Pelarian Berkedok Ritual: Kisah Penangkapan Predator Santriwati Pati di Pelosok Wonogiri

Aris Munandar | ZonaKabar
07 Mei 2026, 18:02 WIB
Pelarian Berkedok Ritual: Kisah Penangkapan Predator Santriwati Pati di Pelosok Wonogiri

ZonaKabar — Tabir kepalsuan yang dibangun oleh AS (52), tersangka utama dalam kasus dugaan kekerasan seksual terhadap sejumlah santriwati di Kabupaten Pati, akhirnya tersingkap di sebuah desa terpencil di Wonogiri. Pelarian yang dibumbui dengan narasi spiritualitas ini berakhir dramatis saat tim gabungan kepolisian mengepung persembunyiannya pada Kamis pagi.

Siasat Ritual Gaib di Balik Pelarian

AS, yang kini dikenal luas sebagai predator seksual dari Pati, tidak sekadar melarikan diri untuk bersembunyi. Dalam upayanya mengecoh warga dan pihak berwajib, ia menggunakan dalih laku spiritual atau ritual mistis. Lokasi yang dipilihnya pun tidak sembarangan: kawasan Desa Bakalan, Kecamatan Purwantoro, Wonogiri, yang dikenal tenang dan memiliki situs religi berupa makam kuno.

Kepala Desa Bakalan, Sutanto, mengungkapkan bahwa AS tiba di wilayahnya pada Rabu (6/5) pagi sekitar pukul 07.00 WIB. Perjalanannya menuju desa tersebut dilakukan dengan menggunakan moda transportasi ojek dari pusat Kecamatan Purwantoro. Sesampainya di Bakalan, ia kembali berganti ojek untuk menuju daerah dataran tinggi yang berjarak sekitar 1 kilometer dari pemukiman padat penduduk.

Baca Juga Misteri Dukuh Mao Klaten: Desa Subur Tanpa Sebatang Pun Pohon Pisang dan Rahasia Prasasti Kuno
Misteri Dukuh Mao Klaten: Desa Subur Tanpa Sebatang Pun Pohon Pisang dan Rahasia Prasasti Kuno

“Yang bersangkutan menuju ke salah satu rumah warga yang letaknya cukup terpencil, dekat dengan komplek makam Raden Gunungsari atau yang sering disebut Gedong Giong. Di sana ia menumpang menginap,” ujar Sutanto saat memberikan keterangan kepada tim jurnalistik kami.

Memanfaatkan Keramahtamahan Warga Desa

Kehadiran AS di rumah salah satu warga tersebut awalnya tidak memicu kecurigaan sama sekali. Hal ini dikarenakan lokasi rumah tersebut memang kerap dijadikan tempat beristirahat bagi para peziarah yang hendak menuju makam Raden Gunungsari. Pemilik rumah, yang bukan merupakan juru kunci makam, menerima AS dengan tangan terbuka layaknya tamu pada umumnya.

Kepada warga setempat, AS merangkai cerita yang cukup meyakinkan. Ia mengaku sedang menjalankan amanah dari sang guru untuk menjalani laku spiritual. AS bercerita bahwa dirinya diperintahkan untuk berpuasa selama tiga tahun penuh, dan saat ini ia baru menginjak bulan ketiga dari masa tirakat tersebut.

“Ceritanya dia disuruh gurunya berziarah ke sini sebagai bagian dari ritual itu. Karena daerah kami memang sering kedatangan peziarah dari luar kota, warga tidak menaruh curiga sedikit pun. Ditambah lagi, posisinya yang jauh dari keramaian membuatnya seolah benar-benar sedang mencari ketenangan,” tambah Sutanto menjelaskan bagaimana AS memanipulasi situasi demi mendapatkan perlindungan sosial sementara.

Baca Juga Pelarian Berakhir, Pendiri Ponpes di Pati Tersangka Pencabulan Santriwati Diringkus Polisi di Wonogiri
Pelarian Berakhir, Pendiri Ponpes di Pati Tersangka Pencabulan Santriwati Diringkus Polisi di Wonogiri

Detik-Detik Penangkapan yang Dramatis

Meski merasa aman dalam persembunyiannya, jejak AS rupanya telah terendus oleh aparat kepolisian. Pelarian yang ia lakukan setelah mangkir dari pemeriksaan di Polresta Pati akhirnya mencapai titik buntu. Tim gabungan dari Polda Jawa Tengah dan Polresta Pati, dengan dukungan dari Polres Wonogiri, telah memetakan keberadaan tersangka sejak ia memasuki wilayah Wonogiri.

Penangkapan tidak dilakukan di dalam rumah warga untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan. AS ditangkap saat ia mencoba keluar dari area pemukiman dengan meminjam sepeda motor milik warga. Alasannya kala itu adalah hendak menemui seorang teman di luar desa. Namun, petugas yang sudah bersiaga segera melakukan penyergapan di jalanan desa yang sepi.

Beberapa warga sempat mendengar suara letusan senjata api sebanyak satu kali saat proses penangkapan berlangsung. Diduga kuat, suara tersebut merupakan tembakan peringatan untuk memastikan tersangka tidak melakukan perlawanan atau mencoba melarikan diri kembali ke arah hutan atau kompleks pemakaman.

Kolaborasi Antar-Wilayah Menumpas Kejahatan

Kasat Reskrim Polres Wonogiri, Iptu Agung Sadewo, membenarkan adanya operasi penangkapan tersebut. Ia menegaskan bahwa pihak Polres Wonogiri berperan sebagai pendukung (back-up) dalam operasi yang dipimpin langsung oleh tim dari Polda Jateng dan Polresta Pati.

Baca Juga Jejak Damai di Kota Bengawan: 57 Biksu Thudong Disambut Hangat di Pura Mangkunegaran
Jejak Damai di Kota Bengawan: 57 Biksu Thudong Disambut Hangat di Pura Mangkunegaran

“Locus delicti atau tempat kejadian perkara utamanya ada di Pati. Wonogiri ini murni hanya menjadi tempat pelarian sementara bagi tersangka. Kami memastikan proses penangkapan berjalan sesuai prosedur untuk mengamankan tersangka yang telah lama dicari,” tegas Iptu Agung. Hal ini menunjukkan betapa krusialnya koordinasi antar-kepolisian dalam menangani kasus hukum yang melibatkan lintas wilayah.

Sebelumnya, Kombes Jaka Wahyudi selaku Kapolresta Pati juga telah mengonfirmasi keberhasilan timnya dalam meringkus pria berusia 52 tahun tersebut. Keberhasilan ini menjadi angin segar bagi upaya penegakan keadilan bagi para santriwati yang menjadi korban aksi bejat sang predator selama bertahun-tahun.

Dampak Psikologis dan Pentingnya Kewaspadaan

Kasus yang menjerat AS ini bukan sekadar tindakan kriminal biasa, melainkan sebuah pengkhianatan terhadap institusi pendidikan dan kepercayaan masyarakat. Tersangka diketahui telah melakukan aksi pencabulan berkali-kali terhadap korban di bawah umur dalam kurun waktu yang cukup lama. Penggunaan kedok agama atau spiritualitas sebagai cara untuk mendekati korban maupun untuk melarikan diri menjadi sorotan tajam dalam kasus ini.

Baca Juga Kisruh Internal Beringin: DPD Golkar Jateng Nyatakan Musda Wonosobo Ilegal dan Produk Gagal
Kisruh Internal Beringin: DPD Golkar Jateng Nyatakan Musda Wonosobo Ilegal dan Produk Gagal

Kini, AS harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Penangkapan ini juga menjadi pengingat bagi masyarakat luas, terutama di pedesaan, untuk tetap waspada terhadap kehadiran orang asing yang menunjukkan perilaku mencurigakan, meskipun mereka membawa narasi religi atau mistis yang kental.

Upaya perlindungan anak dan santriwati dari predator seksual kini menjadi prioritas utama pihak berwajib di Jawa Tengah. Kasus ini diharapkan menjadi momentum bagi seluruh pondok pesantren dan lembaga pendidikan berbasis agama untuk memperketat pengawasan dan memberikan edukasi mengenai hak-hak integritas tubuh kepada para siswanya.

AS saat ini tengah dalam perjalanan kembali ke Pati untuk menjalani pemeriksaan intensif. Masyarakat berharap agar proses hukum berjalan dengan transparan dan memberikan hukuman yang maksimal bagi pelaku, guna memberikan efek jera serta rasa keadilan bagi para korban yang trauma akibat ulahnya.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *