Menelisik Makna Ruwatan di Hari Jadi Kota Surabaya 2026: Simbol Harmoni Tradisi dan Doa Keselamatan
ZonaKabar — Di tengah deru mesin industri dan gemerlap gedung-gedung pencakar langit yang mendominasi cakrawala Kota Pahlawan, denyut tradisi rupanya tetap mendapat tempat istimewa di hati masyarakatnya. Menyongsong perayaan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) yang ke-733 pada tahun 2026 mendatang, Pemerintah Kota Surabaya telah menyiapkan sebuah agenda yang tidak hanya mengandalkan kemeriahan fisik, tetapi juga menyentuh aspek spiritual yang mendalam. Sebuah ritual kuno yang sarat akan makna filosofis, yakni Ruwatan Kota, dijadwalkan akan menjadi pusat perhatian bagi warga dan wisatawan yang merindukan budaya Jawa yang autentik.
Langkah ini diambil bukan sekadar untuk formalitas perayaan semata, melainkan sebagai upaya refleksi kolektif. Ruwatan yang dipadukan dengan pagelaran wayang kulit ini akan mengambil tempat di kawasan bersejarah Tugu Pahlawan pada Sabtu malam, 23 Mei 2026. Di tempat yang menjadi saksi bisu perjuangan fisik para pahlawan tersebut, kini masyarakat diajak untuk melakukan perjuangan batin—membersihkan diri dan kota dari segala mara bahaya serta hambatan di masa depan.
Semarak Budaya di Jantung Kota Pahlawan
Pemerintah Kota Surabaya melalui sektor pariwisata memastikan bahwa peringatan HJKS ke-733 akan menjadi momen yang sangat berkesan. Acara bertajuk “Ruwatan Kota dan Pagelaran Wayang Kulit” ini diprediksi akan menyedot perhatian ribuan pasang mata. Mulai pukul 18.00 WIB, kawasan Tugu Pahlawan akan bertransformasi menjadi panggung budaya raksasa yang terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Rangkaian acara akan dimulai dengan prosesi kirab gunungan yang diarak dengan penuh khidmat. Gunungan yang berisi hasil bumi ini merupakan simbol rasa syukur atas kelimpahan rezeki yang dinikmati warga Surabaya. Tidak ketinggalan, sesaji ruwat bumi juga dipersiapkan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam semesta. Salah satu momen yang paling dinantikan adalah ritual “purak tumpeng”, di mana masyarakat akan berebut tumpeng sebagai simbol keberkahan bersama. Kehadiran pertunjukan campursari yang merdu akan semakin menghangatkan suasana sebelum memasuki inti acara yakni pagelaran wayang kulit.
Yang unik dalam gelaran kali ini, pertunjukan wayang kulit tidak hanya dimainkan oleh dalang kawakan. Seorang dalang bocah berbakat akan tampil bersama empat dalang lainnya untuk membawakan lakon-lakon tertentu. Kehadiran dalang muda ini menjadi sinyal positif bahwa regenerasi seni tradisional di Surabaya masih berjalan dengan sangat baik di tengah arus modernisasi yang kencang.
Memahami Esensi Ruwatan: Dari Etimologi hingga Penolak Bala
Bagi generasi Z atau masyarakat urban yang mungkin merasa asing dengan istilah ini, Ruwatan sebenarnya adalah salah satu upacara adat tertua yang tetap eksis dalam peradaban Jawa. Secara etimologis, kata ruwatan berasal dari kata dasar “ruwat” yang memiliki arti membebaskan, melepaskan, atau memurnikan sesuatu dari pengaruh negatif. Dalam kacamata sosiokultural, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai literatur budaya, ruwatan dipandang sebagai sebuah mekanisme spiritual untuk menghindari kesialan.
Dalam mitologi Jawa, terdapat konsep yang disebut sebagai “sukerta”—yaitu kondisi seseorang atau kelompok yang dipercaya berada dalam incaran Batara Kala. Batara Kala sendiri adalah sosok simbolis yang merepresentasikan waktu yang merusak atau malapetaka. Melalui upacara ruwatan, masyarakat memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar dibebaskan dari ancaman tersebut. Dalam konteks tradisi Surabaya, ruwatan kota ini dimaknai sebagai upaya membersihkan aura negatif kota agar seluruh warganya diberikan keselamatan, kemakmuran, dan keharmonisan sosial.
Filosofi Mendalam di Balik Lakon Dewa Ruci
Pemilihan lakon dalam pagelaran wayang kulit pada acara ruwatan bukanlah hal yang sembarangan. Kali ini, lakon yang diangkat adalah “Dewa Ruci”. Kisah ini merupakan salah satu mahakarya dalam dunia pewayangan yang mengandung ajaran tentang pencarian jati diri dan hakikat ketuhanan. Lakon ini bercerita tentang perjalanan Bima atau Werkudara yang diperintahkan oleh gurunya, Durna, untuk mencari air suci kehidupan yang disebut Tirta Perwitasari.
Perjalanan Bima bukanlah jalan yang mudah. Ia harus menghadapi berbagai rintangan, mulai dari hutan belantara hingga harus menyelami samudra yang luas dan dalam. Di dasar samudra itulah, Bima bertemu dengan sosok mungil yang memancarkan cahaya terang bernama Dewa Ruci. Meski wujudnya kecil, Dewa Ruci memiliki kebijaksanaan yang tak terbatas. Pertemuan ini menjadi titik balik spiritual Bima, di mana ia diajarkan bahwa air suci kehidupan tidak berada di luar sana, melainkan ada di dalam diri manusia itu sendiri.
Dalam tradisi pewayangan gaya Jawa Timuran, khususnya yang berkembang di Surabaya, kisah Dewa Ruci disampaikan dengan karakter yang lebih lugas, dinamis, dan penuh energi. Pesan moralnya sangat relevan bagi warga kota: bahwa kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari pembangunan infrastrukturnya, tetapi juga dari kematangan batin dan kebijaksanaan para pemimpin serta rakyatnya dalam memahami jati diri mereka sebagai bagian dari alam semesta.
Ruwatan Sebagai Perekat Sosial dan Identitas Kota
Menyelenggarakan ruwatan di tengah kota metropolitan seperti Surabaya merupakan sebuah pernyataan budaya yang kuat. Ini menunjukkan bahwa Surabaya tidak ingin kehilangan akarnya. Agenda ini berfungsi sebagai pengingat bahwa di balik statusnya sebagai pusat bisnis dan industri, Surabaya memiliki fondasi nilai-nilai kearifan lokal yang kokoh. Pagelaran wayang kulit dan ruwatan menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu yang luhur dengan masa depan yang progresif.
Lebih dari sekadar ritual mistis, ruwatan dalam HJKS 2026 adalah ruang sosial di mana sekat-sekat perbedaan antara warga melebur. Saat semua orang berkumpul di Tugu Pahlawan untuk menyaksikan kirab dan wayang, tercipta sebuah solidaritas komunal. Harapan yang dipanjatkan dalam doa ruwat adalah harapan kolektif: agar Surabaya tetap aman dari bencana, ekonomi terus tumbuh, dan toleransi antarwarga tetap terjaga dengan baik.
Pemerintah Kota Surabaya pun berpesan agar masyarakat yang hadir dapat menjaga ketertiban dan kebersihan selama acara berlangsung. Sinergi antara pemerintah dan warga dalam merawat tradisi ini diharapkan dapat membawa berkah bagi perkembangan kota di tahun-tahun mendatang. Sebagai penutup, peringatan HJKS ke-733 ini bukan hanya tentang merayakan bertambahnya usia kota, tetapi tentang memurnikan kembali tekad untuk menjadikan Surabaya sebagai rumah yang nyaman, aman, dan penuh berkah bagi semua.
Bagi Anda yang ingin merasakan atmosfer spiritual yang berpadu dengan kemegahan budaya, pastikan untuk menandai kalender Anda pada 23 Mei 2026. Mari menjadi saksi bagaimana tradisi ruwatan bekerja membersihkan jiwa kota, membawa harapan baru bagi Surabaya yang lebih gemilang.