Jejak Kelam Kasus Bilqis: Akhir Pelarian Sang Pembunuh Bocah Sragen di Tangan Aparat
ZonaKabar — Tabir gelap yang menyelimuti Desa Dawung, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, perlahan mulai tersingkap. Setelah hampir sepekan menjadi teka-teki yang menghantui masyarakat, pelaku di balik pembunuhan sadis terhadap Bilqis Rajiansyah Lestari (11) akhirnya berhasil diringkus oleh jajaran kepolisian. Kabar ini membawa sedikit embusan napas lega di tengah duka mendalam yang menyelimuti keluarga korban dan warga sekitar.
Penangkapan Sang Pelaku di Gondang
Kepastian mengenai tertangkapnya pelaku pembunuhan bocah sekolah dasar tersebut dikonfirmasi langsung oleh Kapolres Sragen, AKBP Dewiana Syamsu Indiyasari. Melalui pesan singkat pada Rabu (9/6/2026), beliau menyatakan rasa syukurnya atas keberhasilan tim di lapangan dalam mengamankan terduga pelaku. Meskipun identitas detail mengenai siapa sosok di balik aksi keji ini belum dibuka sepenuhnya ke publik demi kepentingan penyidikan lebih lanjut, lokasi penangkapan telah terkonfirmasi.
Pelaku berhasil diamankan di wilayah Kecamatan Gondang, Sragen. Operasi penangkapan ini merupakan hasil kerja keras tim gabungan yang melakukan pengejaran secara intensif sejak jasad korban ditemukan. Polisi saat ini masih terus mendalami motif utama di balik aksi pembunuhan sadis tersebut, apakah murni perampokan atau ada motif lain yang lebih personal.
Jumat Kelabu: Penemuan Jasad yang Memilukan
Mari kita menilik kembali awal mula tragedi yang mengguncang Sragen ini. Pada Jumat (5/6) sore, sekitar pukul 16.00 WIB, suasana tenang di Desa Dawung mendadak pecah oleh jeritan histeris Dewi Sri Lestari (34). Dewi, yang baru saja pulang bekerja, menemukan putri semata wayangnya, Bilqis, sudah terbujur kaku tak bernyawa di dalam rumah baru mereka.
Kepala Desa Dawung, Aris Sudaryanto, mengenang momen mencekam tersebut. Menurutnya, teriakan Dewi memancing kedatangan warga sekitar, termasuk seorang saksi bernama Mbah Wadi. Begitu laporan sampai ke telinganya, Aris segera menuju lokasi dan menyaksikan pemandangan yang sangat memilukan. Korban ditemukan dalam kondisi yang sangat mengenaskan dengan luka bekas senjata tajam di sekujur tubuh, terutama pada bagian wajah dan tangan.
“Kondisinya sangat memprihatinkan, wajah korban bahkan sulit dikenali akibat luka bacokan yang membabi buta. Darah sudah mengering di lantai, dan terlihat banyak bekas telapak kaki di sekitar lokasi kejadian,” ujar Aris dengan nada berat. Demi menjaga privasi keluarga dan kelancaran olah TKP, warga dilarang keras mengabadikan kondisi korban melalui foto atau video.
Kejanggalan di Balik Pintu yang Terkunci
Dewi Sri Lestari menceritakan detik-detik sebelum ia menemukan kenyataan pahit tersebut. Saat sampai di rumah, ia melihat pintu rumah dalam posisi tertutup rapat. Namun, ada satu hal yang janggal: gembok pintu terpasang tetapi tidak dalam keadaan terkunci. Setelah masuk ke dalam, Dewi menemukan kunci gembok diletakkan begitu saja di atas meja ruang tamu.
Awalnya, Dewi mengira Bilqis sedang tertidur lelap. Ia memanggil-manggil nama anaknya berkali-kali, namun tak ada sahutan. Saat mendekati kasur di ruang tengah, ia melihat Bilqis dalam posisi tengkurap dengan setengah badannya tertutup selimut. Kecurigaannya memuncak saat ia mencoba menyentuh kaki anaknya dan mendapati kain sprei serta selimut sudah basah bersimbah darah.
Tragedi ini terasa semakin berat karena keluarga tersebut baru sekitar tiga bulan menempati rumah baru di Dukuh Bromoasri. Bilqis sendiri merupakan anak tunggal yang sangat disayangi, yang kini harus meregang nyawa di tangan orang yang tak bertanggung jawab saat ia masih mengenakan seragam sekolahnya.
Motif Perampokan dan Hilangnya Harta Benda
Selain hilangnya nyawa Bilqis, polisi juga mencatat adanya sejumlah barang berharga yang raib dari lokasi kejadian. Hal inilah yang memperkuat dugaan bahwa insiden ini merupakan aksi perampokan yang berujung pada pembunuhan. Satu unit sepeda motor Honda Vario berwarna biru milik orang tua korban diketahui hilang, bersama dengan satu unit telepon genggam milik Bilqis.
Sepeda motor tersebut biasanya digunakan untuk keperluan sehari-hari, termasuk untuk Bilqis berangkat sekolah atau bermain. Dugaan kuat mengarah pada pelaku yang membawa kabur motor tersebut setelah menghabisi nyawa bocah malang itu untuk menghilangkan saksi mata atau sekadar menguasai harta benda korban.
Analisis Ilmiah dan Pencarian Jejak Digital
Kasat Reskrim Polres Sragen, AKP Catur Agus Yudo Praseno, menjelaskan bahwa pihaknya menggunakan pendekatan scientific crime investigation untuk mengungkap kasus ini. Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara dan pemeriksaan awal medis, waktu kematian Bilqis diperkirakan terjadi antara pukul 10.00 hingga 10.30 WIB pada hari Jumat tersebut.
Untuk memastikan estimasi waktu tersebut, Polres Sragen berkoordinasi erat dengan Biddokkes Polda Jateng. Selain itu, tim identifikasi berhasil mengamankan sejumlah sidik jari yang tertinggal di berbagai sudut rumah dan barang bukti lainnya. Sidik jari inilah yang kemudian menjadi kunci utama polisi untuk mengidentifikasi dan mencocokkan data dengan para residivis atau pihak-pihak yang dicurigai.
“Kami tidak ingin gegabah. Semua alat bukti dikumpulkan secara utuh agar saat pelaku diproses secara hukum, tidak ada celah baginya untuk mengelak. Kami mengedepankan asas praduga tak bersalah hingga semua bukti benar-benar kuat di persidangan,” tegas AKP Catur saat memberikan keterangan resmi kepada pers di Jawa Tengah.
Duka Mendalam Desa Dawung
Kini, seiring dengan tertangkapnya pelaku, warga Desa Dawung berharap agar proses hukum berjalan seadil-adilnya. Sosok Bilqis dikenal sebagai anak yang baik dan penurut di lingkungannya. Kepergiannya yang mendadak dengan cara yang tragis meninggalkan luka yang mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi guru dan teman-teman sekolahnya.
Polres Sragen berkomitmen untuk menuntaskan kasus ini hingga tuntas dan memberikan hukuman yang setimpal bagi pelaku. Keberhasilan penangkapan ini juga menjadi pengingat bagi masyarakat untuk selalu waspada dan meningkatkan sistem keamanan lingkungan (Siskamling) guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Pelarian sang pembunuh mungkin telah berakhir di Gondang, namun proses mencari keadilan bagi Bilqis masih terus berjalan. Masyarakat Sragen kini menanti keterangan lebih lanjut dari kepolisian mengenai kronologi lengkap dan sosok sebenarnya di balik tindakan yang telah merampas masa depan seorang bocah tak berdosa ini.