Jawa Timur Membara: Daftar Wilayah yang Masuk Musim Kemarau 2026 dan Fenomena Urban Heat Island di Surabaya
ZonaKabar — Memasuki pertengahan tahun 2026, masyarakat di berbagai penjuru Jawa Timur mulai merasakan perubahan atmosfer yang signifikan. Terik matahari yang menyengat di siang hari kini bukan lagi sekadar sapaan rutin, melainkan pertanda bahwa musim kemarau telah resmi menyapa lebih awal di beberapa titik strategis. Fenomena suhu udara yang kian melonjak ini memicu kekhawatiran akan terjadinya cuaca ekstrem yang dapat berdampak pada kesehatan masyarakat serta sektor pertanian.
Peralihan Musim yang Datang Lebih Awal
Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), transisi menuju musim kering di Indonesia pada tahun 2026 tidak terjadi secara serentak. Tercatat, sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia atau setara dengan 114 Zona Musim (ZOM) telah memasuki ambang pintu kemarau sejak April 2026. Jawa Timur, sebagai salah satu lumbung pangan nasional, menjadi wilayah yang cukup terdampak oleh pergeseran pola cuaca ini.
Kondisi ini dipicu oleh melemahnya curah hujan di sepanjang pesisir utara dan beberapa wilayah selatan Jawa. Pantauan kondisi cuaca menunjukkan bahwa penurunan intensitas hujan terjadi secara gradual, meninggalkan kelembapan udara yang semakin menipis. Bagi warga Jawa Timur, hal ini berarti persiapan ekstra menghadapi hari-hari yang lebih gerah dari biasanya.
Surabaya dan Tantangan Fenomena Urban Heat Island
Kota Surabaya kembali menjadi pusat perhatian dalam peta suhu ekstrem di Jawa Timur. Bukan rahasia lagi jika ibu kota provinsi ini seringkali terasa seperti “oven raksasa” bagi para komuter dan penduduknya. Namun, suhu panas yang dirasakan di Surabaya bukan semata-mata karena faktor musim, melainkan diperparah oleh fenomena yang dikenal sebagai Urban Heat Island (UHI).
UHI adalah kondisi di mana area perkotaan memiliki suhu udara yang jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah pinggiran atau pedesaan di sekitarnya. Hal ini terjadi karena masifnya penggunaan beton dan aspal pada bangunan serta jalan raya yang secara aktif menyerap radiasi matahari dan menyimpannya dalam waktu lama. Kurangnya vegetasi alami di pusat kota membuat proses pendinginan alami terhambat.
Data dari Fakultas Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengungkapkan fakta yang cukup mencemaskan. Dalam satu dekade terakhir, Surabaya mengalami tren kenaikan suhu rata-rata antara 1 hingga 3 derajat Celsius. Bahkan, perbedaan suhu antara kawasan yang padat bangunan dengan area yang masih memiliki ruang terbuka hijau bisa mencapai selisih 1,4 derajat Celsius. Kawasan Surabaya Timur dan koridor utara-selatan diidentifikasi sebagai titik dengan intensitas panas paling tinggi akibat minimnya sirkulasi udara dan tingginya densitas bangunan.
Daftar Lengkap Wilayah Jawa Timur yang Memasuki Kemarau Mei 2026
Memasuki Dasarian I hingga III bulan Mei 2026, BMKG memprediksi sebanyak 43 dari 74 Zona Musim di Jawa Timur akan sepenuhnya berada dalam periode kemarau. Berikut adalah sebaran wilayah yang wajib mewaspadai potensi kekeringan dan panas ekstrem:
- Bangkalan: Meliputi wilayah Bangkalan kota, Blega, Burneh, Galis, Kamal, Konang, Kwanyar, Labang, Modung, Socah, Tanah Merah, dan Tragah.
- Banyuwangi: Fokus pada area Wongsorejo yang dikenal memiliki karakter iklim lebih kering.
- Blitar: Mencakup Bakung, Doko, Gandusari, Garum, Kademangan, Kanigoro, Kesamben, Nglegok, Panggungrejo, Ponggok, Sanankulon, Selorejo, Srengat, Sutojayan, Talun, Udanawu, Wlingi, Wonodadi, dan Wonotirto.
- Bojonegoro: Wilayah seperti Bubulan, Gondang, Kedungadem, Ngambon, Sekar, Sugihwaras, Sukosewu, dan Temayang harus mulai mengatur manajemen air.
- Bondowoso: Sebagian besar wilayah termasuk Binakal, Bondowoso, Curahdami, Grujugan, hingga Wringin.
- Gresik: Wilayah industri dan pesisir seperti Balongpanggang, Benjeng, Cerme, hingga area kepulauan di Sangkapura dan Tambak.
- Jember: Sebaran luas mencakup Ajung, Arjasa, Bangsalsari, Kaliwates, hingga Tanggul.
- Jombang: Meliputi Bandarkedungmulyo, Bareng, Diwek, Gudo, hingga Peterongan.
- Kediri: Kawasan produktif seperti Badas, Grogol, Pare, hingga Wates.
- Malang Raya: Mencakup Kota Batu, Kota Malang, dan hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Malang seperti Singosari, Lawang, dan Kepanjen.
- Surabaya & Sidoarjo: Seluruh kecamatan di Surabaya (31 kecamatan) dan Sidoarjo mulai dari Balongbendo hingga Waru dipastikan masuk fase kering.
- Mojokerto & Madiun: Mencakup wilayah kota dan kabupaten dengan intensitas panas yang cukup merata.
- Pantura & Madura: Meliputi Lamongan, Tuban (sebagian), Pamekasan, Sampang, dan Sumenep di wilayah-wilayah tertentu.
Puncak Musim Kemarau dan Upaya Mitigasi
Kapan puncak musim kemarau akan terjadi? BMKG memprediksi bahwa intensitas panas tertinggi akan dirasakan pada bulan Agustus 2026. Selama periode menuju puncak tersebut, masyarakat diimbau untuk melakukan langkah-langkah adaptasi guna menjaga kebugaran tubuh dan kelestarian lingkungan.
Sangat disarankan untuk membatasi aktivitas berat di luar ruangan pada jam-jam krusial, yakni antara pukul 11.00 hingga 15.00 WIB. Radiasi ultraviolet pada jam tersebut berada pada level tertinggi yang berisiko bagi kesehatan kulit dan potensi dehidrasi. Penggunaan pakaian berbahan katun yang longgar dan berwarna terang dapat membantu tubuh melakukan evaporasi keringat dengan lebih baik.
Selain itu, untuk menekan efek Urban Heat Island di lingkungan rumah, warga diajak untuk kembali menanam tanaman hijau, meskipun dalam lahan yang sempit melalui metode vertikultur. Penggunaan transportasi umum juga sangat dianjurkan guna mengurangi emisi gas buang kendaraan bermotor yang turut menyumbang panas di koridor perkotaan. Tetap pantau berita terkini mengenai perkembangan cuaca agar dapat melakukan langkah antisipasi yang tepat.
Manajemen Air dan Sektor Pertanian
Bagi sektor pertanian, masuknya musim kemarau lebih awal memerlukan strategi pengairan yang lebih efisien. Petani diimbau untuk memperhatikan ketersediaan air di waduk dan embung serta mulai mempertimbangkan penanaman komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi minim air atau palawija. Upaya mitigasi bencana kekeringan harus dilakukan secara kolektif antara pemerintah daerah dan masyarakat agar dampak ekonomi dari cuaca ekstrem ini dapat diminimalisir seminimal mungkin.
ZonaKabar akan terus memberikan pembaruan informasi terkait kondisi iklim di Jawa Timur. Mari tetap waspada, jaga kecukupan cairan tubuh dengan banyak minum air putih, dan pastikan lingkungan sekitar tetap hijau untuk meredam suhu bumi yang kian menantang.