Sukun Arjasari: Menakar Potensi ‘Emas Hijau’ Bandung Sebagai Penyelamat Pangan Masa Depan

Dewi Lestari | ZonaKabar
03 Mei 2026, 17:56 WIB
Sukun Arjasari: Menakar Potensi 'Emas Hijau' Bandung Sebagai Penyelamat Pangan Masa Depan

ZonaKabar — Di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata dan fluktuasi harga komoditas pangan global, sebuah inisiatif besar lahir dari tanah subur Arjasari, Kabupaten Bandung. Perbukitan yang dulunya mulai gundul kini dipersiapkan menjadi benteng pertahanan pangan baru melalui penanaman pohon sukun secara masif. Langkah ini bukan sekadar penghijauan biasa, melainkan sebuah strategi jangka panjang untuk memposisikan buah sukun sebagai pilar utama ketahanan pangan Indonesia di masa depan.

Langkah Strategis di Arjasari: Menanam Harapan di Lahan Kritis

Minggu, 3 Mei 2026, menjadi momentum bersejarah bagi warga Kecamatan Arjasari. Puluhan mahasiswa dari Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad) bersinergi dengan para petani lokal dalam sebuah aksi nyata penanaman ribuan bibit pohon sukun. Kegiatan ini menjadi manifestasi dari rencana besar yang telah dirancang sejak setahun silam, bertujuan untuk merevitalisasi lahan-lahan kritis di kawasan pegunungan yang selama ini rentan terhadap erosi.

Lokasi Arjasari dipilih bukan tanpa alasan. Dengan topografi yang menantang namun memiliki potensi kesuburan tinggi, wilayah ini diproyeksikan menjadi laboratorium hidup bagi pengembangan pertanian berkelanjutan. Keberadaan pohon sukun diharapkan tidak hanya mampu mengikat air dan tanah, tetapi juga memberikan dampak sosial-ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal yang selama ini bergantung pada tanaman semusim.

Baca Juga Rahasia Smoothie Mewah ala Kafe: Trik Menyulap Buah Membosankan Menjadi Minuman Berkelas
Rahasia Smoothie Mewah ala Kafe: Trik Menyulap Buah Membosankan Menjadi Minuman Berkelas

Wakil Rektor II Bidang Perencanaan, Transformasi Digital, Keuangan, dan Pengelolaan Bisnis Unpad, Maman Setiawan, menegaskan bahwa program ini adalah realisasi dari komitmen panjang akademisi dalam menjawab tantangan pangan nasional. “Program sukun ini sudah kita bicarakan intensif sejak Agustus tahun lalu, dan hari ini adalah langkah konkret untuk mewujudkannya secara berkelanjutan,” ungkap Maman saat meninjau langsung proses penanaman.

Ketahanan Pangan di Era Pemanasan Global: Mengapa Harus Sukun?

Salah satu alasan mendasar mengapa sukun diproyeksikan sebagai pangan masa depan adalah daya tahannya yang luar biasa terhadap perubahan iklim. Berbeda dengan tanaman serealia seperti padi atau jagung yang sangat sensitif terhadap kenaikan suhu ekstrem, pohon sukun memiliki resiliensi yang jauh lebih baik. Hal ini ditegaskan oleh Riyan Sumindar, Sekretaris Umum Yayasan Sukun Nusantara Sejahtera.

“Jika suatu saat bumi mengalami kenaikan suhu hingga 2 derajat Celcius, tanaman berbasis serealia seperti padi dan jagung terancam gagal panen secara massal atau bahkan tidak bisa bertahan hidup. Dalam kondisi ekstrem seperti itu, sukun akan menjadi pilihan rasional bagi umat manusia untuk tetap bertahan hidup,” jelas Riyan. Fleksibilitas tanaman ini menjadikannya kandidat kuat untuk menggantikan ketergantungan masyarakat pada nasi.

Baca Juga Prakiraan Cuaca Cirebon Hari Ini Jumat 8 Mei 2026: Langit Berawan Mendominasi Kota Udang di Penghujung Pekan
Prakiraan Cuaca Cirebon Hari Ini Jumat 8 Mei 2026: Langit Berawan Mendominasi Kota Udang di Penghujung Pekan

Selain ketahanan fisik, sukun juga menawarkan kemudahan dalam manajemen perkebunan. Di Arjasari, pola penanaman diarahkan pada sistem perkebunan modern dengan populasi sekitar 100 hingga 140 pohon per hektare. Untuk memudahkan proses panen, pohon-pohon tersebut dikelola dengan teknik pruning (pemangkasan) rutin agar tingginya tetap terjaga di angka sekitar 4 meter, tidak dibiarkan menjulang hingga belasan meter seperti yang biasa ditemukan di pekarangan rumah warga.

Transformasi Ekonomi: Dari Buah Lokal Menuju Tepung Bernilai Ekspor

Potensi ekonomi dari pohon sukun jauh melampaui sekadar buah goreng atau kukus yang biasa kita temui di pinggir jalan. Fokus utama dari program di Arjasari ini adalah pengolahan pascapanen, terutama konversi sukun menjadi tepung berkualitas tinggi. Di pasar internasional, seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang, tepung sukun telah lama dikenal sebagai bahan makanan sehat dan bebas gluten dengan nilai ekonomi yang fantastis.

Riyan Sumindar memaparkan perbandingan dengan Hawaii yang telah lebih dulu sukses mengomersialkan tepung sukun. “Saat ini harga tepung sukun di pasar dunia masih tergolong premium, berkisar antara Rp50.000 hingga Rp60.000 per kilogram. Ini adalah peluang besar bagi Indonesia untuk masuk ke pasar global. Kami ingin petani kita tidak hanya menanam, tapi juga mampu mengolahnya menjadi produk turunan bernilai tinggi,” tambahnya.

Baca Juga Jadwal Sholat Bandung Hari Ini Sabtu 9 Mei 2026: Menjemput Berkah dan Ketenangan di Kota Kembang
Jadwal Sholat Bandung Hari Ini Sabtu 9 Mei 2026: Menjemput Berkah dan Ketenangan di Kota Kembang

Unpad sendiri berencana melibatkan berbagai fakultas untuk melakukan riset mendalam mengenai teknik pengolahan sukun. Tujuannya agar masyarakat tidak hanya mendapatkan manfaat dari penjualan buah mentah, tetapi juga mampu memproduksi aneka penganan olahan yang memiliki daya simpan lama dan jangkauan pasar yang luas. Dengan lahan seluas 250 hektare di Arjasari yang siap dikelola, potensi produksi massal ini menjadi sangat realistis untuk dicapai dalam beberapa tahun ke depan.

Sukun Sebagai ‘Superfood’ yang Menyehatkan

Dilihat dari sisi kesehatan, sukun sering kali disebut sebagai tanaman ajaib atau endemik yang kaya manfaat. Anggota DPR RI Komisi IV, Dadang Naser, yang turut hadir dalam acara penanaman tersebut, menyebutkan bahwa sukun adalah solusi bagi masyarakat modern yang mulai sadar akan pola makan sehat. Kandungan karbohidrat dalam sukun diklaim jauh lebih ‘bersih’ dibandingkan dengan sumber karbohidrat lainnya.

“Sukun sangat ramah bagi penderita diabetes karena memiliki indeks glikemik yang relatif rendah. Selain itu, buah ini baik untuk penderita penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah. Yang menarik, mengonsumsi sukun memberikan rasa kenyang lebih lama tanpa memicu kegemukan,” kata Dadang. Dengan segala kelebihan tersebut, promosi sukun sebagai pangan alternatif nasional bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak.

Baca Juga Waspada Teror di Area Lembap! Inilah 4 Alasan Utama Mengapa Ular Sering Masuk ke Kamar Mandi
Waspada Teror di Area Lembap! Inilah 4 Alasan Utama Mengapa Ular Sering Masuk ke Kamar Mandi

Lebih jauh, Dadang menekankan pentingnya penerapan sistem agroforestri dalam pengembangan kebun sukun. Dengan mengombinasikan tanaman kehutanan dan tanaman pangan, ekosistem di Kabupaten Bandung akan tetap terjaga. Udara akan menjadi lebih bersih berkat kemampuan pohon sukun menyerap karbon dalam jumlah besar, yang di masa depan dapat memberikan keuntungan tambahan melalui mekanisme kredit karbon dunia.

Membangun Pusat Perbenihan Nasional di Jawa Barat

Meskipun saat ini basis pengembangan sukun masih berpusat di wilayah Yogyakarta dengan ribuan pohon induk, Jawa Barat, khususnya wilayah Kabupaten Bandung, dinilai memiliki kesesuaian lahan yang sangat optimal. Ketinggian ideal untuk pertumbuhan sukun yang paling produktif berada di bawah 700 meter di atas permukaan laut, namun beberapa varietas terbukti mampu tumbuh subur hingga ketinggian 1.000 meter seperti yang diuji coba di wilayah Majalaya.

Inisiatif di Arjasari ini diharapkan menjadi cikal bakal terbentuknya pusat perbenihan nasional khusus sukun di Jawa Barat. Teknik perbanyakan melalui stek batang, stek akar, hingga stek tunas terus dikembangkan untuk memastikan ketersediaan bibit unggul bagi petani di daerah lain seperti Sumedang, Subang, Majalengka, dan Sukabumi. Melalui kolaborasi antara inovasi pertanian dan pemberdayaan masyarakat, sukun siap menjadi primadona baru di sektor agrikultur Indonesia.

Baca Juga Bongkar Sindikat Sabu di Dramaga: Aksi Senyap Polisi Ciduk Tiga Pengedar dalam Semalam
Bongkar Sindikat Sabu di Dramaga: Aksi Senyap Polisi Ciduk Tiga Pengedar dalam Semalam

Dengan pemantauan rutin yang melibatkan dosen dan mahasiswa secara berkelanjutan, proyek di Arjasari ini diproyeksikan tidak hanya akan hijau dalam hitungan bulan, tetapi akan berbuah manis dalam hitungan tahun sebagai warisan bagi generasi mendatang. Sukun bukan lagi sekadar tanaman pekarangan, melainkan simbol kedaulatan pangan nasional yang berawal dari bukit-bukit di Bandung Selatan.

Dewi Lestari

Dewi Lestari

Penulis berita yang cekatan dalam mengolah informasi terkini (breaking news) agar tersaji secara akurat dan mudah dipahami.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *