Kisah Inspiratif Pasutri Penjual Bubur Asal Sidoarjo: 16 Tahun Menabung di Kantong Kresek Demi Menunaikan Ibadah Haji
ZonaKabar — Dunia sinetron seringkali menyuguhkan narasi emosional tentang perjuangan rakyat kecil yang berhasil menggapai mimpi besar. Namun, apa yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo bukanlah sekadar skenario layar kaca. Ini adalah kisah nyata tentang keteguhan hati, cucuran keringat, dan kesabaran tanpa batas dari sepasang suami istri lansia yang membuktikan bahwa niat suci akan selalu menemukan jalannya menuju Baitullah.
Mochmmad Nurhasan (78) dan Dawama (73), warga asli Sidoarjo, kini menjadi buah bibir yang menginspirasi banyak orang. Pasangan pejuang nafkah ini akhirnya resmi masuk dalam daftar jemaah calon haji yang berangkat ke Tanah Suci pada tahun ini. Keberhasilan mereka bukanlah hasil dari keberuntungan mendadak atau warisan melimpah, melainkan buah dari konsistensi menabung selama 16 tahun dari hasil berjualan bubur sumsum dan lontong balap.
Keajaiban di Balik Gerobak Bubur dan Lontong Balap
Selama lebih dari tiga dekade, Nurhasan dan Dawama menggantungkan hidup pada kuliner tradisional. Setiap harinya, sejak pukul 08.00 pagi hingga 15.00 sore, mereka setia melayani pelanggan. Menu yang mereka tawarkan sederhana: bubur sumsum yang lembut serta lontong balap yang gurih. Namun, di balik kesederhanaan menu tersebut, tersimpan cita-cita setinggi langit untuk bisa bersujud di depan Kakbah.
Dawama menceritakan bahwa rutinitas berjualan ini telah mereka jalani selama kurang lebih 30 tahun. Keuntungan yang didapat pun tidak menentu. Di hari yang ramai, mereka bisa membawa pulang untung bersih sekitar Rp 200 ribu. Namun, tak jarang mereka hanya mengantongi Rp 100 ribu setelah seharian berdiri di balik gerobak. Bagaimanapun kondisinya, rasa syukur selalu menjadi bumbu utama dalam setiap porsi bubur yang mereka jual.
Strategi Menabung Unik: Kantong Kresek dalam Lemari
Hal yang paling menarik dari perjuangan pasutri ini adalah cara mereka mengelola keuangan. Alih-alih menyimpan uang di bank dengan sistem digital yang rumit, Dawama memilih cara yang sangat konvensional namun efektif. Ia menggunakan kantong kresek plastik sebagai wadah untuk menyimpan pundi-pundi rupiah hasil keringat mereka.
“Saya mulai benar-benar fokus menabung itu sekitar tahun 2010, dua tahun sebelum kami resmi mendaftar haji di tahun 2012,” kenang Dawama saat ditemui di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Metode mereka tergolong disiplin. Selain menyisihkan uang harian, Dawama juga aktif mengikuti arisan di kampungnya dengan setoran Rp 200 ribu per minggu.
Setiap kali giliran namanya keluar dalam arisan, uang yang didapat—terkadang Rp 5 juta hingga Rp 10 juta—langsung dimasukkan ke dalam kantong kresek. Kantong-kantong plastik berisi uang itu kemudian disimpan rapat-rapat di dalam lemari rumah mereka. Sedikit demi sedikit, plastik-plastik itu mulai penuh, menjadi saksi bisu perjuangan dua lansia ini melawan godaan untuk menggunakan uang tersebut untuk keperluan konsumtif lainnya.
Menepis Keraguan dan Isu Warisan dari Tetangga
Ketika tabungan tersebut akhirnya mencapai angka Rp 50,5 juta pada tahun 2012, Nurhasan dan Dawama memberanikan diri untuk mendaftarkan diri sebagai calon jemaah ibadah haji. Namun, setelah mendaftar, perjuangan belum usai. Mereka harus kembali memutar otak dan tetap konsisten berjualan untuk melunasi biaya keberangkatan yang kian meningkat seiring berjalannya waktu.
Keberhasilan mereka mendaftar haji sempat mengundang tanya dan rasa terkejut dari para tetangga di sekitar tempat tinggal mereka. Nurhasan mengungkapkan bahwa banyak orang yang tidak percaya jika seorang penjual bubur bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Bahkan, ada desas-desus yang menyebutkan bahwa mereka mendapatkan harta warisan secara mendadak.
“Banyak yang tanya, dapat warisan dari mana? Saya jawab, tidak ada warisan dari mana-mana. Ini murni hasil kerja keras. Orang-orang tahu kalau saya ini orang tidak punya, tapi mereka tidak tahu bagaimana kami berdua mati-matian menabung,” tutur Nurhasan dengan nada bicara yang tetap rendah hati. Baginya, anggapan miring tetangga bukanlah hambatan, melainkan pembuktian bahwa Tuhan tidak melihat profesi seseorang untuk mengundangnya ke Tanah Suci.
Kekuatan Doa dan Selawat Sebagai Bahan Bakar
Selain kedisiplinan dalam menabung secara finansial, pasangan ini juga melakukan “tabungan spiritual”. Nurhasan mengaku tidak memiliki rahasia khusus selain ketekunan dan doa yang tak putus. Setiap kali merasa lelah berjualan di usia senjanya, mereka selalu memperbanyak membaca selawat.
Keyakinan bahwa mereka bisa berangkat haji meskipun hanya berjualan bubur adalah motor penggerak utama. “Kami ingin berhaji karena kemauan sendiri, dorongan hati yang kuat. Setiap hari kami berselawat, mohon kepada Allah agar kaki ini diberikan kekuatan untuk sampai ke Baitullah,” tambah Nurhasan. Bagi mereka, ibadah haji adalah puncak dari segala pengabdian mereka sebagai hamba.
Menuju Baitullah: Puncak dari Segala Penantian
Setelah menanti selama 16 tahun sejak pertama kali menabung di tahun 2010, mimpi itu akhirnya menjadi kenyataan. Pada Selasa (5/5), pasangan ini telah tiba di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, untuk menjalani proses administrasi terakhir sebelum terbang menuju Arab Saudi pada Rabu (6/5/2026).
Raut bahagia bercampur haru tidak bisa disembunyikan dari wajah keriput mereka. Mengenakan seragam batik haji, keduanya tampak siap menempuh perjalanan panjang melintasi benua. Di Tanah Suci nanti, Nurhasan dan Dawama tidak memiliki daftar keinginan yang muluk-muluk. Mereka hanya ingin memanjatkan doa untuk kesehatan dan kelancaran rezeki bagi anak cucu mereka di tanah air.
Kisah Mochmmad Nurhasan dan Dawama memberikan pelajaran berharga bagi kita semua. Bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang permanen untuk mewujudkan cita-cita besar. Dengan manajemen keuangan yang disiplin—meskipun hanya menggunakan kantong kresek—serta spiritualitas yang terjaga, pintu Ka’bah akan selalu terbuka bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh mengetuknya. Selamat menunaikan ibadah haji, Pak Nurhasan dan Bu Dawama, semoga menjadi haji yang mabrur.