Predator Loker Palsu: Rekam Jejak Kelam Feri Dg Rumpa yang Nyaris Memangsa Korban Baru di Surabaya
ZonaKabar — Di balik kemudahan akses informasi media sosial, terselip ancaman nyata yang mengintai para pencari kerja. Kasus memilukan yang menimpa MA (21), seorang mahasiswi di Makassar, menjadi pengingat pahit betapa kejamnya predator yang bersembunyi di balik layar ponsel. Feri Dg Rumpa (33), pria yang kini mendekam di balik jeruji besi, bukan sekadar pelaku kriminal biasa. Ia adalah sosok licik yang menyusun skenario rapi untuk menjerat korbannya ke dalam lubang penderitaan yang mendalam.
Kisah ini bermula dari sebuah keinginan sederhana seorang mahasiswi untuk membantu ekonomi keluarga melalui lowongan kerja palsu. Namun, apa yang ia temukan bukanlah upah atas kerja keras, melainkan trauma psikis yang mungkin akan membekas seumur hidup. Investigasi mendalam mengungkap fakta-fakta mengerikan di balik aksi Feri, yang ternyata sudah merancang rencana serupa untuk mencari mangsa baru di Kota Surabaya.
Jeratan Halus di Balik Iklan Baby Sitter
Modus operandi yang dijalankan Feri tergolong sangat terorganisir. Ia memanfaatkan kebutuhan ekonomi para mahasiswa yang sedang mencari pekerjaan paruh waktu untuk biaya kuliah. Melalui platform Facebook, ia menyebarkan informasi lowongan kerja sebagai pengasuh anak atau baby sitter dengan iming-iming gaji yang menggiurkan. MA, yang saat itu sedang terdesak kebutuhan finansial, menjadi pihak yang terjebak dalam pusaran tipu daya ini.
Kapolrestabes Makassar, Kombes Arya Perdana, mengungkapkan bahwa pelaku tidak langsung melancarkan aksi bejatnya saat korban pertama kali datang. Ada fase ‘penjinakan’ di mana korban diminta menunggu selama beberapa hari dengan alasan posisi pekerjaan belum siap. Selama masa tunggu tersebut, MA dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga dadakan. Strategi ini digunakan Feri untuk membangun rasa percaya sekaligus memetakan kerentanan korban sebelum ia menunjukkan watak aslinya yang brutal.
Rumah Mewah Harian: Kedok Sang Predator
Salah satu fakta mengejutkan dari penyelidikan polisi adalah pemilihan lokasi penyekapan. Feri tidak menggunakan rumah pribadinya atau kontrakan kumuh. Ia justru menyewa sebuah rumah di kawasan elit Kecamatan Tamalate, Makassar. Rumah tersebut disewa dengan sistem harian seharga Rp 300 ribu per hari. Strategi ini dipilih secara sengaja agar ia bisa dengan mudah menghilang tanpa meninggalkan jejak permanen setelah melancarkan aksinya.
Penggunaan properti mewah di kawasan elit merupakan bagian dari kamuflase untuk meyakinkan korban bahwa lowongan kerja tersebut berasal dari keluarga mapan. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi tempat aman inilah, MA justru mengalami penyekapan yang mengerikan. Lingkungan yang sepi dan tertutup di perumahan elit justru dimanfaatkan pelaku agar jeritan korban tidak terdengar oleh warga sekitar, menciptakan sebuah penjara dalam kemewahan yang palsu.
Tragedi di Hari Ketiga: Penyekapan dan Kekerasan
Dua hari pertama dilewati korban dengan rasa percaya yang masih utuh. Namun, memasuki hari ketiga, suasana berubah menjadi mencekam. Feri mulai melancarkan aksi sadisnya. Dengan senjata tajam berupa pisau cutter, ia mengancam nyawa mahasiswi malang tersebut. Tidak berhenti di situ, pelaku melakukan tindakan dehumanisasi yang sangat ekstrem terhadap korban.
Berdasarkan keterangan kepolisian, mata dan mulut korban dilakban agar tidak bisa melawan atau berteriak meminta pertolongan. Dalam kondisi tak berdaya dan terancam nyawanya, MA dipaksa melayani nafsu bejat Feri berkali-kali. Aksi kekerasan seksual ini dilakukan secara berulang dalam durasi penyekapan tersebut, meninggalkan luka fisik dan mental yang teramat dalam bagi korban yang masih berusia sangat muda.
Pelarian dan Pencurian Barang Berharga
Setelah merasa puas melampiaskan aksi bejatnya, watak kriminal Feri semakin terlihat jelas. Ia tidak hanya merusak masa depan korban, tetapi juga menguras harta bendanya. Sebelum melarikan diri, Feri membawa kabur sepeda motor, handphone, dan sejumlah uang milik MA. Korban ditinggalkan dalam kondisi trauma berat, sementara pelaku bergerak cepat menghilangkan jejak menuju Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar untuk menyeberang ke Pulau Jawa.
Penyelidikan polisi mengungkap bahwa barang-barang hasil curian tersebut segera dijual oleh pelaku kepada seorang penadah berinisial SU. Motor dan ponsel milik korban dilego dengan harga murah, hanya sekitar Rp 3 juta. Uang hasil penjualan inilah yang kemudian digunakan oleh Feri sebagai modal untuk melarikan diri ke Surabaya dan memulai babak baru dari rencana jahatnya yang sudah ia susun di atas kapal pelarian.
Surabaya: Target Perburuan Selanjutnya yang Terdeteksi
Banyak yang mengira Surabaya hanyalah tempat persembunyian Feri. Namun, fakta yang ditemukan penyidik jauh lebih mengerikan. Feri ternyata telah menyiapkan infrastruktur kejahatan yang sama di Kota Pahlawan. Sesaat sebelum atau selama dalam perjalanan di atas kapal, ia sudah mengunggah lowongan kerja palsu di grup-grup media sosial wilayah Surabaya. Ia berencana menduplikasi skema yang sama: menyewa rumah harian, menjerat korban baru, lalu melakukan kekerasan dan perampokan.
Beruntung, koordinasi cepat antara Polrestabes Makassar dan kepolisian di Surabaya membuahkan hasil. Tim Jatanras yang sudah mengantongi identitas dan posisi pelaku langsung bersiap di Pelabuhan Tanjung Perak. Saat kaki Feri baru saja menyentuh dermaga, petugas langsung menyergapnya. Penangkapan ini berhasil mencegah jatuhnya korban baru di Surabaya yang mungkin saja sedang dalam perjalanan menuju jebakan yang disiapkan Feri.
Tindakan Tegas dan Rekam Jejak Residivis
Feri Dg Rumpa bukanlah pemain baru dalam dunia kriminal. Hasil pengembangan penyidikan menunjukkan bahwa ia adalah seorang residivis yang pernah terlibat dalam kasus pencurian kendaraan bermotor di Kabupaten Takalar. Polisi menduga masih ada korban-korban lain yang mungkin belum berani melapor. Karakter pelaku yang manipulatif dan berpindah-pindah kota menunjukkan bahwa ia adalah predator yang sangat berbahaya.
Ketegasan polisi mencapai puncaknya saat pelaku dibawa kembali ke Makassar untuk proses rekonstruksi dan penunjukan tempat kejadian perkara (TKP). Dalam proses tersebut, Feri mencoba melawan petugas dan melarikan diri. Alhasil, polisi terpaksa mengambil tindakan tegas terukur dengan menembak kaki pelaku. Kini, dengan luka tembak dan ancaman hukuman penjara berlapis, pelarian sang predator loker palsu ini resmi berakhir di tangan hukum.
Luka Tersembunyi: Fokus Pemulihan Korban
Di balik keberhasilan polisi meringkus pelaku, ada satu aspek yang tidak boleh dilupakan: kondisi psikologis MA. Korban saat ini dilaporkan masih mengalami trauma hebat dan ketakutan yang mendalam. UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Makassar telah bergerak cepat untuk memberikan pendampingan konseling secara intensif. Pemulihan dari trauma psikis akibat pemerkosaan dan penyekapan membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan dukungan dari berbagai pihak.
Pihak keluarga dan asrama tempat korban tinggal juga terus dipantau untuk memastikan lingkungan sekitar mendukung proses pemulihan MA. Kasus ini menjadi alarm keras bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk selalu waspada terhadap tawaran pekerjaan yang tidak jelas asal-usulnya. Selalu lakukan verifikasi ganda, hindari bertemu orang asing di lokasi yang bersifat privat untuk pertama kali, dan jangan pernah ragu untuk melaporkan segala bentuk kecurigaan kepada pihak berwajib.
Kini, publik menanti keadilan ditegakkan seadil-adilnya bagi MA. Feri Dg Rumpa terancam pasal berlapis mulai dari pemerkosaan, penyekapan, hingga pencurian dengan kekerasan, yang bisa menjebloskannya ke penjara untuk waktu yang sangat lama. ZonaKabar akan terus mengawal kasus ini hingga putusan pengadilan dijatuhkan, demi memastikan tidak ada lagi ‘Feri-Feri’ lain yang bebas berkeliaran memangsa harapan para pejuang ekonomi di negeri ini.