Refleksi 1222 Tahun Kediri: Mas Dhito dan Simbol Kebangkitan dari Titik Nol Pemkab

Budi Santoso | ZonaKabar
28 Apr 2026, 13:43 WIB
Refleksi 1222 Tahun Kediri: Mas Dhito dan Simbol Kebangkitan dari Titik Nol Pemkab

ZonaKabar — Di bawah langit pagi yang cerah di Bumi Panjalu, sebuah narasi baru sedang ditulis. Bukan sekadar seremoni rutin tahunan, peringatan Hari Jadi Kabupaten Kediri ke-1222 kali ini terasa jauh lebih emosional dan penuh makna. Bertempat di lapangan belakang kompleks Kantor Pemerintah Kabupaten Kediri, suasana tasyakuran berlangsung dalam kesederhanaan yang khidmat, namun membawa pesan kebangkitan yang sangat kuat bagi seluruh elemen masyarakat.

Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, yang akrab disapa Mas Dhito, memilih jalan yang berbeda dalam merayakan tonggak sejarah ribuan tahun ini. Jika tahun-tahun sebelumnya kemeriahan dipusatkan di Pendopo Panjalu Jayati yang megah, kali ini episentrum kegiatan digeser ke area perkantoran Pemkab. Keputusan ini bukan tanpa alasan filosofis yang mendalam. Langkah ini merupakan manifestasi dari semangat pemulihan pasca-peristiwa kelam kebakaran gedung akibat aksi anarkis pada Agustus 2025 silam.

Simbol Kebangkitan dan Pemulihan Fisik-Mental

Memasuki area tasyakuran, tamu undangan dan masyarakat disuguhi pemandangan gedung-gedung yang mulai berdiri kokoh kembali. Mas Dhito menegaskan bahwa pemilihan lokasi ini adalah cara Pemerintah Kabupaten Kediri untuk menunjukkan transparansi dan progres pembangunan kepada publik. Beliau ingin masyarakat melihat secara langsung bahwa roda pemerintahan tidak pernah berhenti berputar, meski sempat dihantam cobaan berat.

Baca Juga Tragedi di Balik Pintu Rumah: Menguak Fenomena Kekerasan Anak dan Perempuan di Tulungagung yang Masih Menghantui
Tragedi di Balik Pintu Rumah: Menguak Fenomena Kekerasan Anak dan Perempuan di Tulungagung yang Masih Menghantui

“Kami sengaja menempatkan acara ini di Kantor Pemkab agar setiap warga yang hadir untuk bersilaturahmi dapat menyaksikan sendiri kondisi kantor pusat pelayanan mereka. Hari ini, saya rasa kondisinya sudah jauh lebih baik, bangunan-bangunan yang dulu rusak kini sudah kembali berdiri tegak. Ini adalah bukti bahwa kita tidak akan pernah menyerah pada keadaan,” ujar Mas Dhito dengan nada optimis saat ditemui di sela-sela acara.

Pesan ini selaras dengan upaya revitalisasi yang terus digalakkan oleh tim Mas Dhito di berbagai sektor. Bagi sang bupati muda, bangunan fisik memang penting, namun mentalitas pegawai dan masyarakat untuk terus bangkit jauh lebih krusial. Hari Jadi ke-1222 menjadi momentum emas untuk menyatukan kembali kepingan semangat yang sempat terserak, menjadikan masa lalu sebagai pelajaran dan masa depan sebagai tujuan bersama.

Kediri Berbudaya, Kediri Berdaya: Sebuah Filosofi Gerakan

Tema besar yang diusung dalam peringatan tahun ini adalah “Kediri Berbudaya, Kediri Berdaya”. Sebuah frasa yang tidak hanya enak didengar, tetapi mengandung tanggung jawab besar. Budaya lokal bukan sekadar pajangan di museum, melainkan napas dalam setiap gerak pembangunan ekonomi dan sosial di Kediri.

Baca Juga Mengungkap Rahasia Situs Adan-Adan Kediri: Mahakarya yang Terpendam dan Tantangan Ekskavasi Candi Megah
Mengungkap Rahasia Situs Adan-Adan Kediri: Mahakarya yang Terpendam dan Tantangan Ekskavasi Candi Megah

Mas Dhito meyakini bahwa kekuatan sejati Kediri terletak pada akar sejarahnya yang panjang. Dengan menyadari jati diri sebagai daerah yang memiliki peradaban tua, masyarakat diharapkan memiliki kepercayaan diri untuk bersaing di kancah global. Konsep “Berdaya” merujuk pada kemandirian ekonomi, di mana potensi lokal dioptimalkan untuk kesejahteraan bersama. Melalui tema ini, pemerintah daerah berupaya mengawinkan pelestarian nilai luhur dengan inovasi modernitas.

Prosesi Sakral: Prasasti Harinjing dan Gunungan Hasil Bumi

Meskipun dikemas dalam kesederhanaan, esensi dari Hari Jadi Kediri tetap dijaga dengan sangat ketat melalui protokol adat dan tradisi. Salah satu prosesi yang paling ditunggu-tunggu adalah pembacaan kembali Prasasti Harinjing. Prasasti yang bertarikh 804 Masehi ini merupakan dokumen hukum kuno yang menjadi cikal bakal penetapan hari lahir Kediri. Pembacaannya bukan sekadar ritual verbal, melainkan pengingat akan kontrak sosial antara pemimpin dan rakyatnya sejak zaman dahulu kala.

Setelah pembacaan prasasti, suasana semakin meriah namun tetap tertib dengan adanya penyerahan gunungan hasil bumi. Gunungan yang menjulang tinggi, berisi aneka sayur, buah, dan palawija hasil keringat petani Kediri, diserahkan sebagai simbol syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Prosesi ini juga menjadi perlambang sinergi antara jajaran Forkopimda dan masyarakat. Mas Dhito memandang gunungan ini sebagai manifestasi dari kerukunan yang harus terus dirawat di tengah keberagaman pilihan politik maupun status sosial.

Baca Juga Predator Loker Palsu: Rekam Jejak Kelam Feri Dg Rumpa yang Nyaris Memangsa Korban Baru di Surabaya
Predator Loker Palsu: Rekam Jejak Kelam Feri Dg Rumpa yang Nyaris Memangsa Korban Baru di Surabaya

Kepedulian Sosial di Tengah Perayaan

Sisi humanis dari tasyakuran ini tercermin jelas saat Mas Dhito didampingi sang istri, Eriani Annisa atau yang akrab disapa Mbak Cicha, beserta Wakil Bupati Dewi Mariya Ulfa, turun langsung menyapa masyarakat. Mereka tidak hanya hadir sebagai simbol jabatan, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar Kediri yang peduli pada warganya yang kurang beruntung.

Agenda penyerahan santunan kepada penyandang disabilitas dan anak yatim menjadi salah satu momen paling menyentuh dalam rangkaian acara. Di bawah naungan tenda sederhana, Mas Dhito dan Mbak Cicha tampak berbincang akrab dengan anak-anak yatim, memberikan suntikan semangat agar mereka tidak merasa sendirian dalam meraih cita-cita. Langkah ini mempertegas bahwa di bawah kepemimpinan Mas Dhito, inklusivitas menjadi prioritas utama. Tidak boleh ada satu pun warga Kediri yang tertinggal dalam gerbong pembangunan.

Harapan untuk Kediri yang Gemah Ripah Loh Jinawi

Mengakhiri tasyakuran yang penuh makna tersebut, Mas Dhito menyampaikan pesan penutup yang sarat akan doa. Beliau menekankan pentingnya menjaga kondusivitas daerah, terutama menyongsong tantangan ekonomi global yang semakin kompleks. Baginya, kunci utama keberhasilan suatu daerah bukan hanya pada anggaran yang besar, melainkan pada persatuan rakyatnya.

Baca Juga Shell Kembali Beroperasi: Gebrakan V-Power Diesel di Tengah Dinamika Pasar BBM 2026
Shell Kembali Beroperasi: Gebrakan V-Power Diesel di Tengah Dinamika Pasar BBM 2026

“Harapan kami di ulang tahun Kabupaten Kediri ke-1222 ini, kita semua tetap menjadi kabupaten yang guyub rukun, ayem tentrem, gemah ripah loh jinawi. Sebuah daerah yang makmur, aman, dan diberkati tanahnya yang subur serta rakyatnya yang jujur,” tandas Mas Dhito dengan penuh kesungguhan.

Tasyakuran di lapangan Pemkab ini akhirnya menjadi pengingat bagi semua orang: bahwa kebesaran sebuah bangsa atau daerah tidak diukur dari kemewahan pestanya, melainkan dari kedalaman makna dan kuatnya tekad untuk bangkit dari setiap cobaan. Kediri di usianya yang ke-1222, di bawah kepemimpinan Mas Dhito, tampak siap melangkah lebih jauh, merajut masa depan dengan benang-benang tradisi yang tak pernah putus.

Ke depan, tantangan pembangunan seperti operasional bandara baru dan pengembangan infrastruktur pendukung lainnya akan menjadi ujian berikutnya. Namun, dengan semangat kebangkitan yang ditiupkan dalam tasyakuran hari ini, masyarakat Kediri optimistis bahwa hari esok akan selalu lebih baik dari hari ini. Selamat ulang tahun yang ke-1222, Kabupaten Kediri. Teruslah berbudaya, teruslah berdaya.

Baca Juga Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Sinar Mentari Dominan di Hari Minggu, Waspadai Udara Lembap yang Menyengat
Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Sinar Mentari Dominan di Hari Minggu, Waspadai Udara Lembap yang Menyengat
Budi Santoso

Budi Santoso

Pengamat dinamika perkotaan yang aktif meliput perkembangan ekonomi dan infrastruktur di area Jawa Timur dan Jawa Barat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *