Gibran Rakabuming di Dharmasanti Waisak Borobudur: Menenun Benang Perdamaian dalam Kebinekaan

Aris Munandar | ZonaKabar
31 Mei 2026, 23:48 WIB
Gibran Rakabuming di Dharmasanti Waisak Borobudur: Menenun Benang Perdamaian dalam Kebinekaan

ZonaKabar — Di bawah naungan langit Magelang yang berselimut takzim dan cahaya rembulan yang memantul di stupa-stupa agung, kemegahan Candi Borobudur menjadi saksi bisu sebuah pesan persatuan yang mendalam. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka hadir di tengah ribuan umat Buddha dalam acara Dharmasanti Waisak Nasional 2570 BE, membawa misi penting untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga bangsa.

Kehadiran orang nomor dua di Indonesia ini bukan sekadar formalitas protokoler. Mengenakan pakaian yang mencerminkan khidmatnya suasana, Gibran melangkah masuk ke pelataran Candi Borobudur dengan penuh kehangatan. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa momen Waisak adalah waktu yang tepat untuk merenungkan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi berdirinya negara ini.

Sapaan Hangat dan Harapan Keberkahan

Membuka pidatonya, Gibran secara khusus menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh umat Buddha. Suasana haru dan khidmat terasa menyelimuti lokasi acara saat ia melafalkan doa-doa kesejahteraan. Beliau menekankan bahwa perayaan ini adalah milik seluruh rakyat Indonesia yang mencintai perdamaian.

“Pertama-tama, saya ingin menyampaikan selamat Hari Raya Waisak 2570 BE kepada seluruh saudara-saudara umat Buddha di seluruh Tanah Air. Semoga kebahagiaan, kedamaian, kesehatan, dan keberkahan senantiasa menyertai langkah kita semua,” ujar Gibran dengan nada bicara yang rendah hati namun berwibawa di hadapan para tokoh agama dan tamu undangan pada Minggu malam (31/5/2026).

Baca Juga Teror Pocong Bersajam di Grobogan Ternyata Hoax, Polisi Ungkap Motif di Balik Video Viral Stasiun Karangsono
Teror Pocong Bersajam di Grobogan Ternyata Hoax, Polisi Ungkap Motif di Balik Video Viral Stasiun Karangsono

Gibran juga mengungkapkan apresiasinya terhadap panitia penyelenggara yang telah bekerja keras memastikan rangkaian Waisak Nasional berjalan dengan lancar. Baginya, ketertiban dan kekhusyukan acara ini mencerminkan kedewasaan spiritual bangsa Indonesia.

Pesan Titipan dari Presiden Prabowo Subianto

Dalam kesempatan yang sama, Gibran juga berperan sebagai penyambung lidah bagi Presiden Prabowo Subianto. Ia menyampaikan permohonan maaf karena sang Presiden tidak dapat hadir secara langsung di lokasi yang sarat akan nilai sejarah tersebut.

“Saya juga ingin menyampaikan salam hangat dari Bapak Presiden untuk Bapak Ibu semua yang hadir di sini. Beliau menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena belum bisa hadir di tengah Bapak Ibu semua malam ini. Namun, harapan dan kecintaan beliau tetap besar bagi seluruh umat Buddha di Indonesia,” ungkap Gibran, mempertegas komitmen pemerintah dalam menjaga toleransi beragama di tanah air.

Pesan ini disambut hangat oleh para hadirin, menunjukkan sinergi yang kuat antara kepemimpinan nasional dengan seluruh elemen masyarakat lintas keyakinan. Gibran memastikan bahwa aspirasi dan kebutuhan umat Buddha akan selalu menjadi perhatian serius dalam agenda pembangunan nasional.

Baca Juga Tragedi Metro Sport Center Semarang: Amukan Si Jago Merah dan Kerugian Fantastis Rp 5 Miliar
Tragedi Metro Sport Center Semarang: Amukan Si Jago Merah dan Kerugian Fantastis Rp 5 Miliar

Borobudur: Simbol Rumah Besar Indonesia

Lebih dari sekadar bangunan fisik, Gibran memandang Borobudur sebagai representasi filosofis dari jati diri bangsa. Menurutnya, Candi Borobudur adalah bukti nyata bahwa Indonesia telah lama menjadi titik temu berbagai peradaban dan keyakinan yang saling menghormati.

“Perayaan Waisak di Borobudur malam ini tidak hanya sebagai perayaan keagamaan. Tetapi, juga menjadi simbol kuat bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang menjunjung tinggi perdamaian, yang menghargai keberagaman, serta mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan,” imbuhnya dengan penuh semangat.

Ia mengajak masyarakat untuk melihat kebinekaan bukan sebagai beban, melainkan sebagai aset yang tak ternilai harganya. Di mata dunia, Indonesia dikenal karena kemampuannya merawat harmoni di tengah keberagaman, dan Borobudur adalah mercusuar dari nilai tersebut.

Apresiasi Atas Kontribusi Nyata Umat Buddha

Tidak hanya berbicara soal spiritualitas, Gibran juga menyoroti peran aktif umat Buddha dalam pembangunan sosial. Ia mencatat banyak kontribusi nyata yang telah diberikan, mulai dari bidang pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

Baca Juga Denilson Rodrigues dan Teka-Teki Masa Depannya di PSIS Semarang: Cinta Kota Lumpia atau Godaan Super League?
Denilson Rodrigues dan Teka-Teki Masa Depannya di PSIS Semarang: Cinta Kota Lumpia atau Godaan Super League?

Beberapa poin kontribusi yang diapresiasi antara lain:

  • Pengembangan lembaga pendidikan yang inklusif dan berkualitas.
  • Aksi kemanusiaan dan bakti sosial yang menjangkau masyarakat pelosok.
  • Partisipasi aktif dalam menjaga stabilitas keamanan dan harmoni sosial di tingkat akar rumput.
  • Upaya pelestarian lingkungan hidup sebagai bentuk tanggung jawab terhadap alam.

Menurut Gibran, kerja keras umat Buddha dalam bidang-bidang tersebut telah membantu pemerintah dalam mempercepat pemerataan kesejahteraan di berbagai wilayah Indonesia.

Meneladani Nilai Metta, Karuna, dan Panna

Sebagai penutup narasi besarnya, Gibran mengajak para hadirin untuk mengimplementasikan nilai-nilai luhur ajaran Buddha dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia menyebut tiga pilar utama yang sangat relevan dengan tantangan zaman modern saat ini.

“Nilai-nilai luhur Buddha seperti cinta kasih atau Metta, kasih sayang atau Karuna, dan kebijaksanaan atau Panna, sangat relevan dalam menjawab berbagai tantangan kehidupan yang semakin kompleks seperti saat ini,” jelasnya. Ia berpendapat bahwa jika setiap warga negara memiliki kasih sayang dan kebijaksanaan, maka gesekan sosial dapat diminimalisir secara signifikan.

Baca Juga Kisah Inspiratif Muqorobbin: 22 Tahun Menabung dari Jualan Pentol Keliling, Kini Resmi Berangkat ke Tanah Suci
Kisah Inspiratif Muqorobbin: 22 Tahun Menabung dari Jualan Pentol Keliling, Kini Resmi Berangkat ke Tanah Suci

Gibran mengingatkan bahwa Indonesia sebagai bangsa yang besar sangat membutuhkan persatuan sebagai modal utama pembangunan. Tanpa kedamaian, mimpi besar menuju Indonesia Emas akan sulit dicapai.

Mewariskan Kerukunan untuk Generasi Mendatang

Menjelang akhir pidatonya, Gibran memberikan pesan menyentuh tentang masa depan. Ia menekankan pentingnya apa yang kita tinggalkan untuk anak cucu nanti. Bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan sebuah ekosistem sosial yang sehat dan damai.

“Mari kita wariskan kepada anak dan cucu kita Indonesia yang lebih rukun, lebih adil, lebih sejahtera dan lebih bermartabat,” pungkas Gibran diiringi tepuk tangan meriah dari ribuan umat yang memadati pelataran candi.

Acara Dharmasanti ini kemudian dilanjutkan dengan prosesi doa bersama dan pelepasan lampion yang menghiasi langit malam Magelang. Kehadiran Gibran di Borobudur malam itu meninggalkan kesan mendalam tentang seorang pemimpin yang merangkul semua golongan, membawa semangat persatuan nasional yang kokoh demi masa depan bangsa yang lebih gemilang.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *