Niat Puasa Tarwiyah Sekaligus Senin: Panduan Lengkap Tata Cara, Keutamaan, dan Hukum Menggabungkan Niat

Aris Munandar | ZonaKabar
24 Mei 2026, 19:41 WIB
Niat Puasa Tarwiyah Sekaligus Senin: Panduan Lengkap Tata Cara, Keutamaan, dan Hukum Menggabungkan Niat

ZonaKabar — Memasuki sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, umat Muslim di seluruh penjuru dunia kini tengah bersiap menyambut momentum spiritual yang penuh dengan limpahan keberkahan. Berdasarkan hasil sidang isbat yang digelar pemerintah, ditetapkan bahwa 1 Dzulhijjah 1447 H jatuh pada Senin, 18 Mei 2026. Keputusan ini secara otomatis menandai bahwa Puasa Tarwiyah, yang jatuh pada tanggal 8 Dzulhijjah, akan bertepatan dengan hari Senin, 25 Mei 2026.

Fenomena berbarengannya waktu pelaksanaan puasa Tarwiyah dengan puasa sunnah Senin ini menjadi sebuah momen istimewa. Banyak umat Muslim yang kemudian bertanya-tanya: mungkinkah kita mendapatkan dua pahala sekaligus dalam satu hari ibadah? Bagaimana pula tata cara niatnya agar ibadah yang kita jalankan tetap sah dan sesuai dengan kaidah fikih yang berlaku? Mari kita bedah secara mendalam dalam artikel eksklusif ini.

Memahami Esensi Puasa Tarwiyah dan Kemuliaan Hari Senin

Sebelum melangkah lebih jauh ke urusan teknis niat, penting bagi kita untuk memahami mengapa hari kedelapan Dzulhijjah disebut sebagai hari Tarwiyah. Secara etimologi, Tarwiyah berasal dari kata ‘ar-rawiyah’ yang berarti merenung atau berpikir. Nama ini merujuk pada sejarah Nabi Ibrahim AS yang merenung tentang mimpi menyembelih putranya, Ismail AS. Ada pula pendapat yang menyatakan Tarwiyah bermakna ‘menyediakan air’, karena pada hari itu para jemaah haji mempersiapkan persediaan air untuk bekal menuju Arafah.

Baca Juga Skandal Tambang di Pegunungan Kendeng: Gunretno Bongkar Borok Perizinan dan Ancaman Krisis Ekologi
Skandal Tambang di Pegunungan Kendeng: Gunretno Bongkar Borok Perizinan dan Ancaman Krisis Ekologi

Di sisi lain, hari Senin memiliki kedudukan yang sangat spesial dalam tradisi Islam. Rasulullah SAW sering menjalankan puasa Senin Kamis karena pada hari-hari tersebut amal perbuatan manusia dilaporkan kepada Allah SWT. Ketika kedua momentum ini bertemu—yakni kemuliaan bulan Dzulhijjah dan keberkahan hari Senin—maka peluang untuk meraup pahala menjadi berlipat ganda.

Hukum Menggabungkan Niat (Tasyrik an-Niyyat)

Dalam diskursus ilmu fikih, praktik menggabungkan dua niat ibadah dalam satu perbuatan disebut dengan istilah tasyrik an-niyyat. Apakah hal ini diperbolehkan? Secara umum, para ulama memperbolehkan penggabungan dua ibadah sunnah yang memiliki kemiripan jenis atau tujuan. Dalam konteks Puasa Tarwiyah dan puasa Senin, keduanya merupakan ibadah sunnah yang bersifat ghairu maushudah (bukan tujuan utama secara zat, melainkan terikat pada waktu).

Sebagaimana dirangkum dari literatur fikih klasik, Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan sebuah kaidah penting. Jika seorang Muslim melaksanakan puasa sunnah tertentu, seperti puasa Syawal atau Tarwiyah, yang kebetulan jatuh pada hari Senin atau Kamis, maka ia berhak mendapatkan pahala keduanya asalkan diniatkan dengan benar. Ini merupakan bentuk kemurahan Allah SWT terhadap hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah sunnah.

Baca Juga Skandal Korupsi Dana Desa di Pati: Kades Tlogosari Resmi Jadi Tersangka Penyelewengan Rp 805 Juta
Skandal Korupsi Dana Desa di Pati: Kades Tlogosari Resmi Jadi Tersangka Penyelewengan Rp 805 Juta

Lafal Niat Puasa Tarwiyah Tunggal

Bagi Anda yang ingin fokus menjalankan puasa Tarwiyah secara mandiri tanpa menggabungkannya dengan niat puasa Senin, berikut adalah lafal niat yang dapat dibaca:

نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَهْ سُنَةً لِلَّهِ تَعَلَى

Nawaitu shauma tarwiyah sunnatan lillaahi ta’aalaa.

Artinya: “Aku niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta’ala.”

Lafal Niat Puasa Tarwiyah Sekaligus Senin

Namun, jika Anda ingin meraih keutamaan ganda—yakni pahala puasa 8 Dzulhijjah sekaligus pahala menghidupkan sunnah hari lahir Nabi Muhammad SAW (Senin)—maka Anda dapat melafalkan niat sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ التَّرْوِيَةِ وَيَوْمِ الْإِثْنَيْنِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma tarwiyah wa yaumul itsnaini sunnatan lillaahi ta’aala.

Artinya: “Aku niat puasa sunnah Tarwiyah dan puasa Senin karena Allah Ta’ala.”

Kapan Waktu Terbaik Membaca Niat?

Salah satu perbedaan mendasar antara puasa wajib dan puasa sunnah terletak pada fleksibilitas waktu niatnya. Namun, perlu dicatat bahwa puasa Tarwiyah termasuk dalam kategori puasa sunnah muayyan atau puasa yang sudah ditentukan waktunya. Terkait hal ini, terdapat sedikit perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai batas akhir berniat.

Baca Juga Tangis di Manyaran: Nestapa Sugeng Melepas Kepulangan Abadi Sang Putri dalam Tragedi Kereta Bekasi
Tangis di Manyaran: Nestapa Sugeng Melepas Kepulangan Abadi Sang Putri dalam Tragedi Kereta Bekasi

Secara ideal, niat puasa Tarwiyah sebaiknya sudah terlintas di dalam hati atau diucapkan sejak malam hari hingga sebelum fajar Shadiq (waktu Subuh) menyingsing. Mengapa demikian? Para pakar fikih berargumen bahwa puasa yang memiliki fadhilah atau keutamaan khusus di waktu tertentu membutuhkan niat sejak awal agar seluruh rangkaian puasanya terhitung sempurna dari terbit hingga terbenam matahari.

Jika seseorang baru berniat setelah matahari terbit (waktu Dhuha), puasanya secara hukum tetap sah sebagai puasa sunnah mutlak, namun ia dikhawatirkan kehilangan kesempurnaan pahala khusus hari Tarwiyah. Oleh karena itu, pastikan Anda sudah menetapkan tekad di dalam hati sesaat setelah makan sahur atau sebelum tidur di malam harinya.

Antara Lisan dan Hati: Haruskah Niat Diucapkan?

Pertanyaan klasik yang sering muncul adalah: haruskah niat tersebut diucapkan dengan lisan (talaffuzh)? Dalam hal ini, mayoritas ulama sepakat bahwa tempat niat adalah di dalam hati. Seseorang yang sudah memiliki keinginan kuat untuk berpuasa esok hari ketika ia makan sahur, sebenarnya sudah dianggap berniat secara sah di mata syariat.

Baca Juga Kalender Jawa Rabu Pahing 20 Mei 2026: Menelusuri Kedalaman Karakter Wasesa Segara dan Pantangan Wuku Warigalit
Kalender Jawa Rabu Pahing 20 Mei 2026: Menelusuri Kedalaman Karakter Wasesa Segara dan Pantangan Wuku Warigalit

Imam an-Nawawi, seorang ulama besar dari madzhab Syafi’i, menegaskan bahwa niat di dalam hati adalah syarat mutlak, sementara melafalkannya merupakan bantuan untuk memantapkan hati (li it-tihaadhil qalb). Namun, bagi Anda yang merasa lebih tenang dengan mengucapkannya, hal tersebut tidaklah dilarang. Yang paling utama adalah kesadaran penuh bahwa tindakan menahan lapar dan dahaga tersebut dilakukan semata-mata demi mengharap ridha Allah SWT.

Keutamaan Menjalankan Puasa di Bulan Dzulhijjah

Mengapa kita sangat dianjurkan untuk tidak melewatkan puasa Tarwiyah? Perlu diingat bahwa hari-hari di awal Dzulhijjah adalah hari-hari yang paling dicintai Allah untuk beramal saleh. Bahkan, nilainya disebut-sebut melampaui jihad di jalan Allah, kecuali jihad yang mengorbankan harta dan nyawa sekaligus. Dengan menjalankan amalan Dzulhijjah ini, kita sedang berusaha menyucikan diri sebelum merayakan Idul Adha.

Puasa Tarwiyah memiliki fadhilah sebagai penghapus dosa setahun yang lalu. Bayangkan betapa besarnya kasih sayang Tuhan; dengan menahan diri selama kurang lebih 13 jam, kita berkesempatan mendapatkan pengampunan atas khilaf dan dosa yang telah lewat. Apalagi jika dilanjutkan dengan Puasa Arafah pada keesokan harinya (9 Dzulhijjah), yang pahalanya dapat menghapus dosa dua tahun (setahun lalu dan setahun yang akan datang).

Baca Juga Tragedi Maut di Randugarut: Truk Hantam Halte BRT Semarang Hingga Hancur, Satu Penumpang Tewas di Lokasi
Tragedi Maut di Randugarut: Truk Hantam Halte BRT Semarang Hingga Hancur, Satu Penumpang Tewas di Lokasi

Kesimpulan dan Penutup

Persiapan spiritual menjelang hari raya kurban bukan hanya soal membeli hewan sembelihan, melainkan juga tentang menata hati dan memperbanyak ibadah batiniah. Dengan bertepatannya puasa Tarwiyah dan hari Senin pada 25 Mei 2026 mendatang, ini adalah peluang emas bagi kita semua untuk memaksimalkan tabungan amal di akhirat.

Pastikan Anda menjaga kondisi kesehatan agar tetap prima saat menjalankan ibadah ini. Sahur dengan nutrisi yang cukup, hindari aktivitas fisik yang berlebihan jika tidak memungkinkan, dan yang terpenting, jaga lisan serta hati agar kualitas puasa kita tidak sekadar mendapatkan haus dan lapar. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah kita di bulan yang mulia ini. Wallahu a’lam bish-shawab.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *