Visi Bernardo Tavares untuk Sepak Bola Indonesia: Mengapa Kita Butuh Lebih Banyak Turnamen Domestik?

Budi Santoso | ZonaKabar
12 Mei 2026, 07:41 WIB
Visi Bernardo Tavares untuk Sepak Bola Indonesia: Mengapa Kita Butuh Lebih Banyak Turnamen Domestik?

ZonaKabar — Dinamika sepak bola Indonesia kembali menjadi sorotan hangat setelah pelatih kawakan, Bernardo Tavares, melontarkan kritik sekaligus saran konstruktif terkait struktur kompetisi di tanah air. Juru taktik berkebangsaan Portugal tersebut menilai bahwa atmosfer sepak bola nasional saat ini terlalu kaku dan penuh tekanan, yang pada akhirnya sering kali mengabaikan esensi dasar dari olahraga itu sendiri, yakni kebahagiaan.

Menurut pandangan Tavares, sistem kompetisi yang hanya mengandalkan satu liga utama menciptakan jurang pemisah yang terlalu ekstrem antara tim yang memperebutkan gelar juara dan mereka yang terperosok dalam jurang degradasi. Hal ini diungkapkannya bukan tanpa alasan. Tavares melihat bahwa dengan jumlah turnamen yang sangat terbatas, klub-klub di Indonesia kehilangan banyak panggung untuk membuktikan kualitas mereka dan meraih prestasi di luar jalur liga reguler.

Kritik Tajam Tavares: Sepak Bola Seharusnya Memberi Kebahagiaan

Dalam sebuah sesi wawancara mendalam usai memimpin timnya bertanding, Tavares menyoroti betapa tingginya tensi yang menyelimuti setiap pertandingan di Liga 1. Ia merasa bahwa format saat ini terlalu banyak menghadirkan drama yang menguras mental, baik bagi pemain, pelatih, maupun manajemen klub. Tekanan untuk tidak terdegradasi sering kali mengalahkan semangat untuk bermain terbuka dan menghibur.

Baca Juga Menelusuri Kehangatan Kolak Roti Kang Yudi: Legenda Kuliner Malam Nganjuk yang Tak Pernah Padam
Menelusuri Kehangatan Kolak Roti Kang Yudi: Legenda Kuliner Malam Nganjuk yang Tak Pernah Padam

“Di Liga Indonesia, kita melihat terlalu banyak drama karena hanya ada satu tim yang berpeluang menjadi juara, sementara di sisi lain, tiga tim harus menerima kenyataan pahit terdegradasi. Saya pikir ada sesuatu yang perlu dievaluasi oleh para pengambil keputusan dan organisasi yang menjalankan kompetisi ini,” ujar Tavares dengan nada serius. Bagi pria yang telah malang melintang di berbagai kompetisi internasional ini, sepak bola adalah tentang perayaan dan kegembiraan bagi para suporter.

Ia menambahkan bahwa ketika sebuah kompetisi hanya berfokus pada satu trofi utama, maka tim-tim yang berada di papan tengah cenderung kehilangan motivasi di pertengahan musim. Sementara itu, tim di papan bawah bermain di bawah bayang-bayang ketakutan. Situasi ini dinilai kurang sehat bagi perkembangan kualitas permainan secara keseluruhan di stadion manapun di Indonesia.

Urgensi Menghidupkan Kembali Piala Indonesia dan Piala Liga

Solusi yang ditawarkan oleh Bernardo Tavares sebenarnya adalah praktik umum yang sudah dijalankan di banyak negara maju sepak bolanya. Ia mendorong federasi dan operator liga untuk kembali menggulirkan turnamen pendamping seperti Piala Indonesia, Piala Presiden, hingga pembentukan Piala Liga. Dengan adanya beberapa ajang berbeda, setiap klub memiliki peluang lebih besar untuk membawa pulang trofi ke lemari koleksi mereka.

Baca Juga Tragedi Berdarah di Mojokerto: Di Balik Teriakan ‘Harga Diri’ Sang Badut Pembantai Mertua
Tragedi Berdarah di Mojokerto: Di Balik Teriakan ‘Harga Diri’ Sang Badut Pembantai Mertua

“Seharusnya ada lebih banyak tim yang bisa merayakan kemenangan. Mungkin satu tim memenangkan liga, namun tim lain memiliki kesempatan memenangkan satu atau dua trofi dari turnamen piala. Saat ini, persaingan juara mungkin hanya mengerucut pada dua tim besar seperti Borneo FC atau Persib Bandung, namun pada akhirnya hanya satu yang menang. Lalu, sisa tim lainnya seolah tidak memiliki target nyata selain bertahan hidup,” paparnya panjang lebar.

Turnamen seperti Piala Indonesia memiliki keunikan tersendiri karena biasanya melibatkan klub-klub dari berbagai kasta, mulai dari Liga 1, Liga 2, hingga Liga 3. Ini memberikan kesempatan bagi tim kecil untuk menjadi ‘pembunuh raksasa’ (giant killer) dan memberikan jam terbang tambahan bagi para pemain muda yang jarang mendapatkan menit bermain di kompetisi reguler.

Belajar dari Tradisi Kompetisi di Eropa

Bernardo Tavares sering kali membandingkan situasi di Indonesia dengan kompetisi di Eropa, khususnya di negara asalnya, Portugal, atau di Inggris. Di sana, sebuah klub bisa berkompetisi di liga domestik, piala liga, dan piala nasional secara bersamaan. Jika mereka gagal di liga, mereka masih bisa menyelamatkan musim dengan berjuang di turnamen piala.

Baca Juga Jadwal Sholat Jawa Timur 17 Mei 2026: Panduan Ibadah dan Keutamaan Menjaga Waktu
Jadwal Sholat Jawa Timur 17 Mei 2026: Panduan Ibadah dan Keutamaan Menjaga Waktu

Absennya Piala Indonesia sejak terakhir kali digelar pada tahun 2019 silam memang menjadi catatan merah bagi kalender jadwal pertandingan sepak bola nasional. Sudah lima tahun turnamen yang sangat bergengsi ini vakum karena berbagai alasan, mulai dari pandemi hingga kendala teknis dan jadwal yang padat. Padahal, turnamen ini adalah sarana terbaik untuk melakukan pemerataan kualitas sepak bola hingga ke pelosok daerah.

Dengan jadwal pertandingan yang lebih padat melalui turnamen tambahan, klub juga dituntut untuk memiliki kedalaman skuat yang lebih baik. Hal ini secara otomatis akan memacu industri sepak bola, mulai dari bursa transfer pemain yang lebih aktif hingga peningkatan pendapatan dari hak siar dan penjualan tiket pertandingan.

Dampak Positif bagi Pengembangan Pemain dan Industri

Selain aspek prestasi, penambahan turnamen domestik juga berdampak langsung pada pengembangan talenta muda. Di Liga Indonesia, pelatih sering kali ragu untuk menurunkan pemain muda dalam laga krusial karena risiko kehilangan poin sangat besar. Namun, dalam format turnamen piala, rotasi pemain menjadi hal yang lumrah dilakukan.

Baca Juga Strategi Humanis Polres Magetan: Menghidupkan Kembali Semangat Satkamling Demi Keamanan Wilayah yang Kondusif
Strategi Humanis Polres Magetan: Menghidupkan Kembali Semangat Satkamling Demi Keamanan Wilayah yang Kondusif

Pemain pelapis dan pemain akademi bisa mendapatkan atmosfer kompetisi resmi yang kompetitif tanpa tekanan sebesar liga. Ini adalah cara paling efektif untuk mematangkan mental bertanding mereka sebelum dipromosikan secara penuh ke tim utama. Tavares meyakini bahwa bakat-bakat di Indonesia sangat melimpah, namun mereka kekurangan panggung untuk unjuk gigi secara konsisten.

Dari sisi ekonomi, penambahan jumlah pertandingan resmi tentu akan menguntungkan banyak pihak. Sponsor akan mendapatkan durasi paparan (exposure) yang lebih lama, dan roda ekonomi di sekitar stadion akan berputar lebih kencang. Industri merchandise klub dan konten digital juga akan semakin bergairah dengan banyaknya pertandingan yang dimainkan sepanjang tahun.

Kesimpulan: Harapan untuk Masa Depan Sepak Bola Indonesia

Pernyataan Bernardo Tavares ini diharapkan menjadi pemantik diskusi bagi PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) untuk segera merancang kalender kompetisi yang lebih variatif. Sepak bola Indonesia tidak boleh hanya jalan di tempat dengan mengandalkan satu kompetisi liga yang penuh dengan tekanan degradasi.

Visi Tavares sangat jelas: ia ingin melihat para suporter pulang dari stadion dengan senyum lebar karena tim mereka meraih kemenangan atau memenangkan trofi, bukan pulang dengan rasa cemas melihat tim kesayangan mereka terancam turun kasta. Transformasi menuju sistem kompetisi yang lebih beragam adalah langkah mutlak jika Indonesia ingin sejajar dengan negara-negara yang memiliki tradisi sepak bola kuat.

Baca Juga Skandal Konten Asusila Bondowoso: Strategi Terselubung Sejoli Raup Jutaan Rupiah Lewat Aplikasi Tevi Berujung Jeruji Besi
Skandal Konten Asusila Bondowoso: Strategi Terselubung Sejoli Raup Jutaan Rupiah Lewat Aplikasi Tevi Berujung Jeruji Besi

Kini, bola panas ada di tangan para pemangku kepentingan. Apakah mereka akan mendengarkan saran dari pelatih berpengalaman ini demi kemajuan prestasi sepak bola nasional, atau tetap bertahan dengan pola lama yang sudah usang? Publik sepak bola tanah air tentu sangat merindukan kembalinya kejayaan turnamen piala yang sarat akan sejarah dan gengsi.

Budi Santoso

Budi Santoso

Pengamat dinamika perkotaan yang aktif meliput perkembangan ekonomi dan infrastruktur di area Jawa Timur dan Jawa Barat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *