Mengungkap Rahasia Situs Adan-Adan Kediri: Mahakarya yang Terpendam dan Tantangan Ekskavasi Candi Megah

Budi Santoso | ZonaKabar
08 Mei 2026, 19:41 WIB
Mengungkap Rahasia Situs Adan-Adan Kediri: Mahakarya yang Terpendam dan Tantangan Ekskavasi Candi Megah

ZonaKabar — Di balik ketenangan hamparan sawah dan pemukiman warga di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, tersimpan sebuah teka-teki besar dari masa lalu yang perlahan mulai menampakkan wujudnya. Situs Adan-Adan, sebuah kompleks arkeologi yang santer disebut-sebut memiliki kemegahan yang berpotensi menandingi atau bahkan melampaui Candi Borobudur, kini menjadi pusat perhatian dunia sejarah. Namun, perjalanan untuk mengungkap tabir sejarah di Bumi Panjalu ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada tumpukan tantangan, mulai dari urusan birokrasi, keterbatasan anggaran, hingga dilema sosial lahan milik warga.

Jejak Megah yang Terkubur di Kediri

Kediri memang dikenal sebagai gudangnya sejarah panjang kerajaan-kerajaan besar di Nusantara. Penemuan Situs Adan-Adan seolah mengonfirmasi bahwa daerah ini dahulu merupakan pusat peradaban yang sangat maju. Para ahli arkeologi yang pernah terjun ke lapangan menemukan berbagai fragmen relief dan ornamen yang sangat halus, menunjukkan strata artistik yang sangat tinggi pada zamannya.

Banyak pengamat dan peneliti yang mulai membandingkan temuan ini dengan mahakarya Borobudur. Bukan tanpa alasan, skala pondasi dan kualitas batu yang ditemukan memberikan indikasi bahwa bangunan ini dulunya merupakan tempat pemujaan yang luar biasa luas dan megah. Sayangnya, sebagian besar struktur ini masih tertimbun tanah, menunggu sentuhan ekskavasi lebih lanjut untuk menceritakan kisah lengkapnya kepada dunia.

Baca Juga Serangan Balik Sukur Priyanto: Prahara Dugaan Ijazah Palsu di Kursi DPRD Bojonegoro Memanas
Serangan Balik Sukur Priyanto: Prahara Dugaan Ijazah Palsu di Kursi DPRD Bojonegoro Memanas

Kronologi Penyelidikan: Dari Era SPSP hingga BRIN

Upaya untuk menggali potensi sejarah Kediri di Adan-Adan sebenarnya telah berlangsung cukup lama. Kabid Cagar Budaya dan Permuseuman Disbudpar Kabupaten Kediri, Eko Priatno, mengungkapkan bahwa penelitian di lokasi ini sudah dimulai sejak era Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP), sebuah lembaga yang kini telah bertransformasi menjadi Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur.

“Dulu pernah diekskavasi oleh SPSP sekitar sebelum tahun 2000-an. Kemudian, semangat penelitian tersebut dilanjutkan kembali dalam rentang tahun 2014 hingga 2018 melalui beberapa tahap yang lebih intensif,” ungkap Eko saat memberikan keterangan. Pada periode tersebut, antusiasme para peneliti sangat tinggi karena setiap galian baru selalu memberikan temuan yang mengejutkan, memperkuat dugaan bahwa situs ini adalah kunci penting peradaban klasik di Jawa Timur.

Dampak Transformasi Lembaga terhadap Intensitas Penelitian

Salah satu hambatan teknis yang muncul dalam beberapa tahun terakhir adalah adanya perubahan struktur kelembagaan di tingkat nasional. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), yang sebelumnya menjadi motor penggerak ekskavasi di Adan-Adan, kini telah bergabung atau melakukan merger ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Perubahan ini rupanya membawa dampak pada ritme kerja di lapangan.

Baca Juga Operasi Besar Polres Probolinggo Kota: 9 Pengedar Sabu Lintas Wilayah Berhasil Diringkus
Operasi Besar Polres Probolinggo Kota: 9 Pengedar Sabu Lintas Wilayah Berhasil Diringkus

Eko menjelaskan bahwa proses transisi birokrasi ini ikut memengaruhi frekuensi penelitian. “Kenapa intensitasnya berkurang atau seolah berhenti? Karena adanya perubahan kelembagaan dari Puslit Arkenas menjadi BRIN. Hal ini membuat agenda penelitian yang awalnya cukup masif menjadi sedikit berkurang skalanya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” tambahnya. Hal ini menjadi catatan penting bahwa keberlanjutan sebuah proyek arkeologi sangat bergantung pada kestabilan regulasi dan pendanaan negara.

Dilema Lahan Warga: Antara Ilmu Pengetahuan dan Hak Milik

Selain faktor birokrasi, tantangan paling nyata di lapangan adalah status kepemilikan lahan. Sebagian besar area yang diduga kuat merupakan bagian dari struktur utama candi berada di bawah tanah milik warga setempat. Ini menciptakan situasi yang cukup kompleks bagi tim arkeolog dan pemerintah daerah.

Proses ekskavasi tidak bisa dilakukan secara serampangan. Ada etika hukum dan sosial yang harus dijunjung tinggi. “Jika sifatnya adalah penelitian formal, idealnya harus ada kompensasi atas tanah yang digunakan atau terdampak galian. Namun, sejauh ini kami sangat mengapresiasi warga karena seringkali terjadi kesepahaman. Mereka mengizinkan lahan mereka diteliti demi kepentingan ilmu pengetahuan dan pengungkapan sejarah daerah mereka sendiri,” jelas Eko.

Baca Juga Batal Wudu Saat Tawaf? Jangan Panik, Inilah Panduan Lengkap dan Solusi Hukumnya Menurut Ulama
Batal Wudu Saat Tawaf? Jangan Panik, Inilah Panduan Lengkap dan Solusi Hukumnya Menurut Ulama

Negosiasi dengan warga lokal menjadi seni tersendiri dalam pelestarian cagar budaya. Pemerintah harus bisa menyeimbangkan antara hak ekonomi warga dengan kepentingan edukasi publik yang lebih luas. Tanpa dukungan masyarakat sekitar, Situs Adan-Adan mungkin akan selamanya terkunci di bawah lapisan tanah.

Strategi Pelestarian: Melibatkan Masyarakat sebagai Garda Depan

Meskipun ekskavasi besar belum bisa dilakukan setiap saat karena kendala biaya, Pemerintah Kabupaten Kediri tidak tinggal diam. Mereka menerapkan strategi pelestarian berbasis komunitas. Salah satu langkah konkretnya adalah dengan mengangkat juru pelihara (jupel) yang berasal dari lingkungan keluarga pemilik lahan itu sendiri.

Langkah ini dinilai sangat efektif untuk memastikan keamanan dan perawatan situs secara harian. “Kami merangkul salah satu anggota keluarga pemilik tanah untuk menjadi juru pelihara resmi. Mereka bertugas menjaga kebersihan, keamanan dari aksi vandalisme atau pencurian artefak, serta merawat area situs. Honor mereka kami tanggung dari anggaran daerah,” tutur Eko. Dengan cara ini, masyarakat merasa memiliki dan bertanggung jawab langsung terhadap warisan leluhur yang ada di tanah mereka.

Baca Juga Skandal Pungli ESDM Jatim: Menguak Tabir di Balik Status Kabid GAT dan Penahanan Sang Bawahan
Skandal Pungli ESDM Jatim: Menguak Tabir di Balik Status Kabid GAT dan Penahanan Sang Bawahan

Harapan untuk Masa Depan Candi Adan-Adan

Harapan untuk melihat Situs Adan-Adan terekskavasi secara total tetap menyala. Bagi banyak pihak, pengungkapan situs ini bukan hanya soal menambah daftar objek wisata, melainkan tentang mengembalikan identitas sejarah Kediri yang mungkin selama ini terlupakan atau terpinggirkan oleh narasi besar kerajaan lain di Jawa Tengah.

Eko Priatno menegaskan bahwa eksplorasi terhadap potensi cagar budaya di Kediri akan selalu menjadi prioritas utama. Penemuan fragmen makara dan relief yang begitu artistik di Adan-Adan adalah bukti kuat bahwa ada kekuatan besar di masa lalu yang membangun tempat ini. Eksplorasi ini adalah kewajiban moral untuk membuka jendela informasi bagi generasi mendatang tentang betapa agungnya peradaban Nusantara di masa silam.

Ke depan, diharapkan adanya kolaborasi yang lebih solid antara BRIN, BPK, pemerintah daerah, dan pihak swasta untuk mendanai riset jangka panjang. Jika Candi Kediri ini berhasil dipulihkan, bukan tidak mungkin dunia akan memiliki destinasi religi dan sejarah baru yang kekuatannya setara dengan candi-candi besar di Asia Tenggara lainnya.

Baca Juga Prakiraan Cuaca Jawa Timur 12 Mei 2026: Sidoarjo dan Surabaya Membara, Waspada Udara Kabur di Sejumlah Wilayah
Prakiraan Cuaca Jawa Timur 12 Mei 2026: Sidoarjo dan Surabaya Membara, Waspada Udara Kabur di Sejumlah Wilayah

Sebagai penutup, tantangan finansial dan kepemilikan lahan memang menjadi tembok besar saat ini. Namun, sejarah selalu menemukan caranya untuk muncul ke permukaan. Situs Adan-Adan adalah pengingat bahwa di bawah kaki kita, masih banyak rahasia besar yang menanti untuk diceritakan, asalkan kita memiliki kesabaran dan tekad yang kuat untuk menjaganya.

Budi Santoso

Budi Santoso

Pengamat dinamika perkotaan yang aktif meliput perkembangan ekonomi dan infrastruktur di area Jawa Timur dan Jawa Barat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *