Transformasi Ikonik Kota Lama Surabaya: Pos Bloc Hadirkan Nafas Baru di Gedung Pos Kebon Rojo
ZonaKabar — Surabaya, sebuah metropolis yang identik dengan semangat kepahlawanan, kini tengah merajut kembali memori kolektifnya melalui revitalisasi kawasan bersejarah. Kawasan Distrik Kota Lama, yang selama ini menjadi saksi bisu perkembangan zaman, kini mulai bersolek lewat sentuhan inovasi modern. Salah satu gebrakan paling mencolok adalah kehadiran Pos Bloc Surabaya, sebuah proyek ambisius yang menyulap Gedung Kantor Pos Pusat di Jalan Kebon Rojo menjadi pusat ruang publik (public space) dan destinasi kuliner yang estetik.
Mengembalikan Gairah Surabaya Utara Melalui Destinasi Kreatif
Selama bertahun-tahun, geliat gaya hidup modern dan pusat keramaian anak muda di Surabaya seolah terbelah secara geografis. CEO Pos Bloc Group, Jimmy Saputro, mencermati fenomena di mana konsentrasi aktivitas kaum urban lebih banyak berpusat di wilayah Surabaya Barat dan Timur. Akibatnya, kawasan Surabaya Utara yang sarat akan nilai sejarah seringkali terabaikan dan hanya dianggap sebagai kawasan perkantoran tua yang kaku.
“Masalahnya sekarang ini kalau kita boleh bicara dan saya pelajari, anak muda di Surabaya itu fokusnya banyak di Barat dan Timur,” ungkap Jimmy saat memberikan keterangan kepada awak media di area 10 Regentstraat, kawasan Pos Bloc. Melalui restorasi sejarah ini, Pos Bloc berupaya memecah konsentrasi tersebut dan membawa kembali energi kreatif ke jantung kota tua.
Langkah strategis ini bukan sekadar membuka tempat usaha baru, melainkan upaya untuk menciptakan ekosistem di mana sejarah dan modernitas dapat berjalan beriringan. Dengan luas lahan mencapai 1,2 hektare, area ini diproyeksikan menjadi oase bagi para kreator, seniman, hingga pecinta kuliner yang mencari suasana berbeda dari hiruk-pikuk mal konvensional.
10 Regentstraat: Magnet Kuliner dengan Sentuhan Nostalgia
Sebagai langkah awal untuk menarik animo pengunjung, pengelola menghadirkan restoran 10 Regentstraat. Mengapa kuliner menjadi pembuka? Jimmy menjelaskan bahwa sebuah kawasan bersejarah membutuhkan magnet atau penarik yang kuat agar masyarakat memiliki alasan yang jelas untuk berkunjung. Tanpa adanya daya tarik yang konkret, wisatawan mungkin hanya akan melintas tanpa merasakan esensi dari wisata kota lama itu sendiri.
“Destinasinya memang kota tua, tapi kalau hanya keliling saja tanpa ada tujuan akhir, orang tidak akan betah. Oleh karena itu, kita hadirkan destinasi kuliner dengan desain yang sangat estetik,” tambah Jimmy. Restoran ini dirancang sedemikian rupa untuk memenuhi selera generasi masa kini yang gemar berburu konten visual berkualitas atau sekadar ingin menikmati suasana yang Instagrammable.
Direktur 10 Regentstraat, Steffiani Setyadji, mengungkapkan filosofi di balik pemilihan nama restoran tersebut. Nama “Regentstraat” diambil dari nama asli kawasan tersebut pada masa kolonial, sementara angka “10” merujuk pada alamat lokasi di Jalan Kebon Rojo Nomor 10. Penggunaan nama historis ini bertujuan untuk mengedukasi pengunjung bahwa setiap sudut bangunan ini memiliki cerita panjang yang patut dihargai.
Menjaga Marwah Bangunan Cagar Budaya Tipe A
Salah satu tantangan terbesar dalam menghidupkan kembali kawasan ini adalah status bangunan Kantor Pos Pusat Surabaya sebagai Cagar Budaya Tipe A. Status ini berarti bangunan tersebut sangat dilindungi dan tidak diperbolehkan mengalami perubahan struktur yang signifikan. Oleh karena itu, proses adaptasi fungsi menjadi ruang publik dilakukan dengan sangat hati-hati.
Steffiani menekankan bahwa interior restoran tetap mempertahankan keaslian arsitekturnya. “Saya ingin bangunannya tetap seperti aslinya. Yang kami lakukan sebenarnya tidak banyak, bagian atas dan struktur utama kami biarkan apa adanya. Sentuhan tambahan yang kami berikan hanyalah pada aspek pencahayaan atau lampu-lampu untuk mempercantik suasana saat malam hari,” jelasnya.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip konservasi modern, di mana bangunan lama tidak hanya dijadikan museum yang statis, tetapi diberi fungsi baru (adaptive reuse) agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Dengan begitu, gedung bersejarah ini dapat membiayai perawatannya sendiri melalui aktivitas ekonomi kreatif yang berlangsung di dalamnya.
Ruang Ekspresi Tanpa Batas bagi Komunitas Lokal
Lebih dari sekadar tempat makan, Pos Bloc Surabaya didesain sebagai wadah kreativitas. Terdapat sebuah hanggar luas yang mampu menampung kapasitas antara 1.000 hingga 1.500 orang. Fasilitas ini menjadi jawaban atas minimnya pilihan ruang pertunjukan musik atau acara komunitas di kawasan Surabaya Utara.
Ke depannya, kawasan ini akan dipenuhi oleh berbagai bentuk kreativitas, mulai dari kriya lokal, pameran seni, hingga konser musik. Sinergi ini diharapkan dapat membangkitkan ekosistem UMKM Surabaya agar produk-produk lokal mereka mendapatkan panggung yang lebih prestisius di mata wisatawan domestik maupun mancanegara.
Rencana jangka panjang ini juga terintegrasi dengan visi Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, dalam menghidupkan ekonomi di Kota Lama. Pos Bloc akan menjadi bagian dari rangkaian paket wisata terpadu, di mana wisatawan yang berkeliling menggunakan transportasi jeep dapat mengakhiri perjalanan mereka dengan bersantai dan menikmati sajian khas nusantara di lokasi ini.
Masa Depan Pariwisata Surabaya
Kehadiran Pos Bloc di Distrik Kota Lama menandai babak baru dalam peta pariwisata Surabaya. Proyek ini membuktikan bahwa aset sejarah jika dikelola dengan visi yang tepat, dapat bertransformasi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang kuat. Inisiatif ini juga diharapkan mampu memicu para pelaku usaha lain untuk ikut berkontribusi dalam menghidupkan kembali kawasan Utara.
“Kalau area ini nanti sudah ramai, mungkin pengusaha lain juga tertarik membuka warung kopi atau usaha lainnya di sekitar sini. Ini akan menciptakan efek domino yang positif bagi warga sekitar,” imbuh Jimmy optimistis. Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan komunitas, Kota Lama Surabaya kini tidak lagi sekadar menjadi bayang-bayang masa lalu, melainkan simbol kebangkitan budaya modern yang berpijak pada akar sejarah.
Bagi warga Surabaya dan wisatawan, Pos Bloc bukan sekadar tempat nongkrong baru. Ia adalah sebuah narasi tentang bagaimana sebuah kota menghargai identitasnya sambil terus bergerak maju menyambut masa depan yang lebih dinamis dan berwarna.