Menelusuri Keagungan Situs Adan-Adan: Benarkah Ada Candi yang Melampaui Kemegahan Borobudur di Kediri?

Budi Santoso | ZonaKabar
08 Mei 2026, 07:42 WIB
Menelusuri Keagungan Situs Adan-Adan: Benarkah Ada Candi yang Melampaui Kemegahan Borobudur di Kediri?

ZonaKabar — Tanah Jawa seolah tidak pernah berhenti membisikkan rahasia masa lalunya yang terkubur dalam sunyi. Baru-baru ini, jagat maya dikejutkan oleh sebuah narasi visual yang menggambarkan penemuan struktur bangunan kuno megah di wilayah Kediri, Jawa Timur. Video yang beredar luas tersebut mengklaim adanya temuan candi yang ukurannya disebut-sebut menandingi, bahkan melampaui kemegahan Candi Borobudur. Namun, di balik keriuhan media sosial tersebut, tersimpan fakta arkeologis yang jauh lebih mendalam dan penuh warna tentang sebuah situs bernama Adan-Adan.

Riuh Viralitas dan Realitas di Lapangan

Sebuah rekaman amatir yang memperlihatkan galian tanah sedalam beberapa meter dengan struktur batu andesit berukir indah mendadak menjadi perbincangan hangat. Dalam video tersebut, tampak arca-arca berukuran raksasa dan ornamen tangga yang sangat detail, memicu imajinasi publik tentang adanya kota kuno yang baru saja ditemukan. Menanggapi gelombang rasa penasaran tersebut, tim jurnalis mencoba menelusuri kebenaran di lokasi kejadian, tepatnya di Situs Adan-Adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri.

Ikhwan, sang juru pelihara yang setia menjaga warisan leluhur ini, memberikan klarifikasi dengan nada tenang namun tegas. Ia menjelaskan bahwa video yang beredar bukanlah penemuan mendadak di tahun ini. Visual tersebut merupakan dokumentasi dari proses ekskavasi yang dilakukan pada tahun 2022 silam. Meskipun bukan penemuan baru dalam hitungan hari, esensi dari apa yang terkubur di sana tetaplah luar biasa. Adan-Adan bukanlah sekadar tumpukan batu, melainkan sebuah teka-teki sejarah yang masih terus disusun kepingannya oleh para ahli.

Baca Juga Visi Kemanusiaan Prof Mundakir: Menambal Celah Psikososial di Tengah Krisis Mental dan Kegagalan Sistem Keperawatan
Visi Kemanusiaan Prof Mundakir: Menambal Celah Psikososial di Tengah Krisis Mental dan Kegagalan Sistem Keperawatan

Raksasa yang Tersembunyi: Makara Terbesar di Asia Tenggara?

Salah satu magnet utama yang membuat Situs Adan-Adan begitu istimewa adalah keberadaan Makara—sebuah hiasan pada pangkal tangga candi yang berbentuk makhluk mitologi perpaduan gajah dan ikan. Di situs ini, Makara yang ditemukan memiliki dimensi yang sangat masif. Ukurannya diklaim melampaui Makara yang ada di Borobudur maupun Prambanan. Dalam dunia arkeologi, ukuran Makara sering kali menjadi indikator skala bangunan induknya. Logikanya sederhana: jika hiasan tangganya saja sebesar itu, maka bangunan candi utamanya dipastikan memiliki proporsi yang luar biasa besar.

“Ukuran makara biasanya berbanding lurus dengan kemegahan bangunan. Itulah mengapa banyak asumsi berkembang bahwa candi ini sangat luas. Beberapa peneliti bahkan menyebut bahwa Makara di sini termasuk yang terbesar yang pernah ditemukan di Asia Tenggara,” ungkap Ikhwan saat menjelaskan detail ornamen tersebut. Penemuan ini tentu saja memperkuat posisi Kediri sebagai pusat peradaban penting di masa lampau, terutama pada masa transisi antara Kerajaan Mataram Kuno hingga masa keemasan Kerajaan Kadiri.

Baca Juga Jadwal Sholat Jawa Timur 15 Mei 2026: Panduan Ibadah Lengkap untuk 38 Kota dan Kabupaten
Jadwal Sholat Jawa Timur 15 Mei 2026: Panduan Ibadah Lengkap untuk 38 Kota dan Kabupaten

Arsitektur Berpola Mandala dan Jejak Buddha di Kediri

Sejak pertama kali mulai diekskavasi secara intensif pada tahun 2016, Situs Adan-Adan telah memberikan petunjuk yang konsisten mengenai identitas keagamaannya. Berdasarkan temuan fragmen stupa, kepala arca Buddha, dan struktur bangunan, para arkeolog berkesimpulan bahwa situs ini merupakan kompleks candi Buddha yang dibangun sekitar abad ke-9 hingga ke-11 Masehi. Periode ini merupakan masa di mana pengaruh Buddha Mahayana sangat kuat di tanah Jawa.

Secara arsitektural, situs ini mengusung pola Mandala—sebuah konsep kosmologi Hindu-Buddha yang merepresentasikan alam semesta. Dari 48 titik ekskavasi yang telah dipetakan, terlihat sebuah struktur inti di bagian tengah yang dikelilingi oleh teras-teras luar. Bangunan inti diperkirakan memiliki luas sekitar 21 meter, sementara keseluruhan kompleks diprediksi menempati lahan seluas 800 meter persegi. Pola ini menunjukkan bahwa Adan-Adan bukan hanya tempat pemujaan biasa, melainkan pusat pembelajaran spiritual yang terencana dengan sangat matang pada zamannya.

Tragedi Vulkanik: Amukan Gunung Kelud dan Proyek yang Terhenti

Mengapa candi semegah ini bisa terkubur begitu dalam di bawah lapisan tanah Kediri? Jawaban yang paling kuat merujuk pada aktivitas vulkanik Gunung Kelud. Sejarah mencatat bahwa Kelud adalah salah satu gunung api paling aktif yang berkali-kali mengubah bentang alam Jawa Timur. Tim arkeolog menemukan bagian puncak stupa berada di lapisan tanah yang sangat dalam, menunjukkan bahwa bangunan ini pernah roboh akibat hantaman material vulkanik atau gempa bumi yang dahsyat di masa lampau.

Baca Juga Kalender Jawa 8 Mei 2026: Menelusuri Rahasia Weton Jumat Kliwon dan Panduan Lengkap Bulan Mei
Kalender Jawa 8 Mei 2026: Menelusuri Rahasia Weton Jumat Kliwon dan Panduan Lengkap Bulan Mei

Ada sebuah fakta menarik sekaligus menyedihkan yang ditemukan di lokasi. Beberapa arca dan relief ditemukan dalam kondisi yang belum tuntas dikerjakan. Hal ini mengisyaratkan sebuah drama sejarah: pembangunan candi ini kemungkinan besar terhenti secara mendadak. Entah karena bencana alam yang datang tiba-tiba, pergantian kekuasaan, atau pergeseran pusat pemerintahan, Situs Adan-Adan menjadi saksi bisu sebuah mahakarya yang belum sempat mencapai bentuk sempurnanya sebelum akhirnya tertelan bumi.

Upaya Pelestarian dan Artefak yang Terpisah

Saat ini, tidak semua bagian dari Situs Adan-Adan berada di lokasi aslinya. Salah satu artefak yang paling ikonik adalah sepasang arca Dwarapala—sang penjaga pintu gerbang. Sayangnya, kedua ‘saudara’ ini harus terpisah jarak. Satu arca masih tertanam di lokasi situs, sementara pasangannya telah dipindahkan ke Museum Airlangga di Kota Kediri sejak masa kolonial Belanda. Pemisahan ini menjadi tantangan tersendiri bagi upaya rekonstruksi sejarah secara utuh.

Pemerintah daerah bersama Balai Pelestarian Kebudayaan kini terus berupaya menjaga keamanan situs dari ancaman penjarahan maupun kerusakan alami. Pengawasan ketat dilakukan oleh juru pelihara agar setiap jengkal tanah yang mengandung nilai arkeologi Indonesia ini tetap terjaga. Meskipun belum dibuka sepenuhnya sebagai destinasi wisata massal karena proses penelitian yang masih berjalan, Situs Adan-Adan tetap menjadi daya tarik bagi mereka yang haus akan pengetahuan sejarah.

Baca Juga Tragedi Berdarah di Sencaki: Terungkapnya Sosok AR, Residivis Narkoba dan Buron Curanmor di Balik Aksi Pembunuhan Sadis
Tragedi Berdarah di Sencaki: Terungkapnya Sosok AR, Residivis Narkoba dan Buron Curanmor di Balik Aksi Pembunuhan Sadis

Masa Depan Situs Adan-Adan sebagai Ikon Sejarah

Keberadaan Situs Adan-Adan di Gurah, Kediri, adalah bukti nyata bahwa bumi Nusantara masih menyimpan banyak misteri yang belum terpecahkan. Meskipun klaim “lebih besar dari Borobudur” perlu dibedah lebih lanjut secara teknis dan komparatif, namun skala kemegahannya sudah cukup untuk menempatkan situs ini dalam jajaran penemuan penting di abad ini. Kediri, yang selama ini dikenal dengan kejayaan sastra dan militernya di masa Kadiri, kini semakin mempertegas jati dirinya sebagai pusat spiritualitas yang agung.

Harapannya, melalui publikasi yang akurat dan dukungan pemerintah yang berkesinambungan, Situs Adan-Adan dapat dipulihkan—setidaknya dalam bentuk pemahaman sejarah yang utuh bagi generasi mendatang. Kita diajak untuk tidak hanya terpukau oleh apa yang tampak di permukaan media sosial, tetapi juga menghargai proses panjang para arkeolog yang bekerja di bawah terik matahari demi menyambung kembali benang merah peradaban kita yang sempat terputus oleh debu vulkanik berabad-abad silam.

Budi Santoso

Budi Santoso

Pengamat dinamika perkotaan yang aktif meliput perkembangan ekonomi dan infrastruktur di area Jawa Timur dan Jawa Barat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *