Menyingkap Tabir Misinformasi: Mengapa 67 Ribu Anak di Jawa Barat Masih Terjebak dalam ‘Zero Dose’ Imunisasi?

Dewi Lestari | ZonaKabar
12 Mei 2026, 16:15 WIB
Menyingkap Tabir Misinformasi: Mengapa 67 Ribu Anak di Jawa Barat Masih Terjebak dalam 'Zero Dose' Imunisasi?

ZonaKabar Di tengah pesatnya modernisasi dan kemajuan teknologi di Provinsi Jawa Barat, terselip sebuah realita pahit yang mengancam masa depan generasi penerus bangsa. Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan, tercatat sekitar 67 ribu anak di tanah Pasundan ini masih menyandang status zero dose, sebuah istilah untuk anak-anak yang sama sekali belum tersentuh layanan imunisasi dasar rutin. Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan alarm keras bagi ketahanan kesehatan masyarakat kita.

Persoalan ini bukan semata-mata karena kendala akses geografis atau keterbatasan ekonomi. Justru, musuh utamanya jauh lebih sulit ditembus: tembok tebal misinformasi dan pemahaman agama yang masih parsial. Bayang-bayang hoaks yang bertebaran di ruang digital telah menciptakan ketakutan yang tidak berdasar di benak para orang tua, membuat mereka ragu untuk melangkah ke fasilitas kesehatan demi masa depan anak-anak mereka.

Perjalanan Menekan Angka Zero Dose di Jawa Barat

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, dalam kunjungan kerjanya ke Kota Bandung baru-baru ini, membeberkan dinamika perjuangan pemerintah dalam menuntaskan masalah ini. Secara nasional, jumlah anak yang belum mendapatkan imunisasi di Indonesia mencapai angka yang mencengangkan, yakni 2,3 juta jiwa. Di lingkup Jawa Barat sendiri, perjuangan tersebut mulai membuahkan hasil meski tantangan tetap besar.

Baca Juga Bukan Sekadar Manis, Inilah 7 Dampak Luar Biasa Bagi Tubuh Saat Anda Memutuskan Berhenti Mengonsumsi Gula
Bukan Sekadar Manis, Inilah 7 Dampak Luar Biasa Bagi Tubuh Saat Anda Memutuskan Berhenti Mengonsumsi Gula

Dante mengungkapkan bahwa sebelumnya angka anak dengan status zero dose di Jawa Barat sempat menyentuh angka 102 ribu jiwa. Namun, melalui berbagai upaya Kementerian Kesehatan yang masif, angka tersebut berhasil ditekan menjadi 67 ribu anak. Target besar pun telah dipancang: pada tahun 2025 hingga 2026, Jawa Barat diharapkan mampu membersihkan angka tersebut hingga mencapai nol kasus.

“Kami sangat berharap dalam kurun waktu satu hingga dua tahun ke depan, masalah zero dose ini bisa kita tuntaskan sepenuhnya. Tidak boleh ada lagi anak yang tertinggal dalam mendapatkan perlindungan kesehatan yang fundamental ini,” ujar Dante dengan nada optimis saat ditemui di Bandung.

Pandemi COVID-19 dan Dampak Domino bagi Kesehatan Anak

Tak bisa dipungkiri, badai pandemi COVID-19 beberapa tahun silam memberikan dampak domino yang signifikan terhadap cakupan vaksinasi anak. Fokus dunia medis yang teralihkan serta pembatasan aktivitas sosial membuat banyak agenda imunisasi dasar terhenti. Dampaknya sangat nyata; beberapa daerah bahkan sempat menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk penyakit campak akibat rendahnya pemberian imunisasi selama masa pandemi.

Baca Juga Sinopsis Reprisal: Aksi Menegangkan Bruce Willis dan Frank Grillo Memburu Perampok Jenius
Sinopsis Reprisal: Aksi Menegangkan Bruce Willis dan Frank Grillo Memburu Perampok Jenius

Kondisi ini diperparah dengan munculnya keengganan orang tua untuk membawa anak mereka ke Posyandu atau Puskesmas karena rasa khawatir akan penularan virus korona saat itu. Sayangnya, kebiasaan ini kemudian berlanjut menjadi ketidakpedulian yang dipicu oleh informasi-informasi yang salah yang kadung dipercayai sebagai sebuah kebenaran.

Melawan Mitos: Autisme dan Bayang-Bayang Hoaks

Salah satu tantangan terberat yang dihadapi petugas kesehatan di lapangan adalah menyebarnya hoaks kesehatan yang menyebutkan bahwa imunisasi memiliki efek samping berbahaya, salah satunya adalah penyebab autisme. Dante menegaskan bahwa klaim ini adalah sebuah kebohongan besar yang tidak memiliki dasar ilmiah sama sekali.

“Ada narasi menyesatkan di media sosial yang mengaitkan imunisasi dengan autisme. Padahal, studi empiris berskala global yang melibatkan jutaan anak di seluruh dunia membuktikan bahwa tidak ada hubungan sama sekali antara vaksin dengan autisme. Imunisasi itu aman dan justru menjadi perisai bagi anak,” tegasnya. Upaya memberikan edukasi yang benar menjadi krusial untuk meruntuhkan stigma negatif yang telanjur mengakar di sebagian lapisan masyarakat.

Baca Juga Tok! YouTuber Resbob Divonis 2,5 Tahun Penjara Akibat Hina Suku Sunda, Hakim PN Bandung: Lukai Harmoni Sosial
Tok! YouTuber Resbob Divonis 2,5 Tahun Penjara Akibat Hina Suku Sunda, Hakim PN Bandung: Lukai Harmoni Sosial

Klarifikasi Isu Agama dan Penggunaan Tripsin Babi

Selain masalah kesehatan, isu sensitif terkait agama juga menjadi batu sandungan yang cukup serius. Di Jawa Barat, yang memiliki masyarakat religius, isu tentang kandungan tripsin babi dalam proses pembuatan vaksin campak sering kali menjadi alasan utama orang tua menolak imunisasi. Menanggapi hal ini, Wamenkes memberikan penjelasan teknis yang komprehensif guna meluruskan persepsi masyarakat.

Dante menjelaskan bahwa dalam proses produksi, tripsin babi memang digunakan sebagai bahan dasar untuk memisahkan sel-sel pertumbuhan. Namun, proses tersebut berlanjut pada tahap purifikasi atau pemurnian yang sangat ketat. Hasil akhirnya adalah produk vaksin yang sama sekali tidak lagi mengandung unsur atau residu dari bahan tersebut.

“Ini adalah poin penting yang harus dipahami. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah melakukan pengujian mendalam. Vaksin yang awalnya dianggap mengandung tripsin babi dalam proses pembuatannya, pada produk akhirnya sudah dinyatakan bersih dan tidak mengandung unsur tersebut. Oleh karena itu, imunisasi ini bukan hanya sehat, tapi juga halal bagi masyarakat muslim,” paparnya menambahkan.

Baca Juga Geger! Oknum Polisi Bersenjata Samurai Cari Anggota DPR RI di Garut, Akhiri Aksi dengan Amukan Massa
Geger! Oknum Polisi Bersenjata Samurai Cari Anggota DPR RI di Garut, Akhiri Aksi dengan Amukan Massa

Mengapa Imunisasi Adalah Investasi Masa Depan?

Imunisasi bukan sekadar suntikan atau pemberian tetes vaksin semata. Ini adalah upaya membangun fondasi daya tahan tubuh anak agar mereka siap menghadapi berbagai serangan penyakit yang dapat dicegah (PD3I). Anak-anak yang mendapatkan imunisasi lengkap memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh secara optimal tanpa dihantui risiko kecacatan atau penyakit berat di masa depan.

Jika cakupan imunisasi tidak segera dipercepat, Indonesia berisiko menghadapi beban kesehatan yang lebih besar di masa mendatang. Penyakit seperti campak, polio, atau difteri yang seharusnya sudah bisa dikendalikan, dapat muncul kembali menjadi ancaman nyata. Sebaliknya, dengan imunisasi, risiko sakit berat dapat ditekan drastis, sehingga anak-anak bisa tumbuh menjadi sumber daya manusia yang produktif dan kompetitif.

Gerakan Lokal: Komitmen Kota Bandung Menuju Zero Dose

Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci keberhasilan program ini. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, turut bersuara mengenai kondisi di wilayahnya. Ia mengungkapkan bahwa di Kota Bandung saja, masih terdapat sekitar 6.700 anak yang belum mendapatkan imunisasi rutin secara lengkap.

Baca Juga Siasat Licin Sarjan: Dari Sopir Angkot Jadi Direktur Bayangan di Lingkaran Korupsi Bekasi
Siasat Licin Sarjan: Dari Sopir Angkot Jadi Direktur Bayangan di Lingkaran Korupsi Bekasi

Pemerintah Kota Bandung kini tengah menggalakkan berbagai program jemput bola untuk memastikan setiap anak terdata dan mendapatkan hak kesehatan mereka. Farhan menekankan bahwa imunisasi adalah langkah awal yang paling krusial untuk memulai pola hidup sehat sejak dini.

“Kami percaya bahwa imunisasi telah terbukti secara ilmiah memberikan daya tahan tubuh yang diperlukan agar anak-anak kita tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat, cerdas, dan produktif. Ini adalah tanggung jawab kita bersama, bukan hanya pemerintah, tetapi juga orang tua dan tokoh masyarakat di lingkungan terkecil,” pungkas Farhan dalam keterangannya di Jawa Barat.

Kini, tantangan utama kembali kepada kita semua. Apakah kita akan membiarkan 67 ribu anak tersebut tetap rentan terhadap ancaman penyakit, atau kita bersatu untuk meluruskan informasi yang salah dan memastikan setiap anak di Jawa Barat mendapatkan haknya untuk hidup sehat melalui imunisasi?

Dewi Lestari

Dewi Lestari

Penulis berita yang cekatan dalam mengolah informasi terkini (breaking news) agar tersaji secara akurat dan mudah dipahami.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *