Transformasi Pendidikan Surabaya: Menakar Ulang Efektivitas Pembatasan Gadget dan Kebijakan Pemangkasan PR

Budi Santoso | ZonaKabar
26 Apr 2026, 23:53 WIB
Transformasi Pendidikan Surabaya: Menakar Ulang Efektivitas Pembatasan Gadget dan Kebijakan Pemangkasan PR

ZonaKabar — Wajah pendidikan di Kota Pahlawan tengah mengalami metamorfosis besar. Bukan sekadar soal perbaikan gedung atau fasilitas fisik, melainkan pergeseran fundamental pada cara pandang terhadap proses belajar-mengajar itu sendiri. Dewan Pendidikan Surabaya kini tengah menyoroti transisi besar ini, di mana pendidikan tak lagi dipandang sebagai ajang pemberian tekanan akademik yang kaku, melainkan sebagai ekosistem yang menumbuhkan kebahagiaan bagi siswa.

Sukma Sahadewa, salah satu figur kunci di Dewan Pendidikan Surabaya, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dunia pendidikan saat ini adalah meruntuhkan paradigma lama. Menurutnya, pendidikan harus bertransformasi dari sistem yang berorientasi pada beban menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan. Hal ini krusial agar potensi anak-anak Surabaya dapat mekar dengan optimal tanpa merasa terintimidasi oleh tuntutan sekolah yang berlebihan.

Menciptakan Sekolah Sebagai Ruang Aman dan Eksploratif

Dalam pandangan Sukma, transformasi pendidikan di Surabaya menunjukkan progres yang sangat positif. Kehadiran berbagai kebijakan inovatif, mulai dari penyesuaian beban belajar hingga penguatan pendidikan karakter, menjadi bukti nyata komitmen pemerintah kota. Namun, ia mengingatkan bahwa perjalanan ini masih panjang dan penuh tantangan yang menuntut kerja sama lintas sektor.

Baca Juga Loker Besar-besaran! KKP Rekrut 20 Ribu Awak Kapal Perikanan 2026: Cek Syarat, Jadwal, dan Cara Daftar di Sini
Loker Besar-besaran! KKP Rekrut 20 Ribu Awak Kapal Perikanan 2026: Cek Syarat, Jadwal, dan Cara Daftar di Sini

“Salah satu tantangan utama yang kita hadapi adalah mengubah paradigma belajar. Kita ingin beralih dari yang sebelumnya berorientasi pada tekanan menjadi pengalaman yang menyenangkan. Lingkungan sekolah harus mampu bertransformasi menjadi ruang aman yang mendorong eksplorasi dan tumbuh kembang anak secara optimal,” ujar Sukma yang juga merupakan akademisi di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS).

Ia menekankan bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat di mana rasa ingin tahu siswa dirayakan, bukan dibatasi oleh aturan yang terlalu mengekang. Ketika siswa merasa nyaman dan aman secara psikologis, proses penyerapan ilmu pengetahuan akan terjadi secara lebih organik dan mendalam. Inilah yang menjadi fondasi utama dalam membangun kualitas pendidikan di Surabaya masa depan.

Diplomasi Gadget: Menyeimbangkan Teknologi dan Interaksi Sosial

Salah satu poin paling krusial yang dibahas adalah kebijakan pembatasan penggunaan gawai atau handphone (HP) selama jam belajar. Di era digital ini, gadget ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi ia adalah gerbang informasi, namun di sisi lain bisa menjadi distraksi yang merusak konsentrasi serta kemampuan sosialisasi anak.

Baca Juga Duka Mendalam di Nginden Jangkungan: Lansia Surabaya Ditemukan Tak Bernyawa, Diduga Putus Asa Hadapi Stroke
Duka Mendalam di Nginden Jangkungan: Lansia Surabaya Ditemukan Tak Bernyawa, Diduga Putus Asa Hadapi Stroke

Sukma menilai kebijakan pembatasan gawai ini adalah contoh konkret dari kolaborasi multipihak yang efektif. Pemerintah bertindak sebagai pembuat regulasi, Dewan Pendidikan berperan dalam memberikan masukan strategis serta pengawasan, sementara sekolah menjadi ujung tombak implementasi. Namun, kunci keberhasilan sesungguhnya ada pada keluarga.

“Keluarga memiliki peran vital untuk memastikan konsistensi penerapan aturan ini di rumah. Jangan sampai di sekolah dibatasi, namun di rumah anak justru dibebaskan tanpa pengawasan,” tambahnya. Hal ini sejalan dengan langkah Wali Kota Surabaya yang sebelumnya telah menginisiasi Gerakan Surabaya Tanpa Gawai pada jam-jam tertentu, khususnya pukul 18.00 hingga 20.00 WIB, guna mendorong interaksi hangat di dalam keluarga.

Revolusi Pekerjaan Rumah: Kualitas di Atas Kuantitas

Selain soal gadget, kebijakan pengurangan pekerjaan rumah (PR) juga menjadi topik hangat. Banyak orang tua yang awalnya khawatir bahwa tanpa PR, anak-anak mereka akan berhenti belajar di rumah. Namun, Sukma meluruskan persepsi tersebut. Tujuan utama pengurangan PR bukanlah untuk meniadakan proses belajar mandiri, melainkan untuk menghindari beban akademik yang tidak efektif dan cenderung mekanis.

Baca Juga Jadwal Sholat Surabaya Jumat 15 Mei 2026: Sambut Keberkahan Jumat Mubarok dengan Ibadah Tepat Waktu
Jadwal Sholat Surabaya Jumat 15 Mei 2026: Sambut Keberkahan Jumat Mubarok dengan Ibadah Tepat Waktu

“Sekolah tetap dituntut untuk mampu menghadirkan metode pembelajaran yang kreatif di kelas, yang mampu membangun tanggung jawab siswa. Sementara itu, di lingkungan rumah, keluarga berperan menciptakan suasana belajar yang kondusif, bukan sekadar mengerjakan tumpukan soal yang melelahkan secara mental,” jelasnya. Dengan berkurangnya beban PR, siswa diharapkan memiliki waktu lebih untuk mengembangkan minat bakat, beristirahat yang cukup, dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Kebijakan ini memaksa para pendidik untuk lebih inovatif dalam menyusun rencana pembelajaran. Fokusnya beralih dari seberapa banyak soal yang bisa diselesaikan siswa, menjadi seberapa jauh siswa memahami konsep dan mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata. Ini adalah bagian dari upaya besar membangun kemampuan kreativitas anak-anak Surabaya.

Sinergi Parenting dan Pendidikan Karakter

Dewan Pendidikan Surabaya menyadari sepenuhnya bahwa sekolah tidak bisa berjalan sendiri dalam membentuk karakter siswa. Nilai-nilai moral, etika, dan integritas yang diajarkan di kelas akan menguap begitu saja jika tidak mendapatkan penguatan di lingkungan keluarga. Oleh karena itu, kolaborasi antara sekolah dan orang tua menjadi fondasi yang tidak bisa ditawar.

Baca Juga Kalender Mei 2026 Lengkap: Daftar Hari Libur Nasional, Cuti Bersama, dan Strategi Cuti Long Weekend
Kalender Mei 2026 Lengkap: Daftar Hari Libur Nasional, Cuti Bersama, dan Strategi Cuti Long Weekend

Program parenting atau pendidikan bagi orang tua kini menjadi instrumen penting. Tujuannya adalah menyelaraskan pola asuh antara guru di sekolah dengan orang tua di rumah. Jika terjadi sinkronisasi, maka pendidikan karakter akan berjalan secara konsisten. Anak tidak akan bingung dengan perbedaan nilai yang mereka terima di dua lingkungan utama mereka tersebut.

“Nilai yang ditanamkan di sekolah perlu diperkuat dalam kehidupan sehari-hari. Inilah mengapa komunikasi antara wali kelas dan orang tua murid harus terjalin secara intens dan konstruktif,” kata Sukma. Melalui forum-forum diskusi orang tua, diharapkan muncul pemahaman bersama tentang tantangan zaman yang dihadapi anak-anak saat ini.

Mengakomodasi Keberagaman Potensi Individu

Sistem pendidikan yang modern di Surabaya juga dituntut untuk mampu mengakomodasi keberagaman potensi siswa. Sukma percaya bahwa setiap anak lahir dengan keunikan masing-masing yang tidak bisa diseragamkan. Ada anak yang unggul di bidang sains, namun ada pula yang memiliki bakat luar biasa di bidang seni, olahraga, maupun kepemimpinan.

Untuk itu, sekolah perlu memiliki mekanisme pemetaan potensi yang akurat sejak dini. Dinas Pendidikan Surabaya mendukung penuh hal ini melalui penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, sementara Dewan Pendidikan terus mengawal arah strategis kebijakannya. Namun kembali lagi, dukungan emosional dari keluarga tetap menjadi faktor penentu utama.

Baca Juga Kalender Jawa 8 Mei 2026: Menelusuri Rahasia Weton Jumat Kliwon dan Panduan Lengkap Bulan Mei
Kalender Jawa 8 Mei 2026: Menelusuri Rahasia Weton Jumat Kliwon dan Panduan Lengkap Bulan Mei

“Anak butuh merasa didukung, bukan dibanding-bandingkan. Pemetaan potensi ini bertujuan agar setiap anak bisa berkembang secara optimal sesuai dengan jalurnya masing-masing,” tuturnya. Dengan pendekatan yang lebih personal, tingkat stres siswa dapat ditekan, dan motivasi belajar internal akan tumbuh dengan sendirinya.

Kampung Ramah Pendidikan: Kolaborasi Berbasis Masyarakat

Salah satu inovasi menarik yang terus didorong di Surabaya adalah pengembangan kampung ramah pendidikan. Konsep ini memposisikan lingkungan tempat tinggal sebagai laboratorium sosial sekaligus pendukung ekosistem belajar yang berkelanjutan. Dewan Pendidikan berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara masyarakat, sekolah, dan pemerintah.

Konsep ini memastikan bahwa pendidikan tidak hanya terjadi di dalam pagar sekolah, tetapi juga di lorong-lorong kampung. Masyarakat diajak untuk peduli pada jam belajar anak, menciptakan lingkungan yang aman dari pengaruh negatif, serta menyediakan ruang-ruang publik yang edukatif.

Sebagai penutup, Sukma Sahadewa menegaskan bahwa konsistensi dan komitmen dari seluruh pihak adalah kunci utama. Sinergi antara pemerintah, akademisi, praktisi pendidikan, orang tua, dan masyarakat luas harus dijaga agar tidak sekadar menjadi wacana di atas kertas.

“Pada akhirnya, masa depan pendidikan di Surabaya sangat ditentukan oleh kekuatan sinergi tersebut. Ketika seluruh pihak bergerak dalam satu visi yang sama, maka pendidikan yang menyenangkan, inklusif, dan berkarakter bukan lagi sekadar harapan, melainkan realitas yang dapat dirasakan oleh seluruh anak bangsa,” pungkasnya menutup diskusi penuh optimisme tersebut.

Budi Santoso

Budi Santoso

Pengamat dinamika perkotaan yang aktif meliput perkembangan ekonomi dan infrastruktur di area Jawa Timur dan Jawa Barat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *