Menelusuri Jejak Heroik Kiai Dermojoyo: Ulama Pejuang dari Nganjuk yang Menggetarkan Kolonial Belanda
ZonaKabar — Di balik hiruk-pikuk pusat kota Nganjuk, sebuah nama besar terpatri abadi di papan jalan utama Kelurahan Payaman. Nama itu bukan sekadar penunjuk arah bagi para pelancong atau warga lokal yang melintas, melainkan sebuah monumen penghormatan bagi sosok ulama yang keberaniannya pernah membuat gemetar pemerintahan Hindia Belanda. Ia adalah Kiai Dermojoyo, seorang tokoh spiritual sekaligus panglima rakyat yang memimpin perlawanan bersenjata demi harga diri bangsanya.
Kisah perjuangannya bukan sekadar catatan usang di buku-buku sejarah Nganjuk. Bagi masyarakat setempat, Kiai Dermojoyo adalah personifikasi dari perlawanan kaum santri yang menolak tunduk pada penindasan. Namanya harum sebagai sosok yang melakukan ‘babat alas’ atau pembuka pemukiman di Dusun Bendungan, Desa Kedungrejo, Kecamatan Tanjunganom, yang kemudian menjadi basis pertahanan spiritual dan fisik melawan penjajah.
Sosok Ulama Kharismatik di Balik Geger Dermojoyo
Menurut Aries Trio Effendi, seorang pemerhati sejarah dan budaya dari Nganjuk, Kiai Dermojoyo bukanlah seorang prajurit militer profesional yang mendapatkan pelatihan taktis di barak-barak perang. Sebaliknya, ia adalah seorang tokoh ulama kharismatik yang memimpin dengan keteladanan dan kedalaman ilmu agama. Pengaruhnya yang sangat luas di kalangan masyarakat jelata dan santri menjadikannya figur sentral yang sangat disegani.
“Beliau bukan hanya seorang kiai yang mengajar di surau, tetapi juga pemimpin perlawanan rakyat yang visioner. Pengaruhnya menembus batas-batas desa, menggerakkan hati mereka yang merasa tertindas oleh kebijakan kolonial yang tidak adil,” ungkap Aries dalam sebuah sesi diskusi mendalam. Semangat jihad yang dikobarkan Kiai Dermojoyo kabarnya banyak terinspirasi dari spirit perjuangan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa, sebuah api perlawanan yang terus menyala meski sang pangeran telah tiada.
Akar Kemarahan: Eksploitasi Gula dan Janji Palsu Belanda
Perlawanan yang dipimpin oleh Kiai Dermojoyo tidak muncul secara tiba-tiba tanpa sebab. Gejolak ini merupakan akumulasi dari rasa sakit hati rakyat terhadap praktik kolonialisme Belanda yang semakin mencekik leher petani. Pada awal abad ke-20, Nganjuk menjadi salah satu pusat industri gula yang sangat menguntungkan bagi pemerintah Hindia Belanda, namun menjadi neraka bagi penduduk lokal.
Beberapa faktor utama yang memicu kemarahan rakyat antara lain:
- Tingginya Pajak Tanah: Meskipun Belanda menjanjikan penghapusan sistem sewa tanah yang memberatkan, kenyataannya pajak yang dibebankan kepada petani justru meroket tajam.
- Ketidakadilan Harga Hasil Bumi: Komoditas tebu milik rakyat dibeli dengan harga yang sangat rendah oleh pabrik-pabrik gula milik pemerintah kolonial.
- Pejabat Lokal yang Korup: Sebagian pejabat pribumi saat itu justru menjadi perpanjangan tangan Belanda dan ikut menindas rakyat demi keuntungan pribadi.
- Hilangnya Kedaulatan Tanah: Rakyat merasa tanah warisan leluhur mereka dirampas secara sistematis untuk kepentingan perkebunan tebu berskala besar.
Detik-Detik Serangan ke Pabrik Gula Kutjonmanis
Puncak dari ketegangan ini meletus pada 29 Januari 1907, sebuah peristiwa yang dalam catatan kolonial disebut sebagai “Geger Dermojoyo”. Dengan hanya bersenjatakan peralatan tradisional seperti keris, tombak, arit, dan parang, Kiai Dermojoyo bersama puluhan santri setianya melakukan tindakan nekat: menyerang Pabrik Gula (PG) Kutjonmanis di Tanjunganom.
Serangan mendadak ini dilakukan sebagai simbol perlawanan terhadap pusat ekonomi Belanda di wilayah tersebut. Bayangkan, pasukan rakyat yang hanya berbekal keberanian dan keyakinan spiritual berhadapan dengan barikade keamanan pabrik. Dalam pertempuran yang sengit dan penuh emosi tersebut, pasukan Kiai Dermojoyo sempat membuat pertahanan Belanda kocar-kacir. Kecepatan dan ketepatan serangan gerilya mereka berhasil memberikan kemenangan awal bagi rakyat Nganjuk.
Tragedi di Dusun Bendungan dan Gugurnya Sang Pejuang
Namun, kemenangan itu harus dibayar mahal. Pihak kolonial yang merasa terhina dengan serangan tersebut segera merespons dengan kekuatan penuh. Asisten Residen Nganjuk kala itu, C.C.M Henry, tidak mau mengambil risiko lebih jauh dan segera mengirim telegram darurat untuk meminta bantuan militer dari Surabaya. Tak butuh waktu lama, pasukan Belanda dengan persenjataan modern—termasuk senapan api laras panjang—tiba di Nganjuk untuk memadamkan pemberontakan.
Pertempuran terakhir pecah di kediaman Kiai Dermojoyo di Dusun Bendungan. Di halaman rumahnya sendiri, sang kiai menunjukkan determinasi terakhirnya. Meski dikepung oleh moncong senapan, ia menolak untuk menyerah. Kiai Dermojoyo akhirnya gugur sebagai syahid setelah tubuhnya diterjang timah panas pasukan Belanda. Tak sendiri, ia gugur bersama 17 pengikut setianya yang memilih mati terhormat daripada hidup dalam perbudakan.
Terdapat sedikit perbedaan catatan mengenai tahun wafatnya. Di nisan makamnya tertulis tahun 1906, namun berdasarkan dokumen resmi Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Nganjuk, peristiwa besar itu terjadi pada awal tahun 1907. Terlepas dari perbedaan angka tahun tersebut, esensi keberaniannya tetap menjadi pilar penting dalam sejarah lokal.
Warisan dan Tradisi: Menjaga Api Semangat Kiai Dermojoyo
Hingga hari ini, pengorbanan Kiai Dermojoyo tetap hidup dalam ingatan kolektif warga Nganjuk. Namanya tidak hanya diabadikan di pusat kota, tetapi juga di wilayah Tanjunganom dan Berbek. Makamnya di Dusun Bendungan kini telah menjadi salah satu destinasi wisata religi yang selalu ramai dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah.
Kandi (45), salah seorang warga asli Dusun Bendungan, mengungkapkan bahwa aura perjuangan sang kiai masih terasa sangat kental di desanya. “Bagi kami, Kiai Dermojoyo adalah kakek buyut seluruh warga di sini. Setiap malam Jumat, terutama Jumat Legi, makam beliau dipenuhi warga yang melakukan khataman Al-Quran dan tahlil. Ini adalah cara kami berterima kasih atas tanah yang kami pijak sekarang,” tuturnya dengan nada penuh khidmat.
Pemerintah daerah pun terus berupaya menjaga situs-situs bersejarah yang berkaitan dengan Geger Dermojoyo. Upaya ini dilakukan agar generasi muda Nganjuk tidak melupakan bahwa kebebasan yang mereka nikmati hari ini adalah buah dari darah dan air mata para ulama serta rakyat jelata di masa lalu. Perjuangan Kiai Dermojoyo adalah pengingat abadi bahwa kekuatan spiritual dan cinta pada tanah air adalah senjata yang tak akan pernah bisa dipatahkan oleh kecanggihan meriam sekalipun.
Kesimpulan: Meneladani Karakter Sang Kiai
Kisah Kiai Dermojoyo memberikan kita pelajaran berharga tentang integritas. Di tengah tawaran kenyamanan jika mau bekerja sama dengan penjajah, ia memilih jalan pedang yang penuh risiko demi membela kaum yang lemah. Dalam konteks modern, semangat perlawanan ini bisa kita transformasikan menjadi semangat untuk melawan ketidakadilan, kemiskinan, dan kebodohan melalui perjuangan kemerdekaan dalam bentuk yang baru.
Menelusuri jejak Geger Dermojoyo bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan upaya untuk membasuh kembali jiwa nasionalisme kita yang mungkin mulai memudar. Nganjuk patut bangga memiliki putra daerah sekelas Kiai Dermojoyo, seorang ulama yang membuktikan bahwa iman dan patriotisme adalah dua sisi dari mata uang yang sama.