Jejak Anarkisme di Tamansari: Puluhan CCTV Bandung Lumpuh Total, Dishub Ungkap Kerugian Besar
ZonaKabar — Suasana lengang yang menyelimuti kawasan Jalan Tamansari, Kota Bandung, pasca-aksi anarkis beberapa waktu lalu, menyisakan pemandangan yang memilukan bagi estetika kota. Kota yang biasanya berseri dengan tatanan fasilitas publik yang rapi, kini harus bersusah payah memulihkan diri dari luka-luka vandalisme dan perusakan masif yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Kerusakan yang terjadi tidak hanya menyasar aspek visual, tetapi juga melumpuhkan sistem keamanan digital kota.
Berdasarkan pantauan langsung tim di lapangan, sisa-sisa puing material dan sampah yang sempat memenuhi badan jalan memang telah dibersihkan oleh petugas kebersihan. Namun, bekas-bekas amuk massa masih sangat nyata terlihat pada sejumlah infrastruktur vital. Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung terpantau sibuk melakukan perbaikan rambu lalu lintas yang bengkok, hingga mengecat ulang tembok flyover yang sebelumnya penuh dengan coretan vandalisme bernada provokatif.
Lumpuhnya Mata Digital Kota: 20 Unit CCTV Tak Berfungsi
Salah satu dampak paling krusial dari kerusuhan Bandung tersebut adalah matinya jaringan pemantauan keamanan kota. Bukan sekadar kamera yang pecah, melainkan komponen inti yang menggerakkan sistem tersebut yang menjadi sasaran utama perusakan. Kotak kontrol atau yang secara teknis disebut sebagai node controller milik Dishub Kota Bandung, ditemukan dalam kondisi hancur berantakan.
Akibat sabotase terhadap node controller ini, sedikitnya 20 unit kamera CCTV yang tersebar dari koridor Jalan Tamansari hingga kawasan Pasteur kini berhenti beroperasi. Kondisi ini membuat akses pantauan publik melalui sistem Area Traffic Control System (ATCS) terputus total. Hal ini tentu menjadi kerugian besar, mengingat peran vital kamera pengawas dalam menjaga keamanan dan kelancaran arus lalu lintas di titik-titik krusial tersebut.
Sengaja Dirusak, Bukan Dicuri: Motif di Balik Sabotase
Komandan Teknisi Dishub Kota Bandung, Rustandi Arvey, memberikan penjelasan mendalam mengenai kerusakan teknis yang dialami fasilitas tersebut. Saat ditemui di lokasi kejadian, ia menunjukkan kondisi boks kontrol yang penyok dan hancur akibat hantaman benda tumpul. Menurutnya, aksi ini murni merupakan bentuk perusakan infrastruktur secara sengaja.
“Bisa dilihat sendiri, boks ini sampai penyok parah. Perangkat keras atau hardware di dalamnya dirusak secara brutal. Penting untuk dicatat bahwa ini bukan aksi pencurian, karena komponen-komponen berharga di dalamnya masih ada di lokasi, hanya saja kondisinya sudah tidak berbentuk lagi,” ujar Rustandi dengan nada kecewa pada Sabtu (2/5/2026). Ia menegaskan bahwa ketika otak dari jaringan tersebut dihancurkan, maka secara otomatis seluruh sistem di jalur tersebut akan mati total.
Pemutusan Jaringan dari Pasteur hingga Cihampelas
Dampak dari perusakan satu titik kontrol ini ternyata bersifat domino. Rustandi mengungkapkan bahwa titik-titik CCTV Bandung yang mengalami gangguan mencakup kawasan strategis yang sangat padat aktivitas. Mulai dari Pasteur yang merupakan pintu masuk utama kota, kawasan Paskal yang menjadi pusat ekonomi, hingga area Cihampelas dan Tamansari yang selalu ramai oleh mahasiswa dan wisatawan.
“Dampaknya sangat luas. Jaringan kami terputus mulai dari gerbang Pasteur hingga ke titik ini (Tamansari). Di Pasteur saja ada empat unit yang terdampak langsung. Totalnya mencapai sekitar 20 unit yang saat ini tidak bisa mengirimkan data gambar ke pusat komando,” tambahnya. Hal ini jelas menyulitkan pihak berwenang dalam memantau kondisi lapangan secara real-time, terutama dalam situasi darurat.
Rencana Proteksi Ketat: Rangka Besi ‘Kerangkeng’ untuk Fasilitas Publik
Menanggapi potensi terulangnya aksi serupa di masa mendatang, Dishub Kota Bandung mulai merancang strategi perlindungan ekstra untuk fasilitas umum. Belajar dari insiden ini, posisi boks kontrol yang sebelumnya cukup terbuka dianggap terlalu rentan terhadap serangan fisik saat terjadi demonstrasi atau kerusuhan.
Salah satu solusi yang akan segera diimplementasikan adalah pemasangan rangka besi pelindung atau ‘kerangkeng’ pada setiap boks node controller. Langkah ini diambil agar perangkat keras yang ada di dalamnya tidak mudah dijangkau atau dijebol oleh massa yang anarkis. “Rencananya semua akan kami kerangkeng dengan besi yang lebih kuat. Meskipun lokasinya tetap harus di sini demi kebutuhan teknis jaringan, setidaknya keamanannya akan kami tingkatkan berlipat ganda,” pungkas Rustandi.
Upaya Pemulihan Estetika dan Ketertiban Kota
Selain fokus pada perbaikan sistem keamanan, Pemerintah Kota Bandung juga terus menggenjot pemulihan visual di kawasan terdampak. Kerusakan pada pot-pot bunga, water barrier yang terseret jauh dari posisinya, hingga kios-kios pedagang yang rusak, mulai ditangani secara bertahap. Keamanan kota menjadi prioritas utama agar aktivitas ekonomi dan sosial warga bisa kembali berjalan normal.
Kejadian ini menjadi pengingat pahit bagi seluruh lapisan masyarakat akan pentingnya menjaga fasilitas publik yang dibangun dengan uang rakyat. Kerusakan yang terjadi dalam hitungan jam memerlukan waktu berminggu-minggu dan biaya yang tidak sedikit untuk diperbaiki. Masyarakat pun diimbau untuk tetap menjaga kondusivitas dan tidak mudah terprovokasi oleh aksi-aksi yang berujung pada perusakan aset milik bersama.
Kini, warga Bandung hanya bisa berharap agar pemulihan mata digital kota ini bisa segera tuntas. Tanpa adanya pemantauan CCTV, celah bagi tindak kriminalitas dan pelanggaran lalu lintas menjadi lebih lebar, sesuatu yang tentu tidak diinginkan oleh siapapun yang mencintai kedamaian di Kota Kembang ini.