Milo Masih Tak Percaya Persis Solo Terjerembab ke Jurang Degradasi: Sebuah Tragedi bagi Kota yang Memiliki Segalanya
ZonaKabar — Langit di atas Kota Solo terasa lebih kelabu dari biasanya. Sebuah kenyataan pahit yang sulit dicerna harus diterima oleh publik pencinta sepak bola di Surakarta. Persis Solo, klub dengan sejarah panjang dan basis massa yang luar biasa, dipastikan harus turun kasta ke Liga 2 musim depan. Kepastian ini menjadi pukulan telak setelah tim berjuluk Laskar Sambernyawa tersebut finis di peringkat ke-16 pada klasemen akhir Liga 1 musim 2025/2026.
Meski mengantongi 34 poin, hasil tersebut tidak cukup untuk menyelamatkan wajah sepak bola Solo di kasta tertinggi. Ironisnya, kepastian degradasi ini datang justru saat Persis Solo berhasil memetik kemenangan di laga pamungkas mereka. Namun, dalam dunia sepak bola Indonesia yang penuh drama, kemenangan di lapangan sendiri terkadang tidak cukup jika nasib masih harus digantungkan pada pertandingan di stadion lain.
Kemenangan Hambar di Laga Pamungkas
Bertanding dengan semangat membara demi menjaga asa, Persis Solo sebenarnya tampil sangat dominan saat menghadapi Persita Tangerang. Skor akhir 3-1 untuk keunggulan tuan rumah sempat menghadirkan secercah harapan di tribun penonton. Namun, sorak-sorai itu perlahan meredup seiring masuknya kabar dari laga lain yang mempertemukan Madura United.
Madura United yang menjadi pesaing terdekat dalam zona merah berhasil mengamankan kemenangan krusial dengan skor 2-0. Hasil tersebut praktis menutup pintu bagi Persis Solo untuk merangkak naik di tabel klasemen Liga 1. Meski secara poin Persis menyamai perolehan PSM Makassar, aturan head-to-head yang berlaku membuat Laskar Sambernyawa harus merelakan posisi mereka dan terlempar ke jurang degradasi.
Ketidakpercayaan Milomir Seslija: Solo Punya Segalanya
Pelatih kepala Persis Solo, Milomir Seslija, tak mampu menyembunyikan kekecewaan mendalamnya dalam sesi konferensi pers usai laga. Pelatih kawakan asal Bosnia tersebut seolah masih tidak percaya bahwa tim yang diasuhnya harus mencicipi pahitnya berkompetisi di kasta kedua musim depan. Menurutnya, secara fundamental, Persis Solo adalah klub yang sudah sangat siap untuk bersaing di level tertinggi.
“Menurut pandangan saya pribadi, Persis seharusnya tidak pantas untuk turun divisi. Solo adalah kota yang memiliki segalanya; fasilitas latihan yang sangat baik, stadion kelas dunia, manajemen yang tertata, hingga dukungan suporter yang benar-benar fantastik,” ujar Milo dengan nada suara yang bergetar, sebagaimana dikutip oleh laporan eksklusif dari tim ZonaKabar.
Milo menegaskan bahwa standar infrastruktur yang dimiliki Solo, termasuk kemegahan Stadion Manahan, seharusnya menjadi ekosistem yang mendukung tim untuk terus berada di papan atas, bukan justru terperosok ke zona merah. Bagi Milo, degradasi ini adalah sebuah anomali yang sangat menyakitkan bagi seluruh elemen tim.
Hilangnya Magis Sang Arsitek di Musim Kedua
Publik tentu masih ingat bagaimana sentuhan tangan dingin Milomir Seslija menjadi penyelamat bagi Persis Solo pada musim 2023/2024 yang lalu. Kala itu, kehadirannya membawa aura positif dan performa impresif yang menjauhkan tim dari ancaman degradasi. Namun, sepak bola bukan matematika yang hasilnya selalu sama. Musim ini, magis tersebut seolah menguap di tengah ketatnya persaingan Liga 1.
Meskipun gagal mempertahankan posisi klub di kasta tertinggi, Milo tetap memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para pemain, ofisial, dan jajaran manajemen. Ia menilai bahwa perjuangan di lapangan sudah dilakukan secara maksimal hingga tetes keringat terakhir.
“Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih atas kerja keras seluruh pemain. Mereka telah memberikan segalanya, bukan hanya hari ini, tapi sepanjang musim yang berat ini. Mereka adalah petarung, namun terkadang hasil akhir memang tidak berpihak pada kita,” tambah pelatih yang akrab disapa Milo tersebut.
Tuntutan Suporter dan Pertanggungjawaban Manajemen
Kekecewaan tidak hanya dirasakan oleh tim teknis, tetapi juga meledak di kalangan pendukung setia, Pasoepati dan elemen suporter Solo lainnya. Degradasi adalah mimpi buruk yang selama ini mereka coba hindari. Di berbagai lini masa media sosial, para suporter mulai menyuarakan kegelisahan mereka dan meminta pertanggungjawaban dari pemilik klub serta manajemen atas merosotnya performa tim sepanjang musim.
Sebagai klub yang memiliki sejarah panjang dan dukungan finansial yang tergolong stabil, kegagalan ini dianggap sebagai kegagalan kolektif dalam merencanakan skuad yang kompetitif. Sepak bola Jateng pun turut berduka, mengingat Persis Solo adalah salah satu representasi terbesar dari Jawa Tengah di kancah nasional.
Harapan untuk Kebangkitan Laskar Sambernyawa
Meski harus turun kasta, Milomir Seslija tetap optimistis bahwa Persis Solo memiliki mentalitas untuk segera bangkit. Ia meyakini bahwa keterpurukan ini hanyalah sebuah jeda singkat sebelum tim kembali dengan kekuatan yang lebih besar. Ia berharap pelajaran pahit di musim ini bisa menjadi fondasi bagi klub untuk melakukan evaluasi total dan berkembang lebih baik lagi.
“Siapa pun nanti yang berada di dalam tim ini, saya yakin Persis akan segera kembali ke tempat yang seharusnya, yaitu Liga 1. Dengan pelajaran berharga dari musim ini, saya percaya Persis bisa tumbuh lebih kuat dan lebih matang dalam menghadapi segala tantangan di masa depan,” tutup Milo dengan penuh harap.
Kini, publik Solo harus bersabar menanti proses re-organisasi yang akan dilakukan oleh manajemen. Perjalanan di Liga 2 dipastikan tidak akan mudah, namun dengan basis pendukung yang loyal dan fasilitas yang memadai, Laskar Sambernyawa memiliki modal lebih dari cukup untuk melakukan ‘comeback’ yang gemilang di musim-musim mendatang. Penurunan kasta ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah ujian untuk mengukur seberapa besar kecintaan dan ketangguhan masyarakat Solo terhadap klub kebanggaan mereka.