Menelusuri Jejak Kiai Wongsoniti: Legenda ‘Kesusu Menyang’ di Balik Asal-usul Desa Sumyang Klaten
ZonaKabar — Tersembunyi di balik riuh rendah aktivitas masyarakat Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, tersimpan sebuah narasi besar yang telah bertahan melintasi zaman. Nama Desa Sumyang mungkin terdengar sederhana bagi telinga orang awam, namun bagi masyarakat setempat, nama tersebut adalah sebuah prasasti hidup yang menghormati sosok agung di masa lampau: Kiai Wongsoniti. Sosok yang bukan sekadar nama dalam silsilah, melainkan akar dari identitas dan sejarah panjang yang membentuk karakter desa tersebut hingga hari ini.
Jejak-jejak sejarah Kiai Wongsoniti bukanlah sekadar mitos yang dituturkan dari mulut ke mulut tanpa bukti fisik. Di bagian utara desa, berdiri kokoh sebuah kompleks pemakaman yang dikenal dengan nama Hastana Wongsoniten. Situs ini menjadi jangkar sejarah yang menghubungkan warga modern Desa Sumyang dengan kemegahan era Keraton Kasunanan Surakarta pada abad ke-19. Memasuki area ini, pengunjung akan disambut oleh atmosfer hening yang seolah membawa kita kembali ke masa ratusan tahun silam.
Hastana Wongsoniten: Saksi Bisu Kejayaan di Tepi Sungai Bajing
Terletak strategis di pinggir jalan desa dan bersisian langsung dengan aliran Sungai Bajing, Hastana Wongsoniten berdiri dengan wibawa yang khas. Pintu besi yang menjadi gerbang utama kompleks ini seolah menjadi pembatas antara dunia modern dan lorong waktu masa lalu. Secara arsitektural, pemakaman ini terbagi menjadi tiga lapis area yang dibedakan berdasarkan bentuk nisan, menunjukkan adanya stratifikasi sosial dan penghormatan khusus bagi mereka yang bersemayam di dalamnya.
Pusat perhatian tentu saja tertuju pada makam Kiai Wongsoniti beserta keluarga besarnya. Terletak di tengah-tengah pemakaman umum warga, kompleks makam inti ini memiliki gapura tembok yang sangat ikonik. Coraknya tidak sembarangan; gaya arsitekturnya mengadopsi langgam gapura Keraton Kasunanan Surakarta, lengkap dengan detail yang mencerminkan status sosial sang tokoh. Di atas pintu masuk, sebuah batu marmer bertuliskan huruf Jawa kuno dalam dua lapis memberikan informasi krusial: angka tahun 1815, sebuah penanda waktu yang menempatkan situs ini dalam garis kronologi sejarah Klaten yang signifikan.
Sosok Bersahaja dengan Darah Bangsawan Surakarta
Siapakah sebenarnya Kiai Wongsoniti? Berdasarkan catatan yang terukir di papan nama nisan, terdapat deretan tokoh mulai dari Kiai Wongsoniti I hingga IV. Namun, yang paling menarik perhatian adalah keberadaan makam BRA Wongsoniti, yang tak lain merupakan putri dari Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) IV, raja termasyhur dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Keberadaan makam putri raja ini menegaskan bahwa Kiai Wongsoniti bukanlah tokoh sembarangan, melainkan sosok yang memiliki hubungan kekerabatan sekaligus pengabdian yang sangat dekat dengan lingkaran kekuasaan keraton.
Suwito, Kepala Desa Sumyang, mengungkapkan bahwa berdasarkan penuturan para sesepuh secara turun-temurun, hubungan antara desa mereka dengan Keraton Surakarta sangatlah erat. Meskipun memiliki darah bangsawan dan jabatan sebagai abdi dalem, Kiai Wongsoniti dikenal sebagai pribadi yang sangat bersahaja. Beliau tidak memilih hidup dalam kemewahan istana, melainkan menetap di wilayah yang sekarang menjadi Desa Sumyang dan menjalani keseharian seperti rakyat jelata, bahkan dikisahkan sering berada di sungai untuk mencari batu koral.
Legenda ‘Kesusu Menyang’ dan Asal-usul Nama Sumyang
Narasi tentang asal-usul nama Desa Sumyang bermula dari sebuah peristiwa unik yang melibatkan kesaktian atau ‘karomah’ Kiai Wongsoniti. Alkisah, suatu hari seorang utusan kerajaan yang disebut Ki Gandek datang berkunjung untuk menyampaikan titah raja. Namun, sesampainya di kediaman Kiai Wongsoniti, sang utusan tidak menemukan beliau. Warga setempat memberi tahu bahwa sang Kiai sedang berada di sungai untuk bekerja.
Setelah bertemu di pinggir sungai, Kiai Wongsoniti meminta Ki Gandek untuk menunggu sebentar di rumahnya. Namun, hingga matahari meninggi, Kiai Wongsoniti tak kunjung menampakkan diri. Merasa khawatir dan penasaran, Ki Gandek kembali menyusul ke sungai. Di sanalah keajaiban terjadi. Kiai Wongsoniti dengan tenang menyatakan bahwa dirinya baru saja kembali setelah sowan atau menghadap langsung ke Keraton Surakarta untuk memenuhi panggilan raja.
Masyarakat meyakini bahwa Kiai Wongsoniti memiliki ajian atau ilmu kanuragan yang memungkinkannya berpindah tempat dalam sekejap mata. Dalam bahasa Jawa, tindakan terburu-buru untuk berangkat disebut dengan istilah ‘kesusu menyang’. Karena sang Kiai selalu siap dan segera berangkat (kesusu menyang) setiap kali dipanggil oleh Sinuhun di Keraton, istilah inilah yang kemudian melekat dan mengalami pergeseran fonetik menjadi ‘Sumyang’. Nama ini pun diabadikan menjadi nama desa sebagai bentuk penghormatan atas loyalitas dan kesaktian sang tokoh tokoh legendaris tersebut.
Tinjauan Arkeologis: Ragam Nisan Tembayatan Abad ke-19
Jika menilik dari sisi arkeologi dan sejarah seni, Hastana Wongsoniten menawarkan kekayaan yang luar biasa. Yohanes Sudaryanto, seorang pegiat sejarah asal Klaten, menjelaskan bahwa nisan-nisan yang ada di kompleks tersebut memiliki gaya atau ‘tangguh’ Tembayatan. Gaya ini merujuk pada pengaruh seni nisan dari daerah Bayat, Klaten, yang populer pada era 1800-an.
Ciri khas dari nisan Tembayatan adalah penggunaan batu kapur putih dengan ukiran-ukiran halus yang sarat akan makna filosofis. Di dalam sebuah bangunan gedong berbentuk joglo, terdapat sekitar delapan makam keluarga inti yang terawat dengan baik. Penempatan makam di dalam bangunan joglo sendiri merupakan simbol penghormatan tinggi dalam kebudayaan Jawa, menandakan bahwa tokoh yang dimakamkan di sana memiliki pengaruh besar semasa hidupnya. Kombinasi antara data epigrafi (angka tahun 1815) dan langgam arsitektur ini memberikan validitas kuat atas narasi sejarah yang berkembang di masyarakat.
Menjaga Warisan di Tengah Modernitas Jogonalan
Saat ini, Desa Sumyang telah bertransformasi menjadi sebuah desa yang dinamis di bawah administrasi Kecamatan Jogonalan. Terdiri dari delapan RW dan 16 RT yang tersebar di enam dukuh, kehidupan warga Desa Sumyang kini sangat beragam, mulai dari sektor pertanian hingga perdagangan. Namun, di tengah kemajuan zaman, eksistensi Hastana Wongsoniten tetap dijaga sebagai pusat spiritual dan historis desa.
“Makam Kiai Wongsoniti dan keluarganya sampai saat ini masih dirawat dengan sangat baik oleh warga dan pihak terkait. Ini adalah jati diri kami,” tegas Suwito. Kesadaran untuk menjaga warisan leluhur ini bukan sekadar urusan pemeliharaan fisik makam, melainkan upaya menjaga nilai-nilai kesederhanaan, loyalitas, dan pengabdian yang dicontohkan oleh Kiai Wongsoniti. Bagi mereka yang ingin melakukan wisata religi atau sekadar ingin mempelajari sejarah lokal yang autentik, Desa Sumyang menawarkan pengalaman naratif yang mendalam.
Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Nama
Kisah Kiai Wongsoniti dan Desa Sumyang mengajarkan kita bahwa sebuah nama tempat seringkali menyimpan memori kolektif yang sangat berharga. Melalui legenda ‘kesusu menyang’, kita diajak untuk melihat bagaimana masyarakat Jawa memaknai hubungan antara pemimpin dan rakyat, serta bagaimana kesaktian dalam mitologi seringkali merupakan metafora dari efektivitas dan ketulusan dalam bekerja.
Desa Sumyang bukan hanya sebuah titik di peta budaya Jawa, melainkan sebuah monumen hidup bagi Kiai Wongsoniti. Dengan tetap tegaknya nisan-nisan Tembayatan di Hastana Wongsoniten, sejarah itu akan terus bernapas, mengingatkan setiap generasi yang lahir di tanah Jogonalan bahwa mereka berdiri di atas tanah yang diberkati oleh jejak-jejak keberanian dan kerendahan hati seorang bangsawan yang memilih untuk hidup merakyat.