Tangis di Manyaran: Nestapa Sugeng Melepas Kepulangan Abadi Sang Putri dalam Tragedi Kereta Bekasi

Aris Munandar | ZonaKabar
29 Apr 2026, 07:49 WIB
Tangis di Manyaran: Nestapa Sugeng Melepas Kepulangan Abadi Sang Putri dalam Tragedi Kereta Bekasi

ZonaKabar — Suasana hening menyelimuti Dukuh Puncanganom, Desa Bero, Kecamatan Manyaran, Wonogiri, ketika sebuah mobil ambulans perlahan memasuki pelataran rumah duka. Sore itu, sekitar pukul 16.15 WIB, bukan kepulangan penuh tawa yang disambut keluarga, melainkan peti jenazah yang membawa Ristuti Kustirahayu (37). Ristuti merupakan satu dari belasan nyawa yang melayang dalam insiden tabrakan maut kereta api yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur.

Enam Tahun Penantian yang Berujung Pilu

Bagi Sugeng Priyanto, ayahanda almarhumah, kepulangan putrinya kali ini adalah sebuah guncangan batin yang luar biasa hebat. Selama enam tahun terakhir, Sugeng hanya bisa melepas rindu melalui sambungan telepon. Jarak antara Wonogiri dan Bekasi terasa begitu jauh, namun komunikasi yang intens membuat Sugeng merasa putrinya selalu dekat. Namun, takdir memiliki skenario lain yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Ristuti dikenal sebagai sosok wanita tangguh dan pekerja keras. Belasan tahun merantau di tanah Jawa Barat, ia mengadu nasib sebagai admin di sebuah toko bangunan untuk menghidupi keluarganya. Sugeng menceritakan bahwa sebenarnya ada rencana besar untuk mudik pada Lebaran tahun ini. Sayangnya, rencana tersebut harus kandas karena sebuah musibah lain; mertua Ristuti di Purwokerto meninggal dunia, sehingga fokus keluarga beralih ke sana.

Baca Juga Skandal Chat Mesum UIN Walisongo: Mahasiswa Tuntut Pemecatan Dosen Predator dan Transparansi Kampus
Skandal Chat Mesum UIN Walisongo: Mahasiswa Tuntut Pemecatan Dosen Predator dan Transparansi Kampus

“Sudah lama sekali dia tidak pulang ke Manyaran. Terakhir kali menginjakkan kaki di sini ya sekitar enam tahun lalu. Kami sebenarnya sudah sangat berharap dia bisa pulang Lebaran kemarin, tapi takdir berkata lain,” ujar Sugeng dengan suara yang bergetar saat ditemui di kediamannya.

Percakapan Terakhir di Hari Minggu

Kenangan terakhir Sugeng bersama sang putri tertinggal pada sebuah percakapan telepon di hari Minggu (26/4). Tidak ada firasat buruk, tidak ada pesan yang terasa ganjil. Seperti biasanya, Ristuti hanya menanyakan kabar sang ayah dan menceritakan sedikit tentang kesehariannya di Bekasi. Kebiasaan menelepon ini adalah rutinitas yang selalu dijaga oleh Ristuti untuk memastikan orang tuanya di kampung halaman baik-baik saja.

“Terakhir telepon itu hari Minggu. Ya seperti biasa, tanya kabar. Memang dia sering telepon, perhatian sekali dengan orang tua. Saya tidak menyangka itu akan menjadi suara terakhir yang saya dengar dari putri saya,” kenang Sugeng. Guncangan emosional ini tak hanya dirasakan Sugeng, namun juga seluruh warga desa yang mengenal keluarga tersebut sebagai keluarga yang rukun.

Baca Juga Misteri Sate Maut di Boyolali: Kesaksian Memilukan Keluarga dan Teka-Teki Kematian Aminah yang Terkuak Lewat Ekshumasi
Misteri Sate Maut di Boyolali: Kesaksian Memilukan Keluarga dan Teka-Teki Kematian Aminah yang Terkuak Lewat Ekshumasi

Proses pemulasaraan jenazah dilakukan dengan cepat namun penuh khidmat setibanya di rumah duka. Tetangga dan kerabat berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir. Setelah disalatkan, jenazah Ristuti segera dikebumikan pada pukul 18.00 WIB di pemakaman setempat. Gotong royong warga terlihat begitu nyata, mulai dari menyiapkan liang lahat hingga membantu kelancaran prosesi pemakaman.

Kronologi Tragedi Berdarah di Jalur Ganda

Tragedi yang merenggut nyawa Ristuti terjadi pada Senin (27/4) malam, sebuah malam kelam bagi dunia transportasi kereta api tanah air. Berdasarkan data yang dihimpun dari Kementerian Perhubungan, rentetan peristiwa bermula dari sebuah kecelakaan kecil yang memicu reaksi berantai yang fatal. Awalnya, sebuah rangkaian KRL relasi Bekasi-Cikarang tertemper sebuah taksi di perlintasan sebidang JPL 85.

Insiden dengan taksi tersebut mengakibatkan rangkaian KRL mengalami kendala teknis dan harus dievakuasi. Status perjalanan pun berubah menjadi Perjalanan Luar Biasa (PLB) dengan kode 5181. Dampak dari gangguan ini memaksa petugas pengatur perjalanan kereta api untuk melakukan pemberhentian darurat terhadap rangkaian KRL lainnya, yakni PLB 5568 yang tengah menuju Cikarang. KRL ini berhenti tepat di peron Stasiun Bekasi Timur untuk menunggu koordinasi lebih lanjut.

Baca Juga Jejak Gelap Fabiola Elizabeth Agnes: Dari Gemerlap Panggung Artis hingga Jeruji Besi Markas Scammer Solo Baru
Jejak Gelap Fabiola Elizabeth Agnes: Dari Gemerlap Panggung Artis hingga Jeruji Besi Markas Scammer Solo Baru

Namun, di saat yang bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek (KA 4) dengan relasi Jakarta-Surabaya melaju kencang di jalur yang sama. Karena jarak yang sudah terlalu dekat dan kecepatan tinggi, tabrakan hebat tidak dapat dihindarkan. Moncong lokomotif Argo Bromo menghantam bagian belakang KRL dengan kekuatan yang mengerikan, bahkan dikabarkan hingga menembus gerbong wanita yang berada di posisi belakang.

Duka Mendalam Bagi 15 Keluarga Korban

Kombes Martinus Ginting, Kabid Dokkes Polda Metro Jaya, mengonfirmasi bahwa total korban tewas dalam insiden ini mencapai 15 orang. Ke-15 korban tersebut dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi sebelum akhirnya diserahkan kepada keluarga masing-masing. Ristuti adalah salah satu dari sekian banyak orang yang berada di gerbong tersebut saat maut menjemput.

Kecelakaan ini kembali membuka luka lama mengenai keamanan transportasi kereta dan manajemen risiko di perlintasan sebidang. Proses evakuasi di lokasi kejadian pun berlangsung dramatis. Tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, hingga petugas teknis PT KAI bekerja bahu-membahu di tengah puing-puing gerbong yang hancur untuk mencari korban yang mungkin masih terjepit.

Baca Juga Prediksi Line-Up Persib Bandung vs Persijap Jepara: Laga Hidup Mati Menuju Takhta Juara Super League
Prediksi Line-Up Persib Bandung vs Persijap Jepara: Laga Hidup Mati Menuju Takhta Juara Super League

Camat Manyaran, Toto Tri Mulyarto, turut menyampaikan belasungkawa yang mendalam bagi keluarga Sugeng. Ia menyebutkan bahwa Ristuti meninggalkan dua orang anak yang kini harus kehilangan figur ibu. “Almarhumah sudah berkeluarga dan memang berdomisili di Bekasi. Status kependudukannya pun sudah di sana, namun akarnya tetap di Manyaran,” kata Toto.

Masalah Administrasi dan Penanganan Pasca-Kejadian

Meskipun jenazah dimakamkan di Wonogiri, urusan administratif terkait akta kematian akan diselesaikan di Bekasi. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Wonogiri, Herdian, menjelaskan bahwa karena Ristuti sudah secara resmi menjadi warga Kabupaten Bekasi, maka pengurusan dokumen resmi akan dilakukan melalui instansi terkait di sana. Hal ini dilakukan untuk memudahkan ahli waris dalam mengurus berbagai keperluan asuransi atau santunan nantinya.

Di sisi lain, publik menuntut adanya investigasi menyeluruh dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Mengapa KA Argo Bromo Anggrek tidak mendapatkan sinyal untuk berhenti atau mengurangi kecepatan saat ada KRL yang sedang berhenti di depan peron? Pertanyaan-pertanyaan teknis ini menjadi krusial untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.

Baca Juga Fenomena ‘Banjir’ Daging Kurban di Dusun Krajan: Tradisi Kedermawanan Legendaris yang Mengakar Sejak 1959
Fenomena ‘Banjir’ Daging Kurban di Dusun Krajan: Tradisi Kedermawanan Legendaris yang Mengakar Sejak 1959

Kini, Dukuh Puncanganom kembali ke kesunyiannya, namun luka di hati Sugeng dan keluarga tak akan pernah benar-benar pulih. Sebuah perjalanan pulang yang tertunda selama enam tahun, akhirnya terpenuhi dalam bentuk yang paling menyakitkan. Tragedi Bekasi Timur bukan sekadar angka statistik dalam catatan kecelakaan kereta, melainkan cerita tentang mimpi, kerja keras, dan rindu seorang putri yang terhenti selamanya di atas rel baja.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *