Jokowi Menuju Layar Lebar: Tawaran Peran Utama Panglima Jilah dalam Epik Kolosal Dayak-Majapahit

Aris Munandar | ZonaKabar
21 Mei 2026, 11:45 WIB
Jokowi Menuju Layar Lebar: Tawaran Peran Utama Panglima Jilah dalam Epik Kolosal Dayak-Majapahit

ZonaKabar — Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti kediaman pribadi Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), di kawasan Sumber, Banjarsari, Solo. Rabu (20/5/2026) menjadi hari yang istimewa ketika rombongan dari tanah Borneo bertandang membawa misi kebudayaan yang tidak biasa. Adalah Panglima Jilah, sosok kharismatik yang memimpin Pasukan Merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR), yang hadir secara langsung untuk menjalin silaturahmi sekaligus membawa sebuah kejutan besar bagi sang mantan kepala negara.

Pinangan Kejutan: Dari Kursi Presiden Menuju Layar Lebar

Dalam pertemuan yang berlangsung tertutup namun penuh keakraban tersebut, Panglima Jilah mengutarakan sebuah gagasan besar yang langsung menarik perhatian publik. Ia tidak hanya datang untuk berbincang mengenai isu-isu kebangsaan, tetapi juga membawa sebuah tawaran yang belum pernah terdengar sebelumnya: mengajak Jokowi untuk terjun ke dunia seni peran. Bukan sekadar peran figuran, Panglima Jilah menginginkan Jokowi untuk menjadi pemeran utama dalam film kolosal bertema Suku Dayak yang tengah mereka persiapkan.

“Kami secara khusus mengajak Bapak Jokowi untuk bermain di film Dayak. Beliau merespons dengan sangat positif, terutama karena gagasan ini kental dengan pelestarian budaya,” ujar Panglima Jilah saat memberikan keterangan kepada media di halaman rumah Jokowi. Respons Jokowi yang hangat menunjukkan bahwa meski telah purnatugas dari jabatan kepresidenan, kecintaan dan dukungannya terhadap budaya Indonesia tidak pernah luntur. Kehadiran tokoh sekelas Jokowi dalam sebuah karya sinematik tentu diharapkan mampu mengangkat martabat dan keindahan budaya lokal ke level yang lebih tinggi.

Baca Juga Mugello Membara: Starting Grid MotoGP Italia 2026, Dominasi Bezzecchi, dan Kebangkitan Sang Raja
Mugello Membara: Starting Grid MotoGP Italia 2026, Dominasi Bezzecchi, dan Kebangkitan Sang Raja

Benang Merah Dayak dan Majapahit: Menggali Akar Sejarah Nusantara

Film yang sedang digarap ini bukanlah karya sembarangan. Panglima Jilah mengungkapkan bahwa film tersebut akan mengusung genre kolosal dengan latar sejarah yang kuat. Fokus utamanya adalah menceritakan kembali kisah-kisah Suku Dayak di masa lampau yang ternyata memiliki kaitan erat dengan sejarah besar di tanah Jawa, khususnya kejayaan Kerajaan Majapahit. Narasi ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa hubungan antar-etnis di Nusantara sudah terjalin harmonis sejak ratusan tahun silam.

“Filmnya akan menceritakan bagaimana kolaborasi antara masyarakat Dayak dengan masyarakat Jawa di masa Majapahit. Ini adalah sejarah yang harus diketahui oleh generasi muda kita,” tutur tokoh yang sangat dihormati oleh masyarakat Kalimantan tersebut. Melalui pendekatan visual yang megah, film ini diharapkan bisa menjadi media edukasi yang efektif untuk mengingatkan kembali masyarakat akan akar persatuan bangsa yang telah tertanam jauh sebelum Indonesia merdeka. Penggabungan antara filosofi hidup Dayak dan kejayaan maritim Majapahit diprediksi akan menjadi daya tarik utama bagi para pencinta sejarah dan perfilman tanah air.

Baca Juga Dualisme Syahdu Kirab Malam 1 Suro di Keraton Solo: Antara Tradisi Kebo Bule dan Harapan Persatuan
Dualisme Syahdu Kirab Malam 1 Suro di Keraton Solo: Antara Tradisi Kebo Bule dan Harapan Persatuan

Pemeran Utama: Simbol Persatuan dan Kebijaksanaan

Keputusan Panglima Jilah untuk menempatkan Jokowi sebagai pemeran utama bukanlah tanpa alasan. Bagi masyarakat adat, sosok Jokowi dianggap sebagai figur yang mampu merangkul berbagai elemen bangsa dengan kesederhanaan dan ketegasannya. Peran utama dalam film ini akan dirancang sedemikian rupa agar mencerminkan karakter Jokowi yang tenang namun penuh wibawa. Panglima Jilah menegaskan bahwa produksi film ini akan dilakukan secara profesional dengan standar yang tinggi.

“Pokoknya peran beliau adalah peran utama. Kami akan mempersiapkannya sebaik mungkin, baik dari sisi skenario maupun aspek teknis lainnya,” jelas Panglima Jilah dengan nada optimis. Melibatkan mantan pemimpin negara dalam sebuah produksi film merupakan langkah revolusioner di Indonesia. Jika ini terealisasi, hal tersebut akan menjadi preseden baru di mana seni dan budaya menjadi jembatan diplomasi yang kuat antara mantan pemimpin dan rakyatnya, sekaligus menjadi sarana branding pariwisata budaya yang masif bagi wilayah Kalimantan.

Silaturahmi Tokoh Bangsa: Pentingnya Ruang Dialog

Di luar agenda perfilman, kunjungan Panglima Jilah ke Solo juga membawa misi yang lebih dalam, yakni mengenai persatuan nasional. Sebagai pemimpin Pasukan Merah TBBR yang memiliki ribuan anggota, Panglima Jilah merasa perlu untuk terus berkomunikasi dengan tokoh-tokoh besar seperti Jokowi guna mendiskusikan persoalan bangsa. Menurutnya, tokoh fenomenal seperti Jokowi harus tetap mendapatkan informasi yang berimbang dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk dari masyarakat adat di pedalaman Borneo.

Baca Juga Tragedi Makan Bergizi Gratis di Klaten: Jejak Bakteri Bacillus Sp yang Mengintai 500 Siswa dan Guru
Tragedi Makan Bergizi Gratis di Klaten: Jejak Bakteri Bacillus Sp yang Mengintai 500 Siswa dan Guru

“Silaturahmi antar tokoh itu sangat penting. Kita perlu ruang untuk membicarakan persoalan kebangsaan agar para pemimpin kita, meskipun sudah tidak menjabat, tetap mendapatkan perspektif yang cukup mengenai apa yang terjadi di lapangan,” ungkap tokoh dari Suku Adat Kanayatn tersebut. Pertemuan ini menjadi bukti bahwa komunikasi antara pusat kekuasaan (secara simbolis di Jawa) dan daerah-daerah luar Jawa harus tetap terjalin demi menjaga stabilitas dan rasa saling memiliki dalam bingkai NKRI.

Menanti Pesta Budaya di Bulan Agustus

Sebagai penutup dari pertemuan tersebut, Panglima Jilah juga menyampaikan undangan resmi kepada Jokowi untuk hadir dalam acara adat besar yang akan digelar di Kalimantan pada bulan Agustus mendatang. Acara tersebut direncanakan menjadi perayaan budaya yang megah, sekaligus menjadi momentum untuk semakin mempererat tali persaudaraan antara masyarakat adat dengan pemerintah maupun tokoh nasional.

“Kami mengundang beliau untuk hadir di acara adat kami bulan delapan nanti. Kami berharap kehadiran beliau bisa memberikan semangat tambahan bagi masyarakat adat untuk terus melestarikan warisan leluhur,” tutupnya. Bulan Agustus, yang juga merupakan bulan kemerdekaan, dianggap sebagai waktu yang paling tepat untuk menunjukkan kekayaan budaya bangsa sebagai bentuk jati diri Indonesia yang merdeka dan bermartabat. Publik kini menantikan apakah Jokowi benar-benar akan tampil di layar lebar dan bagaimana peran epik tersebut akan membentuk wajah baru perfilman kolosal Indonesia di masa depan.

Baca Juga Rahasia Kalender Jawa Sabtu Pahing 30 Mei 2026: Momentum Emas Meraih Pangkat dan Kejayaan Melalui Filosofi Neptu Tertinggi
Rahasia Kalender Jawa Sabtu Pahing 30 Mei 2026: Momentum Emas Meraih Pangkat dan Kejayaan Melalui Filosofi Neptu Tertinggi

Kunjungan ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan sebuah pernyataan sikap bahwa budaya adalah fondasi utama dalam membangun bangsa. Melalui tawaran film kolosal Dayak-Majapahit, Panglima Jilah dan TBBR ingin mengirimkan pesan kuat: bahwa sejarah adalah kompas bagi masa depan, dan kolaborasi adalah kunci untuk menjaga keutuhan Indonesia.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *