Geliat Bisnis Salon Sapi di Klaten: Mengubah Penampilan Hewan Kurban Demi Nilai Jual Tinggi Menjelang Iduladha

Aris Munandar | ZonaKabar
14 Mei 2026, 13:41 WIB
Geliat Bisnis Salon Sapi di Klaten: Mengubah Penampilan Hewan Kurban Demi Nilai Jual Tinggi Menjelang Iduladha

ZonaKabar — Suasana hiruk-pikuk di berbagai pasar hewan di Kabupaten Klaten belakangan ini terasa berbeda. Menjelang momentum hari raya Idul Adha 1447 H, aktivitas perdagangan tidak hanya berkutat pada transaksi jual beli semata. Di sudut-sudut pasar, tampak kesibukan unik yang dilakukan oleh para penyedia jasa khusus yang mungkin jarang terdengar di telinga masyarakat perkotaan, yakni jasa salon sapi. Layanan ini mendadak menjadi primadona bagi para pedagang maupun peternak yang ingin meningkatkan daya tarik visual hewan kurban mereka sebelum berpindah tangan ke pembeli.

Seni Merias Sapi: Lebih dari Sekadar Estetika

Bagi sebagian orang, istilah “salon” mungkin identik dengan perawatan kecantikan manusia. Namun, di tangan Romdhoni (47) dan rekannya Wagiman (60), kata tersebut bertransformasi menjadi sebuah keahlian teknis merapikan penampilan sapi agar terlihat lebih gagah, bersih, dan tentu saja memiliki nilai jual yang lebih kompetitif. Layanan salon sapi ini mencakup berbagai tindakan, mulai dari pemotongan kuku yang sudah terlalu panjang, perapian tanduk yang asimetris, hingga pemasangan kelohan atau tali pengikat hidung yang baru.

Baca Juga Kebakaran Hebat Pabrik PT Dua Putra Pati: 11 Jam Amukan Si Jago Merah yang Meluluhlantakkan Aset Vital
Kebakaran Hebat Pabrik PT Dua Putra Pati: 11 Jam Amukan Si Jago Merah yang Meluluhlantakkan Aset Vital

Fenomena ini bukan sekadar tren musiman tanpa alasan. Dalam dunia bisnis peternakan, penampilan fisik hewan kurban memegang peranan krusial. Sapi yang memiliki kuku rapi dan tanduk yang melengkung indah seringkali dianggap sebagai cerminan kesehatan dan perawatan yang baik oleh calon pembeli. Oleh karena itu, kehadiran Romdhoni di pasar-pasar hewan menjadi berkah tersendiri bagi para pedagang yang ingin mempercepat proses negosiasi harga di tengah persaingan pasar yang ketat.

Perjalanan Romdhoni: Dari Buruh Ternak Menjadi “Stylist” Sapi

Keahlian yang dimiliki Romdhoni tidak datang dalam semalam. Pria asal Desa Tempursari, Kecamatan Ngawen, Klaten ini mengaku telah menggeluti profesi unik ini selama kurang lebih tiga tahun terakhir. Sebelum dikenal sebagai ahli dandan sapi, ia menghabiskan bertahun-tahun hidupnya sebagai buruh pelihara sapi milik orang lain. Dari pengalaman empiris itulah, ia mulai memahami anatomi sapi dan bagaimana cara menangani hewan besar tersebut tanpa menyakitinya.

“Awalnya saya ikut orang merawat sapi, ikut juragan terus belajar, lama-lama bisa. Dipesan suk bisa dinggo dewe (nanti ilmu bisa dipakai sendiri),” kenang Romdhoni saat ditemui di tengah kesibukannya di pasar hewan Jatinom. Keyakinannya terbukti, kini ilmu yang ia pelajari secara otodidak tersebut menjadi tumpuan utama ekonomi keluarganya, terutama saat permintaan melonjak drastis menjelang hari besar keagamaan.

Baca Juga Jejak Hitam Predator Seksual di Balik Jubah Pengasuh Ponpes Pati: Perlawanan Korban Hingga Pelarian Pelaku Berakhir di Wonogiri
Jejak Hitam Predator Seksual di Balik Jubah Pengasuh Ponpes Pati: Perlawanan Korban Hingga Pelarian Pelaku Berakhir di Wonogiri

Lonjakan Orderan dan Harapan di Balik Iduladha

Memasuki periode menjelang Idul Adha, kalender kerja Romdhoni kian padat. Jika pada hari-hari biasa ia hanya melayani satu atau dua ekor sapi secara tidak menentu, kini ia bisa menangani 2 hingga 3 ekor sapi setiap harinya. Peningkatan permintaan ini tentu saja berdampak signifikan pada omzet yang ia peroleh. Baginya, setiap rupiah yang dihasilkan dari keringatnya merapikan sapi adalah tambahan biaya sekolah anak dan pemenuhan kebutuhan dapur sehari-hari.

Untuk satu paket lengkap jasa salon sapi, Romdhoni mematok tarif sekitar Rp 200.000 per ekor. Harga ini menurutnya cukup fleksibel, tergantung pada jarak tempuh lokasi jika pelanggan meminta layanan panggilan ke rumah. Namun, untuk pengerjaan di area Kabupaten Klaten dan sekitarnya, harga tersebut cenderung tetap, tanpa memandang besar kecilnya ukuran tubuh sang sapi. Layanan yang ia berikan benar-benar menyeluruh, memastikan sapi siap tampil “ganteng” di hadapan calon pembeli.

Operasional Lintas Daerah: Menjelajahi Pasar-Pasar Tradisional

Mobilitas adalah kunci utama kesuksesan jasa yang ditawarkan Romdhoni. Ia tidak hanya menunggu bola di satu tempat, melainkan aktif berkeliling dari satu pasar hewan ke pasar lainnya. Rute perjalanannya mencakup wilayah Klaten hingga merambah ke Sukoharjo. Beberapa titik singgah utamanya meliputi Pasar Prambanan, Jatinom, Pedan, hingga Pasar Bekonang di Sukoharjo.

Baca Juga Aksi Balap Liar Remaja di Prambanan Klaten Berujung Penertiban: 15 Anak dan 10 Motor Diamankan Polisi
Aksi Balap Liar Remaja di Prambanan Klaten Berujung Penertiban: 15 Anak dan 10 Motor Diamankan Polisi

Dalam menjalankan operasionalnya, ia seringkali bekerja sendirian jika hanya menangani satu atau dua ekor sapi. Namun, jika pesanan membludak, ia akan menggandeng Wagiman untuk membantu teknis pengerjaan. Kolaborasi ini sangat diperlukan mengingat karakteristik setiap sapi berbeda-beda; ada yang tenang saat dirawat, namun tak jarang pula ada yang sangat agresif sehingga membutuhkan penanganan ekstra hati-hati.

Bertaruh Nyawa di Antara Sepakan dan Serudukan

Dibalik pendapatan yang menggiurkan, profesi salon sapi menyimpan risiko keselamatan yang tinggi. Bekerja dengan hewan ternak berbobot ratusan kilogram bukanlah perkara mudah. Romdhoni menceritakan pengalamannya menghadapi berbagai cedera fisik selama bertugas. Ia mengaku pernah terkena tendangan ke belakang (kepengkal) tepat di bagian dada, terinjak kuku sapi yang tajam, hingga diseruduk tanduk.

“Risikonya tinggi, dada saya pernah kepengkal, pernah juga keinjak, diseruduk. Tapi ya selama ini tidak ada yang sampai parah,” tuturnya dengan nada tenang, menunjukkan mentalitas jurnalis profesional yang sudah terbiasa dengan kerasnya pekerjaan lapangan. Peralatan yang ia gunakan pun tampak sederhana namun sangat fungsional, yakni tiga bilah pisau berbentuk sabit ukuran kecil yang selalu dijaga ketajamannya untuk merapikan bagian-bagian keras seperti kuku dan tanduk.

Baca Juga Mengenang Jejak Sang ‘Saudara Tua’: Pameran Filateli Langka di Jantung Kota Lama Semarang
Mengenang Jejak Sang ‘Saudara Tua’: Pameran Filateli Langka di Jantung Kota Lama Semarang

Wagiman dan Tantangan Menghadapi Hewan Galak

Wagiman, yang setia mendampingi Romdhoni, menambahkan bahwa aspek tersulit dari pekerjaan ini adalah melatih kesabaran. Menurutnya, tidak semua sapi memiliki sifat yang jinak. Menangani sapi galak memerlukan teknik khusus dan ketenangan agar hewan tersebut tidak stres, yang nantinya bisa berdampak pada kualitas dagingnya. “Ya repot kalau sapinya galak, kan tidak semua sapi itu jinak. Saya sudah tiga tahun ikut tapi belum bisa sendiri,” aku Wagiman dengan jujur.

Kehadiran jasa salon sapi di Klaten ini membuktikan bahwa ekonomi kreatif di sektor tradisional masih memiliki ruang yang luas untuk berkembang. Dengan sentuhan ahli dari para penyedia jasa seperti Romdhoni dan Wagiman, rantai nilai hewan kurban meningkat, memberikan kepuasan bagi pedagang, kemudahan bagi pembeli, dan tentu saja kesejahteraan bagi para pelaku jasanya itu sendiri. Menjelang Iduladha, mereka adalah pahlawan di balik layar yang memastikan setiap syiar kurban dilakukan dengan hewan yang dalam kondisi fisik terbaik.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *