daerah: “Mojokerto Berdaya, Rakyat Sejahtera, Pembangunan Merata”. Kalimat ini bukan sekadar jargon politik, melainkan komitmen nyata untuk memastikan bahwa setiap sudut wilayah di Mojokerto merasakan dampak positif dari kemajuan. Pembangunan tidak boleh hanya berpusat di satu titik, melainkan harus menyentuh hingga ke pelosok desa agar kesejahteraan bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Kado untuk Rakyat: Program Relaksasi Pajak Daerah
Sebagai bentuk rasa syukur atas usia yang baru, Pemerintah Kabupaten Mojokerto memberikan kado istimewa bagi masyarakatnya. Salah satu program yang paling dinantikan adalah kebijakan pembebasan denda pajak daerah. Program ini merupakan langkah konkret untuk meringankan beban ekonomi warga sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan melalui pajak daerah.
Kebijakan relaksasi ini mencakup tunggakan pajak yang sudah mengendap cukup lama, yakni dari tahun 2013 hingga tahun 2025. Periode penghapusan denda ini dijadwalkan berlangsung mulai 1 April hingga 30 Juni 2026. Ini adalah kesempatan emas bagi para wajib pajak untuk membersihkan catatan tunggakannya tanpa perlu khawatir akan beban denda yang membengkak. Pemerintah menyadari bahwa kepatuhan pajak adalah tulang punggung pembangunan daerah.
Untuk memudahkan masyarakat, berbagai kanal pembayaran telah disediakan. Mulai dari perbankan konvensional, kantor pos, hingga platform marketplace modern. Kemudahan akses ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran warga bahwa setiap rupiah yang dibayarkan akan kembali dalam bentuk jalan yang mulus, fasilitas kesehatan yang memadai, serta sekolah yang berkualitas. Bagi warga yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai status pajaknya, pemerintah telah menyediakan layanan digital melalui laman resmi yang mudah diakses.
Menatap Masa Depan dengan Spirit Majapahit
Usia 733 tahun bukanlah waktu yang singkat. Perjalanan panjang ini telah menempa Kabupaten Mojokerto menjadi wilayah yang tangguh secara ekonomi dan kaya secara kultural. Perayaan hari jadi setiap 9 Mei sejatinya adalah pengingat bahwa di dalam darah masyarakat Mojokerto mengalir semangat para ksatria Majapahit yang pantang menyerah dalam membangun peradaban. Sejarah Mojokerto adalah cermin bagi kita semua untuk melihat masa lalu dengan bangga dan menatap masa depan dengan penuh percaya diri.
Kini, di bawah kepemimpinan yang progresif, Mojokerto terus bertransformasi. Tantangan zaman seperti digitalisasi dan perubahan iklim dihadapi dengan kebijakan-kebijakan strategis yang tetap berpijak pada kearifan lokal. Mari kita jadikan momentum hari jadi ini untuk semakin mempererat tali persaudaraan, menjaga kelestarian situs-situs bersejarah, dan terus berkontribusi bagi kemajuan daerah. Dirgahayu Kabupaten Mojokerto yang ke-733. Semoga menjadi daerah yang kian berdaya, rakyatnya semakin sejahtera, dan pembangunannya senantiasa merata di seluruh pelosok negeri.
Semoga ulasan mendalam mengenai sejarah dan perayaan hari jadi ini memberikan wawasan baru bagi pembaca setia ZonaKabar. Mari kita terus dukung langkah-langkah positif yang membawa kemajuan bagi tanah air tercinta.