Jeritan Peternak Tulungagung: Ribuan Telur Dibagikan Gratis di Tengah Anjloknya Harga Pasar

Budi Santoso | ZonaKabar
16 Mei 2026, 17:42 WIB
Jeritan Peternak Tulungagung: Ribuan Telur Dibagikan Gratis di Tengah Anjloknya Harga Pasar

ZonaKabar — Di jantung Kabupaten Tulungagung, suasana pagi yang biasanya diwarnai dengan hiruk-pikuk aktivitas ekonomi mendadak berubah menjadi panggung keprihatinan. Ratusan peternak ayam petelur berkumpul di kawasan Monumen Nol Kilometer, bukan untuk menjual hasil bumi mereka, melainkan untuk membagikan ribuan butir telur secara gratis kepada masyarakat dan pengguna jalan yang melintas. Aksi ini bukanlah sebuah perayaan, melainkan sebuah sinyal darurat atas kondisi ekonomi yang kian mencekik para pahlawan pangan lokal tersebut.

Dengan membentangkan berbagai spanduk bernada protes dan kekecewaan, para peternak mencoba mengetuk pintu hati pemerintah dan publik. Telur-telur yang seharusnya menjadi sumber penghidupan, kini dibagikan cuma-cuma sebagai simbol perlawanan terhadap harga telur ayam yang terjun bebas di tingkat peternak. Kondisi ini memaksa mereka untuk mengambil langkah ekstrem demi mendapatkan perhatian atas ketidakadilan pasar yang sedang mereka hadapi.

Aksi Simbolik di Nol Kilometer Tulungagung

Koordinator aksi, Abdul Kholiq, berdiri di tengah kerumunan massa dengan raut wajah yang tak bisa menyembunyikan kegelisahan. Ia menjelaskan bahwa jumlah telur yang dibagikan dalam aksi spontan ini mencapai 5.000 butir. Bagi masyarakat umum, ini mungkin merupakan rezeki nomplok, namun bagi para peternak mandiri, setiap butir telur yang dibagikan adalah tetesan keringat yang kini tak lagi memiliki nilai ekonomis yang layak.

Baca Juga Sinergi Hangat di Meja Kopi: Cara Kapolresta Sidoarjo Gandeng Mahasiswa Kawal Kondusivitas Kota Delta
Sinergi Hangat di Meja Kopi: Cara Kapolresta Sidoarjo Gandeng Mahasiswa Kawal Kondusivitas Kota Delta

“Ini adalah bentuk keprihatinan terdalam kami. Kami ingin masyarakat tahu bahwa di balik telur yang mereka konsumsi setiap hari, ada peternak yang sedang berjuang melawan kebangkrutan. Harga di kandang sudah menyentuh titik terendah yang sangat tidak masuk akal,” ujar Kholiq di sela-sela pembagian telur kepada pengendara motor yang melintas.

Aksi ini menarik perhatian luas dari pengguna jalan. Kemacetan kecil sempat terjadi, namun mayoritas warga menunjukkan simpati setelah mengetahui alasan di balik aksi tersebut. Banyak warga yang mendukung langkah para peternak, menyadari bahwa jika para peternak rakyat tumbang, maka ketahanan pangan daerah akan terancam di masa depan.

Matematika Kerugian: Harga Jual vs Biaya Produksi

Persoalan utama yang memicu gejolak ini adalah ketimpangan tajam antara Harga Pokok Produksi (HPP) dengan harga jual di pasar. Berdasarkan data yang dihimpun oleh tim ZonaKabar, saat ini harga telur di tingkat kandang merosot hingga Rp 21.000 per kilogram. Angka ini terpaut cukup jauh dari HPP yang harus dikeluarkan peternak, yakni sekitar Rp 23.000 per kilogram.

Baca Juga Prakiraan Cuaca Jawa Timur 27 April 2026: Waspada Potensi Hujan di 36 Wilayah, Cek Update BMKG Sekarang!
Prakiraan Cuaca Jawa Timur 27 April 2026: Waspada Potensi Hujan di 36 Wilayah, Cek Update BMKG Sekarang!

Artinya, untuk setiap kilogram telur yang dihasilkan, peternak harus menanggung kerugian sebesar Rp 2.000. Jika seorang peternak memiliki ribuan ayam yang berproduksi setiap hari, maka akumulasi kerugian harian bisa mencapai jutaan rupiah. Kondisi ekonomi Tulungagung di sektor peternakan pun kini berada di lampu merah.

“Kami sudah merugi setiap hari. Menjual telur saat ini sama saja dengan menyetor modal yang tidak akan kembali. Bayangkan, biaya pakan, suplemen, hingga tenaga kerja terus naik, tetapi harga output kami justru ditekan habis-habisan,” tambah Kholiq dengan nada getir. Para peternak merasa bahwa mekanisme pasar saat ini tidak lagi berpihak pada keberlangsungan usaha kecil menengah.

Paradoks Overproduksi di Tengah Isu Kelangkaan Nasional

Salah satu poin yang memicu tanda tanya besar adalah adanya anomali data. Secara statistik nasional, stok telur seringkali disebut masih kurang atau hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik. Namun, kenyataan di lapangan lokal Tulungagung justru berbanding terbalik. Terjadi penumpukan stok atau overproduksi yang menyebabkan harga lokal hancur.

Baca Juga Lumpuhnya Nadi Utama Jantung Surabaya: Menelisik Kondisi Terkini Pasca Kebakaran di Gedung PPJT RSUD dr Soetomo
Lumpuhnya Nadi Utama Jantung Surabaya: Menelisik Kondisi Terkini Pasca Kebakaran di Gedung PPJT RSUD dr Soetomo

Kholiq mensinyalir bahwa distribusi yang tidak merata dan macetnya serapan pasar menjadi penyebab utama. Kebijakan pemerintah dalam mengatur arus distribusi telur antarwilayah dinilai belum optimal. Akibatnya, wilayah sentra produksi seperti Tulungagung mengalami kelebihan pasokan, sementara di daerah lain harga mungkin masih melambung tinggi karena minimnya stok.

“Ada miskomunikasi antara data di atas kertas dengan realita di kandang. Kami kelebihan stok, tapi tidak ada pasar yang menyerap dengan harga layak. Kami merasa terjebak dalam sistem yang hanya menguntungkan pengepul besar,” jelasnya. Ketergantungan yang tinggi pada tengkulak atau pengepul juga membuat posisi tawar peternak menjadi sangat lemah dalam menentukan harga.

Hilangnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Situasi ini diperparah dengan dihentikannya akses pasokan telur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak momen Lebaran lalu. Padahal, bagi para peternak rakyat, program ini merupakan oase di tengah padang pasir. MBG sebelumnya mampu menyerap produksi telur lokal secara konsisten, sehingga stabilitas harga di tingkat peternak relatif terjaga.

Baca Juga Dinamika Pendidikan Malang: Saat Anggaran Seragam Dipangkas, Disdikbud Pastikan Tak Ada Siswa Terhambat Sekolah
Dinamika Pendidikan Malang: Saat Anggaran Seragam Dipangkas, Disdikbud Pastikan Tak Ada Siswa Terhambat Sekolah

“Setelah Lebaran, program itu dihentikan atau setidaknya akses kami ke sana diputus. Padahal bagi kami, MBG adalah instrumen perlindungan yang sangat membantu penyerapan produksi. Saat program itu hilang, stok kami kembali menumpuk dan harga langsung jatuh,” kata Kholiq. Penghentian program ini dianggap sebagai salah satu pukulan telak bagi kesejahteraan peternak di Jawa Timur.

Para peternak mendesak agar pemerintah segera mengaktifkan kembali atau memperluas cakupan program serupa yang langsung menyentuh peternak rakyat, bukan melalui perantara korporasi besar. Hal ini dianggap sebagai solusi jangka pendek yang paling efektif untuk menstabilkan harga di pasar lokal.

Bayang-bayang Investor Asing dan Integrator Besar

Di tengah perjuangan melawan harga yang anjlok, para peternak kini dihantui oleh isu baru yang tak kalah mengkhawatirkan. Muncul kabar mengenai rencana kerja sama antara Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dengan investor serta integrator telur asal Tiongkok. Isu ini bak petir di siang bolong bagi para peternak mandiri di Tulungagung.

Jika perusahaan integrator besar masuk dengan teknologi dan modal raksasa, peternak rakyat dipastikan tidak akan mampu bersaing secara harga. Model bisnis integrasi dari hulu ke hilir yang dikuasai satu perusahaan besar berpotensi mematikan ribuan mata pencaharian peternak kecil yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan.

Baca Juga Potret Kelam di Jalur Utama Sidoarjo: Genangan Air dan Lubang Maut Aloha yang Tak Kunjung Usai
Potret Kelam di Jalur Utama Sidoarjo: Genangan Air dan Lubang Maut Aloha yang Tak Kunjung Usai

“Jika benar investor dari Tiongkok masuk sebagai integrator, itu adalah lonceng kematian bagi kami. Langkah Kadin ini merupakan ancaman serius yang bisa membunuh peternak rakyat secara sistematis. Kami memohon pemerintah untuk tidak membiarkan ini terjadi,” tegas Kholiq dengan penuh kekhawatiran.

Harapan untuk Perlindungan Harga yang Nyata

Meskipun para peternak mengapresiasi bantuan pemerintah dalam bentuk alokasi pengadaan jagung melalui skema SPHP, mereka menegaskan bahwa itu saja tidak cukup. Subsidi pakan memang membantu mengurangi beban biaya produksi, namun tanpa adanya perlindungan harga jual, peternak tetap akan merugi.

Para peternak rakyat menuntut adanya regulasi yang lebih ketat dalam mengontrol harga pasar. Mereka berharap pemerintah tidak melepaskan harga telur sepenuhnya pada mekanisme pasar bebas yang seringkali brutal. Harus ada batas harga bawah yang dihormati oleh semua pihak untuk menjamin agar peternak tidak terus-menerus mensubsidi konsumen dengan kerugian pribadi.

“Kami tidak ingin kaya raya, kami hanya ingin bertahan hidup dan melanjutkan usaha yang sudah turun-temurun ini. Kami mohon pemerintah segera turun tangan melakukan stabilisasi harga sebelum lebih banyak lagi peternak yang gulung tikar,” pungkasnya.

Aksi bagi-bagi telur di Tulungagung ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa ketahanan pangan nasional bermula dari kesejahteraan para peternak di daerah. Jika jeritan mereka diabaikan, bukan tidak mungkin suatu saat nanti, telur yang menjadi sumber protein termurah bagi rakyat akan menjadi barang mewah karena para peternak lokalnya sudah tak lagi berdaya.

Budi Santoso

Budi Santoso

Pengamat dinamika perkotaan yang aktif meliput perkembangan ekonomi dan infrastruktur di area Jawa Timur dan Jawa Barat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *