Misteri Kematian Herwanto di Solo: Jeritan Hati Keluarga Lewat Surat Terbuka untuk Kapolri

Aris Munandar | ZonaKabar
19 Mei 2026, 13:40 WIB
Misteri Kematian Herwanto di Solo: Jeritan Hati Keluarga Lewat Surat Terbuka untuk Kapolri

ZonaKabar — Jagat maya baru-baru ini diguncang oleh sebuah video memilukan yang memperlihatkan empat orang anggota keluarga menyuarakan jeritan hati mereka melalui sebuah surat terbuka. Video yang diunggah oleh akun TikTok @dpd.wgab.diy tersebut bukan sekadar konten biasa; ia adalah manifestasi dari keputusasaan sebuah keluarga yang mencari keadilan atas kematian misterius anggota keluarga mereka di sebuah rumah kos di Solo.

Surat terbuka tersebut ditujukan langsung kepada pucuk pimpinan kepolisian, yakni Kapolri dan Kapolda Jawa Tengah. Mereka mempertanyakan tabir gelap yang menyelimuti meninggalnya Herwanto (26), seorang pria asal Desa Gambirmanis, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, yang ditemukan tak bernyawa dalam kondisi yang dinilai sangat tidak wajar.

Tragedi di Balik Pintu Kos Panularan

Peristiwa memilukan ini bermula di sebuah rumah kos di kawasan Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, Kota Solo. Herwanto, yang sehari-harinya bekerja sebagai sopir untuk menyambung hidup, ditemukan meninggal dunia pada tanggal 17 Februari 2026. Sebagai anak tunggal dari pasangan Bapak Sularno, kematian Herwanto tentu meninggalkan lubang besar yang tak tergantikan bagi keluarga kecilnya di Wonogiri.

Baca Juga Si Jago Merah Hanguskan Bedeng Pekerja Proyek Lapas Semarang: Diduga Akibat Obat Nyamuk dan Korsleting Listrik
Si Jago Merah Hanguskan Bedeng Pekerja Proyek Lapas Semarang: Diduga Akibat Obat Nyamuk dan Korsleting Listrik

Narasi dalam video viral tersebut menggambarkan kondisi jenazah yang cukup mengerikan. Almarhum disebut-sebut meninggal dengan wajah yang menghitam karena lebam. Lebih mengejutkan lagi, informasi dari pihak keluarga menyatakan bahwa saat pertama kali ditemukan, kaki almarhum dalam kondisi terikat tali. Namun, sebuah keputusan cepat diambil saat itu; pihak istri dan paman dari sang istri meminta agar jenazah segera dimakamkan tanpa melalui pemeriksaan medis atau visum dari pihak berwenang.

Kronologi Penemuan: Selimut yang Menyembunyikan Luka

Sarto, kakek korban, mencoba merajut kembali memori kelam pada hari kejadian tersebut. Herwanto diketahui tinggal di kos tersebut bersama istrinya, Rani. Pada hari nahas itu, Herwanto baru saja pulang kerja sekitar pukul 17.00 WIB. Kondisi kamar saat itu sepi karena Rani juga sedang bekerja di tempat yang berbeda.

Sekitar pukul 17.30 WIB, komunikasi terakhir masih sempat terjalin. Rani menghubungi suaminya untuk minta dijemput. Namun, Herwanto tak kunjung datang. Hingga pukul 20.30 WIB, ponsel Herwanto sudah tidak bisa lagi dihubungi, memaksa Rani untuk pulang dengan berjalan kaki. Sesampainya di kos, ia mendapati kamar dalam keadaan gelap gulita.

Baca Juga Misteri Sate Kiriman di Boyolali: Dari Kematian Mendadak Aminah hingga Teka-teki Lima Bangkai Ayam
Misteri Sate Kiriman di Boyolali: Dari Kematian Mendadak Aminah hingga Teka-teki Lima Bangkai Ayam

“Saat masuk, dia melihat suaminya seperti sedang tidur berselimut. Namun, ketika selimut itu dibuka, tubuhnya sudah tidak bernyawa. Wajahnya membiru, kepalanya bengkak. Bahkan di lehernya ada balutan kain jilbab dan tali dadung yang melingkar, meski posisinya tidak terikat kencang. Yang paling menyakitkan, kedua kakinya terikat kencang dengan kain,” ungkap Sarto dengan nada bergetar saat dihubungi oleh tim redaksi.

Kejanggalan dan Intervensi Sosok Berinisial W

Teriakan histeris Rani malam itu sempat mengundang perhatian warga dan seorang kerabat berinisial W. Di sinilah kejanggalan mulai muncul. Menurut Sarto, ketika rekan-rekan korban dan warga menyarankan agar kejadian ini dilaporkan ke polisi untuk diusut secara medis karena adanya indikasi kekerasan, sosok W justru melarang keras.

“W bilang tidak usah dilaporkan, katanya kalau urusan dengan polisi dan dokter nanti urusannya panjang. Bahkan warga dari Wonogiri yang mau menjemput ke Solo dilarang, dengan alasan takut nanti berpapasan dengan ambulans di jalan,” jelas Sarto. Tekanan inilah yang membuat jenazah Herwanto akhirnya langsung dibawa pulang ke Wonogiri sekitar pukul 02.00 dini hari tanpa sempat diperiksa oleh polisi.

Baca Juga Skandal Kelam di Pekalongan: Pimpinan Pondok Pesantren Diduga Cabuli Puluhan Santriwati Selama Belasan Tahun
Skandal Kelam di Pekalongan: Pimpinan Pondok Pesantren Diduga Cabuli Puluhan Santriwati Selama Belasan Tahun

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Saat jenazah dimandikan di kampung halaman, pihak keluarga baru melihat dengan jelas luka-luka lebam dan kerusakan pada bagian gigi atas korban. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa Herwanto mungkin merupakan korban pembunuhan atau penganiayaan sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Langkah Hukum yang Terganjal Prosedur

Satu minggu setelah pemakaman, rasa tidak tenang menyelimuti hati keluarga besar Herwanto. Mereka akhirnya memberanikan diri melapor ke Polresta Solo. Namun, upaya mereka menemui jalan buntu. Polisi awalnya menyatakan bahwa pelapor yang paling tepat adalah istri korban, sebagai orang pertama yang menemukan jenazah.

Keluarga pun menyerahkan mandat laporan tersebut kepada Rani. Namun, jawaban yang diterima keluarga justru membingungkan; laporan tersebut diklaim ditolak oleh pihak kepolisian. Ketidakpastian inilah yang akhirnya mendorong keluarga untuk nekat membuat video surat terbuka agar kasus ini mendapatkan atensi dari petinggi Polri.

Penjelasan Resmi dari Polresta Solo

Menanggapi isu yang berkembang liar di masyarakat, Kasat Reskrim Polresta Solo, AKP Derry Eko Setiawan, memberikan klarifikasi. Ia membenarkan adanya kejadian orang meninggal di kos tersebut pada tanggal 17 Februari 2026. Namun, ia menekankan bahwa pada saat kejadian, tidak ada laporan yang masuk ke meja kepolisian.

Baca Juga Tragedi Berdarah di Mayong: Penjual Es Degan Menjadi Korban Penusukan Misterius, Polisi Buru Pelaku
Tragedi Berdarah di Mayong: Penjual Es Degan Menjadi Korban Penusukan Misterius, Polisi Buru Pelaku

“Saat ditemukan, kejadian itu hanya dilaporkan kepada Ketua RT setempat. Pihak keluarga menyatakan sudah menerima kematian korban sebagai musibah dan langsung membawanya pulang. Karena tidak ada laporan, tentu kami tidak bisa melakukan visum atau pemeriksaan medis lainnya,” jelas Derry.

Terkait aduan yang datang tiga minggu kemudian, Derry menjelaskan bahwa pihaknya telah mengarahkan keluarga ke unit Reskrim. Namun, polisi membutuhkan keterangan dari saksi kunci, yakni istri korban. “Kami menunggu kehadiran istri korban untuk memberikan laporan resmi karena dia yang mengetahui kejadian di lokasi. Hingga video itu viral, laporan resmi dari istri belum kami terima. Pada prinsipnya, kami terbuka untuk menyelidiki setiap laporan yang masuk,” pungkasnya.

Harapan pada Keadilan yang Belum Terjawab

Kini, bola panas berada di tangan penegak hukum. Keluarga Herwanto hanya menginginkan satu hal: kebenaran. Jika memang ada tindak pidana di balik kematian pria berusia 26 tahun tersebut, mereka berharap pelakunya diseret ke meja hijau. Keadilan bagi seorang anak tunggal yang mati secara misterius di tanah perantauan kini menjadi tumpuan harapan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Baca Juga Dugaan Penganiayaan Siswa SD di Blora: Niat Melerai Keributan, Kepala Sekolah Justru Berakhir di Kantor Polisi
Dugaan Penganiayaan Siswa SD di Blora: Niat Melerai Keributan, Kepala Sekolah Justru Berakhir di Kantor Polisi

Kasus ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat tentang betapa krusialnya prosedur hukum dan pemeriksaan medis dalam setiap kejadian kematian yang dianggap tidak wajar, demi menghindari spekulasi dan memastikan hukum tegak seadil-adilnya.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *