Teror Lebah Hutan di Klaten: Dua Lansia Dilarikan ke Rumah Sakit Usai Dikepung Puluhan Sengatan

Aris Munandar | ZonaKabar
25 Mei 2026, 09:40 WIB
Teror Lebah Hutan di Klaten: Dua Lansia Dilarikan ke Rumah Sakit Usai Dikepung Puluhan Sengatan

ZonaKabar — Keheningan pagi di Dukuh Tukung, Desa Blimbing, Kecamatan Karangnongko, Klaten, seketika berubah menjadi mencekam. Dua orang wanita lanjut usia yang tengah menjalani rutinitas harian mereka di ladang justru harus berujung di ruang perawatan rumah sakit. Keduanya menjadi korban amukan kawanan lebah hutan yang muncul secara tiba-tiba dan menyerang dengan membabi buta pada Minggu pagi yang naas tersebut.

Peristiwa yang menggegerkan warga setempat ini menimpa Seneng (81) dan Jumilah (65). Keduanya merupakan warga asli Dukuh Tukung yang selama ini terbiasa beraktivitas di area tegalan. Namun, serangan lebah hutan kali ini benar-benar di luar kendali dan menyisakan trauma mendalam bagi para korban serta kekhawatiran bagi masyarakat sekitar.

Kronologi Kejadian: Niat Mencari Rumput Berujung Petaka

Kejadian bermula sekitar pukul 10.00 WIB. Seperti biasa, Seneng berangkat menuju ladang miliknya dengan maksud mencari rumput untuk pakan ternak. Kondisi cuaca yang cerah saat itu tidak memberikan tanda-tanda akan adanya bahaya. Namun, saat berada di tengah ladang, tiba-tiba sekawanan lebah hutan yang diduga bersarang di sekitar lokasi merasa terganggu dan langsung menyerbu tubuh renta Seneng.

Baca Juga Si Jago Merah Hanguskan Bedeng Pekerja Proyek Lapas Semarang: Diduga Akibat Obat Nyamuk dan Korsleting Listrik
Si Jago Merah Hanguskan Bedeng Pekerja Proyek Lapas Semarang: Diduga Akibat Obat Nyamuk dan Korsleting Listrik

Mendengar teriakan minta tolong, Jumilah yang berada tidak jauh dari lokasi segera berlari mendekat. Niat tulusnya adalah untuk menyelamatkan rekannya yang sudah terkepung oleh ratusan serangga tersebut. Namun malang, keberadaan Jumilah justru membuat kawanan lebah semakin agresif. Alih-alih mereda, lebah-lebah tersebut justru beralih menyerang Jumilah dengan intensitas yang lebih tinggi.

Kepala Desa Blimbing, Yosep Ngatijo, membenarkan adanya insiden memilukan ini. Saat dikonfirmasi oleh tim redaksi ZonaKabar, ia menjelaskan bahwa upaya Jumilah untuk menolong Seneng justru membuatnya menerima sengatan yang lebih banyak. Berdasarkan penuturan para saksi dan korban, jumlah lebah yang menyerang diperkirakan lebih dari 50 ekor, sebuah jumlah yang sangat mematikan bagi fisik lansia.

Kondisi Korban: Luka Sengatan di Sekujur Tubuh

Setelah berhasil dievakuasi oleh warga sekitar yang mendengar keributan, kedua nenek tersebut langsung dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah Jatinom. Kondisi mereka saat itu sangat memprihatinkan dengan luka sengatan yang tersebar hampir di sekujur tubuh. Hingga Senin pagi, keduanya dilaporkan masih menjalani perawatan intensif atau opname untuk memantau reaksi racun lebah di dalam tubuh mereka.

Baca Juga Jejak Kelam Ammar Zoni: Dari Layar Kaca Hingga Terasing di Lapas Super Maximum Security Nusakambangan
Jejak Kelam Ammar Zoni: Dari Layar Kaca Hingga Terasing di Lapas Super Maximum Security Nusakambangan

“Kemarin sore saat saya membesuk, kondisi korban masih sangat lemah dan mengeluhkan pusing yang hebat. Dampak dari puluhan sengatan itu memang sangat terasa bagi kesehatan mereka, apalagi usia mereka sudah tidak muda lagi,” ungkap Yosep Ngatijo dalam keterangannya kepada media.

Pihak medis terus berupaya melakukan detoksifikasi dan memberikan penanganan terbaik guna mencegah terjadinya syok anafilaktik, sebuah reaksi alergi berat yang bisa berakibat fatal akibat sengatan serangga. Keadaan ini memicu simpati dari berbagai pihak, mengingat kedua korban hanya berniat menjalani aktivitas ekonomi sederhana di desa mereka.

Misteri di Balik Agresivitas Lebah: Dampak Panen Madu Liar?

Munculnya serangan mendadak ini memancing pertanyaan besar mengenai penyebab lebah hutan tersebut menjadi begitu agresif. Berdasarkan asesmen lapangan yang dilakukan oleh pihak BPBD Klaten, terungkap sebuah fakta yang cukup mengejutkan. Diduga kuat, kawanan lebah tersebut tengah dalam kondisi “stres” dan reaktif akibat gangguan sebelumnya.

Supervisor Pusdalops BPBD Klaten, Indiarto, menjelaskan bahwa informasi dari warga menyebutkan sarang lebah tersebut sebenarnya sudah pernah diambil madunya oleh orang yang tidak bertanggung jawab beberapa waktu lalu. Sayangnya, aktivitas pengambilan madu tersebut tidak diinformasikan kepada warga desa lainnya, sehingga Seneng dan Jumilah sama sekali tidak menyadari bahwa mereka masuk ke area yang berbahaya.

Baca Juga Kabar Gembira! Inilah Prediksi Jadwal dan Besaran Gaji ke-13 ASN, TNI, serta Polri Tahun 2026
Kabar Gembira! Inilah Prediksi Jadwal dan Besaran Gaji ke-13 ASN, TNI, serta Polri Tahun 2026

“Ada warga setempat yang mengambil madunya tanpa memberikan peringatan kepada orang lain. Hal ini sangat disayangkan karena lebah hutan, terutama jenis Apis dorsata, dikenal sangat teritorial dan akan menyerang siapapun jika merasa rumahnya terusik,” jelas Indiarto saat dihubungi ZonaKabar.

Mengenal Lebah Apis Dorsata: Sang Raksasa Hutan yang Berbahaya

Penting bagi masyarakat untuk memahami karakteristik lebah yang menyerang warga Klaten ini. Apis dorsata, atau yang sering disebut sebagai lebah madu raksasa (Gung), memiliki perilaku yang jauh berbeda dengan lebah ternak biasa. Mereka membangun sarang tunggal di dahan pohon tinggi atau tebing dan memiliki kemampuan terbang yang sangat cepat.

Sengatan dari jenis lebah ini mengandung dosis racun yang cukup kuat. Jika seseorang menerima lebih dari sepuluh sengatan sekaligus, efeknya bisa menyebabkan pembengkakan hebat, demam tinggi, hingga kegagalan fungsi organ jika tidak segera ditangani. Penanganan medis segera menjadi kunci utama dalam menyelamatkan nyawa korban sengatan massal seperti yang dialami oleh kedua lansia di Karangnongko.

Baca Juga Kisah Pilu Bocah 8 Tahun di Klaten: Di Balik Aksi Bejat Ayah Tiri Berkedok Iming-iming Jajan
Kisah Pilu Bocah 8 Tahun di Klaten: Di Balik Aksi Bejat Ayah Tiri Berkedok Iming-iming Jajan

Langkah Antisipasi dan Pencarian Sarang

Menindaklanjuti laporan warga, tim gabungan yang terdiri dari BPBD Klaten, pihak kepolisian (Kapolsek), serta para relawan lokal langsung bergerak ke lokasi kejadian pada Minggu malam. Tujuan utama mereka adalah mencari keberadaan sarang lebah tersebut guna dilakukan evakuasi atau pemusnahan demi mencegah jatuhnya korban tambahan.

Namun, hingga berita ini diturunkan, lokasi pasti sarang utama lebah hutan tersebut belum berhasil ditemukan secara akurat. Kondisi medan yang rimbun dan minimnya cahaya di malam hari menjadi kendala utama bagi para relawan. Pihak BPBD mengimbau agar warga sementara waktu menghindari area ladang tersebut, terutama pada jam-jam aktif serangga.

“Kami meminta warga untuk ekstra waspada. Jika melihat adanya aktivitas lebah dalam jumlah besar, segera laporkan kepada pihak desa atau relawan. Jangan mencoba untuk menangani sarang lebah hutan sendirian tanpa peralatan pelindung yang memadai,” tambah Indiarto dalam imbauannya.

Pelajaran Berharga bagi Masyarakat Pedesaan

Insiden ini menjadi pengingat pahit bagi kita semua tentang pentingnya komunikasi antarwarga dalam menjaga keamanan lingkungan. Pengambilan madu hutan memang merupakan tradisi yang lumrah, namun harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Memberikan tanda peringatan di sekitar lokasi sarang setelah pengambilan madu dapat meminimalisir risiko bagi warga lain yang melintas.

Baca Juga Imbas Tabrakan Argo Bromo Anggrek di Bekasi, 9 Perjalanan KA Daop 6 Dibatalkan: Simak Panduan Refund Tiket Selengkapnya
Imbas Tabrakan Argo Bromo Anggrek di Bekasi, 9 Perjalanan KA Daop 6 Dibatalkan: Simak Panduan Refund Tiket Selengkapnya

Selain itu, edukasi mengenai tindakan pertama saat diserang lebah juga perlu digalakkan. Para ahli menyarankan agar seseorang yang diserang lebah segera mencari perlindungan di dalam air atau ruangan tertutup, serta tidak melakukan gerakan memukul yang justru akan memicu feromon lebah untuk memanggil kawanan lainnya lebih banyak lagi.

Kini, masyarakat Desa Blimbing berharap agar kedua korban, Seneng dan Jumilah, dapat segera pulih dan kembali ke rumah masing-masing. Harapan besar juga disematkan kepada pihak berwenang agar sarang lebah berbahaya tersebut segera ditemukan dan dievakuasi, sehingga rasa aman warga dalam beraktivitas di ladang dapat kembali pulih seperti sedia kala.

Kejadian di Klaten ini menjadi bukti nyata bahwa alam memiliki mekanisme pertahanannya sendiri, dan interaksi manusia dengan margasatwa memerlukan kearifan serta kehati-hatian yang tinggi guna menghindari tragedi yang tidak diinginkan.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *