Tragedi Tengah Malam di Semarang: 480 Kios Pasar Kanjengan Ludes Dilalap Si Jago Merah

Aris Munandar | ZonaKabar
30 Apr 2026, 02:37 WIB
Tragedi Tengah Malam di Semarang: 480 Kios Pasar Kanjengan Ludes Dilalap Si Jago Merah

**ZonaKabar** — Keheningan malam di kawasan Semarang Tengah mendadak berubah menjadi mencekam ketika kobaran api raksasa melahap habis ratusan lapak di Pasar Kanjengan. Peristiwa memilukan yang terjadi pada Kamis (30/1/2026) dini hari ini menyisakan puing-puing hitam dan duka mendalam bagi para pedagang yang menggantungkan hidup mereka di pasar legendaris tersebut.

Berdasarkan data yang dihimpun tim redaksi di lapangan, skala kerusakan akibat peristiwa kebakaran Semarang ini sangat masif. Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, Ade Bhakti Ariawan, mengonfirmasi bahwa jumlah bangunan yang terdampak mencapai angka yang fantastis.

Kronologi Petaka di Ujung Utara Pasar

Ade Bhakti yang terjun langsung memimpin proses pemadaman menyatakan bahwa api dengan cepat menyebar dan sulit dikendalikan pada jam-jam awal kejadian. “Setelah dilakukan pendataan sementara, tercatat ada 480 kios yang terbakar habis dalam insiden ini,” ujar Ade Bhakti saat ditemui di lokasi kejadian di tengah kepulan asap yang masih membubung tinggi.

Peristiwa ini bermula sekitar pukul 23.00 WIB, saat sebagian besar warga Semarang sedang beristirahat. Namun, bagi para pedagang buah yang sering beraktivitas hingga larut malam, malam itu menjadi awal dari mimpi buruk. Anton (36), salah satu penjual buah di Pasar Kanjengan, menjadi saksi mata kunci yang melihat detik-detik awal api mulai menyulut bangunan.

Baca Juga Legenda Belum Habis: Beto Goncalves, Sang Predator Abadi yang Menyelamatkan Wajah PSIS Semarang di Championship 2025/2026
Legenda Belum Habis: Beto Goncalves, Sang Predator Abadi yang Menyelamatkan Wajah PSIS Semarang di Championship 2025/2026

Anton menceritakan pengalaman traumatisnya dengan nada suara yang masih bergetar. Saat itu, ia sedang duduk santai sembari menyantap sepotong semangka untuk melepas lelah setelah seharian bekerja. Pandangannya tiba-tiba teralih ke arah ujung utara kompleks pertokoan, tempat tumpukan peti-peti buah kosong dan keranjang sampah berada.

Api Merambat Cepat dalam Hitungan Menit

“Awal mulanya dari keranjang sampah di ujung utara Pasar Kanjengan yang terbakar. Kejadiannya sekitar jam 11 malam tadi,” kenang Anton. Ia mengira api tersebut hanyalah pembakaran sampah biasa, namun dugaan itu meleset jauh. Dalam waktu singkat, percikan api menyambar peti-peti kayu yang kering, menciptakan efek domino yang tak terhindarkan.

Hanya dalam kurun waktu 15 menit, situasi yang tadinya terkendali berubah menjadi kekacauan total. Api merambat dengan kecepatan luar biasa menuju area pertokoan di tengah pasar. Struktur bangunan yang rapat dan banyaknya material mudah terbakar membuat upaya pemadaman mandiri oleh warga menjadi sia-sia.

“Hanya 15 menit, api sudah membakar toko di sisi utara lalu langsung merembet ke bagian tengah. Orang-orang mulai berteriak ‘kebakaran, kebakaran!’ tapi api sudah terlalu besar untuk didekati,” tambah Anton dengan wajah lesu meratapi kerugian yang ada di depan mata.

Baca Juga Langkah Nyata Menuju Brebes Sejahtera: Sinergi Pemkab dan PT Djarum Bangun Rumah Layak Huni dan Sanitasi Terpadu
Langkah Nyata Menuju Brebes Sejahtera: Sinergi Pemkab dan PT Djarum Bangun Rumah Layak Huni dan Sanitasi Terpadu

Material Mudah Terbakar Memperparah Keadaan

Pusat pasar tradisional Kanjengan didominasi oleh kios-kios yang menjual berbagai macam barang kebutuhan sehari-hari, mulai dari pakaian, alas kaki, hingga barang-barang plastik. Keberadaan barang-barang berbahan dasar polimer dan kain ini bertindak layaknya bahan bakar yang membuat lidah api semakin beringas menjalar ke gedung utama.

Meskipun beberapa kios dilaporkan dalam keadaan kosong atau tidak berpenghuni pada malam hari, hal itu tidak mengurangi dampak kerugian material yang diderita. Ribuan stok barang dagangan yang dipersiapkan untuk hari esok kini hanya menjadi abu. Area pertokoan yang biasanya riuh dengan transaksi ekonomi, kini berubah menjadi zona merah yang dipenuhi hawa panas dan sisa-sisa reruntuhan.

Ukuran lapak yang kecil-kecil dan berdempetan menjadi tantangan tersendiri bagi petugas pemadam kebakaran. Jarak antar bangunan yang minim membuat api sangat mudah berpindah dari satu atap ke atap lainnya tanpa hambatan berarti.

Perjuangan Petugas di Tengah Pekatnya Malam

Hingga Kamis dini hari pukul 00.49 WIB, puluhan personel Damkar Kota Semarang masih terus berjibaku di medan api. Suara sirine armada pemadam terus meraung-raung di sekitar area Semarang Tengah, mencoba menyuplai air secara kontinu untuk menjinakkan titik-titik api yang masih menyala di dalam reruntuhan bangunan.

Baca Juga Misteri Kematian Herwanto di Solo: Jeritan Hati Keluarga Lewat Surat Terbuka untuk Kapolri
Misteri Kematian Herwanto di Solo: Jeritan Hati Keluarga Lewat Surat Terbuka untuk Kapolri

Beruntung, setelah melalui perjuangan yang melelahkan selama berjam-jam, kekuatan kobaran api mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan dibandingkan saat awal kejadian. Petugas mulai merangsek masuk ke titik tengah pasar untuk melakukan proses pendinginan guna memastikan tidak ada bara api tersembunyi yang bisa memicu kebakaran susulan.

“Kami fokus pada lokalisir agar api tidak menyeberang ke pemukiman warga di sekitar pasar. Meskipun api sudah mulai mengecil, statusnya masih dalam penanganan intensif,” jelas salah satu petugas di lapangan. Tim ahli dari kepolisian juga diharapkan segera melakukan investigasi mendalam untuk menentukan penyebab pasti kebakaran, apakah benar berasal dari sampah atau ada faktor lain seperti arus pendek listrik.

Dampak Ekonomi dan Masa Depan Pedagang

Kehancuran 480 kios ini bukan sekadar angka statistik, melainkan pukulan telak bagi ekonomi daerah Semarang Tengah. Banyak pedagang yang menggantungkan seluruh modal hidup mereka pada toko-toko tersebut. Tanpa adanya asuransi atau cadangan dana darurat, masa depan ratusan kepala keluarga kini berada di ujung tanduk.

Baca Juga Misteri Kematian Sekeluarga dalam Tenda di Temanggung: Polda Jateng Masih Menanti Tabir Labfor Terungkap
Misteri Kematian Sekeluarga dalam Tenda di Temanggung: Polda Jateng Masih Menanti Tabir Labfor Terungkap

Pasar Kanjengan sendiri memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat grosir dan eceran yang cukup vital di Semarang. Kejadian ini diharapkan menjadi pengingat bagi pengelola pasar lainnya akan pentingnya sistem proteksi kebakaran yang mumpuni, seperti ketersediaan hidran yang berfungsi dan manajemen pengelolaan sampah yang lebih aman.

Pemerintah Kota Semarang diprediksi akan segera melakukan langkah-langkah darurat, termasuk kemungkinan penyediaan tempat penampungan sementara (TPS) bagi para pedagang agar mereka bisa kembali menyambung hidup pasca tragedi ini. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai korban jiwa dalam peristiwa hebat tersebut, namun kerugian material ditaksir mencapai miliaran rupiah.

Situasi terkini di lokasi menunjukkan warga dan pedagang masih berkumpul di batas garis polisi, menatap nanar ke arah sisa-sisa bangunan yang masih mengeluarkan asap tipis. Penyelidikan lebih lanjut akan terus dikawal oleh pihak berwenang untuk memberikan kejelasan bagi para korban terdampak.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *