Tragedi Maut di Semarang: Gara-gara Ejekan ‘Minum Sedikit Sudah Mabuk’, Adik Tega Tikam Kakak Kandung Hingga Tewas

Aris Munandar | ZonaKabar
30 Apr 2026, 14:45 WIB
Tragedi Maut di Semarang: Gara-gara Ejekan 'Minum Sedikit Sudah Mabuk', Adik Tega Tikam Kakak Kandung Hingga Tewas

ZonaKabar — Sebuah insiden berdarah yang memilukan kembali menggegerkan warga Kota Semarang, Jawa Tengah. Perselisihan antara saudara kandung yang seharusnya menjadi pelindung satu sama lain justru berakhir dengan duka yang mendalam. Seorang remaja berinisial A (18) tega mencabut nyawa kakak kandungnya sendiri, MZH (27), dalam sebuah pertikaian yang dipicu oleh hal sepele saat keduanya tengah berada di bawah pengaruh minuman keras.

Peristiwa kelam ini terjadi di Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, sebuah kawasan yang biasanya tenang namun mendadak mencekam pada akhir pekan lalu. Ironisnya, tragedi ini bermula dari momen kebersamaan yang salah arah, di mana alkohol menjadi katalisator utama yang menghancurkan logika dan ikatan darah antara kakak dan adik tersebut.

Kronologi Malam Kelabu di Dadapsari

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh tim ZonaKabar, peristiwa nahas ini bermula pada Sabtu dini hari, tepatnya sekitar pukul 00.03 WIB. Saat itu, A dan MZH sedang duduk bersantai di depan rumah mereka. Di tengah dinginnya malam Semarang, keduanya terlibat dalam aktivitas meminum minuman beralkohol secara bersama-sama. Namun, seiring dengan meningkatnya kadar alkohol di dalam darah, suasana yang awalnya santai perlahan mulai memanas.

Baca Juga Skandal Investasi Bodong di Banyumas: Belasan Pensiunan Jadi Korban Oknum Bank, Kerugian Tembus Rp 1,8 Miliar
Skandal Investasi Bodong di Banyumas: Belasan Pensiunan Jadi Korban Oknum Bank, Kerugian Tembus Rp 1,8 Miliar

Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Andika Dharma Sena, dalam konferensi pers yang digelar di Mapolrestabes Semarang, mengungkapkan bahwa situasi mulai tidak terkendali ketika korban, MZH, melontarkan kalimat yang dianggap merendahkan harga diri sang adik. Kata-kata itulah yang kemudian memicu api kemarahan di hati pelaku yang saat itu sudah kehilangan kontrol diri akibat mabuk alkohol.

“Kalimat yang diucapkan korban dan membuat tersangka ini merasa sangat sakit hati adalah ‘ngombe sitik wae mabuk’ (minum sedikit saja sudah mabuk). Ucapan ini memicu emosi spontan dari tersangka,” terang AKBP Andika kepada awak media pada Kamis (30/4/2026).

Satu Tusukan Fatal yang Merenggut Nyawa

Mendengar ejekan tersebut, A yang baru menginjak usia dewasa awal tersebut tidak mampu membendung amarahnya. Tanpa pikir panjang, ia beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam dapur rumah. Di sana, ia menyambar sebilah pisau dapur sepanjang 25 sentimeter dengan gagang berwarna hitam. Senjata tajam yang seharusnya digunakan untuk keperluan memasak itu berubah menjadi alat pencabut nyawa dalam hitungan detik.

Baca Juga Rahasia di Balik Nama Unik Kampung Kamar Bola Klaten: Eksistensi Ruang Rekreasi Elit Belanda yang Terlupakan
Rahasia di Balik Nama Unik Kampung Kamar Bola Klaten: Eksistensi Ruang Rekreasi Elit Belanda yang Terlupakan

Tanpa peringatan, A kembali menghampiri kakaknya dan langsung melayangkan satu tusukan keras ke arah punggung belakang korban. Kejadian yang berlangsung sangat cepat di depan rumah tersebut membuat MZH tersungkur menahan sakit yang luar biasa. Meski hanya satu tusukan, efek yang ditimbulkan ternyata sangat fatal bagi organ dalam korban.

Warga sekitar dan pihak keluarga yang mengetahui kejadian tersebut segera berupaya memberikan pertolongan pertama. Korban dilarikan ke rumah sakit terdekat dengan harapan nyawanya masih bisa diselamatkan. Namun, takdir berkata lain. Luka dalam yang dialami MZH terlalu parah hingga akhirnya ia dinyatakan meninggal dunia di tangan tim medis. Kasus pembunuhan ini pun segera dilaporkan ke pihak kepolisian setempat.

Hasil Autopsi: Luka Tembus Hingga ke Paru-paru

Pihak kepolisian bergerak cepat dengan melakukan proses autopsi terhadap jenazah korban untuk memastikan penyebab pasti kematian. Berdasarkan hasil sementara dari tim dokter forensik, diketahui bahwa tusukan pisau dapur yang diayunkan oleh sang adik menembus cukup dalam hingga mengenai organ vital.

Baca Juga Tragedi Maut di Jalur Pantura Brebes: Lansia Tanpa Identitas Tewas dalam Insiden Tabrak Lari Misterius
Tragedi Maut di Jalur Pantura Brebes: Lansia Tanpa Identitas Tewas dalam Insiden Tabrak Lari Misterius

“Penyebab utama kematian adalah pendarahan hebat di dalam rongga tubuh. Diduga kuat, mata pisau tersebut menembus hingga ke bagian paru-paru korban, yang mengakibatkan gangguan pernapasan akut dan kehilangan banyak darah dalam waktu singkat,” jelas AKBP Andika lebih lanjut.

Tragedi ini menjadi pengingat keras betapa bahayanya kehilangan kendali diri, terutama saat berada di bawah pengaruh zat adiktif. Pisau dapur yang kecil namun tajam itu telah menciptakan luka permanen, tidak hanya pada tubuh korban, tetapi juga pada keutuhan keluarga yang kini harus meratapi kepergian salah satu anggotanya sekaligus melihat anggota keluarga lainnya mendekam di balik jeruji besi akibat tindak kriminal yang dilakukan.

Ancaman Hukuman Berat Menanti Sang Adik

Kini, A harus mempertanggungjawabkan perbuatan impulsifnya di hadapan hukum. Pemuda berusia 18 tahun itu telah diamankan dan resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polrestabes Semarang. Raut penyesalan tampak di wajahnya, namun proses hukum tetap harus berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku di Indonesia.

Polisi menjerat tersangka dengan Pasal 458 KUHP yang berkaitan dengan tindak pidana perampasan nyawa orang lain. Mengingat statusnya sebagai pelaku dewasa, A terancam hukuman penjara yang sangat lama, yang dapat merenggut masa mudanya di balik jeruji besi.

Baca Juga Menelusuri Jejak Kiai Wongsoniti: Legenda ‘Kesusu Menyang’ di Balik Asal-usul Desa Sumyang Klaten
Menelusuri Jejak Kiai Wongsoniti: Legenda ‘Kesusu Menyang’ di Balik Asal-usul Desa Sumyang Klaten

“Tersangka kami jerat dengan Pasal 458 KUHP, di mana setiap orang yang dengan sengaja merampas nyawa orang lain dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun. Kami akan memastikan proses penyidikan berjalan transparan hingga ke persidangan nanti,” tegas Kasat Reskrim dalam keterangannya yang dipantau oleh ZonaKabar.

Refleksi Sosial: Alkohol dan Fragilitas Emosi Remaja

Kasus ini menambah daftar panjang kekerasan di Semarang yang melibatkan pengaruh alkohol sebagai faktor pendorong utama. Fenomena ‘mabuk bareng’ yang berujung maut mencerminkan kurangnya kontrol sosial dan rapuhnya stabilitas emosional di kalangan remaja dan pemuda. Hal sepele seperti ejekan saat minum seringkali menjadi sumbu pendek ledakan kemarahan yang berakibat fatal.

Para ahli psikologi sering mengingatkan bahwa alkohol dapat menekan fungsi lobus frontal otak yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dan kontrol impuls. Dalam kasus A, kombinasi antara ego remaja yang masih labil, rasa tersinggung karena ejekan, dan pengaruh minuman keras menciptakan situasi ‘badai sempurna’ yang berakhir pada pembunuhan kakak kandung sendiri.

Baca Juga Skandal Besar di Pati: Modus Licin Pendiri Ponpes Berkedok Keturunan Nabi, Puluhan Santriwati Jadi Korban
Skandal Besar di Pati: Modus Licin Pendiri Ponpes Berkedok Keturunan Nabi, Puluhan Santriwati Jadi Korban

Masyarakat diharapkan dapat mengambil pelajaran dari peristiwa memilukan di Dadapsari ini. Pengawasan terhadap peredaran alkohol ilegal serta edukasi mengenai penyelesaian konflik secara sehat di dalam keluarga sangat krusial untuk mencegah terulangnya tragedi serupa. Keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman, bukan justru menjadi saksi bisu terjadinya pertumpahan darah antar saudara.

Kini, Kelurahan Dadapsari kembali berusaha memulihkan diri dari trauma peristiwa tersebut, sementara sebuah keluarga harus menanggung beban duka yang tak akan pernah hilang sepenuhnya. Satu nyawa melayang, satu masa depan hancur, semua hanya karena ego yang terusik di balik botol minuman.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *