Jejak Damai di Kota Bengawan: 57 Biksu Thudong Disambut Hangat di Pura Mangkunegaran

Aris Munandar | ZonaKabar
23 Mei 2026, 17:40 WIB
Jejak Damai di Kota Bengawan: 57 Biksu Thudong Disambut Hangat di Pura Mangkunegaran

ZonaKabar — Langit sore di Kota Solo tampak bersahabat saat puluhan sosok berjubah safron melangkah dengan pasti menyusuri jalanan kota yang kental akan tradisi. Suasana khidmat nan haru menyelimuti kawasan Pura Mangkunegaran pada Sabtu siang itu. Sebanyak 57 biksu yang sedang menjalani ritual spiritual Biksu Thudong resmi menginjakkan kaki di pelataran istana yang menjadi salah satu pusat kebudayaan Jawa tersebut.

Kehadiran mereka bukan sekadar persinggahan biasa, melainkan sebuah simbol harmoni dan toleransi yang begitu kuat di tengah keberagaman Indonesia. Tepat pukul 15.34 WIB, rombongan para pemuka agama Buddha ini tiba di gerbang Pura Mangkunegaran. Kehadiran mereka merupakan bagian dari rangkaian perjalanan panjang nan melelahkan menuju Candi Borobudur di Magelang untuk merayakan hari raya Waisak.

Penyambutan Hangat di Jantung Budaya Jawa

Berdasarkan pengamatan tim di lapangan, rombongan ini menunjukkan dedikasi yang luar biasa. Sebagian dari mereka menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, sementara sebagian lainnya didampingi sarana transportasi bus untuk efisiensi waktu perjalanan antar wilayah. Mereka memulai rute sore itu dari Vihara Dhamma Sundara yang terletak di kawasan Pucangsawit, Jebres, sebelum akhirnya menuju Pura Mangkunegaran.

Baca Juga Sindikat Scammer Internasional Solo Baru Terbongkar: Polda Jateng Gandeng FBI Telusuri Aliran Dana Rp 41 Miliar
Sindikat Scammer Internasional Solo Baru Terbongkar: Polda Jateng Gandeng FBI Telusuri Aliran Dana Rp 41 Miliar

Begitu memasuki area istana, para biksu berbaris dengan rapi, satu per satu melangkah masuk dengan penuh ketenangan. Di Pendopo Ageng, sebuah bangunan megah yang menjadi ikon kekuasaan Mangkunegaran, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X telah bersiap menyambut. Mengenakan beskap berwarna hijau yang elegan, pria yang akrab disapa Gusti Bhre ini menunjukkan keramahan luar biasa khas bangsawan Solo.

Pertemuan ini menciptakan kontras visual yang indah—perpaduan antara jubah kuning kemerahan para biksu dengan busana adat Jawa yang dikenakan sang penguasa Mangkunegaran. Para biksu kemudian dipersilakan duduk di kursi-kursi yang telah ditata sedemikian rupa, menandakan penghormatan tinggi dari pihak istana terhadap tamu-tamu spiritual mereka.

Tarian Gambyong: Simbol Estetika dan Selamat Datang

Sebagai bentuk penghormatan tradisi, acara penyambutan diawali dengan pementasan Tarian Gambyong. Lima penari dengan gerakan gemulai dan penuh estetika tampil di hadapan para biksu. Tarian ini, yang dalam sejarahnya merupakan tarian penyambutan tamu agung, seolah menjadi bahasa universal yang menyatukan perbedaan latar belakang agama dan budaya.

Baca Juga Tragedi Maut di Tambang Galian C Klaten: Operator Ekskavator Asal Rembang Mengembuskan Napas Terakhir Akibat Tertimbun Tebing
Tragedi Maut di Tambang Galian C Klaten: Operator Ekskavator Asal Rembang Mengembuskan Napas Terakhir Akibat Tertimbun Tebing

Lantunan musik gamelan yang mengalun lembut di Pendopo Ageng memberikan nuansa kedamaian bagi para biksu yang telah menempuh perjalanan ribuan kilometer. Bagi para biksu, sambutan ini merupakan oase di tengah perjalanan spiritual mereka yang penuh tantangan fisik dan batin.

Pesan Damai dari Perwakilan Sangha

Bante Tejapunno Mahathera, yang bertindak sebagai perwakilan biksu dari Indonesia, tidak dapat menyembunyikan rasa syukur dan harunya atas sambutan yang diberikan oleh pihak Pura Mangkunegaran maupun Pemerintah Kota Solo. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa total ada 57 biksu yang berpartisipasi dalam perjalanan Thudong kali ini.

“Kami menghaturkan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas segala sarana dan fasilitas yang telah diberikan sejak kami memasuki area Keraton. Harapan kami, kehadiran para biksu di sini dapat membawa manfaat, ketenangan, dan berkah bagi semua pihak yang terlibat,” ungkap Bante Tejapunno dengan nada yang teduh.

Ia juga memohon doa restu dari seluruh masyarakat agar perjalanan panjang menuju Candi Agung Borobudur dapat terlaksana dengan selamat dan seluruh peserta tetap dalam kondisi kesehatan yang prima. Bante Tejapunno juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Republik Indonesia, khususnya Kementerian Agama, serta jajaran TNI-Polri yang telah melakukan pengawalan ketat demi keamanan dan kenyamanan perjalanan mereka.

Baca Juga Gema Idul Adha 2026 di Semarang: Jeritan Pedagang Hewan Kurban di Tengah Pasar yang Lesu dan Bayang-Bayang PMK
Gema Idul Adha 2026 di Semarang: Jeritan Pedagang Hewan Kurban di Tengah Pasar yang Lesu dan Bayang-Bayang PMK

Menyerukan Kebijakan dalam Berpikir dan Bertindak

Lebih dari sekadar perjalanan fisik, ritual Thudong ini membawa misi kemanusiaan yang mendalam. Bante Tejapunno mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk senantiasa menjaga kejernihan pikiran, berpikir positif, dan bertutur kata dengan bijak.

“Semoga kebajikan yang kita lakukan bersama ini tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar, bangsa, negara, dan pada akhirnya berkontribusi bagi perdamaian dunia yang abadi,” tambahnya di hadapan para hadirin. Pesan ini terasa sangat relevan di tengah situasi global yang seringkali diwarnai oleh ketegangan, mengingatkan kembali akan pentingnya kasih sayang universal.

Rasa Hormat Mangkunegara X atas Dedikasi Para Biksu

Di sisi lain, KGPAA Mangkunegara X menyatakan rasa bangga dan terhormatnya karena Pura Mangkunegaran dipilih sebagai salah satu titik singgah dalam perjalanan spiritual yang sakral ini. Beliau menyapa para tamu yang datang dari berbagai negara, termasuk Thailand, Laos, Malaysia, dan tentu saja dari Indonesia sendiri.

“Merupakan sebuah kehormatan bagi kami dan seluruh warga Kota Solo untuk menyambut Yang Mulia para Bhante di Pura Mangkunegaran. Ini adalah bagian dari persiapan mulia menyambut hari raya Waisak yang penuh berkah,” ujar Gusti Bhre.

Baca Juga Jadwal Resmi dan Cara Cek Nilai UTBK SNBT 2026: Panduan Lengkap Menuju Gerbang Perguruan Tinggi Negeri
Jadwal Resmi dan Cara Cek Nilai UTBK SNBT 2026: Panduan Lengkap Menuju Gerbang Perguruan Tinggi Negeri

Beliau juga menekankan kekagumannya atas keteguhan hati para biksu yang memulai perjalanan jauh sejak dari Denpasar, Bali. Melintasi berbagai pulau, kota-kota besar, hingga desa-desa terpencil sebelum akhirnya tiba di jantung Surakarta. Bagi Mangkunegara X, dedikasi para biksu ini adalah inspirasi mengenai kekuatan spiritual dan ketekunan manusia dalam mencapai tujuan yang mulia.

Makna Filosofis Thudong dan Keberagaman Indonesia

Perjalanan Thudong sendiri merupakan tradisi kuno di mana para biksu berjalan kaki untuk melatih kesabaran, kesederhanaan, dan pengendalian diri. Dengan hanya membawa perlengkapan minimal, mereka mengandalkan kemurahan hati masyarakat di sepanjang jalan untuk kebutuhan makanan dan minuman. Fenomena tahun ini menunjukkan betapa masyarakat Indonesia, tanpa memandang latar belakang agama, menyambut mereka dengan antusiasme yang luar biasa.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa semangat Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar slogan, melainkan napas kehidupan yang nyata di lapangan. Setelah beristirahat dan melakukan prosesi di Pura Mangkunegaran, para biksu dijadwalkan akan melanjutkan langkah mereka menuju destinasi akhir, yakni Candi Borobudur, yang menjadi pusat perayaan Waisak Nasional.

Baca Juga Skandal Megakorupsi BPR Bank Purworejo: Kerugian Rp 41 Miliar, Modus ‘Debitur Topengan’ Seret Eks Dirut ke Penjara
Skandal Megakorupsi BPR Bank Purworejo: Kerugian Rp 41 Miliar, Modus ‘Debitur Topengan’ Seret Eks Dirut ke Penjara

Kehangatan di Pura Mangkunegaran ini akan menjadi catatan sejarah penting dalam mempererat hubungan antara institusi adat Jawa dengan komunitas lintas agama, menciptakan narasi positif tentang Indonesia yang damai, toleran, dan penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *