Perpisahan Terakhir Masinis Legendaris, Slamet Suradio Sang Saksi Bisu Tragedi Bintaro Berpulang di Usia 87 Tahun

Aris Munandar | ZonaKabar
03 Jun 2026, 15:43 WIB
Perpisahan Terakhir Masinis Legendaris, Slamet Suradio Sang Saksi Bisu Tragedi Bintaro Berpulang di Usia 87 Tahun

ZonaKabar — Kabar duka menyelimuti dunia perkeretaapian Indonesia. Slamet Suradio, sosok yang namanya melekat erat dalam memori kolektif bangsa sebagai masinis dalam peristiwa kelam Tragedi Bintaro 1987, telah mengembuskan napas terakhirnya. Pria yang akrab disapa Mbah Slamet ini meninggal dunia pada usia 87 tahun di tengah perjuangannya melawan faktor usia dan kondisi kesehatan yang kian menurun.

Kepergian sosok fenomenal ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar dan kerabat yang mengenalnya sebagai pribadi yang tegar. Mbah Slamet meninggal dunia di kediaman salah satu anaknya di kawasan Bekasi, Jawa Barat, pada Rabu (3/6/2026) dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB. Meski sempat mendapatkan perawatan intensif, garis takdir menentukan bahwa perjalanan hidup sang mantan masinis harus berakhir di tanah perantauan sebelum akhirnya dipulangkan ke tanah kelahirannya.

Detik-Detik Kepergian Sang Penyintas

Kondisi kesehatan Mbah Slamet dikabarkan mulai merosot dalam beberapa pekan terakhir. Seiring bertambahnya usia, fisik pria kelahiran 18 Agustus 1939 ini tak lagi seprima dahulu saat ia masih mengendalikan lokomotif di lintasan rel besi. Untuk mendapatkan perawatan yang lebih memadai, keluarga memutuskan memboyongnya ke Bekasi sejak pertengahan Mei lalu.

Baca Juga Ironi Kasus Asusila di Jepara: Korban Kekerasan Seksual Pengasuh Ponpes Justru Dilaporkan Atas Tuduhan Perzinaan
Ironi Kasus Asusila di Jepara: Korban Kekerasan Seksual Pengasuh Ponpes Justru Dilaporkan Atas Tuduhan Perzinaan

“Bapak memang sudah sepuh, sakitnya karena faktor usia. Sejak tanggal 17 Mei kemarin dibawa ke tempat kakak di Bekasi agar ada yang merawat lebih intensif,” ungkap Safitri (26), putri bungsu almarhum, saat ditemui oleh tim ZonaKabar di rumah duka yang terletak di Dusun Krajan, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Purworejo.

Kepergian Mbah Slamet terasa begitu cepat bagi keluarga yang ditinggalkan. Meskipun menyadari kondisi sang ayah yang kian lemah, kehilangan tetaplah luka yang menganga. Safitri menambahkan bahwa sang ayah mengembuskan napas terakhir dengan tenang di tengah dekapan keluarga yang menjaganya di Bekasi.

Kepulangan ke Tanah Kelahiran Purworejo

Jenazah Mbah Slamet segera diberangkatkan melalui jalur darat dari Bekasi menuju Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Ambulans yang membawa peti jenazah tiba di rumah duka pada Rabu siang sekitar pukul 13.30 WIB. Kedatangan iring-iringan jenazah disambut dengan isak tangis yang pecah dari tetangga dan kerabat yang telah menunggu sejak pagi hari.

Suasana haru menyelimuti prosesi penyambutan. Safitri, sang putri bungsu, bahkan sempat tak sadarkan diri karena tak kuasa menahan kesedihan yang mendalam melihat kepulangan sang ayah yang sudah terbujur kaku. Bagi warga Desa Gintungan, Mbah Slamet bukan sekadar tokoh dalam sejarah perkeretaapian, melainkan sosok tetangga yang ramah dan bersahaja.

Baca Juga Tragedi Maut di Tambang Galian C Klaten: Operator Ekskavator Asal Rembang Mengembuskan Napas Terakhir Akibat Tertimbun Tebing
Tragedi Maut di Tambang Galian C Klaten: Operator Ekskavator Asal Rembang Mengembuskan Napas Terakhir Akibat Tertimbun Tebing

Setelah melalui proses pemandian dan penyalatan oleh warga setempat, jenazah almarhum langsung dikebumikan di tempat pemakaman umum Dusun Krajan. Prosesi pemakaman berlangsung khidmat dengan dihadiri oleh tokoh masyarakat serta kerabat dekat yang ingin memberikan penghormatan terakhir bagi sang masinis legendaris.

Mengenang Kembali Tragedi Bintaro 1987

Nama Slamet Suradio akan selalu tercatat dalam sejarah hitam transportasi Indonesia. Ia adalah masinis yang mengemudikan KA 225 jurusan Rangkasbitung-Tanah Abang pada pagi berdarah, 19 Oktober 1987. Saat itu, kereta yang dikemudikannya bertabrakan hebat dengan KA 220 Patas Merak di kawasan Pondok Betung, Bintaro.

Insiden tersebut tercatat sebagai salah satu kecelakaan kereta api paling maut di Indonesia, yang merenggut lebih dari 130 nyawa dan melukai ratusan lainnya. Mbah Slamet menjadi salah satu penyintas yang berhasil selamat dari maut, namun ia harus memikul beban psikologis dan sosial yang sangat berat selama sisa hidupnya.

Dalam berbagai kesempatan wawancara semasa hidupnya, Mbah Slamet selalu bersikukuh bahwa dirinya tidak bersalah dan hanya menjalankan instruksi sinyal dari pengatur perjalanan kereta api. Namun, sejarah mencatat ia sempat menjalani masa hukuman penjara akibat kejadian tersebut, sebuah beban yang ia bawa dengan penuh ketabahan hingga akhir hayatnya.

Baca Juga Menguak Tabir Gelap Sindikat ‘Pig Butchering’ di Solo Baru: Operasi Senyap Beromzet Rp 41 Miliar Terbongkar
Menguak Tabir Gelap Sindikat ‘Pig Butchering’ di Solo Baru: Operasi Senyap Beromzet Rp 41 Miliar Terbongkar

Kehidupan Sederhana di Masa Tua

Pasca-pensiun dan melewati masa-masa kelam hukumannya, Slamet Suradio memilih untuk menjalani hidup tenang di kampung halamannya di Purworejo. Jauh dari sorot kamera dan hiruk pikuk ibu kota, ia menghabiskan hari-harinya bersama keluarga tercinta. Mbah Slamet meninggalkan seorang istri, empat orang anak, dan empat orang cucu yang menjadi pelipur lara di masa senjanya.

Basori (72), seorang tetangga dekat almarhum, mengenang Mbah Slamet sebagai pribadi yang tidak banyak mengeluh. “Beliau orang yang sabar. Kalau ditanya soal masa lalu, beliau bercerita apa adanya tanpa rasa dendam. Beliau sudah ikhlas dengan semua yang terjadi di masa lalu,” tutur Basori kepada ZonaKabar.

Meskipun kondisi ekonominya jauh dari kata mewah—diketahui beliau sempat menyambung hidup dengan berdagang kecil-kecilan setelah tidak lagi bekerja di PJKA (sekarang PT KAI)—Mbah Slamet tetap menjaga martabat dan harga dirinya. Ia tetap menjadi sosok yang dihormati di lingkungannya karena keteguhan prinsipnya.

Warisan Ketabahan Seorang Masinis

Wafatnya Slamet Suradio seolah menutup satu bab panjang dari buku sejarah Tragedi Bintaro. Bagi banyak orang, ia adalah simbol dari sisi lain sebuah tragedi; seorang pekerja yang terjebak dalam sistem dan harus menanggung konsekuensi yang luar biasa besar. Namun, bagi keluarganya, ia adalah pahlawan yang telah berjuang menghidupi anak-anaknya meski badai cobaan menerjang tak henti.

Baca Juga Niat Puasa Tarwiyah Sekaligus Senin: Panduan Lengkap Tata Cara, Keutamaan, dan Hukum Menggabungkan Niat
Niat Puasa Tarwiyah Sekaligus Senin: Panduan Lengkap Tata Cara, Keutamaan, dan Hukum Menggabungkan Niat

Dunia transportasi Indonesia mungkin telah banyak berubah sejak 1987, dengan teknologi keamanan yang kian canggih, namun kisah Slamet Suradio akan selalu menjadi pengingat tentang pentingnya ketelitian, tanggung jawab, dan sisi kemanusiaan di balik setiap perjalanan kereta api.

Kini, sang masinis telah sampai di stasiun terakhirnya. Tidak ada lagi deru mesin lokomotif atau persilangan rel yang membingungkan. Slamet Suradio telah beristirahat dengan tenang di bumi Purworejo, meninggalkan jejak sejarah yang tak akan pernah terhapus oleh waktu. Selamat jalan, Mbah Slamet. Doa kami menyertai kepulanganmu ke hadirat Sang Pencipta.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *