Tragedi di Wisata Jati Sewu Gresik: Misteri Kematian Bocah 6 Tahun yang Kini Dalam Penyelidikan Intensif Kepolisian
ZonaKabar — Sebuah hari yang seharusnya dipenuhi dengan tawa dan keceriaan keluarga berubah seketika menjadi awan kelabu di Kabupaten Gresik. Suasana ceria di destinasi liburan keluarga mendadak mencekam saat seorang bocah laki-laki berusia enam tahun ditemukan dalam kondisi tak bernyawa akibat tenggelam. Peristiwa memilukan ini terjadi di objek wisata populer, Kolam Renang Wisata Jati Sewu, yang terletak di Desa Pengalangan, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik.
Korban yang diketahui berinisial RPR, seorang warga asal Desa Mulung, Kecamatan Driyorejo, harus meregang nyawa di tengah keriuhan pengunjung lainnya. Kabar duka ini menyentak publik, terutama para orang tua yang sering memanfaatkan fasilitas hiburan air di wilayah wisata Gresik. Kini, pihak kepolisian tengah bekerja keras untuk menyisir setiap fakta di balik insiden yang merenggut nyawa anak kecil tersebut.
Penyelidikan Mendalam oleh Polres Gresik
Kapolres Gresik, AKBP Ramadhan Nasution, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam atas kejadian ini. Investigasi menyeluruh sedang dilakukan untuk memastikan apakah ada unsur kelalaian, baik dari pihak pengelola wisata maupun pihak-pihak terkait lainnya. Penyelidikan ini menjadi prioritas guna memberikan keadilan bagi keluarga korban serta mencegah kejadian serupa terulang kembali.
“Kami masih melakukan penyelidikan mendalam terkait kronologi dan penyebab pasti kematian korban di lokasi kejadian,” ungkap AKBP Ramadhan Nasution saat dikonfirmasi pada Selasa, 19 Mei 2026. Menurutnya, kepolisian telah menerjunkan tim khusus untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) guna mengumpulkan bukti-bukti fisik yang tersisa.
Selain melakukan olah TKP, pihak kepolisian juga tengah mengumpulkan berbagai keterangan dari para saksi mata yang berada di lokasi saat peristiwa nahas itu terjadi. Fokus utama petugas saat ini adalah melakukan proses pengumpulan bahan dan keterangan atau yang sering disebut dengan istilah ‘pulbaket’. Hal ini mencakup pemeriksaan terhadap staf kolam renang, pengunjung, hingga pihak manajemen Wisata Jati Sewu.
Menyisir Rekaman CCTV dan Keterangan Saksi
Langkah strategis yang diambil oleh tim penyidik adalah memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV yang terpasang di sekitar area kolam renang. Kehadiran CCTV diharapkan mampu memberikan gambaran visual yang jelas mengenai detik-detik sebelum RPR tenggelam. Apakah ada pengawasan dari petugas penjaga pantai (lifeguard)? Ataukah ada faktor lain yang menyebabkan bocah malang tersebut luput dari pantauan?
“Anggota kami masih bekerja di lapangan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk menyisir keberadaan CCTV di sekitar lokasi kejadian. Setiap detail sangat berarti untuk menyusun potongan teka-teki peristiwa ini,” tambah Ramadhan. Transparansi dalam penyelidikan ini ditekankan agar masyarakat mendapatkan informasi yang akurat mengenai keamanan fasilitas publik.
Hingga berita ini diturunkan, polisi memang belum bisa membeberkan hasil penyelidikan secara mendalam karena prosesnya masih sangat awal. Namun, komitmen untuk menuntaskan kasus bocah tenggelam ini terus ditegaskan oleh jajaran Polres Gresik demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap keamanan tempat wisata di wilayah hukum mereka.
Kronologi Kejadian: Detik-Detik yang Memilukan
Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh tim jurnalis ZonaKabar, peristiwa tragis ini terjadi pada Senin, 18 Mei 2026, sekitar pukul 11.00 WIB. Saat itu, kondisi kolam renang disinyalir cukup ramai dikunjungi warga. Korban RPR yang sedang asyik bermain di air tiba-tiba ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di dalam kolam.
Kapolsek Menganti, AKP Arif Rahman, menjelaskan bahwa pihak kepolisian sempat mengalami keterlambatan informasi. Laporan dari masyarakat baru masuk ke meja petugas pada pukul 13.02 WIB, atau sekitar dua jam setelah kejadian. Begitu mendapatkan laporan, petugas kepolisian langsung bergerak cepat menuju lokasi untuk melakukan pengecekan.
Namun, setibanya di lokasi, petugas tidak lagi mendapati korban. “Saat petugas datang ke lokasi, korban sudah tidak berada di tempat kejadian perkara karena telah segera dievakuasi oleh pihak keluarga menuju Rumah Sakit Bhakti Darma Husada (BDH) Surabaya,” jelas AKP Arif Rahman. Langkah cepat keluarga membawa korban ke rumah sakit merupakan upaya terakhir untuk menyelamatkan nyawa sang bocah, meski sayangnya takdir berkata lain.
Evaluasi Standar Keselamatan Tempat Wisata Air
Tragedi di Jati Sewu ini menjadi alarm keras bagi seluruh pengelola tempat wisata air di Gresik dan sekitarnya. Masalah keselamatan pengunjung, terutama anak-anak, seharusnya menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Keberadaan tenaga penyelamat atau lifeguard yang bersertifikat dan siaga di pinggir kolam adalah kewajiban mutlak bagi setiap pengelola usaha rekreasi air.
Kasus tenggelamnya anak di bawah umur sering kali berkaitan dengan kurangnya pengawasan ganda, baik dari orang tua maupun dari pihak pengelola. Diperlukan rambu-rambu peringatan yang jelas mengenai kedalaman kolam serta pembatasan akses anak-anak ke area kolam dewasa. Polres Gresik diharapkan dapat memberikan rekomendasi tegas kepada pemerintah daerah untuk mengevaluasi izin operasional tempat wisata yang tidak memenuhi standar keamanan yang ketat.
Masyarakat kini mulai mempertanyakan sejauh mana pengawasan berkala yang dilakukan oleh dinas terkait terhadap fasilitas-fasilitas publik semacam ini. Tragedi ini tidak boleh hanya berhenti pada ucapan belasungkawa, namun harus menjadi momentum perbaikan sistemik dalam manajemen keselamatan wisata.
Pentingnya Kewaspadaan Orang Tua
Selain faktor pengelola, peran aktif orang tua dalam mengawasi buah hati saat beraktivitas di air juga menjadi poin krusial. Seorang anak kecil dapat tenggelam dalam waktu yang sangat singkat dan dalam kondisi yang sangat tenang (silent drowning). Oleh karena itu, kontak visual antara orang tua dan anak tidak boleh terputus sedikit pun saat berada di area kolam renang.
ZonaKabar mengimbau kepada seluruh pembaca agar selalu memastikan anak-anak menggunakan alat pelindung diri seperti pelampung tangan atau rompi renang jika mereka belum mahir berenang. Pastikan pula untuk selalu mematuhi peraturan yang berlaku di setiap tempat wisata demi menjaga keselamatan bersama.
Kehilangan nyawa seorang anak adalah duka yang sangat mendalam dan tak tergantikan. Semoga kasus yang menimpa RPR di Jati Sewu ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Penyelidikan kepolisian akan terus bergulir, dan publik menanti jawaban pasti mengenai siapa yang harus bertanggung jawab atas hilangnya nyawa bocah mungil tersebut di tengah kegembiraan liburan yang berakhir duka.