Menjaga Tradisi, Memacu Produksi: KSO Kebun Dhoho Gelar Ritual Petik Tebu Sambut Musim Tebang 2026
ZonaKabar — Di bawah naungan langit biru Dusun Bakung yang tenang, aroma tanah basah dan desis daun tebu yang bergesekan ditiup angin menjadi latar belakang sebuah peristiwa sakral. Pada Kamis, 30 April 2026, KSO Kebun Dhoho secara resmi menandai dimulainya babak baru dalam siklus industri gula nasional melalui prosesi ritual Selamatan Petik Tebu. Acara yang berpusat di Desa Wonorejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri ini, bukan sekadar seremonial formal, melainkan sebuah manifestasi rasa syukur dan harapan atas keberlangsungan ekonomi masyarakat setempat.
Bagi masyarakat Kediri, tebu bukan sekadar komoditas pertanian biasa. Ia adalah urat nadi yang telah menghidupi ribuan keluarga selama lintas generasi. Oleh karena itu, mengawali musim tebang tanpa ritual adat dianggap seperti melangkah tanpa restu alam. Ritual ini mempertemukan antara modernitas manajemen industri dengan kearifan lokal yang masih terjaga keasliannya di tengah arus globalisasi.
Filosofi di Balik Tradisi Petik Tebu
Prosesi dimulai saat matahari mulai meninggi, dipimpin langsung oleh pemuka adat setempat bersama General Manager KSO Kebun Dhoho, Juni Yanto. Di tengah hamparan hijau perkebunan, kepulan asap dari jerami yang dibakar perlahan membubung ke angkasa, membawa serta doa-doa yang dilantunkan dengan khidmat. Pembakaran jerami ini melambangkan pembersihan diri dan lingkungan dari segala hambatan sebelum kerja besar dimulai.
Juni Yanto, dengan penuh saksama, melakukan pemotongan dua batang tebu pertama sebagai simbolis pembukaan musim. Tebu pilihan ini bukan sembarang batang; mereka akan diperlakukan secara istimewa sebagai “Manten Tebu” atau pengantin tebu. Dalam kepercayaan masyarakat agraris di Jawa, ritual ini merupakan bentuk penghormatan kepada Dewi Sri sebagai simbol kesuburan, dengan harapan proses penggilingan di pabrik nanti akan menghasilkan rendemen yang tinggi dan manis.
“Agenda hari ini sebetulnya merupakan tradisi yang kami lestarikan setiap tahun. Ini adalah momen krusial untuk melakukan selamatan sebagai rangkaian awal sebelum tebu-tebu berkualitas ini kami kirimkan menuju pabrik gula. Kami memohon keselamatan bagi seluruh pekerja dan keberkahan bagi hasil panen tahun ini,” ujar Juni Yanto saat ditemui di sela-sela acara.
Target Ambisius dan Strategi Produksi 2026
Tahun 2026 menjadi tahun yang penuh tantangan sekaligus peluang bagi KSO Kebun Dhoho. Setelah sukses mendukung program swasembada gula pada periode sebelumnya, manajemen kini menetapkan target produksi yang tidak main-main. KSO Kebun Dhoho memproyeksikan total produksi tebu mencapai angka fantastis, yakni sekitar 267 ribu ton.
Angka tersebut didorong oleh optimalisasi lahan seluas 3.310 hektare yang tersebar di beberapa titik strategis. Dengan manajemen pemupukan yang presisi dan pemilihan bibit unggul, produktivitas rata-rata ditargetkan mampu menyentuh angka 80,56 ton per hektare. Pencapaian ini diharapkan mampu menjaga stabilitas stok gula nasional yang sering kali mengalami fluktuasi harga di pasar domestik.
Untuk mencapai target tersebut, KSO Kebun Dhoho mengandalkan kekuatan sumber daya manusia yang masif. Sebanyak 350 karyawan tetap menjadi tulang punggung operasional harian, yang kemudian diperkuat oleh hampir 1.000 tenaga kerja musiman. Para tenaga musiman ini biasanya berasal dari warga sekitar kebun, sehingga menciptakan efek domino ekonomi yang positif bagi ekonomi lokal Kediri.
Distribusi dan Sinergi Antar Pabrik Gula
Setelah ritual usai, kesibukan sebenarnya baru akan dimulai. Pengiriman perdana hasil tebangan dijadwalkan akan berlangsung pada tanggal 12 atau 13 Mei 2026. Alur distribusi telah dirancang sedemikian rupa untuk memastikan kesegaran tebu tetap terjaga hingga masuk ke meja giling. Kualitas gula sangat bergantung pada kecepatan proses tebang-muat-angkut.
Tebu yang berasal dari Kebun Dhoho 1 dan 2 akan diprioritaskan untuk memasok PG Ngadiredjo sebagai tujuan utama. Namun, sinergi industri tidak berhenti di situ. KSO Kebun Dhoho juga telah menjalin kerja sama strategis untuk menyuplai kebutuhan bahan baku di beberapa pabrik besar lainnya, antara lain:
- PG Pesantren Baru (Kediri)
- PG Mrican (Kediri)
- PG Mojopanggung (Tulungagung)
Sinergi antar pabrik ini sangat penting untuk memastikan tidak ada penumpukan tebu di satu lokasi yang bisa menyebabkan penurunan kualitas kadar gula (rendemen). Dengan koordinasi yang apik, setiap batang tebu yang dipanen dapat segera diproses menjadi butiran kristal manis yang siap dikonsumsi masyarakat luas.
Menghadapi Tantangan Iklim dan Kondisi Lapangan
Meski optimisme membumbung tinggi, manajemen KSO Kebun Dhoho tetap bersikap realistis dalam menghadapi dinamika lapangan. Sektor pertanian, khususnya tebu, sangat rentan terhadap anomali cuaca. Hujan yang turun di saat musim tebang dapat menghambat akses mobilitas truk pengangkut dan menurunkan kadar gula dalam batang tebu.
“Bekerja di lapangan berarti kita harus siap bersahabat dengan alam. Tantangan utama tentu saja faktor cuaca yang sulit diprediksi, serta kondisi lingkungan yang berbeda-beda di setiap blok kebun. Ada lahan yang medannya cukup berat, namun dengan kesiapan armada dan tim yang solid, kami yakin tantangan tersebut bisa teratasi,” tambah Juni Yanto dengan nada optimis.
Selain faktor cuaca, manajemen juga memberikan perhatian khusus pada kesejahteraan petani dan keselamatan kerja. Standar operasional prosedur (SOP) yang ketat diberlakukan untuk meminimalisir risiko kecelakaan kerja di area perkebunan yang luas dan memiliki risiko tinggi.
Dukungan Pemerintah dan Swasembada Pangan
Langkah KSO Kebun Dhoho dalam memulai musim tebang ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk jajaran aparat penegak hukum dan pemerintah daerah. Kehadiran pihak kepolisian dalam memantau kelancaran operasional perkebunan menunjukkan bahwa industri gula adalah aset vital negara yang perlu dijaga keamanannya.
Sejalan dengan visi pemerintah untuk mencapai kedaulatan pangan, sektor perkebunan tebu menjadi pilar utama selain padi dan jagung. Dengan teknologi pertanian yang terus diperbarui dan semangat kolaborasi antara korporasi, petani, dan warga, Kediri optimis dapat terus menjadi lumbung gula bagi Indonesia. Ritual Selamatan Petik Tebu di Dusun Bakung ini pun berakhir dengan makan bersama, sebuah simbol kebersamaan bahwa kesuksesan panen adalah kemenangan bagi semua pihak.
Melalui semangat kearifan lokal yang dipadukan dengan manajemen profesional, KSO Kebun Dhoho siap menyongsong musim giling 2026 dengan harapan besar: agar setiap tetes keringat petani berubah menjadi manisnya kesejahteraan bagi seluruh negeri.