Tradisi Agung Waisak 2570 BE: Air Suci Umbul Jumprit Bersemayam di Candi Mendut Menuju Puncak Kirab Borobudur

Aris Munandar | ZonaKabar
30 Mei 2026, 17:41 WIB
Tradisi Agung Waisak 2570 BE: Air Suci Umbul Jumprit Bersemayam di Candi Mendut Menuju Puncak Kirab Borobudur

ZonaKabar — Suasana khidmat nan sakral menyelimuti kawasan sejarah Candi Mendut di Kabupaten Magelang saat rombongan pembawa Air Suci Waisak tiba pada Sabtu sore. Air yang diambil langsung dari mata air purba Umbul Jumprit di Temanggung tersebut kini telah disemayamkan dengan penuh penghormatan di altar utama Candi Mendut. Prosesi ini menandai rangkaian penting menuju puncak perayaan Waisak Nasional 2570 BE/2026 yang akan dipusatkan di Candi Borobudur.

Kedatangan Rombongan dan Simbolisme Kendi Suci

Tepat pada pukul 14.32 WIB, deru langkah kaki para biksu dan umat Buddha memecah keheningan pelataran Candi Mendut. Mereka membawa air suci yang telah dikemas dalam kendi-kendi khusus, sebuah wadah tradisional yang melambangkan kemurnian dan kesederhanaan. Kedatangan air berkah ini disambut dengan tradisi penghormatan yang mendalam oleh jajaran tokoh lintas sektoral dan pemuka agama.

Ketua DPD Walubi Jawa Tengah, Tanto Soegito Harsono, menjadi sosok yang membawa kendi utama menuju altar. Di sana, prosesi serah terima berlangsung dengan sangat emosional dan penuh tata krama, diterima langsung oleh Wakil Ketua Walubi Karuna Murdaya serta Direktur Urusan Agama dan Pendidikan Buddha Kemenag RI, Nyoman Suriadarma. Kehadiran para petinggi ini menegaskan bahwa tradisi Buddha di Indonesia memiliki tempat yang sangat terhormat dalam struktur sosial dan kenegaraan.

Baca Juga 80 Ucapan Kenaikan Yesus Kristus 2026: Untaian Pesan Penuh Harapan, Makna, dan Doa Mendalam
80 Ucapan Kenaikan Yesus Kristus 2026: Untaian Pesan Penuh Harapan, Makna, dan Doa Mendalam

Kehadiran Tokoh Nasional dan Sinergi Budaya

Penyemayaman air suci kali ini tidak hanya dihadiri oleh kalangan agamawan, namun juga menarik perhatian pejabat negara. Terlihat di deretan tamu kehormatan, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar dan Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie turut menyaksikan prosesi doa bersama. Kehadiran mereka memberikan pesan kuat bahwa momentum Waisak bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga aset budaya dan pariwisata religi yang mampu mempersatukan bangsa.

Setelah diletakkan dengan penuh hati-hati di altar, air suci tersebut kemudian didoakan secara bergantian oleh berbagai majelis dan sangha. Lantunan paritta dan doa-doa keselamatan menggema di antara relief-relief batu Candi Mendut yang telah berusia ribuan tahun. Setiap majelis membawakan doa dalam tradisi masing-masing, namun dengan satu tujuan yang sama: memohon keberkahan dan kedamaian bagi seluruh makhluk di alam semesta.

Filosofi Air Dharma: Pesan Metta dan Kebijaksanaan

Bhante Kamsai Sumano Mahathera, dalam keterangannya kepada para jurnalis, menjelaskan makna mendalam di balik penggunaan air dalam ritual Waisak. Menurutnya, air adalah representasi fisik dari sifat Dharma yang menyejukkan. “Kita menyambut air suci ini dengan kesadaran penuh. Maknanya adalah air yang mengalirkan Metta atau cinta kasih kepada sesama kita,” ujar Bhante Kamsai dengan nada yang tenang.

Baca Juga Skandal Investasi Bodong di Banyumas: Belasan Pensiunan Jadi Korban Oknum Bank, Kerugian Tembus Rp 1,8 Miliar
Skandal Investasi Bodong di Banyumas: Belasan Pensiunan Jadi Korban Oknum Bank, Kerugian Tembus Rp 1,8 Miliar

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa Sang Buddha sering kali menggunakan air sebagai perumpamaan dalam ajarannya. Jika secara fisik air bersumber dari sungai, hujan, atau mata air seperti Umbul Jumprit, maka secara spiritual, Air Dharma adalah air cinta kasih dan kasih sayang. “Air jika menyentuh tubuh kita akan terasa dingin dan segar. Mandi dan minum dengan air adalah tanda kebersihan fisik. Demikian pula dalam Dharma, Metta adalah pembersih hati dan pikiran,” tambahnya.

Persiapan Menuju Kirab Agung Candi Borobudur

Penyemayaman di Candi Mendut merupakan titik transit spiritual sebelum Air Suci dan Api Dharma dibawa dalam prosesi jalan kaki (kirab) menuju Candi Borobudur. Kirab agung ini dijadwalkan berlangsung pada Minggu (31/5/2026) pagi. Perjalanan dari Mendut ke Borobudur yang menempuh jarak sekitar tiga kilometer tersebut selalu menjadi magnet bagi ribuan umat dan wisatawan mancanegara.

Prosesi kirab bukan sekadar berjalan kaki, melainkan sebuah bentuk meditasi dinamis di mana umat merenungkan ajaran Sang Buddha sepanjang perjalanan. Selain air suci, Api Dharma yang diambil dari Mrapen juga akan disandingkan, melambangkan harmoni antara energi panas (semangat) dan dingin (kesejukan hati).

Baca Juga Tragedi Subuh di Jalur Blora-Cepu: Pemuda Sambong Menjadi Korban Pengeroyokan Brutal 10 Orang Tak Dikenal
Tragedi Subuh di Jalur Blora-Cepu: Pemuda Sambong Menjadi Korban Pengeroyokan Brutal 10 Orang Tak Dikenal

Menantikan Detik-Detik Waisak 2570 BE

Tahun ini, perhitungan astronomis menetapkan bahwa detik-detik Waisak akan jatuh pada pukul 15.44.44 WIB. Pemilihan waktu yang sangat spesifik ini didasarkan pada posisi bulan purnama sempurna (Purnamasidhi) yang menjadi inti dari peringatan tiga peristiwa penting: kelahiran Pangeran Siddharta, pencapaian Penerangan Agung, dan Parinirvana Sang Buddha.

“Setiap tahun, waktu kesempurnaannya berbeda-beda. Untuk tahun ini, jatuh di sore hari, sehingga kita akan memulai persiapan intensif sejak pukul 15.00 sore agar suasana meditasi mencapai puncaknya tepat pada waktunya,” jelas Bhante Kamsai. Harapannya, seluruh umat dapat mengikuti prosesi ini dengan penuh kemanusiaan dan rasa syukur yang mendalam.

Rangkaian Kegiatan Pra-Waisak di Magelang

Sebelum penyemayaman air suci hari ini, panitia nasional Waisak juga telah melaksanakan berbagai kegiatan sosial dan ekologis. Salah satunya adalah pelepasan ribuan bibit ikan di Sungai Progo dan ritual larung pelita. Kegiatan ini merupakan wujud nyata dari ajaran kasih sayang terhadap alam semesta dan semua makhluk hidup.

Dengan bersemayamnya Air Suci Umbul Jumprit di Candi Mendut, atmosfer spiritual di kawasan Borobudur kini semakin mengental. Para peziarah mulai memadati area sekitar candi, menciptakan pemandangan warna-warni jubah biksu yang kontras dengan hijaunya perbukitan Menoreh, menjanjikan perayaan yang tidak hanya megah secara visual, tetapi juga kaya akan makna batiniah.

Baca Juga Misteri Teror Pria Bugil di Wonorejo Karanganyar: Aksi Nekat Masuk Kamar hingga Teka-Teki Malam Legi
Misteri Teror Pria Bugil di Wonorejo Karanganyar: Aksi Nekat Masuk Kamar hingga Teka-Teki Malam Legi
  • Lokasi Pengambilan Air: Umbul Jumprit, Temanggung.
  • Lokasi Penyemayaman: Candi Mendut, Magelang.
  • Destinasi Akhir: Candi Borobudur.
  • Waktu Detik-detik Waisak: 15.44.44 WIB.

Mari kita nantikan kirab budaya dan spiritual esok hari, sebuah perayaan yang membawa pesan universal bahwa di tengah perbedaan, air cinta kasih akan selalu mampu menyejukkan dunia.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *