Harmoni Spiritual di Borobudur: Gibran Rakabuming dan Jajaran Kabinet Hadiri Dharmasanti Waisak 2570 BE

Aris Munandar | ZonaKabar
31 Mei 2026, 21:56 WIB
Harmoni Spiritual di Borobudur: Gibran Rakabuming dan Jajaran Kabinet Hadiri Dharmasanti Waisak 2570 BE

ZonaKabar Suasana khidmat menyelimuti pelataran megah Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, saat ribuan umat Buddha bersatu dalam doa dan refleksi. Di tengah pendar cahaya lampu yang lembut dan aroma hio yang menenangkan, Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, hadir untuk memberikan penghormatan pada puncak perayaan hari suci umat Buddha dalam acara Dharmasanti Waisak Nasional 2570 BE yang jatuh pada tahun 2026 ini.

Kehadiran orang nomor dua di Indonesia tersebut bukan sekadar seremoni formal kenegaraan, melainkan simbol kuat dari dukungan pemerintah terhadap keberagaman dan toleransi beragama di tanah air. Di bawah naungan struktur megah warisan Wangsa Syailendra, pesan perdamaian digaungkan ke seluruh penjuru dunia melalui momentum spiritual yang sangat sakral ini.

Kehadiran Wakil Presiden dan Jajaran Menteri Kabinet

Berdasarkan pantauan langsung tim di lapangan pada Minggu malam (31/5/2026), Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tiba di kompleks Candi Borobudur sekitar pukul 20.00 WIB. Penampilan Gibran malam itu tampak sederhana namun elegan, mengenakan kemeja berwarna putih bersih yang dipadukan dengan celana panjang hitam, mencerminkan semangat kesucian dan kesahajaan yang sejalan dengan makna perayaan Waisak.

Baca Juga 80 Ucapan Kenaikan Yesus Kristus 2026: Untaian Pesan Penuh Harapan, Makna, dan Doa Mendalam
80 Ucapan Kenaikan Yesus Kristus 2026: Untaian Pesan Penuh Harapan, Makna, dan Doa Mendalam

Tidak sendirian, Gibran didampingi oleh sejumlah tokoh kunci dalam kabinet pemerintahan. Tampak hadir Menko Polkam Djamari Chaniago yang mengawal aspek stabilitas dan keamanan acara. Selain itu, kehadiran Menteri Agama Nasaruddin Umar mempertegas peran kementerian dalam menjaga napas moderasi beragama di Indonesia. Tak ketinggalan, Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana turut hadir, mengingat Borobudur adalah episentrum budaya sekaligus destinasi wisata religi kelas dunia.

Deretan pejabat tinggi lainnya juga terlihat memenuhi area tamu undangan, termasuk Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya bersama Wamenekraf Irene Umar. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa perayaan keagamaan seperti ini juga memiliki korelasi erat dengan pengembangan ekonomi kreatif melalui festival budaya yang mampu menarik perhatian mata internasional. Turut hadir pula anggota DPR RI Wibowo Prasetyo beserta jajaran pejabat daerah Jawa Tengah yang memberikan dukungan penuh atas terselenggaranya acara kolosal ini.

Dharmasanti Waisak: Mengenang Perjalanan Sang Buddha

Acara inti, yaitu Dharmasanti Waisak Nasional, dipusatkan di Taman Lumbini yang terletak di kawasan zona hijau Candi Borobudur. Dalam sambutannya, Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Hartati Murdaya, menekankan bahwa peringatan Waisak Nasional 2570 BE adalah momen penting untuk merenungkan kembali riwayat suci Sang Buddha Gautama.

Baca Juga Misteri Kematian di Taman Bupati: Makam Warga Boyolali Dibongkar Polisi demi Menguak Tabir Penganiayaan
Misteri Kematian di Taman Bupati: Makam Warga Boyolali Dibongkar Polisi demi Menguak Tabir Penganiayaan

“Beliau bercita-cita membebaskan diri dari segala bentuk kesengsaraaan dan menemukan jalan pencerahan bagi seluruh makhluk,” ungkap Hartati di hadapan ribuan jemaat dan tamu undangan. Hartati menjelaskan bahwa setiap langkah dalam prosesi Waisak mengingatkan manusia pada perjalanan hidup Sidharta Gautama—mulai dari kelahiran-Nya di Taman Lumbini, pencapaian Penerangan Agung di bawah Pohon Bodhi, hingga Parinibbana di Kusinara.

Pesan utama yang dibawa dalam Dharmasanti tahun ini adalah tentang pentingnya transformasi diri. Waisak Nasional bukan hanya sebuah perayaan rutin tahunan, melainkan ajakan bagi setiap individu untuk mempraktikkan ajaran cinta kasih universal (Metta) dan kasih sayang (Karuna) di tengah dinamika kehidupan global yang kian kompleks.

Borobudur sebagai Pusat Spiritual Dunia

Sebagai monumen Buddhis terbesar di dunia, Candi Borobudur kembali membuktikan perannya sebagai magnet spiritual. Penyelenggaraan Dharmasanti di tempat ini memberikan energi tersendiri bagi para praktisi dharma. Struktur candi yang melambangkan kosmologi Buddhis—mulai dari Kamadhatu, Rupadhatu, hingga Arupadhatu—menjadi latar belakang yang sempurna untuk merenungi hakikat eksistensi manusia.

Baca Juga Prediksi Sengit PSS Sleman vs PSIS Semarang: Pertaruhan Gengsi dan Ambisi Promosi di Maguwoharjo
Prediksi Sengit PSS Sleman vs PSIS Semarang: Pertaruhan Gengsi dan Ambisi Promosi di Maguwoharjo

Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam sebuah kesempatan menyatakan bahwa pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga kelestarian Borobudur tidak hanya secara fisik, tetapi juga sebagai pusat aktivitas budaya dan spiritual. Sinergi antara nilai sejarah dan praktik keagamaan kontemporer inilah yang membuat Borobudur tetap relevan sebagai simbol perdamaian dunia. Melalui wisata religi, diharapkan masyarakat dunia semakin mengenal Indonesia sebagai bangsa yang mampu merawat warisan masa lalu dengan cara yang modern dan inklusif.

Tradisi Lampion dan Pesona Toleransi Masyarakat Sekitar

Salah satu momen yang paling dinantikan dalam setiap perayaan Waisak di Borobudur adalah pelepasan ribuan lampion ke langit malam. Cahaya lampion yang terbang perlahan menuju angkasa melambangkan pencerahan dan doa-doa yang dipanjatkan untuk kebahagiaan seluruh makhluk. Pemandangan ini selalu berhasil menciptakan suasana magis yang memukau siapa saja yang menyaksikannya.

Di balik kemegahan acara di candi, semangat Waisak juga terasa hingga ke desa-desa di lereng gunung sekitar Magelang dan Semarang. Sebagai contoh, di Desa Thekelan, warga dari berbagai latar belakang agama secara turun-temurun menjaga tradisi saling mengunjungi dan memberikan selamat kepada tetangga mereka yang merayakan Waisak. Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa akar toleransi di Indonesia sangat dalam dan kuat, melampaui batas-batas formalitas institusional.

Baca Juga Jokowi Menuju Layar Lebar: Tawaran Peran Utama Panglima Jilah dalam Epik Kolosal Dayak-Majapahit
Jokowi Menuju Layar Lebar: Tawaran Peran Utama Panglima Jilah dalam Epik Kolosal Dayak-Majapahit

Budaya saling memaafkan dan berbagi kebahagiaan ini menjadi pelengkap yang indah bagi perayaan Dharmasanti. Hal ini sejalan dengan apa yang sering ditekankan oleh pemerintah mengenai pentingnya merawat tenun kebangsaan melalui dialog antarumat beragama yang organik dan berbasis kearifan lokal.

Masa Depan Moderasi dan Pariwisata Religi Indonesia

Kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming dan para menteri di Dharmasanti Waisak 2570 BE memberikan sinyalemen positif bagi arah kebijakan nasional ke depan. Pemerintah tampaknya semakin serius dalam mengintegrasikan nilai-nilai spiritualitas dengan pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Dengan fasilitas yang terus diperbaiki di kawasan Borobudur, Indonesia optimis dapat menarik lebih banyak peziarah dan wisatawan dari mancanegara.

Namun, lebih dari sekadar angka kunjungan wisatawan, esensi dari kehadiran para pemimpin bangsa ini adalah untuk memastikan bahwa setiap warga negara memiliki ruang yang aman dan terhormat dalam menjalankan ibadahnya. Di bawah langit Magelang, perayaan Waisak tahun ini menjadi pengingat bahwa di tengah perbedaan, ada satu benang merah yang menyatukan kita: kerinduan akan kedamaian dan kesejahteraan bersama.

Baca Juga Tragedi Berdarah di Perlintasan Grobogan: Niat Suci Antar Jemaah Haji Berujung Duka, 4 Sekeluarga Tewas
Tragedi Berdarah di Perlintasan Grobogan: Niat Suci Antar Jemaah Haji Berujung Duka, 4 Sekeluarga Tewas

Acara Dharmasanti yang berlangsung hingga larut malam tersebut diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh para Biksu Sangha dari berbagai tradisi, mulai dari Theravada, Mahayana, hingga Tantrayana. Semua bersatu dalam satu frekuensi doa, memohon keselamatan bagi bangsa dan negara Indonesia tercinta.

Demikian laporan mendalam mengenai rangkaian perayaan Waisak di Candi Borobudur. Semoga semangat pencerahan yang dibawa oleh Sang Buddha terus menyinari hati setiap insan, membawa harmoni, dan mempererat tali persaudaraan di tengah kebinekaan Indonesia.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *