Mengenang Jejak Sang ‘Saudara Tua’: Pameran Filateli Langka di Jantung Kota Lama Semarang

Aris Munandar | ZonaKabar
01 Jun 2026, 05:44 WIB
Mengenang Jejak Sang 'Saudara Tua': Pameran Filateli Langka di Jantung Kota Lama Semarang

ZonaKabar — Gemuruh langkah kaki di atas ubin tua gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang, seolah membawa pengunjung kembali ke masa delapan dekade silam. Di balik dinding-dinding kokoh bergaya kolonial itu, tersaji sebuah narasi visual yang jarang terungkap ke publik: sebuah kronik tentang masa-masa sulit saat Nusantara berada di bawah bayang-bayang kekuasaan militer Jepang. Pameran arsip filateli bertajuk “Dalam Cengkraman Saudara Tua: Jejak Pendudukan Jepang di Indonesia dalam Arsip Filateli (1941-1945)” resmi dibuka, menyuguhkan fragmen sejarah Indonesia yang begitu getir namun penting untuk direfleksikan.

Perhelatan yang digelar di Rumah PoHan, sebuah oase budaya di Kecamatan Semarang Utara ini, bukan sekadar pameran perangko biasa. Ini adalah sebuah upaya dokumentasi sistematis mengenai transisi kekuasaan dari kolonialisme Belanda ke pendudukan militer Jepang yang serba cepat dan keras. Pantauan di lokasi pada Minggu (31/5/2026), menunjukkan antusiasme tinggi dari para pecinta sejarah dan masyarakat umum yang ingin melihat lebih dekat bukti otentik dari masa pendudukan tersebut.

Seremonial Pembukaan yang Sarat Makna

Acara ini dibuka secara resmi oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, yang didampingi langsung oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. Keduanya tampak antusias menyusuri setiap sudut gedung berlantai dua tersebut, mengamati lembar demi lembar arsip yang tertata rapi. Kehadiran tokoh nasional dan pimpinan daerah ini menegaskan bahwa benda-benda filateli memiliki kedudukan yang setara dengan artefak sejarah lainnya dalam membangun memori kolektif bangsa.

Baca Juga Drama Menjelang Akad: Kisah Pelarian Pengantin Wanita di Pati yang Hebohkan Warga
Drama Menjelang Akad: Kisah Pelarian Pengantin Wanita di Pati yang Hebohkan Warga

Pameran yang dijadwalkan berlangsung hingga 7 Juni 2026 ini merupakan hasil kolaborasi apik antara Pengurus Daerah Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) Jawa Tengah, Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Kota Semarang, serta komunitas PoHan Kultura Lestari. Lokasinya yang berada di kawasan Kota Lama menambah suasana magis dan nostalgis, seolah-olah bangunan-bangunan tua di sekitarnya ikut menjadi saksi bisu dari narasi yang sedang dipamerkan.

Filateli Sebagai Saksi Bisu Kekuasaan Militer

Dalam sambutannya, Fadli Zon menekankan bahwa benda-benda kecil seperti perangko dan kartu pos sebenarnya adalah media propaganda yang sangat efektif pada masanya. Menurutnya, melalui koleksi ini, masyarakat dapat melihat bagaimana pemerintahan Jepang melakukan pendudukan dengan sangat sistematis. Berbeda dengan era Belanda yang lebih bersifat administratif sipil, era Jepang dikendalikan sepenuhnya oleh komando militer yang tegas dan tanpa kompromi.

“Dari benda-benda filateli inilah kita bisa melihat salah satu episode krusial dalam perjalanan bangsa kita. Kita melihat bagaimana transisi terjadi, bagaimana simbol-simbol kekuasaan lama dihapuskan dan diganti dengan identitas baru yang dibawa oleh Jepang. Semuanya terdokumentasi dalam perangko, mata uang, hingga surat-surat resmi militer,” ujar Fadli Zon saat ditemui di sela-sela kunjungannya.

Baca Juga Panduan Lengkap Urutan Kartu Remi: Dari Sejarah Klasik Hingga Rahasia Nilai Joker
Panduan Lengkap Urutan Kartu Remi: Dari Sejarah Klasik Hingga Rahasia Nilai Joker

Ragam Koleksi: Dari Perangko Hingga Dokumen Heiho

Eksplorasi di Rumah PoHan menyuguhkan pemandangan yang menakjubkan. Pengunjung tidak hanya disuguhi perangko, tetapi juga berbagai benda numismatik atau mata uang kuno yang sempat beredar di masa pendudukan. Selain itu, terdapat dokumen-dokumen langka seperti surat izin jalan, kartu pos militer, hingga majalah-majalah propaganda populer saat itu, seperti *Djawa Baru*.

Yang paling menarik perhatian adalah keberadaan arsip-arsip terkait kesatuan militer bentukan Jepang, seperti Heiho. Dokumen-dokumen ini memberikan gambaran bagaimana pemuda Indonesia pada masa itu dimobilisasi untuk kepentingan perang Pasifik. Setiap lembar kertas yang menguning di pameran ini seolah membisikkan cerita tentang ketegangan, harapan, dan perjuangan bertahan hidup di bawah rezim ‘Saudara Tua’.

Dedikasi Sang Kolektor, Ong Po Han

Seluruh kekayaan sejarah yang dipamerkan ini merupakan buah ketekunan dari seorang Ong Po Han, pendiri Rumah PoHan. Sosok yang dikenal rendah hati ini telah mendedikasikan waktu dan energinya untuk mengumpulkan benda-benda bersejarah sejak tahun 1980-an. Baginya, setiap keping perangko adalah potongan puzzle yang jika disatukan akan membentuk gambaran utuh tentang identitas sebuah bangsa.

Baca Juga Teror Lebah Hutan di Klaten: Dua Lansia Dilarikan ke Rumah Sakit Usai Dikepung Puluhan Sengatan
Teror Lebah Hutan di Klaten: Dua Lansia Dilarikan ke Rumah Sakit Usai Dikepung Puluhan Sengatan

Fadli Zon memberikan apresiasi tinggi atas kegigihan Po Han. Mengumpulkan arsip masa Jepang bukanlah perkara mudah. Periode yang singkat (hanya sekitar 3,5 tahun) dan situasi perang yang kacau membuat banyak dokumen hancur atau sengaja dimusnahkan. Namun, berkat ketelatenan Po Han, fragmen-fragmen yang terserak itu kini bisa dinikmati oleh generasi masa kini.

Perburuan Literatur di Era Pra-Internet

Menceritakan pengalamannya, Po Han mengenang masa-masa sulit saat berburu koleksi di era sebelum adanya internet. Saat itu, informasi sangat terbatas, dan ia harus mengandalkan jaringan pertemanan serta keberuntungan. Tak jarang, orang-orang yang mengetahui minatnya akan datang langsung ke rumahnya untuk menawarkan barang-barang tua yang mereka temukan di gudang atau lemari kakek mereka.

“Dulu belum ada internet, jadi saya sering sekali mendapatkan barang-barang itu dari orang yang mengantar langsung ke rumah. Ada juga yang saya dapatkan dari teman kolektor di luar negeri. Semuanya saya kurasi secara mandiri, saya pilih mana yang sesuai dengan tema besar sejarah yang ingin saya sampaikan,” tutur Po Han dengan nada antusias.

Baca Juga Aksi Licin Komplotan Maling Motor Lintas Provinsi Berakhir di Blora: 10 TKP Terbongkar!
Aksi Licin Komplotan Maling Motor Lintas Provinsi Berakhir di Blora: 10 TKP Terbongkar!

Mengapa Arsip Era Jepang Begitu Langka?

Salah satu alasan mengapa pameran ini menjadi sangat istimewa adalah kelangkaan materinya. Menurut Po Han, arsip dari periode 1942 hingga 1945 jauh lebih sulit ditemukan dibandingkan arsip era kolonial Belanda yang berdurasi ratusan tahun. Hal ini disebabkan karena pada masa itu, bahan kertas sangat terbatas dan berkualitas rendah akibat blokade perang. Selain itu, banyak dokumen yang sengaja dibakar oleh pihak Jepang saat mereka kalah perang untuk menghilangkan jejak administrasi mereka.

Pameran ini juga dirancang sebagai pelengkap dari narasi besar sejarah di Semarang, menyambung pameran sebelumnya yang mengangkat tema Pertempuran 5 Hari di Semarang. Dengan memahami apa yang terjadi selama pendudukan Jepang, masyarakat akan lebih memahami akar dari perlawanan sengit rakyat Semarang saat menyambut kemerdekaan.

Filateli Sebagai Media Edukasi Generasi Muda

Melalui pameran ini, diharapkan generasi muda tidak lagi memandang sejarah sebagai hafalan tahun dan nama tokoh yang membosankan. Koleksi filateli menawarkan cara belajar yang lebih visual dan taktil. Melihat perangko Belanda yang ditimpa (overprinted) dengan cap militer Jepang, misalnya, secara langsung menunjukkan proses aneksasi wilayah yang nyata dan dramatis.

Baca Juga Persis Solo di Ujung Tanduk: Antara Asa Bertahan dan Bayang-Bayang Degradasi Liga 1
Persis Solo di Ujung Tanduk: Antara Asa Bertahan dan Bayang-Bayang Degradasi Liga 1

Kegemaran Po Han yang bermula dari sekadar hobi mengoleksi perangko kini telah bertransformasi menjadi misi penyelamatan sejarah. Baginya, kepuasan terbesar bukanlah pada nilai material koleksi tersebut, melainkan pada keberhasilannya menyelamatkan potongan sejarah agar tidak berakhir di tempat sampah atau terlupakan zaman.

Kunjungan ke pameran ini diakhiri dengan sebuah perenungan mendalam: bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah hasil dari perjalanan panjang yang penuh liku, termasuk masa-masa sulit dalam cengkraman ‘Saudara Tua’. Bagi Anda yang berada di Semarang atau sekitarnya, pameran di Rumah PoHan ini adalah destinasi wajib untuk memperkaya wawasan sejarah dan mengapresiasi kekayaan budaya filateli Indonesia.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *